Strategi “sengaja jauh di mata” (memilih menjaga jarak) itu diutamakan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi antara lain [1] supaya tidak terjerumus ke lembah dosa. Di samping itu, masih ada hikmah-hikmah lain sebagai berikut.
Bisa saja, jarak itu sengaja diciptakan si pencinta [2] supaya sang pujaan tidak malah “lari meninggalkannya”. (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 173) Sebagian orang memang lebih suka menjaga jarak, baik lantaran kepribadiannya memang begitu, maupun lantaran keadaan “darurat”. (Contoh keadaan “darurat”: berada di lingkungan ikhwan-akhwat tarbiyah tertentu yang menentang pacaran islami.)
Ada kalanya, menjaga jarak dengan kekasih diperlukan [3] untuk menghindari gunjingan. Sesungguhnya, jarak yang terjaga dengan tujuan ini “lebih indah” daripada tatap-muka langsung atau berdekat-dekatan dengannya. (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 143)
Ada kalanya pula, menjaga jarak dengan kekasih dibutuhkan [4] untuk saling menguji kesetiaan dan kesabaran, serta [5] menghindari rasa jenuh, di samping [6] mengajarkan pentingnya keberadaan sang kekasih. Jarak yang terjaga dengan tujuan ini masih juga “lebih mengasyikkan” daripada bertatap-muka atau berdekat-dekatan dengannya. (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 146)
***
Begitulah motivasi-motivasi Ibnu Hazm al-Andalusi, yang menguak alasan mengapa beliau suka mengandalkan strategi “sengaja jauh di mata”. Bagaimana dengan Anda? Apa motivasi Anda bila menjaga jarak dengan si dia?
Saya harap, motivasi Anda selalu positif. Seandainya motivasi Anda negatif, umpamanya karena merasa jijik, sebaiknya Anda menggesernya ke arah positif.
Ibnu Hazm menerangkan, “Aku pernah merasa sangat jijik berteman dengan kaum perempuan dan ini membuatku sulit beristri. Tampaknya aku harus berjuang keras untuk menghilangkan perasaan semacam ini, yang menurutku akan mengakibatkan persoalan buruk bagi diriku.” (Bijak dan Bahagia, hlm. 59)
Ditulis dalam 1 - Siagakan pelaku