Walau Bukan Siti Nurbaya

“Bagaimana bulan madunya?” tanyaku pada seorang adikku ketika ia menyinggung nama temannya yang menikah sebulan yang lalu. 

“Bulan madu? Bukan!” jawabnya. “Bukan bulan madu, tapi bulan racun. Katanya, setiap hari ia menangis dalam hati. Ia merasa tersiksa. Ia merasa menjadi budak suaminya.” 

“Lho? Apa ia tidak mencintai suaminya?”  

“Tidak. Ia dijodohkan oleh orangtuanya, dan ia tidak kuasa menentang.” 

 siti-nurbaya.gif

Hah? Kita ‘kan nggak lagi hidup di zaman Siti Nurbaya. Kok masih ada tradisi kawin paksa?  

Jangan-jangan, bukan hanya dia seorang yang menjadi korban tradisi ini. Jangan-jangan, masih ada banyak “Siti Nurbaya” di zaman sekarang. Apakah mereka belum tahu bahwa Islam melarang kawin paksa? Kalau begitu, sebaiknya kita sampaikan kepada mereka penjelasan Muhammad Rasyid Ridha, Perempuan sebagai Kekasih (Jakarta: Hikmah, 2004), hlm. 47-49: 

Kebebasan Perempuan dalam Menikah dan Menentukan Pasangan Hidupnya 

Islam menggabungkan antara hak wali dalam menikahkan gadis asuhannya dengan kebebasan perempuan menerima laki-laki yang ia inginkan. Islam melarang para wali memaksa anak serta saudara perempuannya untuk menikah. Kezaliman seperti ini merupakan peristiwa yang sering terjadi pada masa jahiliyah. Mereka acapkali memaksa anak-anak perempuan, keponakan atau perempuan-perempuan yang berada di bawah tanggung jawabnya untuk menikah dengan seseorang—bahkan sekalipun orang tersebut tidak mereka sukai. Praktik nikah paksa seperti ini masih terjadi di berbagai belahan dunia. 

Islam juga melarang perempuan menikah dengan laki-laki tanpa restu orang tua atau walinya. Sebab hal itu akan menghasilkan hubungan tidak harmonis antara suami dan keluarga sang perempuan. Padahal idealnya, pernikahan adalah sebuah akad yang bertujuan menyambung tali kasih sayang dengan orang yang semula bukan bagian dari keluarga. Jika sang perempuan mempunyai calon yang cocok, maka tak ada hak bagi para wali atau orangtua mengekang atau mencegah keinginan sang perempuan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian menikahkan perempuan yang pernah menikah kecuali setelah meminta persetujuannya, dan jangan pula kalian menikahkan perempuan yang perawan tanpa meminta izin darinya.” Para sahabat bertanya,”Rasulullah, apa tanda setuju seorang perawan?” Rasulullah Saw menjawab; ‘Diamnya perawan saat diminta izin adalah tanda bahwa ia setuju,” jawab Rasulullah Saw.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang janda lebih  berhak atas dirinya dibandingkan walinya, sedangkan seorang perawan harus diminta izinnya terlebih dahulu. Diamnya seorang perempuan ketika dimintai izin adalah tanda persetujuannya.” Maksudnya, jika perempuan diminta izin untuk dinikahkan dengan seorang laki-laki, kemudian ia tidak menjawab, maka sikap diamnya perempuan tersebut sejatinya merupakan tanda bahwa ia setuju dengan calon yang ditawarkan. Jangan paksa perempuan menjawab tawaran itu dengan kalimat yang jelas, sebagaimana diriwayatkan bahwa aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. Tentang tanda setuju perawan. Aisyah r.a. berkata bahwa seorang perawan pasti malu dan takkan menjawab saat dimintai izin. Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Diamnya adalah tanda setujunya.” (HR Bukhari-Muslim). 

Diriwayatkan semua pakar hadis—kecuali Imam Muslim—bahwa Khunsa binti Khadam Al-Anshari dinikahkan oleh ayahnya. Saat itu Khunsa berstatus sebagai janda. Ia segera mengadukan tindakan ayahnya itu ke hadapan Rasulullah Saw., dan beliau memutuskan bahwa pernikahan itu batal. Para ulama menegaskan bahwa diamnya gadis yang menandakan persetujuannya terjadi kalau gadis yang bersangkutan tahu bahwa dirinya akan dinikahkan dengan seseorang. Oleh sebab itu, kalau gadis yang bersangkutan tidak mengetahui calon suami [yang ditawarkan kepada]-nya, maka sang wali berkewajiban memberitahukannya. 

Ahmad r.a. dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Baridah, sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abdullah bin Ibnu Baridah dari ayahnya. Ia berkata, “Rasulullah Saw, didatangi seorang perempuan. Ia mengadu sembari berkata, ‘Ayahku menikahkanku dengan sepupuku dengan tujuan meningkatkan derajatnya.’ Rasulullah Saw. kemudian menyerahkan keputusan tersebut pada perempuan tadi. ‘Aku rela dengan keputusan ayahku itu. Tapi, aku ingin memberi tahu kaum perempuan bahwa wali mereka sama sekali tidak berhak memaksa mereka,’ kata perempuan tersebut.” Maksudnya, para wali tidak berhak memaksa putri mereka menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya.