<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?)</title>
	<atom:link href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/</link>
	<description>Persiapan Menikah Melalui Tanazhur Pra-Nikah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 07:53:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: teguhimanu</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-4243</link>
		<dc:creator>teguhimanu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 11:51:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-4243</guid>
		<description>Bagaimana dengan pendapat yang seperti dibawah ini:

Dalam kehidupan Islam, yaitu kehidupan kaum Muslim dalam
segala kondisi mereka secara umum, telah ditetapkan di dalam sejumlah
nash syariah, baik yang tercantum dalam al-Quran maupun as-Sunnah
bahwa kehidupan kaum pria terpisah dari kaum wanita. Ketentuan ini
berlaku dalam kehidupan khusus seperti di rumah-rumah dan yang
sejenisnya, ataupun dalam kehidupan umum, seperti di pasar-pasar,
di jalan-jalan umum, dan yang sejenisnya. Ketentuan tersebut
merupakan ketetapan berdasarkan sekumpulan hukum Islam (majmu’
al-ahkam) yang berkaitan dengan pria, wanita, atau kedua-duanya;
juga diambil dari seruan al-Quran kepada kaum wanita dalam
kedudukannya sebagai wanita dan kepada kaum pria dalam
kedudukannya sebagai pria. Dalam salah satu potongan ayat-Nya, Allah
SWT berfirman:
“…laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan
perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka
ampunan dan pahala yang besar…” (TQS al-Ahzâb [33]: 35)

Di samping itu, pemisahan pria dan wanita ini juga telah
diriwayatkan (marwiy) dalam bentuk pengamalan dan dilaksanakan
dalam kehidupan masyarakat oleh masyarakat Islam pada masa
rasulullah SAW dan pada seluruh kurun sejarah Islam.
Adapun sekumpulan dalil al-Quran dan as-Sunnah yang
mendasari pemisahan ini, dengan menelitinya akan kita dapati bahwa
Allah SWT telah mewajibkan wanita memakai jilbab jika hendak keluar
rumah. Allah telah menjadikan wanita seluruhnya adalah aurat selain
wajah dan dua tekapak tangannya. Allah mengharamkan wanita untuk
memperlihatkan perhiasannya terhadap selain mahram-nya. Allah pun
telah melarang kaum pria melihat aurat wanita, meskipun hanya sekadar
rambutnya. Allah juga telah melarang para wanita bepergian, meskipun
untuk haji, jika tidak disertai mahram. Di samping itu, kita akan
menemukan pula Allah telah melarang seseorang untuk memasuki
rumah orang lain, kecuali dengan seizin penghuninya. Kita pun akan
menemukan bahwa, Allah tidak mewajibkan kaum wanita melakukan
shalat berjamaah, shalat Jumat, atau pun berjihad. Sebaliknya, Allah
mewajibkan semua aktivitas tersebut bagi kaum pria. Allah juga telah
mewajibkan kaum pria bekerja dan mencari penghidupan, tetapi allah
tidak mewajibkan hal itu atas kaum wanita.
Seluruh fakta-fakta di atas telah menjadi dalil, di samping fakta
bahwa Rasulullah SAW telah memisahkan kaum pria dari kaum wanita,
dan menjadikan shaf-shaf kaum wanita di masjid berada di belakang
shaf-shaf kaum pria. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik
RA bahwa neneknya Malikah pernah mengundang Rasulullah SAW
untuk menikmati jamuan makanan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah
SAW memakannya kemudian berkata:

Berdirilah kamu agar aku mendoakan bagi kamu…” hingga
perkataan Anas bin Malik, ”Maka berdirilah Rasulullah SAW dan
berbarislah aku dan seorang anak yatim di belakang beliau, dan
seorang perempuan tua di belakang kami.”

Pada saat keluar dari masjid, Rasulullah SAW memerintahkan
kaum wanita keluar lebih dulu kemudian disusul oleh kaum pria
sehingga kaum wanita terpisah dari kaum pria. Imam Bukhari
meriwayatkan dari Hindun binti Al-Harits dari Ummu Salamah isteri
Nabi SAW:
Bahwa kaum wanita pada masa Rasulullah SAW jika telah
mengucapkan salam dari shalat wajib, mereka berdiri. Rasulullah
SAW dan kaum pria diam di tempat selama waktu yang dikehendaki
Allah. Maka jika Rasulullah SAW berdiri, berdirilah kaum pria.”
Mengenai pengajaran Rasulullah SAW di masjid, seorang wanita
berkata kepada beliau, “Kami telah dikalahkan oleh kaum pria untuk
belajar padamu. Karena itu, hendaklah engkau menyediakan satu hari
buat kami” (HR Bukhari, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA).
Semua hukum, kondisi, dan realitas yang seperti itu secara
keseluruhannya menunjukkan jalannya kehidupan Islam. Kehidupan
Islam itu adalah kehidupan yang memisahkan antara kaum pria dan
kaum wanita. Keterpisahnya keduanya dalam kehidupan Islam adalah
bersifat umum, tidak dibedakan apakah itu kehidupan khusus atau
kehidupan umum. Alasannya, kehidupan Islam di masa Rasulullah SAW
pun telah memisahkan kaum pria dari kaum wanita secara mutlak,
baik dalam kehidupan khusus maupun dalam kehidupan umum secara
sama.

