Apakah dalil-dalil pacaran islami asal comot?

Alhamdulillah, setelah sekian lama, akhirnya aku mendapati kritikan yang cukup berbobot. Aku mendapatinya di forum Hidayatullah, dari seseorang yang menggunakan identitas valhalla. Entah siapa sesungguhnya dia. Namun siapa pun dia, yang penting adalah isi tulisannya.

 

Tadinya aku hendak menanggapinya langsung di forum Hidayatullah. Namun berhubung aksesnya lambat, kuputuskan menuliskannya di sini saja. Mudah-mudahan dia ikut membaca tanggapanku di bawah ini. (Kalau kau kenal dia, atau kau bisa mengakses forum hidayatullah dengan cepat, tolong haturkan salamku kepadanya.)

 

Mengenai dalil-dalil yang disebutkan dalam “pacaran Islami”.

Sebelumnya saya disini tidak berbicara dalam artian “menyalahkan” atau “membenarkan”, saya sekedar akan memberi sepintas wacana. Semoga dengan wacana yang dilontarkan dapat menggugah kita tentang bagaimana mensikapi segala hal yang berkaitan dengan nash.

 

Begitulah sikap yang terpuji. Orang yang sungguh mencari kebenaran tentu berusaha seobyektif mungkin. Aku sangat menghormati sikap sampeyan yang seperti itu. (Omong-omong, apakah kritikan yang mempersoalkan metodologi ini juga sampeyan tujukan kepada sebagian aktivis dakwah yang menyuarakan “haramnya pacaran” dengan dalil yang lemah, ataukah sampeyan hanya mengkritik pendukung islamisasi pacaran?)

 

Saya pernah membaca dalam kaidah fiqh, ada ungkapan bahwa Nash yang kuat belum tentu adalah kebenaran.

 

Sampeyan betul. Yang Mahabenar hanyalah Allah, sedangkan kita hanya mampu mendekati kebenaran. Dan nash yang kuat itu merupakan salah satu jalan yang lebih mendekatkan kita dengan kebenaran. Untuk lebih mendekatkan lagi dengan kebenaran, kita membutuhkan metode pemahaman yang islami terhadap nash tersebut. (Umpamanya, dalam Muhammadiyah, kerangka metodologi pengembangan pemikiran Islam menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.) Biarpun nash-nya kuat, hasil ijitihadnya menjadi jauh dari kebenaran bila metode pemahamannya tidak tepat.

 

Ini sebuah prinsip yang selalu (secara pribadi) dibawa ketika melihat sesuatu hal yang misal nashnya sama-sama kuat tapi kok saling menganfirmasi bahkan bertolak belakang. Inilah sebenarnya tugas para Kritikus Hadith dan juga ulama-ulama Fiqhu Hadith yang berkompeten.

 

Betul. Di kalangan Muhammadiyah, kegiatan seperti itu dikenal sebagai “tarjih” (dalam arti luas).

 

Saya ndak tahu Mas Shodiq (pencetus wacana pacaran Islami) ini ahli apa? Apakah ahli Fiqh? Ahli Hadith? Atau fiqh Hadith?.

 

Aku hanyalah seorang muslim biasa yang berusaha mendalami persoalan hubungan pria-wanita. (Aku bukan orang pertama yang mengemukakan istilah “pacaran islami”. Istilah ini sudah lama ada di kalangan umat. Setidak-tidaknya, sewaktu aku remaja, sedikit sekali mubalig yang mempersoalkan pacaran. Baru pada tahun-tahun belakangan ini muncul gerakan anti-pacaran di kalangan aktivis dakwah.)

 

Belum jelas, sebab mas shodiq selalu menyitir nash-nash yang kuat tapi kok tidak melakukan tarjih padahal beliau kan tahu ada nash lain yang juga kuat namun ta’arudh.

 

Terima kasih, sampeyan telah mengakui kuatnya nash-nash yang aku sitir. Memang, aku belum banyak melakukan tarjih. Selama ini, kami lebih banyak bersandar kepada tarjihnya beberapa ulama terpercaya, seperti Abu Syuqqah dan Yusuf Qardhawi dari Ikhwanul Muslimin. (Ilmu mereka berada jauh di atas kami.)

 

Kalau beliau ahli dibidang ushl tentunya beliau sudah tau bagaimana menyelesaikan masalah ini, apalagi kalau beliau juga ahli kritik hadith khususnya fiqhu hadits sebab yang diwacanakan adalah wacana ushl & hadith. Kita berhuznudzon saja.

 

Sekali lagi terima kasih atas husnuzhzhan-nya. Ya, penyelesaiannya sudah kami sampaikan. Telah beberapa kali kami ungkapkan hasil tarjih dari Abu Syuqqah yang cenderung menganjurkan percintaan pranikah. Telah kami ungkapkan pula hasil tarjih dari Yusuf Qardhawi yang juga tidak mengharamkan, tetapi cenderung tidak menyukai percintaan pranikah.

 

Namun sebagai tanggung jawab ilmiah, tentunya sebelumnya beliau harus menjelaskan dong apa metodologinya?. Sebab ketika seorang mewacanakan sesuatu apalagi ada kaitannya dengan ilmu tentu wacana tersebut didasari metodologi ilmiah khususnya yang telah dikenal dalam wacana ushl dan kritik hadith.

