Arahkan Pacaran Menuju Pernikahan

“Pada masa pacaran, kita mengira sedang berlayar di lautan cinta. Padahal, baru setelah menikah, kita menyadari makna cinta yang sesungguhnya.” Bagaimana bisa demikian? Salah satu jawaban menarik dapat kita jumpai dalam buku Michael Gurian, Apa sih Yang Si Abang Pikirkan? (Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 195-197:

Sebagai manusia, intuisi pribadi [hati nurani] kita adalah penuntun terbaik untuk menjalin cinta yang langgeng. Tidak setiap kecenderungan biologis harus diikuti oleh perempuan atau lelaki untuk hidup bahagia dengan pasangannya. Setiap orang bebas memilih selaras dengan pemahamannya tentang kecenderungan-kecenderungan biologis kita. Adalah benar bahwa kita membutuhkan seks dan cinta, juga benar bahwa kita perlu mengubah pacaran jadi komitmen dan kemudian perkawinan.

Pacaran yang berlangsung lebih dari satu atau dua tahun seringkali memasuki masa “komitmen”, masa transisi dari kata-kata “Kukira aku mencintaimu” jadi “Aku tahu aku mencintaimu”. Kata-kata yang disebut terakhir inilah yang dibutuhkan oleh perkawinan yang langgeng. Pada masa transisi ini, sebagian hasrat lelaki dan perempuan tetap bertahan, tetapi sebagian lainnya berubah jadi sesuatu yang lain–sesuatu yang hanya mungkin jika mereka membuat komitmen yang jelas dan kuat, dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup sebagai pasangan suami-istri.

… Kita akan melihat bahwa masa romantis hanyalah salah satu dari duabelas fase biologis dalam hubungan lelaki-perempuan. Kita juga akan mengetahui bahwa sebagian besar perkembangan dan pengorbanan diri yang tidak kita alami pada masa pacaran akan benar-benar terjadi pada sebelas fase berikutnya. … Pada masa pacaran, kita mengira sedang berlayar di lautan cinta. Padahal, baru setelah menikah, kita menyadari makna cinta yang sesungguhnya.

Dalam novel Corelli’s Mandolin, seorang ayah yang bijaksana berbicara tentang cinta, komitmen, dan perkawinan kepada putrinya yang cantik dan sedang jatuh cinta berat:

Cinta adalah sebuah kegilaan sementara, ia meledak dan kemudian beku. Saat cinta membeku, engkau harus membuat keputusan. Engkau harus merenung apakah akar-akarmu telah tumbuh jalin-menjalin sehingga engkau tak mampu lagi memilah-milahnya. Cinta bukannya tak hidup, ia bukan obralan janji hasrat abadi. Ia bukan nafsu untuk berdua setiap detik, ia tidak membangunkanmu di malam hari untuk membayangkan kekasihmu menciumi setiap jengkal tubuhmu … Itu semua adalah “jatuh cinta”, yang semua orang bodoh dapat mengalaminya. Cinta itu sendiri adalah sesuatu yang tertinggal setelah keadaan jatuh cinta [itu] terbakar jadi abu. Ibu dan ayahmu ini telah mengalaminya, akar-akar kami telah tumbuh saling menjalin di kedalaman diri kami berdua. Saat semua bunga rontok dari ranting dan cabang kami, kami mendapati bahwa diri kami adalah sebatang, bukan dua batang, pohon.

Sewaktu kita menyadari betapa fananya sebuah kegilaan, berarti kita telah memahami kecenderungan-kecenderungan biologis dalam tubuh dan otak lelaki dan perempuan. Memahami dan menghargai kecenderungan-kecenderungan ini akan menjadi kunci untuk menemukan inti dari komitmen dan perkawinan.

9 thoughts on “Arahkan Pacaran Menuju Pernikahan

  1. gimana klo aq laki2 mendambakan istri yang sholeh trus aq ingin tuh mahasiswi yang sholeh jadi istriku kelak..

    bagaimana cara mengikat,(biar tidak hilang) tanpa harus mendekati zina karena sekarang belum sempat nikah.

    klo ngajak pacaran takut dibilang zina…
    klo gakda ikatan…takut hilang direbut orang

    pasrah aja kepadaNYA

  2. @ prima
    lho, kalo menurut pengertian di blog ini, pacaran itu bukan zina kok. begitu pula di blog saya:mrgreen: pacaran sama halnya seperti pisau; penggunaannya bisa mengarah ke positif, bisa ke negatif. bisa dipake pemanasan buat meniduri anak gadis orang, bisa dipake buat ancang-ancang ke pernikahan. ya, supaya calon istri yg kita pengenkan itu tidak hilang, kan?😉

  3. waalaikumsalam wr. wb. mau ke mana gimana? emang ada apa dengan beliau? kenapa tidak terlihat lagi di situs ini?

  4. Konseling Perkawinan Islami

    Pendahuluan
    Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa, tetapi terkadang
    terganggu pikiran dan perasaannya sehingga salah piker dan salah
    merasa. Ketika seseorang mengidap hal demikian, yakni salah berfikir
    dan salah merasa, maka ia bisa sedih, bosan, malas, kesepian.
    Gangguan seperti ini menurut ilmu psikologi disebut gangguan
    kejiwaan ringan (neurosis atau mental disorder). Jika kesedihan,
    kebosanan, malas dan kesepian menjadi berkepanjangan hingga ngomong
    ngawur, perilakunya juga ngawur, nggak bisa dinalar, maka itu
    namanya gangguan kejiwaan berat (psikosis). Meski demikian ia masih
    sadar bahwa ia sedang mengalami gangguan jiwa. Jika ia ngomong
    ngawur dan bertindak ngawur tetapi tidak menyadari, maka orang itu
    sudah masuk kategori sakit jiwa atau gila.. Orang yang mengidap
    neurosis banyak yang bisa mengobati diri sendiri atau melalui
    bantuan konselor, tetapi orang yang sudah mengidap psikosis harus
    mengikuti terapi mental, sedang orang yang sakit jiwa harus dibawa
    ke rumah sakit jiwa.

    Kehidupan perkawinan
    Perkawinan dapat disebut menyatukan dua keunikan. Perbedaan watak,
    karakter, selera dan pengetahuan dari dua orang (suami dan isteri)
    disatukan dalam rumah tangga, hidup bersama dalam waktu yang lama.
    Ada pasangan yang cepat menyatu, ada yang lama baru bisa menyatu,
    ada yang kadang menyatu kadang-kadang bertikai, ada yang selalu
    bertikai tetapi mereka tak sanggup berpisah. Hanya di tempat tidur
    mereka menyatu hingga anaknya banyak, tetapi di luar itu mereka
    selalu bertikai.

    Kehidupan berumah tangga ada yang berjalan mulus, lancar, sukses dan
    bahagia, ada yang setelah lama mulus tiba-tiba dilanda badai, ada
    yang selalu menghadapi ombak dan badai tetapi selalu bisa
    menyelamatkan diri.

    Komunikasi antara suami isteri bersifat khas, tidak mesti logis. Hal-
    hal yang logis justeru sering disalah fahami, karena komunikasi
    suami isteri tidak semata-mata menggunakan nalar, tetapi juga sarat
    dengan muatan perasaan. Hal-hal yang menurut nalar sesungguhnya
    kecil, bisa saja menjadi sumber prahara rumah tangga jika disikapi
    dengan sepenuh rasa. Ada suami isteri yang selalu bisa menyelesaikan
    perselisihan tanpa bantuan orang lain, tetapi banyak suami isteri
    yang justeru memerlukan bantuan orang lain untuk meluruskan pikiran
    dan perasaannya. Dalam istilah psikologi, orang yang bisa membantu
    orang lain mengatasi masalah kejiwaan (al irsyad an nafsy) mereka
    disebut konselor, dalam bahasa Arab disebut muhtasib.

    Pengertian konseling
    Konseling adalah usaha membantu orang yang sedang mengalami ganguan
    kejiwaan agar mereka bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi
    mereka. Yeng membantu disebut konselor, yang dibantu disebut klien.
    Seorang konselor bukan subyek, karena konselor hanya membantu,
    subyeknya adalah klien itu sendiri dan obyeknya adalah masalah yang
    dihadapi. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor antara lain
    membantu klien untuk ;
    1. memahami diri sendiri
    2. mengukur kemampuannya
    3. mengetahui kesiapan dan kecenderungannya’
    4. memperjelas orientasi, motivasi dan aspirasinya,
    5. mengetahui kesulitan dan problem lingkungan dimana ia hidup,
    serta peluang yang terbuka baginya
    6. membantu menggunakan pengetahuan tersebut (1 s/d 5) untuk
    menetapkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya
    7. mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai
    dengan kemampuannya, dan memanfaatkan se optimal mungkin potensi
    yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka.

    Jika klien nya orang awam, konseling dibutuhkan untuk :

    1. membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life
    style) yang sesuai dengan aspirasinya
    2. menjaga agar mereka tidak terjatuh pada keadaan merasa tidak
    wajar dan tidak bahagia
    3. membantu menentukan pilihan-pilihan
    4. membantu meringankan perasaan, frustrasi dn sebangsanya.

    Sistematika Terapi Psikologis Dalam Konseling Islami
    eorang klien yang semula mengidap rasa keterasingan, asing dari diri
    sendiri, asing dari problem yang dihadapi, asing dari lingkungan
    hidupnya sehingga ia tidak tahu masalahnya dn tidak berani mengambil
    tindakan bahkan tidak lagi tahu apa yang diinginkan, dapat dibantu
    memecahkan persoalannya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1.diajak memahami realita apa sebenarnya yang sedang dihadapi,
    mislnya ditinggal mati orang yang dicintai, dicerai suami,
    kehilangan jabatan, kehilangan harta, kehilangan kekasih, sakit yang
    berklepanjangan, dikhiananti bawahan, dizalimi oleh orang yang
    selama ini dibantu dan sebagainya; bahwa realita itu adalah benar-
    benar realita dan harus diterima, suka atau tidak suka karena itu
    memang realita.

    2.Diajak kembali mengenali siapa dirinya, apa posisinya, dan apa
    kemampuan-kemampuan yang dimiliki. Misalnya diingatkan bahwa ia
    adalah seorang ayah dari anak-anak yang membutuhkan kehadirannya.
    Atau bahwa kepandaiannya banyak dibutuhkan orang lain, atau bahwa
    dia adalah hamba Allah yang tidak bisa menghindar dari kehendak Nya,
    dan apa yang dialami adalah bagian dari kehendak Nya yang kita belum
    tahu apa maksud dan hikmahnya.

    3.Mengajak klien memahami keadaan yang sedang berlangsung di
    sekitarnya, bahwa keadaan memang selalu berubah; misalnya perubahan
    nilai, perubahan struktur, perubahan zaman, dan bahwa perubahan
    adalah sunnatullah yang tidak bisa ditolak, tetapi yang penting
    bagaimana kita mensikapi dan mengantisipasi perubahan itu.

    4.Diajak untuk meyakini bahwa Tuhan itu Maha Adil, maha Pengasih,
    maha Mengetahui, maha Pengampun, dan semua manusia diberi peluang
    oleh Tuhan. Juga diajak meyakini bahwa dengki, iri hati dan putus
    asa adalah tercela dan tidak berguna. Bahwa berbuat dan salah itu
    lebih baik daripada tidak berbuat karena takur salah.

    Wilayah Konseling Perkawinan
    Problem diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga biasanya
    berada di sekitar;

    1. Kesulitan memilih jodoh, suami atau isteri
    2. ekonomi yang kurang mencukupi
    3. perbedaan watak, temperamen dan karakter yang terlalu tajam
    antara suami dan isteri
    4. ketidak puasan dalam hubungan seksual
    5. kejenuhan rutinitas
    6. hubungan antar keluarga besan yang kurang baik
    7. ada orang ketiga, WIL atau PIL
    8. masalah harta warisan
    9. dominasi orang tua/mertua
    10. kesalah pahaman antara suami isteri
    11. poligami
    12. perceraian

    Penghulu yang ideal
    Penghulu bukan hanya petugas pencatat nikah, tetapi jabatan
    kepenghuluan memiliki wilayah horizontal dan vertical. Oleh karena
    itu idealnya seorang penghulu bukan saja menguasai bidang-bidang
    tersebut diatas (1 s/d 12) tetapi juga menguasai psikologi keluarga,
    yang dengan itu penghulu bukan hanya bisa memberi nasehat
    perkawinan, tetapi juga bisa menjadi konselor perkawinan . Seorang
    muballigh dituntut untuk mampu berbicara agar orang-orang enak
    mendengarnya, sedang seorang konselor dituntut untuk sangggup
    menjadi pendengar yang baik dari keluhan-keluhan klien. Seorang
    klien terkadang tidak membutuhkan nasehat, tetapi hanya butuh tempat
    curah perhatian (curhat), karena begitu curhat beban menjadi ringan.
    Jika sudah merasa ringan kok dinasehati, maka nasehat itu sendiri
    menjadi beban. Wallohu a`lamu bissawab.

    Wassalam,
    agussyafii
    http://mubrok-institute.blogspot.com/

  5. Ping-balik: Jangan Biarkan Mereka Lari ke Model Pacaran Jahiliyah « Pacaran Islami

  6. Ping-balik: Supaya Siap Menikah « Pacaran Sehat

Komentar ditutup.