Dikecualikan dari itu jika Allah telah membolehkan adanya
interaksi di antara keduanya, baik dalam kehidupan khusus maupun
dalam kehidupan umum. Allah SWT, misalnya, telah membolehkan
kaum wanita untuk melakukan jual-beli serta mengambil dan menerima
barang; mewajibkan mereka untuk menunaikan ibadah haji;
membolehkan mereka untuk hadir dalam shalat berjamaah, berjihad
melawan orang-orang kafir, memiliki harta dan mengembangkannya,
dan sejumlah aktivitas lain yang dibolehkan atas mereka. Semua
aktivitas di atas yang dibolehkan atau diwajibkan oleh syariah Islam
terhadap kaum wanita, harus dilihat dulu. Jika pelaksanaan berbagai
aktvitas di atas menuntut interaksi/pertemuan (ijtima’) dengan kaum
pria, boleh pada saat itu ada interaksi dalam batas-batas hukum syariah
dan dalam batas aktivitas yang dibolehkan atas mereka. Ini misalnya
aktivitas jual-beli, akad tenaga kerja (ijârah), belajar, kedokteran,
paramedis, pertanian, industri, dan sebagainya. Sebab, dalil tentang
kebolehan atau keharusan aktivitas itu berarti mencakup kebolehan
interaksi karena adanya aktivitas-aktivitas itu. Namun, jika pelaksanaan
berbagai aktvitas di atas tidak menuntut adanya interaksi di antara
keduanya seperti berjalan bersama-sama di jalan-jalan umum; pergi
bersama-sama ke masjid, ke pasar, mengunjungi sanak-famili, atau
bertamasya; dan yang sejenisnya, tidak boleh seorang wanita
melakukan interaksi dengan seorang pria. Sebab, dalil-dalil tentang
keharusan pemisahan kaum pria dari kaum wanita bersifat umum. Tidak
ada satu dalil yang membolehkan adanya interaksi di antara pria dan
wanita dalam perkara-perkara di atas, dan interaksi itu pun tidak dituntut
oleh perkara yang dibolehkan oleh syariah untuk dilakukan seorang
wanita.

Karena itu, adanya interaksi antara pria dan wanita dalam
perkara-perkara tersebut di atas dipandang sebagai perbuatan dosa,
meskipun dilakukan dalam kehidupan umum.
Atas dasar ini, pemisahan kaum pria dari kaum wanita dalam
kehidupan Islam adalah wajib. Pemisahan keduanya dalam kehidupan
khusus adalah pemisahan yang total, kecuali dalam perkara-perkara
yang dibolehkan oleh syariah.

Adapun dalam kehidupan umum, hukum asalnya adalah
terpisah dan tidak boleh ada interaksi antara pria dan wanita. Kecuali
pada perkara-perkara yang telah dibolehkan syariah, di mana syariah
telah membolehkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan suatu
aktivitas untuk wanita; serta pelaksanannya menuntut adanya interaksi
dengan pria. Baik interaksi ini terjadi dengan tetap adanya pemisahan,
seperti di dalam masjid, atau dengan adanya ikhtilâth (campur-baur),
sebagaimana dalam aktivitas ibadah haji atau jual-beli.

Sumber:

http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-51-118.pdf

Lainnya:

http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-1-50.pdf
http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-119-202.pdf
http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-203-314.pdf</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana dengan pendapat yang seperti dibawah ini:</p>
<p>Dalam kehidupan Islam, yaitu kehidupan kaum Muslim dalam<br />
segala kondisi mereka secara umum, telah ditetapkan di dalam sejumlah<br />
nash syariah, baik yang tercantum dalam al-Quran maupun as-Sunnah<br />
bahwa kehidupan kaum pria terpisah dari kaum wanita. Ketentuan ini<br />
berlaku dalam kehidupan khusus seperti di rumah-rumah dan yang<br />
sejenisnya, ataupun dalam kehidupan umum, seperti di pasar-pasar,<br />
di jalan-jalan umum, dan yang sejenisnya. Ketentuan tersebut<br />
merupakan ketetapan berdasarkan sekumpulan hukum Islam (majmu’<br />
al-ahkam) yang berkaitan dengan pria, wanita, atau kedua-duanya;<br />
juga diambil dari seruan al-Quran kepada kaum wanita dalam<br />
kedudukannya sebagai wanita dan kepada kaum pria dalam<br />
kedudukannya sebagai pria. Dalam salah satu potongan ayat-Nya, Allah<br />
SWT berfirman:<br />
“…laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan<br />
perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang<br />
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak<br />
menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka<br />
ampunan dan pahala yang besar…” (TQS al-Ahzâb [33]: 35)</p>
<p>Di samping itu, pemisahan pria dan wanita ini juga telah<br />
diriwayatkan (marwiy) dalam bentuk pengamalan dan dilaksanakan<br />
dalam kehidupan masyarakat oleh masyarakat Islam pada masa<br />
rasulullah SAW dan pada seluruh kurun sejarah Islam.<br />
Adapun sekumpulan dalil al-Quran dan as-Sunnah yang<br />
mendasari pemisahan ini, dengan menelitinya akan kita dapati bahwa<br />
Allah SWT telah mewajibkan wanita memakai jilbab jika hendak keluar<br />
rumah. Allah telah menjadikan wanita seluruhnya adalah aurat selain<br />
wajah dan dua tekapak tangannya. Allah mengharamkan wanita untuk<br />
memperlihatkan perhiasannya terhadap selain mahram-nya. Allah pun<br />
telah melarang kaum pria melihat aurat wanita, meskipun hanya sekadar<br />
rambutnya. Allah juga telah melarang para wanita bepergian, meskipun<br />
untuk haji, jika tidak disertai mahram. Di samping itu, kita akan<br />
menemukan pula Allah telah melarang seseorang untuk memasuki<br />
rumah orang lain, kecuali dengan seizin penghuninya. Kita pun akan<br />
menemukan bahwa, Allah tidak mewajibkan kaum wanita melakukan<br />
shalat berjamaah, shalat Jumat, atau pun berjihad. Sebaliknya, Allah<br />
mewajibkan semua aktivitas tersebut bagi kaum pria. Allah juga telah<br />
mewajibkan kaum pria bekerja dan mencari penghidupan, tetapi allah<br />
tidak mewajibkan hal itu atas kaum wanita.<br />
Seluruh fakta-fakta di atas telah menjadi dalil, di samping fakta<br />
bahwa Rasulullah SAW telah memisahkan kaum pria dari kaum wanita,<br />
dan menjadikan shaf-shaf kaum wanita di masjid berada di belakang<br />
shaf-shaf kaum pria. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik<br />
RA bahwa neneknya Malikah pernah mengundang Rasulullah SAW<br />
untuk menikmati jamuan makanan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah<br />
SAW memakannya kemudian berkata:</p>
<p>Berdirilah kamu agar aku mendoakan bagi kamu…” hingga<br />
perkataan Anas bin Malik, ”Maka berdirilah Rasulullah SAW dan<br />
berbarislah aku dan seorang anak yatim di belakang beliau, dan<br />
seorang perempuan tua di belakang kami.”</p>
<p>Pada saat keluar dari masjid, Rasulullah SAW memerintahkan<br />
kaum wanita keluar lebih dulu kemudian disusul oleh kaum pria<br />
sehingga kaum wanita terpisah dari kaum pria. Imam Bukhari<br />
meriwayatkan dari Hindun binti Al-Harits dari Ummu Salamah isteri<br />
Nabi SAW:<br />
Bahwa kaum wanita pada masa Rasulullah SAW jika telah<br />
mengucapkan salam dari shalat wajib, mereka berdiri. Rasulullah<br />
SAW dan kaum pria diam di tempat selama waktu yang dikehendaki<br />
Allah. Maka jika Rasulullah SAW berdiri, berdirilah kaum pria.”<br />
Mengenai pengajaran Rasulullah SAW di masjid, seorang wanita<br />
berkata kepada beliau, “Kami telah dikalahkan oleh kaum pria untuk<br />
belajar padamu. Karena itu, hendaklah engkau menyediakan satu hari<br />
buat kami” (HR Bukhari, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA).<br />
Semua hukum, kondisi, dan realitas yang seperti itu secara<br />
keseluruhannya menunjukkan jalannya kehidupan Islam. Kehidupan<br />
Islam itu adalah kehidupan yang memisahkan antara kaum pria dan<br />
kaum wanita. Keterpisahnya keduanya dalam kehidupan Islam adalah<br />
bersifat umum, tidak dibedakan apakah itu kehidupan khusus atau<br />
kehidupan umum. Alasannya, kehidupan Islam di masa Rasulullah SAW<br />
pun telah memisahkan kaum pria dari kaum wanita secara mutlak,<br />
baik dalam kehidupan khusus maupun dalam kehidupan umum secara<br />
sama.</p>
<p>Dikecualikan dari itu jika Allah telah membolehkan adanya<br />
interaksi di antara keduanya, baik dalam kehidupan khusus maupun<br />
dalam kehidupan umum. Allah SWT, misalnya, telah membolehkan<br />
kaum wanita untuk melakukan jual-beli serta mengambil dan menerima<br />
barang; mewajibkan mereka untuk menunaikan ibadah haji;<br />
