<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Bagaimana mengamalkan hadits-hadits tentang berduaan</title>
	<atom:link href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/</link>
	<description>Persiapan Menikah Melalui Tanazhur Pra-Nikah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 07:53:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-4151</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 11:41:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-4151</guid>
		<description>@ danang
Terima kasih atas link-nya. Aku memahami pola pikir muslim.or.id yang seperti itu.
Mengenai istilah &quot;keras&quot;, aku menuliskannya di antara tanda petik. Sebab, aku kesulitan untuk mendapatkan istilah yang lebih tepat. Mereka sendiri tidak menganggap keras, tetapi hati-hati. Namun kalau aku menggunakan istilah &quot;hati-hati&quot;, ada kesan bahwa ulama-ulama yang berpendapat lain kurang hati-hati, padahal mereka juga hati-hati. Kupikir, istilah &quot;keras&quot; itu lebih netral daripada &quot;hati-hati&quot;. Aku tak jarang menjumpai ungkapan seperti &quot;Umar bin Khaththab berwatak keras.&quot; Toh pengungkapan seperti itu tidak merendahkan beliau.
Oh ya, terima kasih pula atas ajakan &quot;mempelajari alqur’an seperti pemahaman para salaful ummah, salafus sholih&quot;. Kupikir, itu merupakan dakwah yang khas dari manhaj &quot;salafi&quot;. Maaf, kami orang-orang Muhammadiyah mengikuti pemahaman yang sedikit berbeda. (Lihat &quot;&lt;a href=&quot;http://shodiq.com/tentang-3/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Agamaku&lt;/a&gt;&quot;.)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ danang<br />
Terima kasih atas link-nya. Aku memahami pola pikir muslim.or.id yang seperti itu.<br />
Mengenai istilah &#8220;keras&#8221;, aku menuliskannya di antara tanda petik. Sebab, aku kesulitan untuk mendapatkan istilah yang lebih tepat. Mereka sendiri tidak menganggap keras, tetapi hati-hati. Namun kalau aku menggunakan istilah &#8220;hati-hati&#8221;, ada kesan bahwa ulama-ulama yang berpendapat lain kurang hati-hati, padahal mereka juga hati-hati. Kupikir, istilah &#8220;keras&#8221; itu lebih netral daripada &#8220;hati-hati&#8221;. Aku tak jarang menjumpai ungkapan seperti &#8220;Umar bin Khaththab berwatak keras.&#8221; Toh pengungkapan seperti itu tidak merendahkan beliau.<br />
Oh ya, terima kasih pula atas ajakan &#8220;mempelajari alqur’an seperti pemahaman para salaful ummah, salafus sholih&#8221;. Kupikir, itu merupakan dakwah yang khas dari manhaj &#8220;salafi&#8221;. Maaf, kami orang-orang Muhammadiyah mengikuti pemahaman yang sedikit berbeda. (Lihat &#8220;<a href="http://shodiq.com/tentang-3/" rel="nofollow">Agamaku</a>&#8220;.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: danang</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-4148</link>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 07:00:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-4148</guid>
		<description>Berikut ini ada link bagus, yang mirip juga dengan pembahasan bapak : http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/mewaspadai-bahaya-khalwat.html  

Insya&#039; Alloh terdapat dalil yang adil dalam masalah ini, mengenai yang mengharamkan dan menghalalkannya dan cara menyatukannya.

Mengenai aliran yang dituduh mengambil yang keras, mungkin perlu di koreksi pak, karena setau saya qoidah dalam ushul hadits mereka juga mengikuti jumhur ulama2 terdahulu. Apalagi yang Bapak sebutkan itu keduanya adalah ulama besar dari makkah dan madinah.

Mungkin ada baiknya kita mengikuti kajian mereka terutama dalam bidang ushul hadits, apa bener mengutamakan qoidah yang &quot;keras&quot; itu, kalau memang benar alangkah baiknya kita menasehatinya, dan kalau salah kita mohon ampun kepada Alloh karena telah melakukan fitnah.

marilah kita mempelajari alqur&#039;an seperti pemahaman para salaful ummah, salafus sholih.

wallohu a&#039;lam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini ada link bagus, yang mirip juga dengan pembahasan bapak : <a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/mewaspadai-bahaya-khalwat.html" rel="nofollow">http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/mewaspadai-bahaya-khalwat.html</a>  </p>
<p>Insya&#8217; Alloh terdapat dalil yang adil dalam masalah ini, mengenai yang mengharamkan dan menghalalkannya dan cara menyatukannya.</p>
<p>Mengenai aliran yang dituduh mengambil yang keras, mungkin perlu di koreksi pak, karena setau saya qoidah dalam ushul hadits mereka juga mengikuti jumhur ulama2 terdahulu. Apalagi yang Bapak sebutkan itu keduanya adalah ulama besar dari makkah dan madinah.</p>
<p>Mungkin ada baiknya kita mengikuti kajian mereka terutama dalam bidang ushul hadits, apa bener mengutamakan qoidah yang &#8220;keras&#8221; itu, kalau memang benar alangkah baiknya kita menasehatinya, dan kalau salah kita mohon ampun kepada Alloh karena telah melakukan fitnah.</p>
<p>marilah kita mempelajari alqur&#8217;an seperti pemahaman para salaful ummah, salafus sholih.</p>
<p>wallohu a&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mr-file</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-3161</link>
		<dc:creator>mr-file</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 21:41:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-3161</guid>
		<description>apakah dengan seperti pengawasan akan terhindarnya perzinaan kedua mukhrim itu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>apakah dengan seperti pengawasan akan terhindarnya perzinaan kedua mukhrim itu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kaezzar</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2123</link>
		<dc:creator>Kaezzar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 10:03:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2123</guid>
		<description>Masalahnya sampai saat ini, saya belom nerima jawaban dari pihak kontra...karena itu saya tanya ke Pak Shodiq
---
Hehe, iya...ketuker ya
Tengkiyu bwt koreksinya pak

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Masalahnya sampai saat ini, saya belom nerima jawaban dari pihak kontra&#8230;karena itu saya tanya ke Pak Shodiq<br />
&#8212;<br />
Hehe, iya&#8230;ketuker ya<br />
Tengkiyu bwt koreksinya pak</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2119</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 19:01:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2119</guid>
		<description>@ adit
Itu tergantung pada keadaan mobil &amp; lingkungan (dimensi ruang-waktu). Di suatu lokasi pada waktu tertentu, semobil berdua itu mungkin tak terawasi, tapi di lokasi lain di waktu lain, mungkin saja semobil berdua bisa terawasi.

@ Kaezzar
Pertanyaan tersebut lebih baik dijawab oleh mereka yang mengharamkan khalwat dengan nonmahram secara total (dalam segala keadaan). Merekalah yang lebih berkepentingan untuk menjelaskan, &lt;i&gt;apakah hadits tersebut disampaikan oleh Rasulullah kepada orang banyak ataukah kepada orang tertentu&lt;/i&gt;. (Bandingkan! Peristiwa khalwatnya Rasulullah berlangsung &lt;b&gt;di dekat orang banyak&lt;/b&gt;.)

(NB: Untuk hadits, istilahnya bukan asbabun nuzul, melainkan asbabul wurud.)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ adit<br />
Itu tergantung pada keadaan mobil &amp; lingkungan (dimensi ruang-waktu). Di suatu lokasi pada waktu tertentu, semobil berdua itu mungkin tak terawasi, tapi di lokasi lain di waktu lain, mungkin saja semobil berdua bisa terawasi.</p>
<p>@ Kaezzar<br />
Pertanyaan tersebut lebih baik dijawab oleh mereka yang mengharamkan khalwat dengan nonmahram secara total (dalam segala keadaan). Merekalah yang lebih berkepentingan untuk menjelaskan, <i>apakah hadits tersebut disampaikan oleh Rasulullah kepada orang banyak ataukah kepada orang tertentu</i>. (Bandingkan! Peristiwa khalwatnya Rasulullah berlangsung <b>di dekat orang banyak</b>.)</p>
<p>(NB: Untuk hadits, istilahnya bukan asbabun nuzul, melainkan asbabul wurud.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Kaezzar</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2109</link>
		<dc:creator>Kaezzar</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 03:45:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2109</guid>
		<description>Sebenernya hadits ttg larangan khalwat yg berdua2an dan ketiganya adalah setan itu asbabun nuzulnya gimana si pak shodiq?

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenernya hadits ttg larangan khalwat yg berdua2an dan ketiganya adalah setan itu asbabun nuzulnya gimana si pak shodiq?</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: adit</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2108</link>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 23:54:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2108</guid>
		<description>bagaimana dengan mengendarai mobil berdua? apakah itu termasuk terawasi?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagaimana dengan mengendarai mobil berdua? apakah itu termasuk terawasi?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Shodiq Mustika</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2104</link>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 22:07:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2104</guid>
		<description>@ Rosyidi
Terima kasih atas pertanyaan akhi yang sungguh berbobot. Jawaban saya:
Dengan mengikuti penjelasan dari Imam Bukhari dan Hafizh Ibnu Hajar, saya sudah menyatukan dua macam dalil yang bertentangan itu. Wujudnya berupa pembolehan &lt;b&gt;dengan syarat dalam kondisi tertentu&lt;/b&gt; , yaitu &quot;bila terawasi&quot;. (Seandainya hanya mengambil dalil yang membolehkan tanpa menyatukannya dengan yang melarang, maka kehalalannya tanpa syarat.)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Rosyidi<br />
Terima kasih atas pertanyaan akhi yang sungguh berbobot. Jawaban saya:<br />
Dengan mengikuti penjelasan dari Imam Bukhari dan Hafizh Ibnu Hajar, saya sudah menyatukan dua macam dalil yang bertentangan itu. Wujudnya berupa pembolehan <b>dengan syarat dalam kondisi tertentu</b> , yaitu &#8220;bila terawasi&#8221;. (Seandainya hanya mengambil dalil yang membolehkan tanpa menyatukannya dengan yang melarang, maka kehalalannya tanpa syarat.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rosyidi</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2103</link>
		<dc:creator>Rosyidi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 10:33:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2103</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Kaum “salafi” biasanya tidak menyatukan dalil yang bertentangan, tetapi mengambil dalil yang lebih “keras”. &lt;/blockquote&gt;
Kalo gitu, tolong donk anda satukan.
Kalo anda hanya mengambil yang memperbolehkan saja, trus apa bedanya dengan mereka?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kaum “salafi” biasanya tidak menyatukan dalil yang bertentangan, tetapi mengambil dalil yang lebih “keras”. </p></blockquote>
<p>Kalo gitu, tolong donk anda satukan.<br />
Kalo anda hanya mengambil yang memperbolehkan saja, trus apa bedanya dengan mereka?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Adi N</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/comment-page-1/#comment-2092</link>
		<dc:creator>Adi N</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 22:22:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=147#comment-2092</guid>
		<description>nice Blog
Please visit me back</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nice Blog<br />
Please visit me back</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
