12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah

2007 April 11

Perhatian! Yang dimaksud dengan “bercinta” di sini bukanlah berhubungan seksual, melainkan membina hubungan percintaan.

kebebasan-wanita-jilid-5.jpg

Dalam buku Kebebasan Wanita Jilid 5 (Gema Insani Press, 1999), Abdul Halim Abu Syuqqah (seorang ulama Ikhwanul Muslimin, sahabat Yusuf Qardhawi) membolehkan dan bahkan menyarankan bercinta sebelum khitbah (peminangan). Alasannya antara lain:

  1. Fenomena hubungan percintaan prakhitbah telah ada pada zaman Nabi Muhammad saw. (hlm. 72-80)
  2. Rasulullah saw. “menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda [saling] cinta”. (hlm. 75)
  3. Bila cinta didiamkan (tidak dibina), “maka dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang.” (hlm. 73)
  4. Rasa rindu dan cinta kepada lawan-jenis nonmuhrim di luar nikah tidak berdosa (tidak tergolong “zina hati”) dan bukan sesuatu yang kotor. (hlm. 74-77)
  5. Cinta kepada lawan-jenis bersifat “manusiawi, yang bersumber dari asal fitrah [suci]  yang diciptakan Allah di dalam jiwa manusia”. (hlm. 75)
  6. Cinta yang suci tersebut “mengandung segala makna kasih-sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh kehidupan di kala suka dan duka, lapang dan sempit.” (hlm. 75)
  7. Cinta yang suci tersebut “tidak mungkin terjadi dengan sempurna antara dua orang manusia yang berakal sehat, kecuali setelah terjadi perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak untuk saling mengenal dan mengetahui unsur-unsur yang dapat menegakkan cinta ini dan menumbuhkembangkannya.” (hlm. 75)
  8. Kalau tidak melalui “perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang” begitu, maka [taaruf] yang terjadi hanyalah “ketertarikan belaka terhadap unsur-unsur lahiriah yang tampak memukau.” (hlm. 75)
  9. Pertemuan tatap-muka dengan si dia “merupakan langkah awal, yang sesudah itu dilanjutkan dengan langkah-langkah [PDKT atau pendekatan] berikutnya dan semakin maju hingga mencapai puncak [di titik nikah] atau kembali lagi [ke persahabatan biasa]” (hlm. 75-76)
  10. Islam tidak mengingkari cinta yang indah, tetapi justru “menghendaki yang seindah-indahnya”. Islam menghendaki agar cinta itu “dijaga, dirawat, dan dilindungi” dengan harapan berujung pada titik nikah. (hlm. 76)
  11. Islam “tidak datang untuk membelenggu perasaan manusia, melainkan untuk membersihkannya dan mengarahkannya ke arah kebaikan, agar dengannya seseorang memperoleh kebahagiaan dan dapat membahagiakan orang sekitarnya, bukan untuk menyengsarakannya dan menyengsarakan orang sekitarnya.” (hlm. 76)
  12. Jalan menuju pernikahan (dari perkenalan hingga akad nikah) yang bisa panjang atau pun pendek tidaklah berbahaya “jika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis [mesra] yang makruf, atau ditandai dengan tanda-tanda yang manis [mesra] dan makruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia.” Cinta di jalan tersebut hendaknya “menjadi perasaan yang hangat, kegembiraan yang menyenangkan, dan cita-cita yang besar”. (hlm. 77)

Begitulah selusin alasan Abu Syuqqah mengapa sebaiknya kita bercinta sebelum khitbah (peminangan). Bagaimana dengan Anda? Punya alasan lain? Silakan menambahkan.

96 Tanggapan leave one →
  1. 2007 April 12

    Mengutip point terakhir “Tukar pikiran dan bantuan untum mepersiapkan rumah tangga yang bahagia”

    Dugh senengnya kalo bisa seperti ini. Bisa dipersiapkan dengan matang jadinya

  2. 2007 April 13
    Ali Ahmadi permalink

    Artikel bagus.
    Oh ya… Buku Kebebasan Wanita tlah terbit sejak 1997.
    Tapi baru sekarang aku jadi tahu 12 alasan percintaan pranikah menurut ulama terpercaya.