 

Lagi-lagi, sampeyan betul. Metodologi itu perlu kita kemukakan.

 

Wajar dong kalo kemudian ada sebagian ulama menyindir dan mengkritik beliau karena “kenylenehannya” …

 

Ulama manakah yang mengkritik “kenylenehanku”? Mengapa sampai lima tahun ini, aku belum pernah menerima kritikan dari satu pun ulama mengenai “kenylenehanku”? (Ataukah sampeyan sebetulnya seorang ulama yang pernah mengkritik “kenylenehanku”?)

 

… sebab beliau tidak pernah berbicara dalam tataran metodologi.

 

Dugaan sampeyan ini keliru. Kami menggulirkan wacana islamisasi pacaran sejak sekitar lima tahun yang lalu. Pada dua tahun pertama, kami berfokus pada metodologinya. (Di manakah sampeyan saat itu? Seingatku, ketika itu tak kudengar sampeyan bicara metodologi.) Belakangan ini, kami memang lebih berfokus pada materi penyiarannya.

 

Dan mungkin akhirnya terkesan “asal comot sana-sini”.

 Kalau dalam pandangan sampeyan, aku “asal comot”, silakan luruskan. Tunjukkan dalil mana sajakah yang asal comot, supaya dapat kuberitahukan metodologinya. Kalau memang “asal comot”, aku bersedia merevisi. 

Sebagai contoh untuk sekedar pembuka kritik saja, dalam hal hadith dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Seorang perempuan sahaya [nonmuhrim] dari sahaya-sahaya warga Madinah menggandeng tangan Rasulullah saw. dan pergi bersama beliau ke tempat mana saja yang ia [perempuan itu] kehendaki.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Majah), ini masih jadi pertanyaan sebab disitu ada illahnya yaitu hamba sayaha. Coba kita baca ulang baik-baik. Ingat fiqh tentang hamba sahaya, ini masih satu sisi saja, belum matan dan komparasi dengan hadith shohih lainnya.

 Untuk pengamalan hadits tersebut, kami mengikuti tarjihnya Yusuf Qardhawi dan Abu Syuqqah. (Untuk mengenali tarjih mereka, lihat misalnya Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw (Bandung: Karisma, 1983), hlm. 177-180 dan Fiqih Wanita (Bandung: Jabal, 2007), hlm. 118-131; Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), Jilid 2, hlm. 112-122 dan Jilid 3, hlm. 182-187.) Oh ya, sebetulnya bukan hadits tersebut yang kami jadikan dalil utama islamisasi pacaran, tetapi yang kusampaikan di artikel Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?). Mengapa bukan hadits di artikel itu yang sampeyan jadikan contoh  “untuk sekedar pembuka kritik saja”? 

Saya pikir yang kompenten disini adalah ahli fiqh hadith (karena menguasai ushl fiqh, fiqh dan kritik hadits).

 

Betul. Itu sebabnya, kami lebih banyak bersandar kepada tarjihnya beberapa ulama terpercaya, seperti Abu Syuqqah dan Yusuf Qardhawi. Sampeyan sendiri bersandar kepada ijtihadnya siapa? Kitab manakah yang sampeyan jadikan rujukan utama dalam perkara percintaan pra-nikah?

 

Semoga ada diantara kita yang bisa menjelaskan lebih konkret.

 

Aamiin.

 

3 thoughts on “Apakah dalil-dalil pacaran islami asal comot?

  1. yang baca blog ini kebanyakan orang awam, ‘kan?

    perbanyak dong artikel yg ngepop

    klo ttg metodologi, baiknya via japri (e-mail) aja ‘kali

  2. mendukung usulan blogwalker

    perbanyak artikel ngepop

    anjing menggonggong, kafilah berlalu

  3. sebetulnya inti masalahnya ada pada mindset sebagian besar masyarakat saat ini akan pacaran itu sendiri. shodiq mustika berusaha dengan kuat mendefinisikan pacaran yang dimaksud adalah hubungan sebelum nikah (calon pengantin), tapi cobalah anda lihat sendiri realitas yang ada. ditambah dengan cara-cara yang baik (??). walaupun masih banyak yang ambigu.
    dus, aku malah khawatir, shodiq mustika yang berusaha “meng-islam-kan” pacaran, malah sebaliknya ditanggapi oleh pembaca pro syahwat untuk melegalkan tindakan tak terpujinya atas nama agama… hmmm…, kalo sudah begini maksud shodiq menjadi bertepuk sebelah tangan dan malah menjadi kontraproduktif bahkan destruktif sama sekali!!
    lalu, shodiq mustika mungkin berkilah, “ayo dong kita sama-sama kampanyekan ini (baca: pacaran islami)”. itu sih bergerak di pucuk-pucuk, akarnya tidak mati… akarnya adalah pola hubungan lawan jenis yang tidak islami itu yang harus diperbaiki dulu. baru ngomong dan kampanye “pacaran islami” (lagi-lagi, walaupun aku sendiri khawatir/curiga dengan istilah ini)

Komentar ditutup.