Ekspresi cinta yang syar’i

Seorang pembaca menyatakan: Al ustadz Abu Syuqqah diawal-awal tulisan telah menyatakan dengan tegas bahwa cinta antara laki-laki dan wanita hanya dapat diwujudkan bukan dengan ‘bercinta sebelum khitbah’ tetapi dengan perkawinan karena inilah yang disyariatkan oleh Allah.

Benarkah pernyataannya itu? Pernyataan sang pembaca tersebut mengada-ada. Jangankan menyatakan dengan tegas, dengan samar-samar pun Abu Syuqqah tidak pernah menyatakan bahwa cinta antarlawan-jenis itu “hanya dapat diwujudkan bukan dengan bercinta sebelum khitbah, tetapi dengan perkawinan”.

Sang pembaca rupanya keliru dalam memahami kalimat Abu Syuqqah, “Untuk mewujudkan semua itu Allah telah mensyariatkan jalan yang lurus yaitu perkawinan.” (Kebebasan Wanita, jilid 5, hlm. 71) Dari kalimat ini ia mengambil kesimpulan yang keliru bahwa perkawinan merupakan satu-satunya jalan yang syar’i untuk mewujudkan cinta yang fitri itu.

Bila ditinjau dengan ilmu mantiq, maka kekeliruan pengambilan kesimpulannya itu disebut ‘sesat-pikir’ lantaran ‘term pada kesimpulan tidak konsisten dengan term premisnya’. (Lihat buku-buku ilmu mantiq, misalnya: H. Mundiri, 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 38.)

Ahli matematika tentu mengerti bahwa jika P maka Q bukanlah berarti bahwa jika bukan P maka bukan Q. Kalau kita belum menguasai ilmu mantiq (logika) atau matematika, mungkin kita sulit menangkap kesesat-pikiran penyimpulan sang pembaca tersebut. Supaya mengerti, marilah kita tengok sebuah contoh sederhana yang dapat memudahkan pemahaman kita: “Hamka [adalah] manusia. Kita bukanlah Hamka. Jadi, kita bukan manusia?”

Memang, Abu Syuqqah menyatakan, ‘bercinta di dalam pernikahan’ [adalah] ‘disyariatkan dalam Islam’. Jelas, ‘bercinta sebelum khitbah’ bukanlah ‘bercinta di dalam pernikahan’. Lantas, bisakah kita simpulkan bahwa ‘bercinta sebelum khitbah’ tidak ‘disyariatkan dalam Islam’? TIDAK BISA. Sebab, term pada kesimpulan yang negatif itu tidak konsisten dengan term premisnya yang positif. Jadi, dari pernyataannya itu kita tidak bisa menyimpulkan bahwa bercinta sebelum khitbah itu tidak disyariatkan dalam Islam.

Memang, ‘bercinta di dalam pernikahan’ [adalah] ‘mewujudkan cinta yang fitri’. Jelas, ‘bercinta sebelum khitbah’ bukanlah ‘bercinta di dalam pernikahan’. Lantas, bisakah kita simpulkan bahwa ‘bercinta sebelum khitbah’ tidak ‘mewujudkan cinta yang fitri itu’? TIDAK BISA. Sebab, term pada kesimpulan yang negatif itu tidak konsisten dengan term premisnya yang positif. Jadi, dari pernyataan pertama itu kita tidak bisa menyimpulkan bahwa bercinta sebelum khitbah itu tidak mewujudkan cinta yang fitri itu.

Pada kenyataannya, Abu  Syuqqah justru secara tersirat mengungkapkan bahwa cinta yang fitri tersebut bukan hanya dapat diwujudkan dengan perkawinan (tanpa ‘bercinta’ lebih dahulu), melainkan juga dengan ‘bercinta sebelum khitbah’ (dan juga dengan persaudaraan di luar pernikahan).

Contoh perwujudan cinta yang fitri melalui “bercinta sebelum khitbah” terkandung dalam sebuah pertanyaan retoris: “Maka apakah membahayakan jalan [menuju] perkawinan —yang kadang-kadang panjang dan kadang-kadang pendek— jika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis yang makruf, atau ditandai dengan tanda-tanda yang manis dan makruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia?” (jilid 5, hlm. 77)

[Ada pembaca yang menganggap bahwa kata-kata yang ditulis tebal tersebut merupakan proses “taaruf syar’i ala Abu Syuqqah”. Namun, kami memilih lebih mengutamakan istilah proses “bercinta sebelum khitbah”, sesuai dengan kata-kata yang digunakan oleh Abu Syuqqah sendiri. Pertimbangan lainnya, sewaktu membahas pra-khitbah, Abu Syuqqah tidak menonjolkan taaruf (perkenalan), tetapi justru cinta. Taaruf hanya satu kali disebut (jilid 5, hlm. 77), sedangkan cinta dibahas sampai puluhan paragraf (hlm. 71-80).]

(Untuk fakta lain mengenai ‘sesat-pikir’-nya pengambilan kesimpulan sang pembaca, lihat Jangan hanya melihat apa yang tertulis dan Ramadhan untuk pacaran saja?)

Iklan

6 thoughts on “Ekspresi cinta yang syar’i

  1. Ping-balik: Ramadhan untuk pacaran saja? « Pacaran Islami

  2. TIDAK ADA ISTILAH PACARAN DALAM AL-QUR’AN, JIKA KALIAN MEMBAHASNYA BAHKAN MEMBENARKANNYA, MAKA KALIANLAH YANG SESAT. UMMAT ISLAM DINIKAHKAN OLEH WALI (PEMIMPIN) NYA, BUKAN MENIKAH KARENA CINTA. LAKI-LAKI MENIKAHI PEREMPUAN KARENA KETAATAN KEPADA PEMIMPIN YANG ADIL. IKUTI SUNNAH RASUL, JANGAN MENGADA-ADA SEPERTI SYETAN

  3. Ping-balik: Tinjauan Ekspresi Cinta Yang Syar’i « Pacaranislamikenapa’s Weblog

  4. Ping-balik: Logika Iblis Yang Menyesatkan Orang Yang Taat Beragama « M. Shodiq Mustika

Komentar ditutup.