— nara nih nara_ckp@xxx.xx wrote: >
Malam minggu, sepi banget di kos. Sebagian teman nonton konser (yang tentunya gratisan) sebagian lagi asyik mengurung diri di kamar masing-masing. Mau nonton TV, gak ada acara yang bagus. Jadilah menikmati kesendirian di dalam kamar tercinta sambil meneruskan membaca, ditemani alunan lagu-lagu romantis dari radio. Lagi asyik menikmati suasana, tiba-tiba L masuk kamar, tanpa mengeluarkan sepatah katapun langsung ikut rebahan disampingku.
Aku yang tadinya tak begitu menghiraukan kehadirannya karena asyik dengan bacaanku, menjadi terusik mendengar beberapa kali L menghela nafas panjang. Kayaknya lagi ada masalah nih anak. Ku lirik sekilas wajahnya, pandangan matanya menerawang, kebiasaannya klo lagi menimbang-nimbang mau bercerita atau tidak. Dia menghela nafas sekali lagi sebelum akhirnya angkat bicara.
“Mbak….” Hanya itu yang dia ucapkan. Tapi itu sudah cukup menjadi isyarat bahwa aku harus meletakkan bacaanku dan bersiap mendengarkan penuturannya.
“Sudah tiga orang yang mengatakan secara langsung padaku bahwa aku pacaran dengan X” L mulai mengawali ceritanya.
“Tiga orang itu yang berani ngomong langsung, entah berapa orang lagi yang bilang seperti itu dibelakangku. Mereka beranggapan bahwa hubunganku dengan X termasuk dalam kategori pacaran dan hal ini akan berdampak buruk ke dakwah. Mereka takut klo objek dakwahku tidak percaya lagi padaku, klo tahu bahwa X sering berkunjung ke sini bukan untuk urusan dakwah, tapi untuk urusan pribadi. Sementara selama ini aku selalu menekankan bahwa tak ada pacaran dalam Islam, bagaimanapun bentuknya.”
Aku sudah hampir membuka suara dan kasih komentar, namun segera kuurungkan niat itu. Lebih baik aku diam dan menunggu hingga L selesai bercerita, karena temanku yang satu ini tak suka bila ada yang memotong pembicaraannya.
“Aku nggak mau klo hubunganku dengan X ini disamakan dengan pacaran, aku nggak pacaran sama dia. Aku mau serius sama dia dan saat ini kami sedang berproses ke arah sana. Apa salah klo selama proses itu kami sering bertemu dan berdialog? Dulu aku dan X memilih ketemu dan membicarakan hal ini dikampus, tapi beberapa teman protes dengan kedekatanku dengan X, mereka mengatakan kami berkhalwat.. Sekarang kami memilih ketemu disini, tetap aja ada yang protes. Jadi harus dimana dong? Rumahku kan disini ! Apa aku harus ngajak X ke lembah atau malah ke kaliurang?!”
“Huh… itu sih namanya pacaran, dan pasti akan lebih heboh lagi jadinya!”
Nada suara L sudah mulai meninggi, menampakkan emosinya karena merasa mendapat penentangan dari teman-temannya. Dalam kondisi seperti ini, sia-sia saja kasih komentar, apalagi mendebatnya, karena L tipe orang yang gak mau dibantah, apalagi disalahkan.
“Lantas maumu gimana? Apa kau ingin mereka mengatakan klo kamu dan X lagi ta’aruf?” Kubuka suara setelah L terlihat mulai agak tenang.
“Bukan gitu, mbak! Aku gak mau cuma ketemu beberapa kali terus kami langsung nikah. Aku butuh tahu visi dan misi dia ke depan, aku ingin dia tahu apa, siapa dan bagaimana aku dari diriku sendiri, bukan dari orang lain. Aku ingin dia tahu kejelekan-kejelekanku. Begitu pula sebaliknya. Untuk ini kan kami harus sering ketemu dan berdialog. Aku ingin mereka memahami hal ini, memahami posisiku dan bukannya malah menyudutkanku dengan mengatakn bahwa aku dan X pacaran. Aku bisa marah sekali bila ada yang menganggap aku dan X pacaran!”
Seulas senyum kuberikan padanya, sambil dalam hati bilang, klo menurutku sih itu juga pacaran. Tapi berhubung versi pacaran yang tertanam di benak dia dan dibenakku berbeda (meski kami sudah sering membicarakan perbedaan ini sebelumnya), bakal sia-sia saja aku mendebatnya malam ini, bisa-bisa tambah marah dia nanti, apalagi udah pake ngancam segala.