membolehkan mereka untuk hadir dalam shalat berjamaah, berjihad<br />
melawan orang-orang kafir, memiliki harta dan mengembangkannya,<br />
dan sejumlah aktivitas lain yang dibolehkan atas mereka. Semua<br />
aktivitas di atas yang dibolehkan atau diwajibkan oleh syariah Islam<br />
terhadap kaum wanita, harus dilihat dulu. Jika pelaksanaan berbagai<br />
aktvitas di atas menuntut interaksi/pertemuan (ijtima’) dengan kaum<br />
pria, boleh pada saat itu ada interaksi dalam batas-batas hukum syariah<br />
dan dalam batas aktivitas yang dibolehkan atas mereka. Ini misalnya<br />
aktivitas jual-beli, akad tenaga kerja (ijârah), belajar, kedokteran,<br />
paramedis, pertanian, industri, dan sebagainya. Sebab, dalil tentang<br />
kebolehan atau keharusan aktivitas itu berarti mencakup kebolehan<br />
interaksi karena adanya aktivitas-aktivitas itu. Namun, jika pelaksanaan<br />
berbagai aktvitas di atas tidak menuntut adanya interaksi di antara<br />
keduanya seperti berjalan bersama-sama di jalan-jalan umum; pergi<br />
bersama-sama ke masjid, ke pasar, mengunjungi sanak-famili, atau<br />
bertamasya; dan yang sejenisnya, tidak boleh seorang wanita<br />
melakukan interaksi dengan seorang pria. Sebab, dalil-dalil tentang<br />
keharusan pemisahan kaum pria dari kaum wanita bersifat umum. Tidak<br />
ada satu dalil yang membolehkan adanya interaksi di antara pria dan<br />
wanita dalam perkara-perkara di atas, dan interaksi itu pun tidak dituntut<br />
oleh perkara yang dibolehkan oleh syariah untuk dilakukan seorang<br />
wanita.</p>
<p>Karena itu, adanya interaksi antara pria dan wanita dalam<br />
perkara-perkara tersebut di atas dipandang sebagai perbuatan dosa,<br />
meskipun dilakukan dalam kehidupan umum.<br />
Atas dasar ini, pemisahan kaum pria dari kaum wanita dalam<br />
kehidupan Islam adalah wajib. Pemisahan keduanya dalam kehidupan<br />
khusus adalah pemisahan yang total, kecuali dalam perkara-perkara<br />
yang dibolehkan oleh syariah.</p>
<p>Adapun dalam kehidupan umum, hukum asalnya adalah<br />
terpisah dan tidak boleh ada interaksi antara pria dan wanita. Kecuali<br />
pada perkara-perkara yang telah dibolehkan syariah, di mana syariah<br />
telah membolehkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan suatu<br />
aktivitas untuk wanita; serta pelaksanannya menuntut adanya interaksi<br />
dengan pria. Baik interaksi ini terjadi dengan tetap adanya pemisahan,<br />
seperti di dalam masjid, atau dengan adanya ikhtilâth (campur-baur),<br />
sebagaimana dalam aktivitas ibadah haji atau jual-beli.</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-51-118.pdf" rel="nofollow">http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-51-118.pdf</a></p>
<p>Lainnya:</p>
<p><a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-1-50.pdf" rel="nofollow">http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-1-50.pdf</a><br />
<a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-119-202.pdf" rel="nofollow">http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-119-202.pdf</a><br />
<a href="http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-203-314.pdf" rel="nofollow">http://www.hizbut-tahrir.or.id/container/uploads/2007/12/sistem-pergaulan-dalam-islam-203-314.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: r14nc00l</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-4171</link>
		<dc:creator>r14nc00l</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 03:55:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-4171</guid>
		<description>wach,sungguh luar biasa penjelasannya............
saya sangat mendukung.....................
karena memang yang namanya pacaran itu tidak dilarang ...................
yang dilarang itu gimana kita mengartikan pacaran.
kalau pacaran diartikan untuk zina ya dilarang................
tapi kalau kita pacaran diartikan dengan ketulusan hati dan tidak macem macem ya sah sah aja kan.
karena pada dasarnya semua manusia itu mempunyai rasa sayang&amp;nafsu.
jadi kita lihat aja dasar dari kita pacaran...
&quot;Apa dasar dari kita pacaran karena sayang????????&quot;
&quot;Ataukah kita dasari dengan NAFSU??????&quot;
yang tau ya yang menjalani.................
yang jelas, saya sangat mendukung bahwa pacaran islam itu hukumnya halal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wach,sungguh luar biasa penjelasannya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
saya sangat mendukung&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
karena memang yang namanya pacaran itu tidak dilarang &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
yang dilarang itu gimana kita mengartikan pacaran.<br />
kalau pacaran diartikan untuk zina ya dilarang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
tapi kalau kita pacaran diartikan dengan ketulusan hati dan tidak macem macem ya sah sah aja kan.<br />
karena pada dasarnya semua manusia itu mempunyai rasa sayang&amp;nafsu.<br />
jadi kita lihat aja dasar dari kita pacaran&#8230;<br />
&#8220;Apa dasar dari kita pacaran karena sayang????????&#8221;<br />
&#8220;Ataukah kita dasari dengan NAFSU??????&#8221;<br />
yang tau ya yang menjalani&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
yang jelas, saya sangat mendukung bahwa pacaran islam itu hukumnya halal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-4070</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 11:47:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-4070</guid>