  3. 2007 April 13

    judul artikelnya lumayan bombastis.. ;-)
    bgitu pula judul blog nya..

    walopun sudah menikah, seperti nya perlu juga nih buku ini, seengganya buat anakku nanti..

  4. 2007 April 13

    buat referensi bagus juga .. apalagi punya anak perempuan .. :)
    salam kenal ..

  5. 2007 April 13

    Emang!! Tidak ada yang salah dengan cinta… Tidak ada yang salah dengan rasa…

  6. 2007 April 14

    :-) wah Judulnya ….. :)

  7. 2007 April 14

    Salam kenal juga buat Nayla dkk.

    Judul bombastis karena pakai istilah “bercinta”?
    Istilah “bercinta” itu tidak mengada-ada.
    Memang istilah tersebutlah yang dipakai di buku Kebebasan Wanita Jilid 5 (hlm. 79).
    Kalau judul yang memakai istilah tersebut menjadikan artikel ini menarik, syukurlah.
    Alhamdulillaah….

  8. 2007 April 14
    insanayu permalink

    intinya aja…pacaran itu boleh atau gak? salam kenal!

    Jawaban M Shodiq Mustika:
    Ada jenis pacaran yang terlarang, ada pula yang tidak terlarang. Pacaran dalam arti “bercinta sebelum peminangan” seperti yang disebut dalam artikel di atas tergolong yang dianjurkan oleh Abu Syuqqah.
    Salam kenal kembali.

  9. 2007 April 14

    salam kenal

  10. 2007 April 15

    wah saya malah blum smpat baca buku itu. walaupun dah liat dari dulu-dulu. yg penting dah mempraktikkan nih….

  11. 2007 April 15

    saya setuju dengan 12 alasan tersebut, karena banyak didalamnya menggunakan bahasa modern yang mudah dicerna oleh kalangan masyarakat remaja kita, namun kata “bercinta” yang anda tulis sangatlah rawan dan sangat menyeret untuk dibaca dan ternyata …. “bercinta” yang dimaksud di sini adalah menjalin hubungan untuk menuju pernikahan. :)

    seperti artikel yang saya bahas sebelumnya tentang pacaran boleh atau enggak, bahwa disaat jaman semakin modern ini kita harus banyak bermain pikiran dalam pembahasan religius dengan bahasa modern juga dimana nantinya mudah untuk dicerna sodara-sodara kita terutama pembahasan masalah yang dekat dengan zina ini :)

    Thanks bro

  12. 2007 April 18

    Assww
    Wah, jujur aja ana belum konek dengan ide di blog ini.
    Nanti-nanti dah dibaca lagi…(sepertinta sepintas rada-rada aneh ya, maaf belum baca full sih gagasannya).
    Husnudzan dulu dah….
    Salam kenal …

  13. 2007 April 26
    diqi permalink

    walaaah kayanya saya harus baca tuh buku

  14. 2007 Mei 3

    Nanti saya beli bukunya dulu. Dari ringkasan yang anda buat, saya rasa koq tidak berdasarkan pada dalil. Adakah dalil yang mendukungnya???

    Tanggapan:

    Sebaiknya kita menilai suatu karya secara adil, yaitu setelah membacanya secara lengkap dan obyektif.
    Islam tidak mengajarkan kita untuk berprasangka buruk, bukan?
    (Lihat artikel Ciri-Ciri Islam Ekstrim (1): Fanatik.)

    Dalil-dalilnya ada di buku tersebut.
    Mengenai keabsahan dalil-dalil itu, silakan baca kata pengantar dari Yusuf Qardhawi di Jilid 1.
    Adapun untuk memahami ijtihad Abu Syuqqah ini, kami sarankan Anda membaca Jilid 3, terutama Bab III.

  15. 2007 Mei 4

    Bagus neh postingan, cuma mesti siap-siap menerima counter attack yang kadang menyakitkan pak…

    Salam saja lah, terima kasih sudah memberikan pandangan baru dalam benak saya…

    *Wa’alaikum salam. Terima kasih juga. Dukungan Anda sungguh membesarkan hati. Memang, disamping pujian, kami mendapat cacian pula. Namun alhamdulillah, dibandingkan lima tahun yang lalu ketika kami mulai menggulirkan gagasan ini, keadaan sekarang sudah lebih kondusif bagi perkembangan islamisasi pacaran.

  16. 2007 Juni 12
    chosiin permalink

    secara umum gagasannya emang menarik, seiring dengan kondisi zaman yang makin banyak pengaruhnya dari barat terutama yang menggulirkan faham liberal. namun perlu di hubungkan dengan kondisi umat islam saat ini. “OK” lah kalau kondisi umat islam seperti kondisi umat islam zaman nabi, yang keislamannya begitu baik (kaaaaffah) dan pengaruhnya masih belum begitu banyak. selain itu juga perlu dipertimbangkan masalah niat. innamal ‘amalu binniyat. kalau ini betul-betul difahami dengan baik oleh umat islam, maka insyaAllah akan baik pula hasilnya. kalau hubungan pacaran sama niat: kalau pacaran memang benar-benar untuk mencari kecocokan kedua pasangan (calon pasangan) dengan memperhatikan aturan syariat, itu emang baik. tapi lihat kondisi sekarang, dimana arus globalisasi begitu kuat yang didominasi oleh faham liberal. maka kesimpulannya kondisi yang seperti pada artikel diatas belum cocok. kalau kondisi syariat sudah kondusif, prinsip2 itu bisa di pakai.

    Yup. Kalo memang kondisi anda belum spt yg disebut di atas, tentu kami tidak menyarankan anda menjalankannya.

  17. 2007 Juni 28

    saya lebih suka istilah “ta’aruf” dari pada penggunaan kata “bercinta” maupun “percintaan”.
    “percintaan” maupun “bercinta” sepertinya mengalami pergeseran makna dalam masyarakat…

    yah,..ada bagian dari tulisan yang saya sepakat dengannya, ada pula bagian yang saya tidak sepakat dengannya…

    saya harap gunakan kata2 yang pas untuk memberikan penjelasan karena bisa jadi orang akan salah paham dengan pendapat penulis…

  18. 2007 Juli 5
    Joe Hanazawa permalink

    Kajian ini terus terang menarik, tapi kok saya merasa agak risih juga ya.
    Bagaimana kalau yang membaca artikel ini(hanya membaca artikel ini sepintas) adalah pasangan muda mudi yang sedang kasmaran, lalu ketika membaca artikel ini seakan akan mendapat pembenaran atas apa yang mereka lakukan, menjadi justifikasi atas ihtilat yang berlebihan. Alasan klise nya adalah..’kami siap kok untuk menikah’,
    apalagi konteks artikel ini adalah pra khitbah.

    Tapi mungkin saya harus baca bukunya dulu ya biar bisa lebih tau pemikirannya. Jadi bisa lebih arif dalam menyikapi suatu pemikiran dan tidak memvonis.
    tapi saya harus mengakui, artikel ini membuka wawasan saya. keep the good work

    Jadi penasaran ingin baca bukunya..heheheh

  19. 2007 Juli 21

    rekomendasi bukunya bolehh jugaa

  20. 2007 Juli 22
    wiraprasetya permalink

    Berarti, hubungan cinta pra-nikah tidak dilarang dong? Saya pernah baca di sebuah artikel (lupa di mana) bahwa jatuh cinta halal bila itu terjadi SESUDAH menikah. Hm, gimana dong? Salam kenal :D

    Ya, hubungan cinta pra-nikah tidak terlarang.

