Orang Yang Sulit Menerima Kebenaran

Telah lebih dari seperempat abad aku berdakwah. Berbagai suka-duka kualami. Berbagai jenis orang kuhadapi. Dari yang muda hingga yang tua, dari yang awam hingga yang ahli agama.

Di antara mereka, tipe manakah yang paling sulit aku dakwahi? Tebaklah di antara empat tipe berikut:

  1. Anak nakal

  2. Remaja pemberontak

  3. Orang dewasa awam

  4. Ahli agama

Apakah anak nakal dan remaja pemberontaklah tipe yang paling sulit kita dakwahi? Dalam pengalamanku, biasanya merekalah yang paling mudah didakwahi. Kuncinya adalah kasih-sayang. Mereka menjadi nakal dan memberontak itu pada umumnya lantaran kekurangan kasih-sayang. Bila kita mendakwahi mereka dengan penuh kasih-sayang, insya’Allah mereka menerima dakwah kita dengan tangan terbuka.

Dibandingkan dengan orang awam, apakah para ahli agama lebih mudah kita dakwahi? Dalam pengalamanku, biasanya yang paling sulit didakwahi adalah ahli agama. Aneh, ‘kan? Ya, aku pun heran dan penasaran mengapa justru merekalah yang paling sulit didakwahi. Bukankah merekalah yang paling tahu betapa pentingnya menyambut hangat ajaran Islam secara kaffah (sepenuhnya)?

Mau contoh? Mungkin tidak sedikit contoh yang bisa aku ungkapkan. Namun karena sekarang aku sedang getol mendakwahkan pacaran islami, ini sajalah yang aku jadikan contoh kasus.

Sekitar dua tahun yang lalu, aku mendakwahi seorang gadis muda, muslimah, dan tergolong awam dalam ilmu agama. Dia penganut free-sex, sering gonta-ganti pacar, pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Oleh beberapa temannya yang merupakan aktivis dakwah, dia sudah sering didakwahi bahwa “pacaran itu haram”, “zina itu dosa besar”, “menikahlah supaya kehormatan terjaga”, dan sebagainya. Hasilnya, dia merasa sangat berdosa, namun tak mampu melepaskan diri dari kebiasaan free-sex-nya. Dia pun belum berani menikah.

Dari dialog dengannya, kutelusuri mengapa dia suka berzina. Ketemulah jawaban dari dia: “Cowok memberi cinta demi sex; cewek memberi sex demi cinta.”

“Jadi, kau mencari cinta?” tanyaku.

“Ya,” jawabnya.

“Kalau begitu, pacaranlah secara islami!” saranku. Lalu kuminta dia membaca buku Aisha Chuang, Pacaran Islami? Siapa Takut! dan Nikmatnya Asmara Islami. (Saat itu aku tidak menyarankan dia untuk cepat-cepat menikah karena dia masih terlalu muda. Kepribadiannya belum matang. Kalau dia menikah dalam kondisi begitu, mungkin rumah-tangganya akan dipenuhi dengan perselingkuhan.)

Tak lama kemudian, dia mengabarkan bahwa seusai membaca dua buku tersebut, dia bertaubat. Kebiasaan free-sex dia tinggalkan. Dia menggantinya dengan pacaran islami. Dia putuskan hubungannya dengan pacar-pacar lamanya yang menuntut seks dari dia. Dia hanya mau pacaran dengan seorang cowok yang bersedia menerima dia apa adanya dan menjalani hubungan ini secara islami. Akhirnya, sekitar setengah tahun yang lalu, dia melayangkan surat undangan pernikahannya kepadaku.

Begitulah. Boleh dibilang, aku tidak menemui kesulian sama sekali dalam mendakwahi dia. Hal sebaliknya terjadi ketika aku mendakwahi seorang mubalig, sesama penulis buku islami. Aku  berdebat dengannya sampai puluhan kali. Berikut ini laporanku secara ringkas.

Dalam salah satu bukunya, dia menulis bahwa Allah dan Rasul-Nya mengharamkan pacaran. Aku pun bertanya kepadanya. Di ayat manakah Allah mengharamkan pacaran? Di hadits manakah Rasul mengharamkan pacaran?

Dia menyodorkan ayat “janganlah kau mendekati zina” dan beberapa hadits senada. Kutanggapi, “Ini ‘kan dalil mengenai terlarangnya mendekati zina, bukan terlarangnya pacaran.”

Dia menyanggah, “Tapi ‘kan pacaran itu mendekati zina. Semua orang tahu, pacaran itu ya begitu, pasti mengarah ke perzinaan.”

“Semua orang? Pasti mengarah ke perzinaan? Mana buktinya?” Lalu kusodori hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa pacaran tidak identik dengan mendekati zina.

Sementara itu, dia sama sekali tidak menyodorkan bukti. Lantas, berakhirlah perdebatan kami setelah dia mengakui bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan pacaran.

Nah! Sepintas lalu, dakwahku kepadanya itu telah berhasil dengan agak mudah. Namun sebenarnya tidak demikian. Walaupun kepadaku dia telah mengakui bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan pacaran, ternyata kepada orang lain dia tidak mengatakannya. Bukunya yang menyatakan “Allah dan Rasul-Nya mengharamkan pacaran” itu kini telah cetak-ulang beberapa kali tanpa revisi darinya. Karya-karya tulis terbarunya, baik yang disiarkan melalui media cetak atau pun internet, masih menyatakan penentangan secara sengit terhadap segala bentuk pacaran.

Sampai kini, aku masih mencoba sesekali menghubungi dia untuk mempertanyakan sikapnya itu. Namun sejauh ini, dia tidak pernah menanggapi lagi pertanyaan-pertanyaanku. Begitulah sulitnya mendakwahi ahli agama. (Ataukah sebetulnya dia bukan ahli agama meskipun telah menulis buku-buku islami?)

Bagaimana denganmu? Tipe orang yang bagaimanakah yang paling sulit kau dakwahi? Apakah kau tergolong orang yang mudah ataukah sulit didakwahi?

29 thoughts on “Orang Yang Sulit Menerima Kebenaran

  1. Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Pak Mushodiq yang dirahmati Allah, “menarik” apa yang menjadi kesimpulan bapak terhadap orang yang paling sulit didakwahi yakni “Ahli Agama”. Mungkin kita pernah mendengar, pembagian karakter orang dalam beberapa kategori (CMIIW), salah satu diantaranya kurang lebih seperti ini,
    1. Ada orang yang tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu, orang seperti ini adalah orang tolol, maka jauhi dia, karena ketidaktahuan dan ketidakmautahuannya boleh jadi membawa kecelakaan bagi kita.
    2. Ada orang yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa ia tidak tahu, ia adalah orang yang sadar, maka orang seperti ini perlu diajari agar ia menjadi tahu.
    3. Ada orang yang tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tahu, maka orang seperti ini ibarat sedang tidur, maka bangunkanlah ia. Dan terakhir..
    4. Ada orang yang tahu, dan tahu bahwa ia tahu, orang-orang seperti ini adalah para ahli atau ulama, maka orang seperti ini harus kita ikuti.
    Jika merujuk kepada ke-4 kategori diatas, tidak diragukan lagi bahwa para “Ahli Agama” adalah orang-orang dengan karakteristik yang keempat. Kepada mereka lah tempat kita bertanya tentang persoalan-persoalan agama ini, karena jika bukan kepada mereka, pastilah kita berhadapan dengan ke-3 tipe yang ke semuanya dalam satu keadaan yakni “ketidaktahuan”. Nah apakah pantas ungkapan yang menyatakan bahwa “Ahli Agama lah orang yang paling sulit didakwahi??”. Kita tentu sepakat bahwa para sahabat Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam adalah juga para ulama. Apakah kemudian mereka sulit didakwahi?? Bagaimana misalkan seorang Umar bin Khattab terharu, menerima dengan lapang dada ketika diawal pemerintahannya ada seorang pemuda yang dengan lantang akan meluruskan Umar dengan pedang jika dia melenceng dari Al Quran dan sunnah. Atau bagaimana misalkan banyak guru-guru agama kita sendiri ketika mereka memang salah dan kita ingatkan tentu mereka akan dengan senang hati menerima nasehat itu. Dan bukan seorang ahli agama yang baik jika dia dinasehatkan, tetapi tidak mau mempertimbangkan nasehat itu, karena agama ini adalah nasehat.