		<description>@ Salsabila
Ayat manakah yang aku bolak-balik? Manakah bukti obyektif bahwa pacaran itu jelas-jelas mendekati zina? Apakah kau belum mengerjakan &quot;&lt;a href=&quot;http://shodiq.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;PR bagi penentang pacaran islami&lt;/a&gt;&quot;? Menurut &lt;a href=&quot;http://shodiq.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;bukti obyktif itu&lt;/a&gt;, pacaran tidaklah identik dengan &quot;mendekati zina&quot;.
Ingat, menuduh tanpa bukti itu sama dengan fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Salsabila<br />
Ayat manakah yang aku bolak-balik? Manakah bukti obyektif bahwa pacaran itu jelas-jelas mendekati zina? Apakah kau belum mengerjakan &#8220;<a href="http://shodiq.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/" rel="nofollow">PR bagi penentang pacaran islami</a>&#8220;? Menurut <a href="http://shodiq.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/" rel="nofollow">bukti obyktif itu</a>, pacaran tidaklah identik dengan &#8220;mendekati zina&#8221;.<br />
Ingat, menuduh tanpa bukti itu sama dengan fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Salsabila</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-4057</link>
		<dc:creator>Salsabila</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 13:05:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-4057</guid>
		<description>Weleh..weleh..
Aneh - aneh aja...
Mana ada pacaran yang Islami?
Pacaran itu yang nglakuin manusia....
Manusia itu punya kelemahan dan nafsu
Padahal yang namanya nafsu itu harus dilawan..
Wong kita disuruh menjauhi hal - hal yang syubhat ko&#039;, supaya g terjerumus ke dosa
Lha ini malah jelas - jelas perbuatan yang mendekati zina...
Panjenengan iku aneh tenan
Ayat al-Qur&#039;an kok dibolak - balik...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Weleh..weleh..<br />
Aneh &#8211; aneh aja&#8230;<br />
Mana ada pacaran yang Islami?<br />
Pacaran itu yang nglakuin manusia&#8230;.<br />
Manusia itu punya kelemahan dan nafsu<br />
Padahal yang namanya nafsu itu harus dilawan..<br />
Wong kita disuruh menjauhi hal &#8211; hal yang syubhat ko&#8217;, supaya g terjerumus ke dosa<br />
Lha ini malah jelas &#8211; jelas perbuatan yang mendekati zina&#8230;<br />
Panjenengan iku aneh tenan<br />
Ayat al-Qur&#8217;an kok dibolak &#8211; balik&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3990</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 12:12:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3990</guid>
		<description>@ Jalaluddin
Menuduh tanpa bukti itu sama dengan fitnah, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
Makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Kalau ada yang &quot;pacaran&quot; setelah nikah, maka pastilah pacarannya palsu, bukan pacaran yang sebenarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Jalaluddin<br />
Menuduh tanpa bukti itu sama dengan fitnah, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.<br />
Makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Kalau ada yang &#8220;pacaran&#8221; setelah nikah, maka pastilah pacarannya palsu, bukan pacaran yang sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Jalaluddin</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3904</link>
		<dc:creator>Jalaluddin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 23:10:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3904</guid>
		<description>semoga artikel bapak shadiq ini tidak menjadi alasan anak muda sekarang untuk melakukan pacaran. pacaran sebelum menikah tidak ada dalilnya, dalil yg dipake bapak shadiq ini, adalah dalil yg disimpangkan artinya. Semoga bapak shadiq ini diberi petunjuk oleh Allah. Kalo mau pacaran silahkan, tapi lakukan setelah menikah, dijamin mendapat pahala.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>semoga artikel bapak shadiq ini tidak menjadi alasan anak muda sekarang untuk melakukan pacaran. pacaran sebelum menikah tidak ada dalilnya, dalil yg dipake bapak shadiq ini, adalah dalil yg disimpangkan artinya. Semoga bapak shadiq ini diberi petunjuk oleh Allah. Kalo mau pacaran silahkan, tapi lakukan setelah menikah, dijamin mendapat pahala.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3512</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 08:03:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3512</guid>
		<description>@ mail
Ayat tsb ttg perintah nikah &amp; berlaku adil, bukan ttg &quot;pacaran&quot; (persiapan nikah).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ mail<br />
Ayat tsb ttg perintah nikah &amp; berlaku adil, bukan ttg &#8220;pacaran&#8221; (persiapan nikah).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mail</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3509</link>
		<dc:creator>mail</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 03:27:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3509</guid>
		<description>surat an nisa ayat 3 :
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>surat an nisa ayat 3 :<br />
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3426</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 05:07:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3426</guid>
		<description>@ sahabat muslim &amp; bocahbancar

