<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/</link>
	<description>Persiapan Menikah Melalui Tanazhur Pra-Nikah</description>
	<lastBuildDate>Sat, 31 Oct 2009 07:53:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Menikah tanpa cinta? &#171; Tanazhur PraNikah</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/comment-page-1/#comment-3600</link>
		<dc:creator>Menikah tanpa cinta? &#171; Tanazhur PraNikah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 04:03:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=553#comment-3600</guid>
		<description>[...] Kedua, kau perlu menerima kenyataan bahwa si A sudah melamarmu dan kau sudah menerimanya. Walau kau merasa berat (karena merasa belum mencintainya), pada kenyataannya tidak ada pihak yang memaksamu. Entah kau menerimanya dengan berat hati atau pun dengan ringan hati, seharusnyalah kau bertanggung jawab atas penerimaanmu itu selaku manusia dewasa. (Peminangan tidaklah harus disertai dengan tukar-cincin. Lihat &#8220;Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah&#8220;.) [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Kedua, kau perlu menerima kenyataan bahwa si A sudah melamarmu dan kau sudah menerimanya. Walau kau merasa berat (karena merasa belum mencintainya), pada kenyataannya tidak ada pihak yang memaksamu. Entah kau menerimanya dengan berat hati atau pun dengan ringan hati, seharusnyalah kau bertanggung jawab atas penerimaanmu itu selaku manusia dewasa. (Peminangan tidaklah harus disertai dengan tukar-cincin. Lihat &#8220;Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah&#8220;.) [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah &#171; Dodi Kusman</title>
		<link>http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/comment-page-1/#comment-3583</link>
		<dc:creator>Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah &#171; Dodi Kusman</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 10:30:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pacaranislami.wordpress.com/?p=553#comment-3583</guid>
		<description>[...] 8, 2009 at 10:29 am     Disusun oleh M Shodiq Mustika , penulis buku dan mubalig Muhammadiyah  http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] 8, 2009 at 10:29 am     Disusun oleh M Shodiq Mustika , penulis buku dan mubalig Muhammadiyah  <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/" rel="nofollow">http://pacaranislami.wordpress.com/2008/12/27/tatacara-khitbah-peminangan-yang-bukan-bidah/</a>  [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