    Disamping itu, ada pembagian tipe yang (maaf) terkesan asal dari ke-4 tipe yang bapak tulis diatas. Perhatikan, ada anak nakal, remaja pemberontak, orang dewasa awam, dan ahli agama. Jika anak nakal dan remaja pemberontak digendengkan maka bisa lah kita pahami, dimana pengklasifikasian diatas mengikuti fase usia manusia, sehingga setelah itu seharusnya adalah orang dewasa kriminal, dan lansia penjahat. Tetapi kan ternyata berbelok setelah anak nakal, remaja pemberontak, berlanjut ke orang dewasa awam dan ahli agama. nah, pengklasifikasian tipe itu berdasarkan apa?? Kok jadinya ada kesan yang kuat bahwa label “ahli agama” ditulisan itu memang sedang dimaksudkan untuk menjadi “sasaran” tembak. Maaf sekali pak Mushadiq, andai kata selain ahli agama itu, diganti dengan ahli politik, ahli ekonomi dan ahli matematika, tentu kita bisa memahaminya sebagai sebuah pengklasifikasian yang berimbang dan adil, tetapi jika kemudian anak nakal, remaja pemberontak, dll diasumsikan lebih mudah didakwahi daripada ahli agama, lantas apakah orang yang mendakwahinya bukan seorang ahli agama?? Nah akan semakin rancu sekali jika tidak dikatakan menyesatkan, jika kemudian dikatakan “ahli agama sulit mendakwahi ahli agama”, na’udzubillah.

    Perkara orang sulit atau gampang didakwahi(baca: menerima dakwah kita) itu bukan perkara karena orang itu anak nakal, remaja pemberontak, orang awam atau orang yg “ahli”(baca: yg ngaku ahli) agama dll, tetapi lebih kepada apakah Allah azza wajalla telah membuka hati objek yang kita dakwahi tersebut untuk menerima dakwah kita. Urusan pendakwah menyampaikan materi dakwah dengan baik dan benar, perkara yang didakwahi menerima atau tidak, seluruhnya ada dalam kehendak Allah subhanahu wata’ala. Sehingga insyaAllah tidak muncul lagi ungkapan2 yang bernada “sinis” dari seorang pendakwah seperti “orang yang paling sulit didakwahi itu adalah ahli agama”, na’udzubillah.

    Mungkin itu saja pak Mushodiq cuap-cuap ana, sekalian mohon maaf lahir batin, semoga ramadhan kali ini semakin mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dan semakin mencintai sunnah rasulullah sholallahu’alaihi wassalam.

    wallahu’alam wastaghfirullah.
    wassalamu’alaykum warahmatullah

    Sandhi salah-paham. Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/09/24/jangan-hanya-melihat-apa-yang-tertulis/

  2. Untuk Anda semua, berikut ada tambahan dari saya, sebagaimana yang saya kemukakan di https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/#comment-571

    1) Kalimat saya yang manakah yang menunjukkan bahwa saya memaksa Anda menerima konsep saya? (Kalau ada, saya siap merevisi.)

    2) Saya setuju, kita perlu saling menghargai. Ini sebabnya, saya sering mengatakan, “silakan untuk lebih memopulerkan tanazhur pranikah”, “silakan untuk tidak pacaran”, “segala yang islami itu saya dukung”, dsb. Itu sebabnya pula, saya membela pelaku pacaran islami yang tidak dihargai. Lihat http://uk.geocities.com/muhshodiq/index.html

    3) Apakah anda merasa tidak perlu didakwahi? Menurut saya, semua orang perlu didakwahi, termasuk saya sendiri dan juga para ahli agama. Sebab, kita bukan nabi yang bebas dari kesalahan.

    4) Dakwah kepada para penentang pacaran islami adalah “hargailah saudara kita yang melakukan pacaran islami”, “jangan mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya”, dsb.

    5) Pacaran islami, sebagaimana kebaikan lainnya, merupakan bagian dari ibadah. (Ibadah itu bukan hanya sholat.) Saya pun tidak hanya mendakwahkan pacaran islami, tetapi juga mendakwahkan shalat. Lihat http://salatsmart.wordpress.com/testimoni/

    6) Survei mengenai perilaku pacaran itu perlu kita kemukakan untuk
    membuktikan benar-salahnya prasangka saudara-saudara kita yang mengklaim bahwa pacaran itu identik dengan “mendekati zina”. Seandainya mereka tidak mengklaim begitu, saya pun tidak memandang perlu mengungkapkannya.

    7) Saya tidak membenci para penentang pacaran islami. Saya merasa, mereka itu menentang pacaran islami hanyalah karena kecintaan mereka kepada Islam dan karena kurang pahamnya mereka terhadap apa yang kami maksud dengan “pacaran islami”.

    @ qnewt
    Salam kenal kembali. Terima kasih atas pujiannya.

