Sia-siakah puasanya orang yang pacaran?

Konon, seorang mubalig berkata bahwa orang puasa yang pacaran takkan mendapat apa-apa selain lapar dan dahaga. Benarkah kata-katanya itu? Marilah kita memeriksanya dengan bukti-bukti dan merujuk kepada firman Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “… puasa adalah milik-Ku dan hanya Akulah yang akan membalasnya. Hal ini dikarenakan seseorang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. …” (HR Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Nabi saw. bersabda, “Siapa pun yang tidak meninggalkan ucapan dan/atau perbuatan yang tidak senonoh [saat berpuasa], maka Allah sama sekali tidak mempedulikan puasanya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)

Atas dasar dalil seperti itulah sang mubalig menyatakan, “Sia-sialah puasanya orang yang pacaran.” Rupanya ia berprasangka bahwa pacaran merupakan ajang penyaluran nafsu syahwat. Dengan kata lain, katanya, pacaran itu pastilah aktivitas tidak senonoh yang mendekati zina. Namun, prasangka ini keliru. Survei ilmiah membuktikan, pacaran itu tidak identik dengan “mendekati zina”. (Lihat Ciuman dengan Pacar (PR untuk Penentang Pacaran Islami).)

Jadi, pacaran islami yang tidak menjadi ajang penyaluran nafsu syahwat tidak menyebabkan sia-sianya puasa. Sia-sia tidaknya puasanya orang yang pacaran itu tergantung pada apa yang dia lakukan ketika pacaran pada waktu puasa. Jika aktivitasnya tidak senonoh atau mendekati zina, maka bisa-bisa puasanya sia-sia. Namun jika pacarannya berupa aktivitas yang baik-baik, maka puasanya tidaklah sia-sia, tetapi justru menjadi perisai pengaman. (Lihat Ramadhan: Saat Terbaik untuk Pacaran.)

Tentu saja, pacaran yang tidak menjadikan sia-sianya puasa itu bukanlah puasa yang asal-asalan. Ada aturan yang mesti dipenuhi. Pacarannya tetap harus berada dalam koridor syariat Islam. (Lihat Panduan Pacaran di Bulan Ramadhan.)

Memang benar bahwa aktivitas pacaran (yang non-islami) bisa mengurangi pahala kita. Namun, benar pula bahwa segala aktivitas yang dilakukan secara islami justru menambah pahala kita. Akhirulkalam, selamat berpuasa dan selamat beraktivitas secara islami!

21 thoughts on “Sia-siakah puasanya orang yang pacaran?

  1. Salut atas Pak Shodiq yang kalem-kalem aja meski dihujat dan diolok-olok oleh orang-orang yang sok tahu.
    Tetap semangat, Pak!
    Keep on posting.

  2. Benar,
    segala aktivitas yang dilakukan secara islami justru menambah pahala kita di bulan suci ini,
    tak terkecuali pacaran islami

  3. ahhhh jangan jangan karena ga laku aza.. hehehe
    maaf just kidding.

    yahhhhhhh………….
    good luck dehhhh
    yang penting kita tetap enjoy berpacaran. hihihihihihhh

    pacaran islami apa ada?

    jangan – jangan hanya label saja…
    jengekeellll

  4. hamba Allah bilang:

    Yang penting islami, yes!

    saya agak ragu nih…
    secara akidah gimana bisa pacaran disebut islami?
    (berbicara akidah biasanya saklek)
    secara real, bisa ga yah?

    karena ini juga, jadinya :
    “saya ga suka orang bilang islamisasi….”
    sepertinya islam tuh hanya sebagai pewarna kehidupan saja…
    bukan menjadi bagian utama dari hidup…

  5. Tujuan puasa juga untuk melakukan jihat melawan hawa nafsu. Asalkan ketika berpacaran masih mampu menjalankan jihat itu, saya kira puasanya tetap berpahala, gitu. Yang jadi persoalan, ketika berpacaran, kebanyakan orang lupa akan jihatnya itu. Gimana?

  6. Hmm….saya sendiri sudah mengakui bahwa pacaran yang tidak berbuah zina tidak terlalu mengganggu semangat puasa.

    Tetapi yang dasarnya setan, yang dikekang selama Ramadhan, membuat saya jadi tidak ngeh ketika ingin bertemu si dia. 😕

  7. aslkm..
    pacaran pas puasa???
    yah emang sih kalo g ngapa2in ya puasa g kan berkurang..
    tp kalo udah pacaran n berduaan,apa yg bakal terjadi??who knows??mendingan jangan kan???tahan2 dulu deeh,,sebulan ini…kan sayang, iya kalo ketemu lagi puasa tahun depan!!!kalo g??wallahualam..
    wassalam

  8. @suwungnana
    Marilah kita menghargai saudara sesama muslim yang menjalani Islam sesuai keyakinan masing-masing.