  21. 2007 Juli 27

    kalo hubungan sebelum nikah lewat dunia maya, gimana Pak?

    :-D

    Selama tidak mendekati zina atau pun kemunkaran lainnya, boleh-boleh saja

  22. 2007 Juli 28
    dobelden permalink

    hwaa… pengen pacaran nih :D :D:D

    dah lama gak pacaran :p

  23. 2007 Juli 28

    Rasa cinta itu wajar.
    Tapi ingat, jangan DEKATI zina. Mau jadi apa bangsa ini kalo perzinahan menjadi budaya.

    Kayaknya tu judul perlu dipermak, biar ga da salah persepsi. Bahaya kalo sampe salah persepsi.

  24. 2007 Juli 30

    jadi, boleh neh bercinta =P~

    ya, boleh, tentu saja asalkan secara islami

  25. 2007 Agustus 8

    sebenarnya emang paling aman kalo tidak pacaran. tapi apa daya… fufufu :(

  26. 2007 Agustus 12
    Dita permalink

    wah jd pengen pacaran neh,,,,
    tapi klo melihat teman-teman saya yang menikah dgn ta’aruf terlebih dahulu,,,,keliatannya jauh lebih asik,,,
    ughh…jd bingung????lebih bagus mana pacaran atw Ta’aruf???

    tergantung kasusnya
    ada yg lebih baik “taaruf”
    ada yg lebih baik “pacaran islami”

  27. 2007 Agustus 12
    pak slamet permalink

    ndutyke…selamat mencoba pacaran islami ya…semoga berhasil..galilah pergaulan seluasnya dalam koridor islam…

  28. 2007 Agustus 17
    rama permalink

    saya bersykur sekali dgn adanya artikel seperti ini,,,,walaupun mgkn sdikit yg baca tp sedikit banyak kita bsa mngabil hikmah dan sedikti tau bgaimana islam mngatur hubgn antr lawan jenis
    mudh2an kerisauan penulis mndpt balsan yg baik dr allah swt dan mndpat kmudhan

    aamiin.
    sebetulnya, yg baca artikel ini banyak.
    tp entah sedikit entah banyak, ridha Allah lah yg kita cari.

  29. 2007 Agustus 17

    Ass.
    Afw, anee kurang setuju dengan judulnya, diantara prinsip seorang jurnalis muslim, ialah tetap terikat dengan hukum syara’ “al-ashlu fil af’al, at-taqayyidu bil hukmu asy-syar’i”; tidak menghalalkan segala cara, “al-ghayyah laa tubarriru al-washiilah”, judul ini bisa bikin orang salah paham, afwan. Terus mengenai isinya, harus ditunjukkan apa dalilnya (dalil Al-Quran & As-Sunnah), karena “laa haqqa illaa bil hujjah, laa hujjata illaa bid-daliil” (tiada kebenaran tanpa hujjah, dan tiada hujjah tanpa dalil). Anee saranin, blogger yang ngelola ini blog, merujuk pada maraji’ (refernsi) kitab NIdzaamul Ijtimaa’iy fil Islaam (Sistem Pergaulan dalam Islam), Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, afw sekali lagi afw, ini demi kebaikan
    Wass.
    syukron.

    dalilnya yg lengkap ada di buku/kitab yg ana rujuk di sini.
    silakan telusuri

  30. 2007 Agustus 21
    Rasional permalink

    Kok selama yang dibahas pacaran, selalu ada argumen: “Kan yang ga boleh mendekati zina, kalau ga mendekati gak papa dunk.” Padahal yang namanya gairah dan romantisme itu adalah satu hal yang ga bisa dipisah pisahkan. Dan “passion” yang utuh begitu bisa timbul dimana saja, entah anda sedang ada di tempat suci. Juga bisa timbul karena apa saja. Konon ada penelitian bahwa orang bisa “dieksitasi” oleh sepatu. Apalagi sms, suara dll.