1) Aku sudah menjelaskan dengan rinci konsep-konsep pacaran islami. Apakah kalian belum membaca &quot;&lt;a href=&quot;http://pacaranislami.wordpress.com/panduan-pacaran/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Panduan Tanazhur&lt;/a&gt;&quot; dan &quot;&lt;a href=&quot;http://pacaranislami.wordpress.com/2008/10/25/ayat-ayat-mesra-buku-pertama-panduan-pacaran-islami/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ayat-Ayat Mesra&lt;/a&gt;&quot;?

2) Aku belum paham mengapa aku dikatakan &quot;memojokkan orang yang menentang pacaran islami&quot;. Kalimatku yang mana sajakah yang &quot;memojokkan&quot; mereka? Lantas, aku harus bagaimana? Haruskah aku mengharamkan sesuatu yang halal?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ sahabat muslim &amp; bocahbancar</p>
<p>1) Aku sudah menjelaskan dengan rinci konsep-konsep pacaran islami. Apakah kalian belum membaca &#8220;<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/panduan-pacaran/" rel="nofollow">Panduan Tanazhur</a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/10/25/ayat-ayat-mesra-buku-pertama-panduan-pacaran-islami/" rel="nofollow">Ayat-Ayat Mesra</a>&#8220;?</p>
<p>2) Aku belum paham mengapa aku dikatakan &#8220;memojokkan orang yang menentang pacaran islami&#8221;. Kalimatku yang mana sajakah yang &#8220;memojokkan&#8221; mereka? Lantas, aku harus bagaimana? Haruskah aku mengharamkan sesuatu yang halal?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: bocahbancar</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3412</link>
		<dc:creator>bocahbancar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 23:16:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3412</guid>
		<description>Nah inilah Pak..