“Kenapa tidak minta X bawa teman klo berkunjung ke sini? atau kamu minta ditemani. Dengan begitu kan mereka gak bakal bilang kamu berkhalwat dan pacaran”
“Gak enak dong mbak klo ada orang lain. Bagaimanapun, kami kan membicarakan rencana berumah tangga. Masalah rumah tangga kan masalah rahasia, masa harus kami beberkan didepan pihak ketiga? Lagian, kasihan temannya dong klo kami cuekin dan hanya diam saja sepanjang pembicaraan. Berarti kan kehadirannya tak ada manfaatnya.”
Ooo…. Begitu ya”, aku manggut-manggut, sambil dalam hati sekali lagi menambahkan, itu sih pacaran namanya.
“saat ini aku merasa yakin, bahwa walaupun kami cuma berdua, aku masih bisa jaga hatiku. Aku masih bisa mengendalikan perasaanku dan mengarahkan pembicaraan kami. Setiap kali dia mulai mau mengalihkan pembicaraan, dengan sok kasih perhatian, aku selalu meluruskannya kembali. Gpp kan cuma berdua, asal kami bisa jaga hati?”
“Kamu bener-bener suka sama X ya?” aku pancing dia dengan pertanyaan itu, karena dia udah nyebut masalah hati dan perasaan.
“Aku nggak mau punya perasaan cinta sebelum menikah, mbak”
Gak mau ada cinta sebelum nikah? wah makin menarik nih, pikirku. “Trus kenapa kamu pilihX ? Setahuku X bukan `anak tarbiyah’. Dia bukan aktivis, dia `lelaki biasa’. Kenapa tidak pilih A atau B, mereka kan pernah mencoba mendekatimu? Mereka aktivis, klop kan sama kamu, kamu `akhwat’ dan mereka `ikhwan’. Apalagi si A, kayaknya memenuhi semua idealismemu dulu dalam mencari pendamping hidup”
“Nggak sreg di hati, mbak. Biarpun A memenuhi kualifikasiku, tapi klo aku gak sreg ama dia, gimana? Aku cuma sreg ama X. Aku juga kadang mikir, kok aku bisa memilih X, padahal tak satu pun dalam dirinya yang memenuhi idealismeku dulu dalam mencari
pendamping hidup.”
“Itu sih cinta!! Kamu aja yang gak mau mengakuinya!”
“Eh , masa sih , mbak? Tapi aku gak mau ada cinta dulu, mbak. Klo gak jadi kan nanti sakit dihati. Aku nggak mau seperti itu. Sampai larut malam kami membicarakan masalah ini, meski aku harus berusaha keras melawan rasa kantuk yang menyerang.
Beginilah bila idealisme harus dibenturkan dengan realita. Kenyataan dilapangan tak selalu semulus dan seindah seperti dalam bayangan kita selama ini, kasus temanku ini salah satunya. Dia berprinsip pergaulan lelaki perempuan harus dibatasi, tak ada pacaran dalam Islam, bagaimanapun bentuknya, sementara proses `instan’ tak mau pula dia jalani. Namun dalam kenyataannya, kini dia menjalin hubungan khusus dengan lelaki dari kalangan biasa dan harus sering berinteraksi dengannya dalam prosesnya menuju pernikahan. Frekuensi telpon maupun kunjungan X yang meningkat, tak urung menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri. Belakangan ini memang aku dengar suara-suara yang bernada miring, “Ngomongnya aja begini, tapi nyatanya……” atau “Klo dijalan sih nunduk, klo berdua, siapa yang tahu?” bahkan yang lebih pedas lagi “Ternyata orang masjid sama aja! gayanya aja yang……”
Susah kan klo nama masjid udah dibawa-bawa pula, padahal tidak semua orang masjid seperti itu, Karena ini hanya kasus.
Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, hati-hatilah sebelum berbicara dan berbuat, agar tak menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, apalagi bumerang bagi dakwah.
Adakah yang bisa memberikan saran solusi bagi L. Dalam dirinya terjadi pertentangan batin. Klo dia turuti keinginan teman-temannya, artinya mempercepat pernikahan, tidak mungkin untuk saat ini, karena ortu X menuntut agar X lulus kuliah, apalagi X anak pertama. Meninggalkan X ….. berat bagi L, L tidak siap untuk terluka meskipun dia bilang gak mau ada cinta sebelum menikah. Berlama-lama dengan X, maka citra L dimedan dakwah akan makin buruk, dan dia harus selalu mendapatkan tekanan dari teman-temannya.
Yogya, akhir feb 04
Nara
Ditulis dalam 1 - Siagakan pelaku
