Menaruh Perhatian pada Si Dia untuk Apa?

Pada postingan terdahulu, telah kita simak bahwa aktivitas terpenting dalam pacaran islami adalah tanazhur (saling menaruh perhatian). Kau penasaran apa maknanya? Otre deh, sekarang kita rambah makna tanazhur.

Untuk memahami makna tanazhur, yang terpenting ialah memahami tujuan tanazhur. Pertanyaan utama kita: menaruh perhatian pada si dia itu sebaiknya untuk apa?

no-gap.jpg

Ini dia beberapa tujuan tanazhur yang hendaknya kita jadikan pengarah jalan kita manakala kita menaruh perhatian pada si dia:

1) Mengharmoniskan Hubungan dengan Si Dia

Nabi saw. bersabda: unzhur ilayhaa, fainnahaa ahraa an yu’dama baynakumaa.

“Taruhlah perhatian pada si dia, karena hal itu akan mengharmoniskan [hubungan] antara kalian berdua.” (Shahih Sunan Tirmidzi, hadits no. 868)

2) Memaklumi Ciri Khas Si Dia

Nabi saw. bersabda: fadzhab fanzhur ilayhaa, fainna fii a’yunil anshaari syay’aa.

“Maka pergilah dan taruhlah perhatian pada si dia [seorang wanita asnhar], karena sesungguhnya pada mata orang-orang anshar itu terdapat sesuatu [yang khas].” (HR Muslim)

3) Menumbuhkan Motivasi Menikah dengan Si Dia

Nabi saw. bersabda, “Bila salah seorang di antara kalian akan melamar seorang wanita, jika [kamu] dapat menaruh perhatian pada sesuatu darinya yang mendorong [kamu] untuk menikahinya, maka lakukanlah!” (Shahih Sunan Abu Daud, hadits no. 1832)

4) Mempertimbangkan Kemungkinan Menikah dengan Si Dia

Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Wahai Rasulullah! Aku datang untuk memberikan diriku kepadamu.” Lalu beliau menaruh perhatian pada si dia [untuk mempertimbangkan kemungkinan menikah dengannya] …. (HR Bukhari & Muslim)

Pertanyaan kita sekarang: tanazhur yang bagaimanakah yang bisa [1] mengharmoniskan hubungan dengan si dia, [2] memaklumi ciri khas si dia, [3] menumbuhkan motivasi menikah dengan si dia, dan [4] mempertimbangkan kemungkinan menikah dengan si dia? Ntar deh di postingan-postingan berikutnya kita kupas setuntas-tuntasnya.

—————-

Keterangan: Gambar kartun di atas diambil dari www.ialf.edu/dpdf/april05page2.html

3 thoughts on “Menaruh Perhatian pada Si Dia untuk Apa?

  1. Ping-balik: Gaya Pacaran Yang Paling Efektif « Pacaran Islami

  2. saya sempat bertanya2 ttg teks dan konteks tanazhur yang pernah diungkapkan ust shodiq di blog ini, dari teks manakah kata tanazhur diambil dan dengan konteks yang bagaimanakah tanazhur dalam teks tersebut.
    dari post ust shodiq di blognya, ‘Ta’aruf, Sebuah istilah yang…’ dikutip dari kitabnya Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at, diterangkan bahwa asal kata tersbut dari kata nazhara-yanzhuru.
    tapi sayangnya gak dikutipin haditsnya.
    nah baru disinilah dikutipin.

    dan tnyata sesuai dg dugaan saya, haditsnya yg itu-itu.

    yg masih jadi pertanyaan saya adalah pengArtian unzhur, fanzhuru menjadi memberi perhatian. dari manakah pengArtian ini diambil? mungkin dari penerjemah tahrirul mar’ah itu (jadi bukunya GIP: kebebasan wanita).

    pertanyaan kedua, seberapa validkah pengArtian nazhara-yanzhuru-unzhur menjadi memberi perhatian?

    karena setahu saya ada sodara2 kita yg mengArtikan lain dari nazhara pada teks hadits di atas. PengArtian mereka adalah “melihat”. Kalo pun ada sangkut-pautnya dengan perhatian, maka mereka mengArtikan sebagai “memperhatikan/mengamati dalam suatu waktu tertentu”.

    Jadi mereka itu akan saling nazhar dulu sebelum menikah, artinya saling melihat/mengamati, who knows there is something interesting at him/her for me.

    Mereka tidak mengambil makna nazhara menjadi ‘memberi perhatian’. Bagi mereka, nazhara adalah suatu acara tertentu sebelum menikah, istilahnya ‘ngamat-ngamati sik, ndelok2 sik tenane bocahe ki kepriye ta’, liat2 dulu sebenarnya si dia itu dlaam wujud fisik aslinya itu gimana. Ini sesuai dengan hadits ini, “Maka pergilah dan lihatlah pada si dia [seorang wanita asnhar], karena sesungguhnya pada mata orang-orang anshar itu terdapat sesuatu [yang khas].” (HR Muslim).

    Penjelasannya, kaerna pada mata orang Anshar itu terdapat sesuatu (yang khas) (dalam salah satu keterangan hadits disebutkan agak sipit), maka mereka perlu dilihat/diamati dulu. Coba jika makna ‘memberi perhatian’ diterapkan di sini, kayaknya (plg gak menurut saya) kurang pas gitu.

    So, bagaimana?

    Yg bisa bahasa Arab mohon cek pemakaian nazhara itu sebenarnya bagaimana.
    Cek juga syarah hadits2 ttg nazhar di atas, yg dimaksudkan sebagai nazhar di situ sebenarnya bagaimana. apakah memberi perhatian? apakah melihat/mengamati? ataukah ada makna yang lain.

    Untuk sebuah pembelajaran, pemakaian kata ta’aruf perlu dikritisi.
    Pemakaian tanazhur juga perlu dikritisi, dengan tujuan yang sama.

    Salut ust shodiq

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    Terima kasih. Ya, kita memang harus kritis, bahkan juga terhadap pikiran diri-sendiri.

    Saya menggunakan terjemahan ‘menaruh perhatian’ berdasarkan spirit (ruh) yang diusung oleh Abu Syuqqah di kitab/buku tersebut. Pada versi Indonesia (terbitan GIP), penerjemah menggunakan kata ‘melihat’. Menurut saya, terjemahan kata tersebut (dari perspektif Abu Syuqqah) kurang tepat. (Perhatikan 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah. Selain itu, perhatikan bahwa di Jilid 1 dan 2, Abu Syuqqah menganjurkan persahabatan akrab dengan lawan jenis. Karena itu, mustahil bahwa beliau hanya menganjurkan sekedar ‘melihat’ calon suami/istri.)

    Dalam bahasa Arab, nazhar-yanzhuru itu bermakna luas, tidak cukup dengan terjemahan ‘menaruh perhatian’ (apalagi ‘melihat’ saja). Untuk contoh, bandingkan dengan petuah Ali r.a.:

    unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala

    (terjemah “perhatikan apa yang dikatakan dan jangan kau hiraukan siapa yang mengatakan” lebih tepat daripada “lihat apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan”.)

    Saya tidak berpandangan bahwa ‘menaruh perhatian’ itu merupakan satu-satunya makna tanazhur. Saya justru menganjurkan, silakan menambahkan makna lain!

  3. Ping-balik: Antara tanazhur, pacaran islami, dan ta’aruf (1) « Pacaranislamikenapa’s Weblog

Komentar ditutup.