Saya selalu menantikan konsep yang diusung Bapak mengenai cara Pacaran Islami ini..



Assalamu&#039;alaikum wr.wb</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nah inilah Pak..</p>
<p>Saya selalu menantikan konsep yang diusung Bapak mengenai cara Pacaran Islami ini..</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum wr.wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: sahabat muslim</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3388</link>
		<dc:creator>sahabat muslim</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 15:57:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3388</guid>
		<description>assalamu&#039;alaykum warrahmatullahi wabbarakatuh..
langsung saja..
saya sedang berusaha susah payah membangun iman yang kuat agar ga pacaran hingga saatnya nanti saya langsung ta&#039;aruf saja.. tetapi dengan adanya tulisan2 di blog ini yang mengatakan dengan jelas bahwa pacaran islami itu boleh, sangat menggoyahkan iman saya yang sedang saya susah payah bangun ini.. saya takut ada orang lain seperti saya yang juga sudah susah payah membangun imanx bwt ga pacaran tapi paz baca tulisan2 di blog ini malah lsg goyah juGa imanx....

dan menurut saya, tulisan2 di blog ini hanya akan dipakai orang2 muslim yang pacaran sebagai landasan bila di Dalili ga boleh pacaran..

yaNg saya mo tanyakan pacaran yang islami yg kayak gmn tu ya???...
maZa kaLo pacarn ga berdua2an, ga pegang2an?? itu booNk banged!!!!!!!!!!
mohon d beri jawaban...

satu lagi buat yang punya BLOG ini, jangan memojokan orang yang menentang pacaran islami karena kita semua memiliki dasar dari sikap yang kita ambil!!! 

syukron...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu&#8217;alaykum warrahmatullahi wabbarakatuh..<br />
langsung saja..<br />
saya sedang berusaha susah payah membangun iman yang kuat agar ga pacaran hingga saatnya nanti saya langsung ta&#8217;aruf saja.. tetapi dengan adanya tulisan2 di blog ini yang mengatakan dengan jelas bahwa pacaran islami itu boleh, sangat menggoyahkan iman saya yang sedang saya susah payah bangun ini.. saya takut ada orang lain seperti saya yang juga sudah susah payah membangun imanx bwt ga pacaran tapi paz baca tulisan2 di blog ini malah lsg goyah juGa imanx&#8230;.</p>
<p>dan menurut saya, tulisan2 di blog ini hanya akan dipakai orang2 muslim yang pacaran sebagai landasan bila di Dalili ga boleh pacaran..</p>
<p>yaNg saya mo tanyakan pacaran yang islami yg kayak gmn tu ya???&#8230;<br />
maZa kaLo pacarn ga berdua2an, ga pegang2an?? itu booNk banged!!!!!!!!!!<br />
mohon d beri jawaban&#8230;</p>
<p>satu lagi buat yang punya BLOG ini, jangan memojokan orang yang menentang pacaran islami karena kita semua memiliki dasar dari sikap yang kita ambil!!! </p>
<p>syukron&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3367</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 21:05:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3367</guid>
		<description>@ anis
Terima kasih atas penjelasannya.

@ mantan admin forum ternama
Terima kasih atas sarannya. Hampir seluruhnya saya setujui. Hanya untuk yang nomor 3, saya tidak sepenuhnya menolak ungkapan &quot;saya rasa&quot;, &quot;mungkin&quot;, dan sebagainya. Itu merupakan &quot;bahasa wanita&quot;. Apabila ungkapan sepeti itu tidak kita bolehkan, saya khawatir jangan-jangan akan semakin banyak wanita yang enggan berdiskusi dengan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ anis<br />
Terima kasih atas penjelasannya.</p>
<p>@ mantan admin forum ternama<br />
Terima kasih atas sarannya. Hampir seluruhnya saya setujui. Hanya untuk yang nomor 3, saya tidak sepenuhnya menolak ungkapan &#8220;saya rasa&#8221;, &#8220;mungkin&#8221;, dan sebagainya. Itu merupakan &#8220;bahasa wanita&#8221;. Apabila ungkapan sepeti itu tidak kita bolehkan, saya khawatir jangan-jangan akan semakin banyak wanita yang enggan berdiskusi dengan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mantan admin forum ternama</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3345</link>
		<dc:creator>mantan admin forum ternama</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 14:11:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3345</guid>
		<description>hmm, gw ga akan menanggapi kedua pihak baik yang pro pacaran islami atau kontra pacaran islami.. 
yang bakal gw komentarin di sini mungkin
1. jangan flaming, alias ngata2in orang, ngompor2in orang, menyindir kasar, sok suci dll..

2. jangan pake hurup kapital, nyolot soalnya

3.  kalo ingin mengcounter pendapat lawan, kurangi pendapat subjektif seperti &quot;saya rasa&quot;, &quot;,mungkin&quot;m dll,, 
biar ini cuma blog dagelan bagi sebagian orang ato blog pelajaran bagi sebagian lainnya, ini tetep harus dihargai sebagimana etika forum yang mengutamakan objektivitas, 
contohnya dengan selalu mencantumkan rujukan - salut buat putri, kaezzar, dll lupa bos!

4. kalo nulis lebih dari 100 kata mbok ya di bentuk paragraf 5 baris gitu biar mbacanya enak