    Di sisi lain, hasrat kita pada lawan jenis adalah anugerah. Nah tentunya “hasrat” itu boleh yang tidak boleh adalah memfasilitasi hasrat itu secara serampangan. Dan bila kita setia pada prinsip-prinsip agama (baca: Islam) tentunya hubungan romantis harus berorientasi ke pernikahan. Masalahnya, gimana kalau orang jatuh cinta jauh-jauh hari sebelum kesiapan menikah?

    Ini memang dilematis. Tapi cara yang paling aman ketika orang belum punya bayangan tentang pernikahan yang berpuasa dari romantisme, kalau ngga dia akan tersiksa sendiri. Sedang kalau “kenal” dengan lawan jenis itu sih sah sah aja, seperti mengenal Mbok Jamu atau Bu RT kan gak papa.

    Saya kira pesan Quran supaya kita mengenal orang lain tu ya seperti itu. Kenalilah tetanggamu, Pak RT, Bu RT, Pak Lurah, Mbok Jamu dll secara proporsional sesuai peran dan tanggungjawabnya.

    Kalau islam men”encourage” percintaan sebelum menikah, ada kemungkinan jadi playboy atau playgirl dong kan gak ada komitmen apa-apa lagipula tidak ada nash yang melarang jadi playperson jenis ini.

    Salam wallahua’lam bishawab

    Untuk lebih memahami 12 alasan tsb, silakan baca buku yang dirujuk itu.

  31. 2007 Agustus 25
    kaezzar permalink

    @Rasional

    Betul pak, yg namanya gairah dan nafsu bisa muncul dimana n kapan saja…baik yg lagi pacaran, atau taaruf sekalipun loh
    Namanya interaksi cowo – cewe…Jangankan yg ketemu, yg ngga ketemu alias pake cara mbayangin aja bisa hehe

    So, kesimpulannya…salah metodenya?……….atau pelakunya? :D

    Wassalam

  32. 2007 September 3
    ferry permalink

    soal pacaran,gue masih jomblo.cariin cewe donnk!.10 pendaftar pertama mendapat hadiah kaos cantik.he he he bercanda

  33. 2007 September 4

    makna kata “bercinta” yang luas itu saat ini seakan dipersempit menjadi “making love” alias bersenggama atau bersetubuh…
    Jadi, akan lebih tepat berjudul: 12 Alasan, mengapa perlu menyayangi sebelum bercinta Menikah. Itu menurut saya, tapi ini kan blogsphere, jadi saya paham juga kenapa anda memilih judul diatas – “sensasi & selebrasi” – namun banyak pembaca mengabaikan “esensi” dari postingan anda.
    Dari segi lain, No Problem saya kira… :mrgreen:

  34. 2007 September 6
    sahlani permalink

    salam kenal za..syukron..saya memang blm baca buku tersebut,,tapi tntng pacaran islami bukanlah hal baru..byk buku lain yg seirama dgn buku tsbt.secara pribadi saya,skalipun ada suka dgn pndapt trsbt,tapi ada hal yg saya takutkan..apakah ini memang sesuai dgn syariat Allah,atau masalah tersebut kita katakan ” boleh / halal ” dulu, trus kemudian cari-cari dalil utk mensahkannya..saya takut istinbat hukum ini dibuat berdasarkan nafsu kita.ingat sejarah bani israil yg dilarang menangkap ikan pada hari sabtu? mereka cari cara utk bisa mendapatkannya lalu buat alasan.nah..klo pndapt itu salah siapa yg mau tanggung jwb?..jadi..hemat saya..klo anda mau pacaran atau apalah sebutannya..cepet2 deh ajak nikah..coz pandangan kita itu kadang tidak jujur..itu tetap mengandung dosa.bukankah kita disuruh selalu menundukkan pandangan sama lawan jenis.karena iman kita lemah.maka kita kerjain tu dosa.selalulah istighfar.coz..kadang2 kita tipu diri kita sendiri..ok.kepanjangan ya..makasih

  35. 2007 September 7

    @ k* tutur
    Terima kasih, akhirnya Kang Tutur menyatakan “no problem”.

