Ramadhan untuk pacaran saja?

Baru-baru ini, aku agak kaget mendapati seorang blogger misterius berbohong. Katanya, aku mengatakan “bahwa ramadhan adalah waktu yang pas buat hangout, sering2 ketemuan, dan sebagainya…” Ia pun menyindir, “puasa2 bukannya banyak tilawah dan ibadah mahdah lainnya malah asyik masyuk pacaran.

Masya’Allaah…. Kata-katanya itu sungguh mengada-ada. Aku tidak pernah menyatakan kata-kata tersebut. Aku justru mengatakan, “kalau ada orang yang bercinta terus-menerus dengan kekasihnya dari jam 06.00 s.d 24.00 setiap hari, maka kita patut meragukan keislamian percintaannya”.

Mungkin dia tidak sengaja berbohong. Sang blogger tampaknya mengambil kesimpulan secara keliru dari pernyataanku, “Saat terbaik untuk pacaran islami adalah saat puasa (terutama puasa Ramadhan).” Dari kalimatku inilah ia menarik kesimpulan yang keliru bahwa “Ramadhan adalah saat untuk pacaran saja (sedangkan aktivitas lainnya dikesampingkan).”

Bila ditinjau dengan ilmu mantiq, maka kekeliruan pengambilan kesimpulannya itu disebut ‘sesat-pikir’ lantaran ‘konversi yang salah’. (Lihat buku-buku ilmu mantiq, misalnya: H. Mundiri 60 Jenis Sesat Pikir (Semarang: Aneka Ilmu, 1999), hlm. 38.)

Penyimpulannya yang keliru itu serupa dengan penalaran: “Saat terbaik untuk reuni adalah bulan Syawal. Jadi, Syawal adalah saat untuk reuni saja (sedangkan aktivitas lainnya dikesampingkan)?”

(Untuk fakta lain mengenai ‘sesat-pikir’-nya pengambilan kesimpulan sang blogger misterius, lihat Ekspresi Cinta Yang Syar‘i dan Jangan hanya melihat apa yang tertulis!)

6 thoughts on “Ramadhan untuk pacaran saja?

  1. Mungkin si blogger tergesa2 mengambil kesimpulan. Seharusnya dicerna dengan hati yang dingin. Semoga bulan puasa membuat hati kita dingin ..

  2. @oppie
    Ya kita perlu berhati-hati, kapan pun dan di mana pun.

    @erander
    Ya, kekeliruan itu mudah-mudahan hanya lantaran kecerobohan. Lebih mudah memperbaikinya.

  3. Assalamu’alaykum warahmatullah

    Ternyata Pak Shodiq senang dengan istilah “sesat-pikir”, tak mengapa lah jika saya dianggap sesat-pikir, saya terima dengan senang hati, semoga ada manfaatnya🙂.

    Siapapun pasti akan memahami maksud pernyataan Pak Shodiq yang mengatakan “Dalam pengamatanku, banyak muda-mudi belum tahu kapan saat terbaik untuk pacaran secara islami. Akibatnya, ketika saatnya tiba, kesempatan ini berlalu begitu saja. Aktivitas pacaran mereka malah lebih digiatkan pada waktu-waktu yang bukan saat terbaik.Sebenarnya, saat terbaik untuk pacaran islami adalah saat puasa (terutama puasa Ramadhan)” dengan bahasa yang lain..”yuk kita giatkan pacaran dibulan ramadhan, dibandingkan bulan lainnya”. Dan saya pikir tidak seorangpun yang memiliki akal tidak menangkap maksud itu. tetapi apakah kemudian saya menyebutkan dengan mutlak bahwa yang ada hanya pacaran saja?? Tidak, saya hanya menyoroti, kenapa ketika orang lain menggiatkan tilawah, dan ibadah mahdah lainnya, Pak Shodiq malah menyarankan orang untuk menggiatkan pacaran..tanya ken..napa??

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Ternyata akh Nur Sandhi malah berbohong lagi. Mungkin akh Nur Sandhi benar-benar belum mengerti ilmu mantiq, sehingga belum mengenali letak sesat-pikirnya. (Sesat-pikir (fallacy) itu memang istilah yang lazim dalam ilmu mantiq.)

  4. Ya, akh Nur Sandhi benar-benar belum mengerti ilmu mantiq, sehingga belum mengenali letak sesat-pikirnya. Akibatnya, dia seringkali mengambil kesimpulan yang keliru sebagaimana yang saya saksikan di MyQuran dan blog pacaranislamikenapa.

  5. hehehe, blog yg bagus, karna cinta adalah anugerah, pacaran atau saling kenal mengenal sebelum nikah, ana juga setuju, karena membicarakan dan merencanakan masa depan berdua sebelum terikat oleh tali pernikaan, perlu pembicaraan yg serius dan matang, dan hal itu tidak hanya membutuhkan satu , dua bulan aja, tapi bisa jadi setahun atau bahkan lebih.

Komentar ditutup.