Cerdiknya Seorang Penentang Islamisasi (1)

Tepat pada hari ulangtahunku di pertengahan bulan ini, aku mendapat ‘hadiah’ istimewa dari seorang blogger misterius. Mau tahu? Boleh. Silakan simak (tapi pelan2 saja supaya tidak salah paham).

 

Niat sang blogger tampaknya bagus. Ia hendak “membongkar penyelewengan dalil yang digunakan oleh sang penggagas [islamisasi pacaran]”. Ia pun hendak menunjukkan banyaknya “keganjilan dan ketidakbenaran” yang disampaikan oleh situs Pacaran Islami ini.

 

Setelah mengamati enam tulisan yang telah dia tayangkan di blog tersebut, mau tak mau kami harus mengakui betapa ‘cerdik’-nya dia. Berikut ini beberapa ‘kecerdikannya’ yang bisa kami tangkap.

 

Ia merahasiakan identitasnya, sehingga bisa leluasa menyerang pribadi kami. Caranya, antara lain dengan ‘memaklumi’ bahwa “sang penggagas [yaitu M Shodiq Mustika] juga adalah seorang penulis buku, beliau tentu ingin bukunya laku”. (Di sisi lain, sulit bagi kami untuk ‘memaklumi’ dia karena kami tidak mengenal dia sama sekali.)

 

Kutipan-kutipannya terkadang dia kemukakan secara sepotong-sepotong dan tidak lengkap, yang menimbulkan kesan ‘kuatnya’ argumentasinya. Contohnya, pada artikelnya mengenai “mencintai sebelum meminang”, ia mengutip beberapa kalimat dari buku rujukan kami, Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 71-78. Dari situ, ia berkesimpulan bahwa untuk pra-nikah, Abu Syuqqah hanya membolehkan perasaan cinta (komentar: disini dikatakan perasaan cinta, bukan bercinta …). Lantas, ia menuduh sungguh mengigau orang yang menyatakan Ustadz Abu Syuqqah menganjurkan orang untuk berpacaran, dan jika dalam keadaan sadar sang penggagas mengucapkan hal itu (bahwa ustadz Abu Syuqqah menganjurkan berpacaran) maka ia telah berbohong atas nama Al Ustadz Abu Syuqqah, na’udzubillah.”

 

Tampak jelas bahwa kesimpulannya mengenai uraian Abu Syuqqah di halaman-halaman yang dia sebutkan itu bertolak belakang dengan kesimpulan kami. Siapa yang kesimpulannya benar? Untuk adilnya, marilah kita merujuk pada kesimpulan yang dinyatakan oleh sang penulis sendiri, yaitu Abu Syuqqah.

 

Kesimpulan uraian halaman 71-78 itu beliau nyatakan langsung pada halaman berikutnya, hlm. 79. Di situ, beliau menegaskan bahwa beliau “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah”. ‘Bercinta sebelum khitbah’ inilah yang kami maksud sebagai ‘pacaran islami’. (Yang dimaksud dengan ‘bercinta’ adalah saling mengekspresikan rasa cinta, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Thabrani di hlm. 73-74. Akan lebih jelas lagi bila kita membaca versi aslinya dalam bahasa Arab. Sebab, edisi bahasa Indonesianya itu diterbitkan oleh penerbit yang cenderung menentang pacaran islami, sehingga gagasan Abu Syuqqah mengenai percintaan pra-nikah itu menjadi kurang menonjol.)