    @ sahlani
    Kami mengerti kekhawatiranmu. Karena itu, kami menyampaikan seluk-beluk pacaran islami secara terbuka, supaya orang-orang bisa memantau dan mengoreksi kami. Jadi, setiap kali kau jumpai kekeliruan di situs ini, luruskanlah!

  36. 2007 September 9
    humairaa permalink

    Bukunya boljug tuh!!!!

  37. 2007 September 13
    hizra nina amelia dalimunthe permalink

    dasar ISLAM LIBERAL.
    merusak agama.

    Tanggapan Admin:
    Hizra yang terhormat,
    Tidak maukah Anda menghargai pandangan saudara sesama muslim yang didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih?

  38. 2007 September 14
    rusli permalink

    boleh juga nih

  39. 2007 September 15
    zidni permalink

    subhaanallaah….
    blog inilah blog terbaik mengenai pranikah islami,
    gak asal cuap2, gak mengandalkan prasangka,
    tapi berdasar pada dalil-dalil yang kuat.

    ya Allah,
    karuniailah pemilik blog ini pahala yang sebesar-besarnya
    dan berilah dia kesabaran untuk melayani orang-orang bodoh yang masih saja mengingkari bukti-bukti kebenaran yang disampaikan di blog ini
    amin

  40. 2007 September 24

    BALADA SEORANG Akhwat :

    (ngakunya) Akhwat…..

    suka dengan ikhwan (ngakunya sih), duh mereka suka berkholwat

    kemana-mana berasyik-masyuk, sampai mereka lupa akhirat

    ternyata nasib telah tersurat

    si ikhwan (?) khianat

    lebih memilih wanita yang lebih memikat

    kemana akhirnya si akhwat (?)

    untungnya kok gak sampe ke liang lahat

    namun, hatinya terlanjur telah terkhianat

    hingga terlalu paranoid disanding dengan “madu” yang memikat

    duh, kasian nian dikau si akhwat……………….

    Andai dulu engkau dengar wejangan Kitabullah supaya tidak suka berkholwat dengan pria khianat

    pastilah engkau selamat,

    hatimu juga selamat

    pikiranmu pastilah tetap smart

    takkan pernah akidah dan akhlakmu tergadaikan oleh buaian setan terlaknat

    hingga kau takkan nyinyir mengumbar provokasi bahwa semua pria ternyata pengkhianat

    Semoga engkau selalu mendapat Rahmat, ya akhwat

    dari Allah yang Maha Melihat

    apa yang tersebunyi dari makhluknya yang suka berkhianat

    NB: Akhwat adalah wanita, Ikhwan adalah Pria

  41. 2007 September 26
    Ibtisam permalink

    kembalilah pada kemurnian islam
    sesungguhnya allah Maha Penerima TAUBAT, bagi hambanya yang terjerumus.

  42. 2007 September 26
    azuka permalink

    weee
    ngaco kali !!!

  43. 2007 September 26
    razil permalink

    salam kenal azuka.. hehhehehehehehe

  44. 2007 September 27

    :) :) :)

  45. 2007 September 27
    arsa gane dalimunthe tobaerhita aghaesiwara hariirasa permalink

    @hizra nina amelia dalimunthe
    “dasar ISLAM LIBERAL.
    merusak agama.”
    “LIBERAL? nggak salah tuh??
    dasar ISLAM RADIKAL
    mengkerdilkan agama.