  3. wah bener juga pak, kadangkala ahli agama merasa telah tinggi ilmu agamanya sehingga kalo orang awam bahkan sesama ahli agama memberi nasihat kepadanya dia malah menolaknya dengan alasan dia juga sudah tahu dasar hukumnya. padahal ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa kita harus menerima nasihat walaupun dari budak hitam legam………..
    salam kenal

  4. @M Shodiq Mustika
    seperti pengalaman yang sampeyan tulis diatas mas … kesimpulan yang saya ambil adalah “orang akan cenderung mencari apa yang belum dimilikinya”🙂
    begitu juga dengan “ahli agama”, tinggal sampeyan cari saja apa yang belum dimilikinya, walaupun memang ndak semudah dalam teorinya … dan juga makin tinggi levelnya makin tinggi pula sesuatu yang diperlukannya.
    sebagai contoh, untuk level ahli agama … mungkin dia perlu surga, barangkali ?! yaa … sampeyan tinggal berikan saja sedikit rasa surga kepadanya😆 maaf, hanya contoh🙂

  5. pacaran itu apa sih?

    perbuatankah, ataukah statuskah?

    kalo pacaran itu adalah perbuatan berkhalwat, berdua-duaan di bawah pohon beringin malam-malam, sambil ngobrol-ngobrol, trus pegang-pegangan tangan, trus sandar-sandaran, trus biasanya cuma itu kan? itu boleh tidak? itu termasuk mendekati zina bukan sih? kalo mendekati zina dosa ya?

    trus kalo pacaran itu artunya status, artinya saya pacaran, berarti saya punya pacar. tapi gak pernah dua-duaan. cuman “ndedeki” saja, biar gak diambil anak orang lain. itu gimana? dosa gak?
    trus kalo ternyata di tengah jalan, saia kecantol sama cewek lain, trus memutuskan status pacaran dengan yang lama, gimana tuh?

    atau pacaran itu artinya kedua-duanya? apa boleh pacaran? hehehehe….. pacaran boleh ya? tapi ntar kalo ternyata dosa, situ yang nanggung ya! hihihihihi…… pacaran, ah!

    sebelumnya salam kenal ya, mas!

    mmmm…. kalo saia merasa adalah orang yg sulit didakwahi. tapi saia bukan dari keempat golongan yg mas sebutkan. saia orang biasa saja.
    saia pengeeeeen banget jadi orang yg mudah didakwahi, yang kalo didakwahi bisa langsung diamalkan ilmu yg diterima, bisa dicintai sama Allah, ntar kalo mati bisa masuk syurga. Amin.
    tapi kok males banget ya? apa hati ini sudah mati ya?
    ya Allah, berilah hamba-Mu ini hidayah dan keimanan yang kokoh!

  6. Dibandingkan dengan orang awam, apakah para ahli agama lebih mudah kita dakwahi? Dalam pengalamanku, biasanya yang paling sulit didakwahi adalah ahli agama.

    Tefat, ya akhi.😆

    ————

    Makanya saya paling malas dengan orang yang sok tahu, dan “ahli” agama….

  7. Sebelumnya maaf!
    Kenapa Anda mengatakan seperti itu, mengatakan bahwa mendakwahi orang yang ahli–mungkin, tahu lebih banyak–agama lebih sulit. Karena bisa jadi menurut teman yang Anda bicara, Andalah yang sulit didakwahi.
    Saya buka sedang memilih untuk siapa yang saya bela. Tapi, saya hanya ingin mengkritik sedikit–mungkin juga mendakwahi–kenapa kita selalu berpikir salah tentang orang lain, tanpa mau terlebih dahulu mencoba berpikir tentang bagaiman cara dia melihat kita.
    Saya sendiri masih bingung dengan apa itu pacaran. Karena kayakanya engga ada penjelasan akurat nan legal yang diakui bersama.
    Sebenarnya ada banyak yang ingin saya utarakan. Tapi, ah sudahlah saya juga engga tahu apakah Anda juga termasuk tipe2 diatas yang Anda sebutkan, “Sulit di dakwahi”?
    Dan lagi, maaf.

