Kriteria Terpenting Bukanlah Agama, Melainkan Dîn

Nabi saw. bersabda: “Wanita itu dinikahi lantaran empat hal: karena hartanya, karena kemuliaan nasabnya, karena kecantikannya, dan karena dîn-nya. Maka beruntunglah kamu yang memilih wanita yang memiliki dîn [yang baik] ….” (HR Bukhari dan Muslim)

Begitu pentingnya faktor dîn, sampai-sampai Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kau nikahi wanita karena kecantikannya. Boleh jadi, kecantikannya itu akan membinasakannya. Dan janganlah kau nikahi mereka karena hartanya. Boleh jadi, hartanya itu akan menjadikannya sombong. Alih-alih, nikahilah mereka karena dîn-nya. Dan budak yang hitam kulitnya tetapi memiliki dîn [yang baik] itu lebih utama.” (HR Ibnu Majah)

Istilah dîn itu biasanya diterjemahkan sebagai “agama”. Sebenarnya, dalam konteks kriteria pemilihan jodoh ini, terjemahan tersebut kurang memadai.

Pasalnya, “agama” itu hanya bermakna “prinsip kepercayaan kpd Tuhan (dewa dsb) dng ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yg bertalian dng kepercayaan itu” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, hlm. 10). Bahkan dalam pengertian orang awam, agama itu biasanya dipahami sebagai “hubungan dengan Tuhan”, yang terwujud dalam bentuk ibadah mahdhah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji belaka. Kalau kewajiban ibadah ini sudah dijalani, dianggaplah bahwa agamanya sudah mencukupi.

Padahal, dîn Islam bermakna lebih luas daripada makna tersebut. Salah satu definisinya yang luas, dîn menurut Islam itu adalah “sistem aqidah dan tata-qa’idah yang mengatur segala peri-kehidupan dan penghidupan manusia dalam pelbagai hubungan: baik hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan manusia dengan sesama manusia ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya (nabati, hewani dan lain sebagainya).” (Untuk definisi-definisi selengkapnya, lihat Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1993), Bab 4, “Definisi Agama Islam”.)

Oleh karena itu, hal-hal seperti berikut ini pun tergolong perkara dîn yang perlu kita pertimbangkan dalam memilih jodoh:

  • Apakah si dia sungguh-sungguh berkeyakinan bahwa “nasib” manusia telah tetap dan tidak ada apa pun yang mampu mengubahnya? Ataukah bahwa manusia diberi kehendak bebas untuk mengubah takdirnya?
  • Apakah si dia pada suatu saat nanti akan menerapkan ajaran poligami ataukah tetap bermonogami dalam membina rumahtangganya?
  • Apakah si dia itu hemat ataukah kikir dalam membelanjakan hartanya? Apakah boros ataukah dermawan?
  • Apakah si dia senantiasa jujur ataukah terkadang berbohong? Apakah suka menepati janji ataukah sering mengabaikannya? Apakah dapat dipercaya ataukah tidak?
  • Apakah dia rajin belajar ataukah malas? Ilmu apakah yang dia minati? Seberapa jauhkah dia menerapkan ilmunya dan menyampaikannya kepada orang lain?
  • Apakah si dia suka bertindak dengan perhitungan matang ataukah cenderung ceroboh?
  • Apakah si dia mendukung gerakan pelestarian lingkungan hidup? Sejauh manakah dukungannya?

3 thoughts on “Kriteria Terpenting Bukanlah Agama, Melainkan Dîn

  1. betul pak. nah pertanyaan saya, apabila ternyata calon kita tidak memenuhi satu atau lebih dari kriteria2 itu, bagaimana? putus saja, atau beri kesempatan?

    bila waktumu longgar, beri dia kesempatan

  2. istikharah…kalau sdh jodoh gak kan kemana. bukankah jodoh,maut,dan rezeki sdh digariskan sblm kita lahir ke dunia.

Komentar ditutup.