 

Kesimpulan sang blogger yang ia ambil dari kalimat-kalimat yang ia baca terkadang justru menyimpang dari yang dimaksud oleh sang penulis. Contohnya, ia menyimpulkan: “Abu Syuqqah diawal-awal tulisan telah menyatakan dengan tegas bahwa keinginan fitrah ketertarikan antara laki-laki dan wanita hanya dapat diwujudkan bukan dengan berpacaran tetapi dengan perkawinan karena inilah yang disyariatkan oleh Allah).” Silakan para pembaca mencari kalimat-kalimat Abu Syuqqah yang manakah yang ‘menyatakan dengan tegas’ begitu. Yang kami temui justru penegasan dari Abu Syuqqah bahwa beliau “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah” (hlm. 79). (Yang dimaksud dengan ‘bercinta’ itu bukan hanya ‘memelihara rasa cinta sendiri-sendiri di dalam hati masing-masing’, melainkan juga meliputi saling mengekspresikan rasa cinta’, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Thabrani di hlm. 73-74.)

 

Rupanya, ia mengambil kesimpulan dari ‘paragraf’:

 

Diantara fitrah yang diciptakan Allah pada manusia ialah adanya kecenderungan laki-laki kepada wanita dan keinginannya untuk bersahabat dengannya dan mencari ketenangan dan ketentraman padanya. Demikian pula kecenderungan wanita kepada laki-laki dan keinginannya untuk bersahabat dengannya dan menjadikannya sebagai sandaran baginya. Untuk mewujudkan semua itu Allah telah mensyariatkan jalan yang lurus yaitu perkawinan. (hlm. 71)

 

Padahal, yang dia kutip itu bukanlah paragraf utuh. Kalimat yang dia tebalkan itu sebetulnya diikuti dengan kalimat lanjutannya (yang menjelaskan maksudnya): “Di antara pendahuluan perkawinan ialah si laki-laki mengajukan lamaran. … Masing-masing memiliki dalil sandarannya.” Penyebutan kata “di antara” itu menandakan bahwa lamaran (khitbah) itu bukanlah satu-satunya pendahuluan perkawinan. Pendahuluan lainnya itu diantaranya ialah ‘bercinta sebelum khitbah’ (hlm. 72-79) alias ‘pacaran islami’. Jadi, kelirulah kesimpulan dia lantaran belum memahami gagasan Abu Syuqqah secara utuh.

  

45 thoughts on “Cerdiknya Seorang Penentang Islamisasi (1)

  1. Na’uzubillah..
    jika memang itu benarnya… mereka (penentang) ‘bagai’ ahli kitab yang sengaja memotong2 ayat AlQuran, mereka mengambil yang mendukung mereka dan membenarkan pendapat mereka, tetapi mereka menyembunyikan kebenaran sebenarnya.
    Banyak Nasrani ‘berdarah’ Yahudi!, tidak terlepas juga pada diri muslim sendiri. karena itulah salah satu tujuan dari ‘ayat2 setan’ yang telah mereka tetapkan. Sebatas Identitas belaka! Luarnya Muslim tapi.. dalamnya Yahudi (afwan jika tersinggung-ana tidak menCAP-)
    Pak Shodiq M, tetaplah istiqomah! karena yang benar itu akan jelas kebenarannya dan yang bathil itu juga akan tanpak kelaknya.

    “Yang hitam belum tentu hitam, yang putih belum tentu putih.
    yang hidup belum tentu ia hidup, dan yang mati belum tentu ia mati”.
    wallahu’alam

    wassalam

  2. Ping-balik: Jujurkah Buku Terjemahan Gema Insani Press? « M. Shodiq Mustika

  3. Ada “petinggi – petinggi Muslim yang suka bermain di dunia blog, sembari memotong – motong ayat”? Siapa mereka? Apa tujuan mereka?

  4. “Cerdiknya” sang penentang terlihat juga dari bagaimana dia terjebak dalam permainan kata-kata. Lihat tanggapan dia di http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/09/20/tanggapan-cerdiknya/

    Inti masalahnya,
    1) dia belum bisa membedakan antara “pacaran” dan “pacaran islami”; (yang dia tentang pada hakikatnya adalah “pacaran pada umumnya”, bukan “pacaran islami”)
    2) dia belum mau menerima bahwa “bercinta sebelum khitbah” itulah yang dimaksudkan oleh ustadz Shodiq sebagai “pacaran islami”; (seolah-olah dia memaksakan pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan “pacaran islami” adalah “pacaran yang mendekati zina”)

  5. Saya sudah membaca halaman 71-80 buku yang dimaksud ini. Sudah saya baca juga tanggapan sang penentang.

    Saya pun berkesimpulan bahwa sang penentang itu telah terjebak dalam permainan kata-kata yang dia buat-buat sendiri.
    Dia mengatakan, “meskipun ada kata “[bolehnya] bercinta [sebelum khitbah]” pada hal 79, bukan berarti bercinta itu adalah berpacaran ala SPPI. Ini yang saya maksudkan dengan kesimpulan yang parsial dan tidak utuh,…” (Kata-kata “bolehnya” dan “sebelum khitbah” ini merupakan koreksi dari saya sesuai teks aslinya, supaya pemahaman kita utuh, tidak parsial.)

    Mengapa dia nekat saja dengan masih mengatakan bahwa “bukan berarti bercinta itu adalah berpacaran ala SPPI (pacaran islami)”? Padahal, ustadz Shodiq sudah menyatakan di artikel ini:

    ‘Bercinta sebelum khitbah’ inilah yang kami maksud sebagai ‘pacaran islami’

    Saya jadi khawatir, jangan-jangan dugaan akh Az-Zaitun benar bahwa sang blogger misterius itu suka “mengambil yang mendukung pendapat mereka, tetapi menyembunyikan kebenaran sebenarnya”.

  6. Ya Allah, berilah hidayah kepada orang-orang yang memang menghendaki kebenaran. Berilah mereka kekuatan untuk beralih dari yang gelap menuju yang terang.

    Amin.

  7. Saya [dulu] juga termasuk pelaku pacaran. Tergoda dengan isu seperti ini waktu di IMM. Sebagai seorang Immawan, saya berhasil merebut hati seorang Immawati.:mrgreen:
    Tapi saya gagal kalo hubungan kami tsb disebut sebagai : pacaran Islami.
    Tau kenapa ?
    Karena saya lelaki normal.:mrgreen:
    Saya juga mati2 an menjustifikasi hubungan kami tsb sebagai hubungan Islami. Tetapi kenormalan (!) saya membuktikan bahwa justifikasi tersebut sia2.

    Saya teringat dengan tradisi dansa di negeri barat dengan pasangan bebas yang konon katanya itu tidak dilakukan dengan [keberadaan] dorongan hawa nafsu mereka. Saya mengatakan bahwa seorang lelaki berdansa, berpegangan mesra, goyang sana-sini, sentuh sini situ, lalu katanya itu tidak mendorong nafsu kelelakian-nya. Saya bertanya,”Lelaki normalkah mereka ?”:mrgreen:

    Pacaran Islami ? Silahkan…
    Tetapi jika [kelelakian] anda normal, saya ragu jika itu akan tercapai. Apalagi di saat kita hidup dengan godaan2 yang seperti…, WOW.
    Gimana pak kalo kita juga menyarankan teman2 untuk kawin, eh nikah aja dah secepatnya. Biar mereka yg belum punya penghasilan juga buru2 (jadi lebih bergiat) mencarinya.
    Dan yg sudah nikah juga buru2 mencari yang kedua.

  8. waduuuh..
    masih beum sadar juga rupanya…
    Islamisasi pacaran itu tidak ada…
    jangan memaksakan dalil untuk adanya “pacaran islami”

  9. saya normal kok, tapi alhamdulillah bisa jaga syahwat. saya yakin juga banyak yang seperti saya.

  10. Weeekkk ada azaytun juga….
    ana sama ma adit. Alhamdulillah. ana juga normal…
    dan nggak salah juga rasul bilang dalam sebuah hadist beliau (sahih/g g tau juga tuh..?) klo perperangan yang lebih hebat dan besar itu adalah perang dengan nafsu..

  11. Ini sebenarnya bukan masalah jaga syahwat, tetapi kepatuhan pada hukum Allah Azza wa Jalla..
    Siapa bilang soal pacaran bukan sesuatu yg disinggung oleh-Nya..?
    Bahkan jalan2 ke arah pacaran itu pun sudah ditutup rapat oleh Allah
    Dalam pergaulan lelaki & wanita Allah sudah mengatur tata caranya… Ghodhul bashor, tidak menyentuh non-mahrom, tidak melemah gemulaikan suara, dsb…
    Sayang nya dalam “pacaran yg (katanya) Islami ” ini aturan2 itu tidak diindahkan..kesannya malah diremeh-remehkan..
    Jalan2 berduaan…kata2 yg mesra (padahal belum mahrom)..dsb

    JIka memang perkara pacaran yg katanya “islami” ini ada kebaikan didalamnya, tentu generasi terbaik terdahulu telah melakukannya…
    Sayangnya..”pacaran islami” tidak seindah terminologinya..

    Sunnah yg paling dianjurkan jikalau ingin mencari jodoh secara Islami adalah dgn nazhar/tanzhur…ini lebih shahih dan mengikuti salafus sholeh..
    Lebih selamat daripada “pacaran (katanya) Islami” yg terlalu dibuat-buat…dan dalil2nya “dipaksakan” utk jadi pembenaran..
    Belum ada artikel2 yg secara qath’i menunjukkan pacaran (katanya) Islami

  12. Wah, komennya banyak sekali. Terima kasih. Aku ingin nanggapi semuanya. Sayangnya, aku kekurangan waktu. Aku “akan mati 24 jam lagi“. Jadi, beberapa aja yg kutanggapi.

    @tjose
    Kita sepakat, mendekati zina itu terlarang. Tapi kami tidak sepakat dengan pandangan bahwa pacaran (percintaan pra-nikah) itu mendekati zina. Lihat bukti-buktinya di https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/
    Mengenai mengapa kita lebih sering memakai istilah “pacaran islami” daripada “tanazhur pranikah”, lihat https://pacaranislami.wordpress.com/about/
    Adapun mengenai dalil yang kuat mengenai pacaran (percintaan pranikah) secara islami, lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

    @ herianto
    Aku mengerti keragu-raguan mas Herianto mengenai tercapainya pacaran islami. Apalagi sampeyan mendasarkannya pada pengalaman pribadi. Aku sendiri memilih bersandar pada dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

    Bagi kita sudah jelas, kepada yang cenderung tidak kuat menahan nafsu syahwat, kita berseru: jangan pacaran! Sungguhpun demikian, kita perlu menghargai saudara-saudara kita yang mampu menjaga diri ketika pacaran (termasuk Adit, Az-Zaitun, dan teman-temanku dulu di UGM, IKIP Yogya (skarang UNY), dan IAIN (skarang UIN) Jogja). Survei ilmiah membuktikan, pacaran itu tidak identik dengan mendekati zina. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/

  13. @Herianto

    Waduh, maaf mas…
    Masa iya karena mas dulu g kuku nahan nafsu, terus semua org jadi dijustifikasi ngga bakal mampu juga….lha piye iki tho?

    Apalagi kalo sampe dibilang…”diragukan kenormalannya sebagai laki2″
    Ini aneh loh…aneh banget malah…
    Bisa njaga nafsu malah dibilang bukan laki2 normal😀

    Bagaimana mas?

    @Tjose
    Wuaaahh…untungnya saya dijodohin langsung ma ortu ya….
    Jadinya g sempet taaruf gaya aktivis yg sebelomnya juga g pernah dicontohin…..whadde lucky guy..n_n

    Emm…tapi ko kayanya ada yg aneh ya…..
    Kesimpulan saya bener ga ya ???😀

    Wassalam

  14. jelas tidak ada “pacaran” seperti yang dipahami oleh bahasa Indonesia dalam konsep Islam, anda ingin menempel air dengan minyak….
    kalo memang belum ada padanan katanya untuk “misi” yg anda maksud akan lebih baik gunakan bahasa aslinya…
    saya lebih senang anda membahas hal sederhana seperti Masuk WC Islami….. karena itu lebih bermanfaat…..
    astaghfirullah, [aku, berpikir seorang ustadz, lebih berhati2, namun anda cenderung kontroversi – apaboleh buat lah, anda kan lebih ustadz…..]
    wallahu a’lam…

    1) Adanya islamisasi pacaran sudah diterangkan di https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/
    2) Silakan Kang Tutur membahas hal sederhana seperti Masuk WC Islami.
    3) Alasan islamisasi pacaran, dan mengapa istilah yang lebih sering kami pakai ialah “pacaran islami”, sudah kami kemukakan di https://pacaranislami.wordpress.com/about/

  15. Semoga beliu slalu diberi petujuk olehNYA,,,,???
    sebenarnya bagus sih pemikirannya,dengan ungkapannya yang menurut kaum awan terlalu fulgar namun dengan kehadiran opininya setidak kita masih mau perfikir dan bersuara atas apa yang terjadi
    dalam hal ini aku tidak mau komentar banyak-banyak cz dari temen2 dah cukup x,setelah saya amati orang kaya gitu menurut versi kejiwaan terkena ganguan kejiwaan,akibat dari kenangan masa lalu yang suram sehinga penyakit depresi menghampirinya dan pada ujung-ujungnya mulai dari omongan-tingkah lakunya salah kaprah.dia bukannya setengah2 dalam memahami suatu ayat tp dia memang bener2 tidak tahu tentang apa di balik ayat tadi.Dan perlu anda ketahui bahwa komentar anda menunjukkan kebodohan anda……????????

  16. Perbedaan itu biasa, selagi masih dalam koridor option yang benar.

    Kalo situ benar, Sini benar, kan gak ada peluang salahnya.

    Finally balik ke orangnya masing2, mengerti atau tidak dengan msalahnya.

    Aku (23 th) pernah pacaran berkali kali, dan hampir2 kesemuanya na’uzubilah terjerumus di lembah syetan. Untung belum s4 yang itu.
    Ah sudah.gak usah dibahas.

    intinya; pacaran konvensional maupun modern atau apapun istilahnya lebih condong Pada nafsu sahwat.

    Doakan aku, agar tidak mecicip hal yang bukan hak saya,

    Sabar mas, biarkan pembca yang memilih, asal kebenaran masih anda pegang.

    Salam

  17. @kaezzar
    Tidak masalah. Perjodohan sudah banyak dilakukan pada generasi Islam awal, dan ini adalah kebaikan… dan wanita berhak utk menolak lamaran jikalau ternyata tidak menyukai calon pasangannya.
    Orangtua dianjurkan mencari jodoh yg baik Din nya utk anak2 mereka…

    @binti j
    Saya sudah pernah baca artikel itu… namun dimanakah dikatakan bahwa generasi para shahabat yg ‘aim, tabi’in dan saafus sholeh mencontohkan pacran yg “katanya” Islami ini..?
    Yang ada dicontohkan justru adalah tanazhur thd calon pasangan…. dan bukan berlama2 hanyut dalam asmara yg belum halal….

    @M Shodiq mustika
    Saya sudah pernah baca artikel2nya….
    Saya bukan mempermasalahkan zina nya saja… namun pelanggaran2 thd syari’at Allah seperti tidak ghodhul bashor, menyentuh non-mahrom dsb…. ini dilarang syari’at…

    Istilah yg lebih baik dan tepat untuk disosiaisasikan adalah nazhar / tanazhur… bukan pacaran yang “katanya” Islami

    Afwan..
    Menurut saya dali pacaran “islami” tidak kuat (kalau tidak dikatakan tidak berdalil) karena sangat samar-samar penegasan dalil dan tidak adanya dalil yg qath’i dalam hal ini/..
    sekali lagi….afwan…

  18. Dalam perspektif islam yang namanya pacaran lebih dikenal dengan istilah khitbah, yang mana seorang lelaki diperbolehkan melihat calon pendampingnya dalam batas-batas kewajaran.skrg yang jadi pertanyaan cukupkah dengan khitbah laki-laki dan perempuan bisa saling mengenal…….

  19. @tjose

    Ternyata Anda kurang cermat dalam membaca. Sebab, tanazhur pra-nikah itulah yang dimaksudkan dengan “pacaran islami” oleh ustadz Shodiq dan dikembangkan di situs ini.
    Terus, kalau Anda lebih suka istilah “tanazhur pranikah”, ustadz Shodiq sudah mempersilakan Anda untuk mempopulerkannya. Ingat, justru ustadz Shodiq lah orang pertama yang memperkenalkan istilah tanazhur sebagai pengganti taaruf. Hanya saja beliau juga menghormati sebagian saudara kita lainnya yang lebih suka istilah pacaran islami.

    Maaf, saya khawatir ilmu agama Tjose masih rendah karena belum mampu melihat kuatnya dalil islamisasi pacaran. (Mudah2an kekhawatiran saya keliru.) Contoh penentang pacaran islami yang ilmu agamanya lebih tinggi ialah valhalla. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/16/apakah-dalil-dalil-pacaran-islami-asal-comot/

  20. @k*tutur
    Ya, dari tutur katanya, jelas bahwa Pak Shodiq lebih ustadz drpd Kang Tutur. Karena itu, seharusnya Anda menghormatinya.

    @anaconda
    Kasus Anda mirip dengan kasusnya Mas Herianto. Harap perhatikan tanggapan adit, Az-Zaitun, ustadz Shodiq, dan kaezzar di atas.

    @alimahmudi
    Bertaubatlah. Mengolok-olok itu berdosa, apalagi mengolok-olok ustadz.
    Silakan Anda lebih mendengar suara teman2 Anda. Kami memilih mengikuti hidayah-Nya sebagaimana ditunjukkan dalam https://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/

  21. Selamat pacaran dah bagi pendukung2 nya.
    Selamat membuktikan kemujarabannya yg dapat meningkatkan hubungan anda dengan Allah.
    Kalo aku mah ni’matnya pacaran ya setelah nikah.

    Masa iya manusia normal gak merasa apa2 di dekat wanita dekatnya…
    Prasaaan semacam itu dalam waktu cukup lama akan memalingkan kan ?

  22. Wahai saudara… bukankah suatu perkara yang
    menghantarkan kepada keharaman adalah haram?!! Jika anda mengatakan bahwa ‘jika dimungkinkan bahwa jabat tangan menimbulkan fitnah dan memunculkan syahwat maka tidak boleh melakukannya’, maka saya katakan :
    inilah letak syarat ‘angan-angan’ anda, karena sesuatu yang menghantarkan kepada keharaman adalah haram, dan telah jelas bahwa jabat tangan dengan wanita non mahrom sangat memungkinkan untuk memunculkan keharaman dan
    menghantarkan kepada zina.

    Oleh karena itu perkataan anda : ‘Kalau ada syahwat maka hukumnya haram’ adalah hujjah atas anda sendiri!!! Ingatlah sabda nabi : “Perempuan itu seluruhnya adalah aurot. Jika ia keluar, maka setan menghiasinya (di dalam pandangan pria).”
    (HR.Turmudzi).

    Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullahu berkata : “Seluruh anggota
    badan perempuan adalah aurot yang wajib ditutupi. Sedangkan perintah untuk menjauhi memandang kepadanya adalah semata-mata karena takut tergelincir kepada fitnah. Tidak ragu lagi, bahwa sentuhan badan ke badan yang lain lebih kuat dan besar pengaruhnya terhadap naluri, watak dan lebih dahsyat mengajak kepada fitnah daripada sekedar memandang dengan mata.
    Setiap orang yang berlaku adil pasti mengetahui kebenaran hal itu.”
    (Adhwa’ul Bayan, Muhammad Amin asy-Syinqithi, jilid VI, hal 603)

    Katakan, wahai saudara, apakah ketika anda berjabat tangan dengan wanita, anda yakin bahwa syahwat dan fitnah tidak akan muncul dari diri anda dan diri wanita tersebut. ?

    Takwilan yang menyatakan bahwa kata massa di dalam lafazh hadits di atas bermakna jima’ (bersetubuh) adalah bathil dari sisi bahasa dan dari sisi mafhum. Karena memalingkan makna dari hakikatnya adalah harus dengan qorinah (indikasi) yang dapat memalingkan makna zhahir kepada makna selainnya.

    Memang benar, bahwa kata massa memiliki makna jima’ dalam
    beberapa ayat dan hadits, tentunya hal ini jika disertai qorinah yang kuat akan penakwilan lafazh ini kepada makna jima’.

    Berikut petikan dari hadits riwayat Imam Ahmad berkata
    Rasulullah saat menjawab pertanyaan mengenai tidak berjabat tangannya beiau dgn wanita . : “ …. Aku tidak berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya perkataanku terhadap seorang wanita sama dengan perkataanku terhadap seratus wanita.”
    (Sanad hadits ini shahih, dan telah meriwayatkan pula at-Turmudzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Sungguh mulia pribadi beliau dan paling ahsan dlm mencontohkan adab pergaulan pria dan wanita.. Bagaimana mungkin tiba2 di akhir zaman ada yg membolehkan hubungan pacaran yg “katanya” Islami dan mengada-ngada dalam tata caranya sehingga mengabaikan dalil2 shahih yg begitu banyak yg mengatur hubungn pria & wanita?

    Mohon maaf sebelumnya jikalau ada kekeliruan
    walahu a’lam

  23. Ping-balik: Andakah Yang Bisa Menahan Hawa Nafsu? « Pacaranislamikenapa’s Weblog

  24. kalau ada waktu, coba pak shodiq beri komentar di tulisan2 situs tersebut. jadi akan lebih jelas, siapa yang lebih mendekati kebenaran.

    idealnya begitu, tapi pak shodiq lebih mengutamakan persoalan lain yang lebih mendesak

  25. Ping-balik: Pacaran a la ustadz Mustika « kang tutur’s weblog

  26. Assalamualaikum wr wb
    kami juga ikut mengingatkan, membahas Pacaran Islami sama aja dengan membahas Cara Makan Islami di dalam WC;
    Hadits Muslim Meriwayatkan Bahwa “Wanita itu semua nya aurat”, suaranya aurat, wajahnya apalagi; dan banyak ulama sepakat Alaskaki wanita (SENDAL) nya pun anggap aurat, apalagi sampai dengan gaya pacaran sambil bersalaman, bersentuhan, dengan alasan kemajuan zaman astaghfirullaah… zaman boleh berubah tetapi hukum hakam agama akan tetap terjaga sampai hari kiamat

    Pacaran Islam ndak ada aturannya, ndak ada 1 ayat pun dalam al-Quran yg mereferensi masalah pacaran, jangan sampai kita di jerat masalah besar nanti di akherat, gara gara membuat opini yg tak di contoh kan oleh Rasulullaah SAW.

    Dan jangan menebar DOSA JARIAH

  27. BUAT BINTY
    Istilah tanazdur pra nikah menurut pandangan pribadi saya sama z dgn taaruf pra nikah karna keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu supaya sicowok lebih kenal,akrab,n tentunya lebih saling mengerti satu sama lain.cuma sekarang ini yg jadi persoalanya dapatkah kita menjaga diri kita ketika melakukan yang diri kita supaya tidak kearah yang gak2[takrobu zina]ketika melakukan pacaran.

  28. @Wak somad

    Assalamualaikum wr wb
    Udah lama g liat wak Somad :D…
    Pakabar ni wak…moga2 bae2 aja n_n

    Btw…jangan gitu dong wak, ntar kalo dibilag
    -G pernah dicontohin Rasul –
    Brarti ane kaga boleh taarufan ma akhwat inceran ane dong…koz dulu pan kaga ada nyang kaya gitu…na trus temen2 aktivis ente gimana tu nasibnya…masak kaga boleh pada taarufan…kan yg penting caranya syar’i…gimana wak…

    Wassalam

  29. Ping-balik: Lelaki Yang Normal « M. Shodiq Mustika

  30. emang semua orang tidak ingin kalau dikatain tidak normal,dan bkan hanya lelaki saja seorang cewek juga kalau yang nama nya sdh kumpul ma lain jenis pasti inginnya jg kayak yang gitu2,yg gitu apa ya….
    tapi masalahnya sekarang yng di namakan NORMAL itu yang kayak gimana.
    kita semua tahu secara fitrahnya manusia itu di beri yang nama kecenderungan untuk bisa membedakan antara mana yng bener dan salah,yang baik dan buruk sekalipun manusia itu ibaratnya di besarkan di hutan belantara.
    n intinya manusia yng saudara katagorikan normal diatas malah justru sebaliknya………

  31. Saudara2 yang kontra PI… tau nggak apa yang dinamakan dengan pisau? kalau di daerah saya pisau itu biasanya tajam dan dapat memotong. (saya juga nggak tahu pa di daerah saudara juga sama dengan daerah saya). dari pisau ini kita ambil tasyabbuhnya, ‘pacaran Islami-terkontrol-‘.
    >> pisau jika dipinjam tuk membantu pekerjaan rumah tangga, pa hukumnya?
    >>pisau jika dipinjam tuk menolong orang memotong daging sapi, pa hukumnya?
    <<pisau yang dipinjam tuk merampok orang lain, pa hukumnya?
    <<pisau yang dipinjam tuk menipu, pa hukumnya??
    bisa jawab dan simpulkan sendiri nggak? apa hubungannya dengan ‘pacaran islami’???????????
    saya tunggu, klo nggak bisa simpulkan sendiri baru nanti saya posting lagi key…

  32. sehubungan dengan pisau, ta’nambahin sedikit deh:
    pacaran kalo diniatin buat menggenapi sunnah rasul ya berarti ibadah
    pacaran kalo diniatin buat nidurin anak gadis orang di luar pernikahan ya berarti dosa.

    analogi simpel gini aja kalo belum bisa dimengerti ga usah ngomongin segala macam istilah2 timur tengah

  33. ngambil tajuknya saja sepertinya kurang tepat “pacaran islami” :p
    mudah2an tidak mensiasati syariat

    salam

  34. @ kaezzar, alimahmudi, Az-Zaitun, Shelling Ford

    Pisau kalian, maksudku analisis kalian, sungguh tajam.🙂
    Terus diasah, ya!

    @ yossyrahadian

    Kita dapat mengarahkan budaya pacaran dari yang jahiliyah ke yang islami. Istilah “pacaran” yang sudah populer di masyarakat tak perlu kita ganti. Cukuplah kita menambahinya dengan istilah “islami” seperti halnya perlakuan kita terhadap bank, hotel, sekolah, dsb. Cara moderat ini sangat cocok diterapkan untuk kalangan muda-mudi “awam” (pada umumnya) yang ghirah-nya dalam ber-Islam kurang kelihatan.

    Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/about/

  35. Ping-balik: Pacaranislamikenapa’s Weblog

  36. Lha Koq bingung,silahkan pilih pendapat yang mana yang mana, wong intinya beli dong buku saya..

  37. @ Ebri

    Mau beli, mau jual… boleh-boleh saja.
    Allah menghalalkan jual-beli, bukan?

    Mau pinjam dari teman atau perpustakaan pun boleh.
    Tapi kalo nggak ngembaliin, nggak boleh dong!

    Intinya, marilah kita menuntut ilmu sedalam-dalamnya dan mendakwahkannya seluas-luasnya!

Komentar ditutup.