  8. kok ada istilah sulit didakwahi sih???

    bukannya dakwah itu berarti menyampaikan?? atau dengan bahasa sederhananya ngasih tau
    setahu saya mah ga ada orang yang sulit untuk dikasih tau selama dia bisa baca, bisa ngedenger, dan bisa meraba

    yang ada adalah orang yang sulit untuk menerima kebenaran dan melakukan kebenaran😀

  9. 13. dajal007 – 10 September 2007
    setuju mas,,,,,,,,,assalamu’alaikum wr wb

    @ahli agama
    sesusah atau sesulit apapun kita hrs trs berdakwah karena itu merupakan salah satu proses/cara/rangkaian/bentuk rasa abdi(cinta) kita kepada Allah,Rasul2nya,dan segenap ummat manusia diseluruh penjuru dunia.yg dimulai dari diri kita masing2………. wallahu a’lam.

    mohon maaf bl ada kata2 saya yg kurang berkenan dihati sodara2

  10. Udah nebak yang paling susah didakwahi adalah ahli agama, soalnya mereka yang ngerasa paling ngerti soal agama. Apalagi kalau kitanya lebih muda dari dia.

  11. @watonist
    Andai pandai mengambil kesimpulan. Terima kasih.

    @tekkoajaib
    Aamiin… Salam kenal kembali.

    @Mihael
    Walau demikian mudah-mudahan kita tetap mau mendakwahi mereka.

    @Arien
    Dik Arien benar. Yang aku ungkapkan itu merupakan pengalaman pribadiku, yang bolehjadi berbeda dengan pengalaman orang lain. Kalau dalam pengalaman Dik Arien, ahli agamalah yang paling mudah didakwahi, aku tidak menyangkal.

    @dajal007
    Engkau benar. Maksudku memang begitu. Apa kau punya usul judul lain untuk revisi artikel ini?

    @abah212
    Tepat. Meskipun kita dituduh macam-macam, kita “kita hrs trs berdakwah”.

    @julfan
    Alhamdulillah. Beruntunglah orang seperti engkau yang bersedia menerima petunjuk dan “mudah didakwahi”.

    @dee
    Begitulah. Ada pengalaman? Bagi-bagi dong!

  12. simpel
    ahli dakwah ‘kadang’ kadang lho…
    kadang mereka merasa lebih pintar….

    jadi ‘kadang’ kadang lho

    kadang justru marah karena merasa digurui harusnya saya tuh yg berhak mendakwahi sampeyan… (*menggurui)

  13. @ M Shodiq Mustika

    Apakah anda merasa tidak perlu didakwahi? Menurut saya, semua orang perlu didakwahi, termasuk saya sendiri dan juga para ahli agama. Sebab, kita bukan nabi yang bebas dari kesalahan.

    Saya setuju dengan Kang Shodiq .. dan ketika postingan ini saya tunjukan ke teman saya yang lulusan pesantren dan UIN .. dia malah komentar .. “Loh, yang punya posting juga ga mau menerima pendapat ahli agama yang berseberangan dengan nya”

    Hmmm .. saya jadi berpikir .. siapa yang harus menerima atau mengalah? Apakah ada yang benar atau ada yang salah? Tapi .. quote diatas .. saya setuju. Perbedaan itu biarlah .. tapi jangan sampai kita menyalahkan orang lain hanya untuk kebenaran yang kita yakini.

    Kebenaran menurut kita .. adalah kebenaran yang kita yakini. Bukan dengan menyandingkan dengan kesalahan orang lain. Wah, bisa jadi ilham buat postingan saya berikutnya nih hehehe ..

  14. @erander

    Hmmm .. saya jadi berpikir .. siapa yang harus menerima atau mengalah?

    ya … padanya yang berani memutus lingkaran setan inilah (saling salah menyalahkan), dia yang akan memenangkan rasa simpatiku🙂
    yang masih terikut arus seperti itu dia yang masih lebih melihat siapa yang mengatakan lebih daripada apa yang dikatakan.

  15. @Erander

    Maaf kalau salah,
    Tapi dari yang saya liat selama ini…ini subjektif sekali loh…

    Mereka2 yg mendukung, biasanya malah terbuka dengan sistem taaruf ala aktivis (pendapat yg berbeda).

    Justru mereka yang menentang istilah pacaran islami-lah yang kurang mampu menerima perbedaan. Kalau anda kurang yakin, silahkan liat blog ini lebih teliti…anda akan lihat kenyataan itu. Anda bisa lihat itu di forum2 atau ngga usah jauh2…silahkan anda liat di sini…banyak sekali dari mereka yg menetang, tapi sebenanrnya mereka sendiri belum “tahu betul” mengenai hal yg mereka tentang. Jadi mereka hanya menggunakan persepsi pribadi atau golongan, tanpa mau mempelajari lebih dulu.