    @dona
    Definisi pacaran dan islami itu luas. Kita berusaha mencakup semuanya semampu kita. Lihat http://pist.wordpress.com/2007/04/17/kenali-dan-jalani-pacaran-yang-islami/

    @atmo4th
    Untuk pra-nikah, Nabi saw. tidak mengajarkan taaruf, tapi tanazhur; dan tanazhur inilah yang ditumbuh-kembangkan dalam pacaran islami kita. Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/

    @bobby
    Marilah kita jadikan Islam sebagai satu2nya bagian dari hidup kita.

    @Sawali
    Betul, Pak Sawali. Karena banyak orang lupa, kita perlu mengingatkan. Ini sebabnya, kita perlu islamisasi.

    @Mihael
    Ya. Lain orang, lain tantangannya. Selamat berpuasa.

    @Marwan
    Kita bersikap berdasar dalil dan bukti yang kuat, bukan berdasar prasangka subyektif. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/
    Selamat berpuasa.

  9. lihatlah Al Qur’an dan Al Hadist
    jangan kita berpendapat sendiri2, Alloh sudah mengirimkan petunjuk dan kita tidak perlu mencari petunjuk yang lain(atas pemikiran manusia)
    pacaran no
    ta’afuf yessss

    Tanggapan Admin:
    rumang setyo, apakah kau belum baca artikel2 lain di situs ini?
    Kalau belum, pantaslah kau salah paham.

    Belum tahukah kau bahwa Allah tidak mengharamkan pacaran? Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

    Belum tahukah kau bahwa untuk pra-nikah, Nabi saw. tidak mengajarkan taaruf? (Yang diajarkan adalah tanazhur; dan tanazhur inilah yang kita tumbuh-kembangkan dalam pacaran islami kita.) Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/

    Belum tahukah kau bahwa Rasulullah merestui percintaan pranikah? Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

  10. Aku sendiri pernah pacaran…
    Dan yang sekarang mungkin juga namanya pacaran, cuma karena long-relationship saja, gak ketemuan selain waktu pulkam.
    Cuma… nyebut pacaran Islami.. waduh, agak berat, Mas. Ini masalah nama agama dan bukan trademark seperti merek Levi’s atau Lee Cooper itu 😐

    Tapi kalo memang Mas punya paham begitu, ya itu hak namanya. Aku ndak bisa nentang sih meski nggak sepakat dengan pelabelan begitu.

    Masalah Pacaran vs Ta’aruf, kalo pada prakteknya sama-sama ada kencan-kencanan, jalan-jalan, mesra-mesraan… ya sama saja. Beda sebutan doang itu mah 😆

  11. Alex, aku mengerti perasaanmu. Aku sendiri lebih sreg dengan istilah “islamisasi pacaran” daripada “pacaran islami”. Namun, aku pun menghargai saudara2 kita yg membutuhkan istilah “pacaran islami”.
    Selamat melakukan islamisasi pacaran. 😉

  12. artikel yang menarik dari blog yang unik dan menggelitik

    beginilah wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin

    teduh, menyejukkan, mendamaikan, menyelamatkan!

  13. saia pengen ngakak ngliat komennya suwungnanga n dona…
    suwungnanga n dona contoh orang-orang yang asal ngomong, tapi ga tau yang diomongin apaan…jelas-jelas di blog ini ada definisinya, malah masi nanya………jelas-jelas definisi pacaran islami itu afa, tujuannya afa…masi aja ribut………..
    buat pak shodiq, sabar ya pak ngadepin orang gitu^^

  14. kalosaya emang puasa nggak puasa tetep ketemu 1 hari penuh tapi ada tuh bedanya antara pusaansama nggak puasaan. tul kalo ada yang bilang tergantung yang dilakuin, kemaren bagi bagi jajan trus ngerjain TA bareng tuhkan team work jadi sapa yang ngelarang dsan mastiin kalo puasa di bulan puasa tuh nggak boleh dan ninggalin lapar aja……………
    .

    add me ya di http://press20.wordpress.com/

  15. @blogwalker
    terima kasih, Islam memang rahmat bagi semesta alam

    @hoek
    ya, kita harus sabar (dan gak perlu ngakak)

    @wie0020
    tul, di situlah kedewasaan dan keimanan teruji

    @funkshit
    belajar dulu gak pa pa

Komentar ditutup.