yep, itu sebagian dari isi NETIKET, konsensus bersama pengguna internet global..
*thx..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmm, gw ga akan menanggapi kedua pihak baik yang pro pacaran islami atau kontra pacaran islami..<br />
yang bakal gw komentarin di sini mungkin<br />
1. jangan flaming, alias ngata2in orang, ngompor2in orang, menyindir kasar, sok suci dll..</p>
<p>2. jangan pake hurup kapital, nyolot soalnya</p>
<p>3.  kalo ingin mengcounter pendapat lawan, kurangi pendapat subjektif seperti &#8220;saya rasa&#8221;, &#8220;,mungkin&#8221;m dll,,<br />
biar ini cuma blog dagelan bagi sebagian orang ato blog pelajaran bagi sebagian lainnya, ini tetep harus dihargai sebagimana etika forum yang mengutamakan objektivitas,<br />
contohnya dengan selalu mencantumkan rujukan &#8211; salut buat putri, kaezzar, dll lupa bos!</p>
<p>4. kalo nulis lebih dari 100 kata mbok ya di bentuk paragraf 5 baris gitu biar mbacanya enak</p>
<p>yep, itu sebagian dari isi NETIKET, konsensus bersama pengguna internet global..<br />
*thx..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anis</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3277</link>
		<dc:creator>anis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 17:05:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3277</guid>
		<description>kadang rasa suka dan cinta memang datang begitu saja dalam hati ini tak ada yang bisa menebaknya darimana asalnya dan kapan datangnya 
untuk semua pujangga cinta rawatlah cinta itu baik-baik dan tempatkan pada tempat yang tepat
sebagaimana seorang cinta yang sejati</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kadang rasa suka dan cinta memang datang begitu saja dalam hati ini tak ada yang bisa menebaknya darimana asalnya dan kapan datangnya<br />
untuk semua pujangga cinta rawatlah cinta itu baik-baik dan tempatkan pada tempat yang tepat<br />
sebagaimana seorang cinta yang sejati</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik &#171; Mati Tersenyum</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3257</link>
		<dc:creator>Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik &#171; Mati Tersenyum</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 09:15:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3257</guid>
		<description>[...] aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik &#171; Tanazhur PraNikah</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3256</link>
		<dc:creator>Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik &#171; Tanazhur PraNikah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 09:15:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3256</guid>
		<description>[...] aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Nina</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3174</link>
		<dc:creator>Nina</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 16:18:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3174</guid>
		<description>Assalamualaykum

Waah,,, ternyata beneran bukan orang JIL.
Maaf ya om. Dah nyangkain JIL.

Menarik-menarik...
Keren deh om. Tapi kalo&#039; gw c emang skarang nyobain pacaran islami pun kaya&#039;nya blom bisa deh. soalnya hati gw susah bersihnya. (Maklumlah...)
Tapi pengen juga lhooo...
Hehehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaykum</p>
<p>Waah,,, ternyata beneran bukan orang JIL.<br />
Maaf ya om. Dah nyangkain JIL.</p>
<p>Menarik-menarik&#8230;<br />
Keren deh om. Tapi kalo&#8217; gw c emang skarang nyobain pacaran islami pun kaya&#8217;nya blom bisa deh. soalnya hati gw susah bersihnya. (Maklumlah&#8230;)<br />
Tapi pengen juga lhooo&#8230;<br />
Hehehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Pandangan yang kontroversial &#171; Bukan Zina</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-3118</link>
		<dc:creator>Pandangan yang kontroversial &#171; Bukan Zina</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 05:16:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-3118</guid>
		<description>[...] Manakah dalil qath&#8217;i yang jelas2 mengharamkan pacaran? Lihat Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?) dan Bantahan terhadap Penentang Dalil [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Manakah dalil qath&#8217;i yang jelas2 mengharamkan pacaran? Lihat Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?) dan Bantahan terhadap Penentang Dalil [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: faisol</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-2996</link>
		<dc:creator>faisol</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 07:45:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-2996</guid>
		<description>terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang &quot;Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?&quot;
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih sharing info/ilmunya&#8230;<br />
saya membuat tulisan tentang &#8220;Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?&#8221;<br />
silakan berkunjung ke:</p>
<p><a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html" rel="nofollow">http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html</a></p>
<p>salam,<br />
achmad faisol<br />
<a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/" rel="nofollow">http://achmadfaisol.blogspot.com/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Hari gini masih ada yang haramkan pacaran islami? &#171; Bukan Zina</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/comment-page-3/#comment-2736</link>
		<dc:creator>Hari gini masih ada yang haramkan pacaran islami? &#171; Bukan Zina</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 23:56:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/#comment-2736</guid>
		<description>[...]    Aduh duh hari gini masih ada yang mengharamkan pacaran yang islami? Ada yang tak mau tahu mana yang lebih kuat antara dalil yang menghalalkan dan yang &#8220;mengharamkan&#8221; pacaran islami. Kita lihat aja [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...]    Aduh duh hari gini masih ada yang mengharamkan pacaran yang islami? Ada yang tak mau tahu mana yang lebih kuat antara dalil yang menghalalkan dan yang &#8220;mengharamkan&#8221; pacaran islami. Kita lihat aja [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