  46. 2007 September 30
    hz86 permalink

    Asw.
    yah..kita memiliki perasaan suka pada lawan jenis,emang wajar..normal..justru kaga normal kalo kita ngga punya rasa itu..
    wong fitrah ko!!!!
    hanya,gimana cara kita..menghadapi,mengatasi itu semua..
    jelas!!!dg cara menjaga syahwat kita bae2..
    kalo kita malahan pacaran ama orang yang kita suka..yaaa…rasa cinta itu bakalan ngegede2 dan ngegede..gedenya..ampe ngilangin rasa cinta kita ama Allah..Allah bisa murka kalo kaya gitu caranya!jadi pacaran sbelon kawin adl sesuatu hal berbahaya,yang bisa menjauhkan kita dg Allah azza wa jalla!!!mau???neraka entar t4 orang2 yang mau kna murka Allah..Na’udzubillah..

  47. 2007 Oktober 3
    fyanz permalink

    Wah,
    ni sesuatu yg baru tuk aq.
    Kok jd aneh ya?

    Pa gak takut ntar ujungnya, jadi ajang coba2.
    Kasihan kan anak cewe’ orang.
    Misalnya bapak punya anak cewe’ nih,
    trus da ikhwan datang nglamar,
    tapi dicobain dulu, diajak bercinta dulu,
    setelah puas,
    eeh si ikhwan tuh ngabur, en bilang kagak ada kecocokan setelah di coba.
    Gimana perasaan bapak?

    Yg gak di izinin aja, dah bejamur dimana2.
    Palagi yg di kasih dalil?
    Astafirullah………

    Capeeek deeehhhh…….
    Yg logis aja dong berfikirnya,
    tu namanya ngijinin seks bebas tau…………

  48. 2007 Oktober 9

    Bagaimana ada praktek pacaran Islami? Lhaaa wong nglirik aja udah dosa. Nikah dulu baru pacaran. Itu ahsan

  49. 2007 Oktober 10

    @hz86
    Apakah pernyataanmu “kalo kita malahan pacaran ama orang yang kita suka..yaaa…rasa cinta itu bakalan ngegede2 dan ngegede..gedenya..ampe ngilangin rasa cinta kita ama Allah..” didasarkan pada penelitian obyektif ataukah prasangka subyektif?

    @fyanz

    Apakah pernyataanmu “tu namanya ngijinin seks bebas tau” didasarkan pada penelitian obyektif ataukah prasangka subyektif?

    @ImamMawardi

    1) Pacaran tanpa tatap-muka bisa dilakukan.

    2) Apa hujjah Anda sehingga mengatakan bahwa “nglirik aja udah dosa”? Abdul Halim Abu Syuqqah justru menyatakan, “Islam menetapkan bolehnya kaum wanita melihat kaum laki-laki, dan sebaliknya.” (Kebebasan Wanita, jilid 3, hlm. 172)

    3) Ya, sebagian orang sebaiknya langsung nikah tanpa pacaran. Namun sebagian orang lainnya sebaiknya pacaran dulu secara islami sebelum menikah. (12 alasan diantaranya sudah kami ungkap di artikel ini)

  50. 2007 November 1

    Blog terindah yang pernah Ade baca… sungguh!! Membaca blog ini jadi merenung selama ini cara pacaran Ade udah islami belum yah… duh !!

    -Ade-

    Tanggapan Admin:

    Makasih, mbak Ade. Met pacaran secara islami.

Lacak Balik & Ping Balik

  1. Konsultasi: Naruh Perhatian Yang Nggak Bikin Risih « Pacaran Islami
  2. Kalau Johnnie Walker Lagi Ta’aruf « The Satrianto Show!
  3. Berilah Kemudahan Bercinta daripada Mencegah Zina Secara Berlebihan « Pacaran Islami
  4. Tinjauan 12 Alasan Mengapa Bercinta.. « Pacaranislamikenapa’s Weblog
  5. Kelirunya Terjemahan Sebuah Hadits Cinta « Pacaran Islami
  6. puji’s Blog » Blog Archive » Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami)
  7. Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami) « Tanazhur PraNikah
  8. vizentica.blogr.com - stories - 2009-07-26-Pacaran-Islami

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS