Dosa Kecil = Perkara Kecil?

Ibnu Abbas r.a.. menyatakan, “Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lisan adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat] …’.” (HR Bukhari & Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa “zina mata”, “zina lisan”, dan “zina hati” itu tergolong “mendekati zina”. Namun, disamping tiga macam “zina kecil” ini, masih ada banyak jenis aktivitas “mendekati zina” lainnya, seperti ‘zina tangan’, ‘zina kaki’, ‘zina bibir’, dan ‘zina-zina bagian tubuh lainnya’, kecuali alat kelamin. (Kalau bersetubuh menggunakan alat kelamin, maka ini bukan lagi “mendekati zina”, melainkan sudah benar-benar berzina.)

Memang, sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas dalam hadits tersebut, dosa “mendekati zina” itu tergolong “dosa kecil”. Sungguhpun demikian, perbuatan dosa yang “kecil” ini cenderung diremehkan oleh pelakunya. Inilah yang dalam hadits di atas disebut sebagai “bagiannya dari zina yang pasti dia [manusia] lakukan”.

Padahal, bila diremehkan, yang kecil itu bisa membesar. Ingatlah bahwa perbuatan zina selalu diawali dengan “mendekati zina” terlebih dahulu! Dengan kata lain, dosa besar ini selalu diawali dengan dosa-dosa kecil. Dengan demikian, kalau dosa-dosa kecil itu diremehkan, maka dosa BESAR sudah menanti.

Lagipula, meski dosanya kecil, ancaman siksaannya kelak di alam kubur dan neraka tidaklah ringan. Semua siksaan ini berat.

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang siksaannya yang paling ringan itu ialah yang memakai dua sandal dengan kedua talinya (tali di atas sandal) yang terbuat dari api, maka mendidihlah otaknya sebagaimana mendidihnya kuwali (panci dari tanak). Orang ini mengira bahwa tidak ada orang yang mendapatkan azab lebih berat daripada dirinya, padahal ia mendapatkan azab yang paling ringan.” (HR Bukhari & Muslim dari Nu’man bin Basyir r.a.)

About these ads

13 thoughts on “Dosa Kecil = Perkara Kecil?

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktu pak Shodiq,

    Memang mengerikan dunia penuh materialistik ini. Saya teringat dengan perkataan salaf yang mengatakan “Dosa yang paling ringan yang dilakukan manusia zaman sekarang merupakan dosa yang dianggap paling besar pada zaman dahulu.

    Subhanallah, kita telah menjadi saksi atas kebenaran tersebut. Dimana zina kini dipertontonkan secara bebas tanpa rasa malu dan sadar diri bahwa mereka adalah manusia yang akhirnya lebih rendah dari binatang. Waliyadzubillah.

    Barakallahu fiikum.

  2. Jika zina-zina kecil itu memang sudah pasti dilakukan setiap manusia, apakah usaha sekuat apapun tidak akan mampu menangkalnya, Pak?

  3. asstagfirullah……..
    dosa apa yg telah qw lakukan selama ini walaupun itu bersft ringan!!!!
    apakah yg hrs qw lkukan sementara qw memiliki seorang kekash yg sgt qw syangi!!!bls ke email qw pak!!!

  4. setelah membaca hadist dari ibnu abbas, saya jadi ingin segera melaksanakan pernikah karena merasa banyak melakukan zina hati. tetapi kondisi belum siap untuk segera menikah. bagaimanakan solusi yang terbaik bagi saya?

  5. @ adit
    Ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dosa yang “pasti” dilakukan manusia tidak hanya “mendekati zina”. Sebab, selain Nabi, tidak ada manusia yang maksum (bebas dari dosa). Petunjuk adanya ketidaksempurnaan ini bukanlah untuk mengecilkan hati kita, melainkan untuk merendahkan hati kita. Tahu bedanya antara “kecil hati” dan “rendah hati”, ‘kan?

    @ livy
    Boleh, ‘ntar.

    @ muthi
    Aku tidak yakin kau banyak melakukan zina hati. Zina hati itu bukanlah semua pikiran/khayalan mengenai si dia. Yang tergolong zina hati adalah yang mengharapkan kesempatan untuk berzina.

  6. Mengapa komentar saya tidak di approve?
    Apakah memang anda berniat untuk menyembunyikan akhiran dari hadis tersebut dengan memotongnya ditengah.
    Sampaikanlah apa adanya. Pengartiannya akan berbeda jika ada ayat atau hadis yg disampaikan setengah-setengah.
    Barokallahu fiikum.

  7. @ Rosyidi

    1) Maaf, saya tidak punya waktu untuk berdebat. Kalau menentang islamisasi pacaran, silakan kunjungi http://wppi.wordpress.com/

    2) Teks hadits yang ditampilkan adalah yang relevan dengan topik pembahasan, yaitu “dosa kecil”.

    3) Bagian akhir dari hadits tersebut (yaitu “zina farji” yang merupakan dosa besar) justru menunjukkan kebenaran pengertian di atas.

    4) Terjemahan dan pengertian Anda terhadap hadits tersebut kurang tepat. Sebab, ada banyak hadits shahih lain yang menunjukkan bahwa tidak semua pandangan mata thd nonmuhrim itu tergolong “zina mata”; begitu pula pada “zina hati”, “zina lisan”, dsb. Semua hadits shahih yang saya maksud ini sudah pernah saya bahas di blog saya.

  8. klo seandainya saya sering mimpiin si dia sedang bermesraan dengan cewek lain,dan setelah bangun saya berniatan u/ menghancurkan hubungan mereka,meskipun saya hanya berniatan saja,karna saya takut mimpi itu jdi kenyataan,apa itu jg merupakan termasuk dalam kategori berziiina????????????

  9. buat bapak yang memberikan komentar,,,
    disini bapak begitu mudah berbicara untuk tidak melakukan zina pada orang2 yang minta pendapat anda,,,,
    apakah anda juga bisa untuk tidak melakukan zina???
    blm tentu anda bisa untuk tidak melakukan zinah………
    pastinya dulu2 anda jg melakukan banyak zinah kan???????

  10. Ping-balik: Konsultasi: Indahnya pacaran tanpa mendekati zina « Pacaran Sehat

  11. kalo ada cewek tiap hari curhat ama suami orang. termasuk zinah bukan?
    kalo udah ditegur mereka berdua masih kekeuh telpon2an. trus harus gimana nyadarinnya? mohon jawabannya. terima kasih.

Komentar ditutup.