    Mari kita sama2 belajar🙂

    Wassalam

  16. usul judul…. wah saya juga belom kepikiran kang…
    soalnya kebanyakan judul2 tulisan saya sering ga nyambung sama isi tulisannya😀

    tapi kalo akang memaksa (untungnya akang ga maksa kan :P) usul dari saya “orang yang sulit menerima kebenaran” –>jadi inget ama perkataan seorang temen yang intinya orang yang merasa pintar memang sulit menerima kebenaran

  17. @superdeuthman
    Begitulah. Sikap seperti itu, menurut Yusuf Qardhawi, tergolong salah satu ciri “Islam Ekstrim”.

    @obyek
    MyQuran sekarang memang tidak lagi seperti 4-5 tahun yang lalu. Tapi kalau dibiarkan begitu, tidakkah malah memperparah keadaan?

    @erander
    Teman sampeyan berkomentar:
    “Loh, yang punya posting juga ga mau menerima pendapat ahli agama yang berseberangan dengan nya”.
    Tanggapanku:
    Aku menerima perbedaan pendapat, termasuk dari yang berseberangan denganku. Buktinya: aku tidak hanya menulis buku pacaran islami, tapi juga buku ta’aruf. Bukti lainnya: aku pun mengadakan proyek penulisan buku bersama yang mencakup berbagai pendapat dan melibatkan orang-orang yang berseberangan denganku, sehingga lahirlah buku Seandainya Saya Istri Aa Gym, Muslim Romantis (akan terbit), dan beberapa buku lainnya.

    @watonist
    Aku menerima keberadaan ta’aruf, tanazhur, dan berbagai konsep pranikah islami lainnya. Buktinya, disamping menulis Wahai Penghujat Pacaran Islami, aku pun menulis buku Ta’aruf Forever.
    Aku tidak menyalahkan mereka. Aku hanya meminta mereka konsekuen dengan apa yang mereka akui sendiri, yaitu bahwa ternyata Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan pacaran. Tidak haram itu bisa berarti makruh, mubah, atau sunnah. Aku pun menyampaikan kepada publik di blogku bahwa menurut Qardhawi, percintaan pranikah itu makruh, meskipun aku berpegang pada fatwa Abu Syuqqah yang menganjurkan percintaan pranikah.
    Dalam pandanganku, “lingkaran syetan” ini terjadi karena mereka belum konsekuen dengan apa yang telah mereka akui sendiri, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan pacaran. Seharusnya, sikap maksimal yang bisa mereka pegang adalah mendakwahkan bahwa pacaran itu makruh, bukan haram. Di sisi lain, sikap maksimal kami adalah mendakwahkan bahwa pacaran itu sunnah, bukan wajib.
    Karena pacaran itu tidak haram, mereka tidak bisa “memaksa” kita untuk tidak pacaran. Sementara itu, karena pacaran itu bukan pula wajib, kita pun tidak bisa “memaksa” mereka pacaran. (Bila pandanganku ini keliru, silakan kau koreksi.)

    @kaezzar
    Analisismu jitu. Aku pun menerima ajakanmu untuk sama2 belajar. Keep on preaching.

    @dajal007
    Walau kau tidak merasa pintar, usulmu kuterima. Aku akui, judul yang kau sodorkan itu lebih tepat daripada judulku terdahulu. Karena itu, judul artikel ini kuubah menjadi “orang yang sulit menerima kebenaran”.

  18. kalo ngikut istilah anak muda sekarang…

    uu… cape deh… Pede amat seh… nyadar gak…

  19. @elqassam
    Cape?
    Butuh berapa besar energi untuk mengakui bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan pacaran?
    Sadarlah, El. Ini bukan soal pede gak pede. Udah jelas hujjah Pak Shodiq lebih kuat ketimbang hujjah kamu. Gak usah cari-cari dalih. Gak tahukah kau besarnya dosa orang yang mengharamkan apa yang tidak diharamkan Allah dan Rasul-Nya?

  20. Pak,benar kata bapak di pembahasan ini.Bapak pasti ingat sewaktu saya cerita tentang saya berselisih pendapat dengan teman-orang saya sesama anggota Rohis.Tetapi,kadang teman-teman saya yg dasar agamanya kurang(dapat dikatakan awam) pun sering kali berpendapat mengenai hal agama.Bahkan kadang sama kerasnya seperti berselisih dgn orang yg mengerti agama seperti yg bapak katakan.

  21. Ping-balik: Panduan Pacaran di Bulan Ramadhan « ninja27

Komentar ditutup.