Ulama Yang Sibuk Bercinta

“Ada-ada saja,” pikirmu barangkali. Eh, apakah aku mengada-ada? Tidak! Memang ada ulama yang sibuk bercinta. Contohnya, Ibnu Hazm, seorang ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab. (Konon, karyanya mencapai 400 judul.) Mau tahu bagaimana ia bercinta? Baiklah. Berikut ini aku kutipkan beberapa kalimat dari buku M. Quraish Shihab, Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 75-76, 80, 89, x:… ia pernah jatuh cinta sebanyak tiga kali. Cintanya yang pertama ia tumpahkan kepada jariat (katakanlah pembantunya), lalu menikahinya ketika Ibnu Hazm berusia di bawah dua puluh tahun. Ketika istrinya yang lebih muda darinya itu meninggal dunia, ia larut dalam kesedihan dan menangis berbulan-bulan –walaupun seperti pengakuannya ia adalah orang yang sulit mencucurkan air mata. Ia jatuh sakit sekian lama, bahkan kehilangan sebagian ingatannya –walaupun kemudian sembuh. “Demi Allah –tulisnya– hingga kini aku tidak pernah lagi merasa bahagia. Kehidupan setelah kepergiannya tidak nyaman lagi. Aku terus mengenangnya dan tidak lagi menemukan kesenangan dari selainnya.”

 

Sekali lagi, dengan demikian, Ibnu Hazm sendiri sibuk dalam cinta sepanjang hidupnya, sebagaimana ia disibukkan oleh ilmu-ilmu agama semacam fiqih (hukum Islam), tafsir, hadits, dan teologi, bukan hanya perempuan sebagaimana tulisnya.

….

Ibnu Hazm menulis bahwa, “Cinta awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Dia tidak dapat dilukiskan, tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak menolaknya, syariat pun tidak melarangnya.”

….

Ibnu Hazm –sebagaimana semua ulama dan agamawan– menyatakan bahwa cinta yang terbesar dan yang paling langgeng adalah cinta kepada Allah dan cinta antar-sesama manusia yang dijalin karena Allah swt. Cinta antar-sesama manusia, antara lain cinta antar-lawan jenis, jika terjalin karena Allah, pasti diliputi oleh kesetiaan dan kesucian.

….

Ibnu Hazm al-Andalusi (994-1064 M), seorang pakar hukum Islam menulis pengalaman pribadinya antara lain: “Seandainya bukan karena keyakinan bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan negeri kekeruhan, sedangkan surga adalah tempat peroleh ganjaran, kita akan berkata bahwa hubungan harmonis antar-kekasih merupakan kebahagiaan tanpa kekeruhan, kegembiraan tanpa kesedihan, kesempurnaan cinta dan puncak harapan.”

Selanjutnya, ulama besar itu berkata: “Aku telah merasakan kelezatan dengan aneka ragamnya. Aku juga telah meraih keberuntungan dengan segala macamnya. Tidaklah kedekatan kepada penguasa, tidak juga wujud setelah ketiadaan, atau kembali ke pangkuan setelah bepergian jauh, dan tidak juga rasa aman setelah mengalami rasa takut, atau perolehan harta yang dimanfaatkan –tidaklah semua itu– seindah hubungan harmonis/asmara dengan kekasih/lawan jenis kita.”

Iklan

12 thoughts on “Ulama Yang Sibuk Bercinta

  1. Ping-balik: Bercinta Ala Quraish Shihab « Pacaran Islami

  2. makasi pak shodiq…bagus juga nie dikupas supaya orang2 gak kontra dengan islamisasi pacaran…alias pacaran islami…

  3. dimana unsur pacaran nya..?

    Tanggapan Admin:
    Artikel ini tidak secara-langsung berkaitan dengan pacaran, tetapi menunjukkan bahwa percintaan tidaklah tercela.

  4. Berarti yg dibolehkan itu adalah rasa cinta…
    karena itu adalah fitrah insan..
    Kalo pacaran kan tidak bisa dikaitkan dengan kisah ini, karena orang2 sholeh tentu akan menjag diri mereka dan menjauhi aktivitas pacran… sebab, hubungan pria dan wanita sudh diatur oleh Allah

    Tanggapan Admin:
    Kesimpulan Guwe keliru. Ibnu Hazm tidak hanya memendam rasa cinta, tapi juga mengekspresikannya.
    Benar, hubungan pria-wanita sudah diatur Allah, dan ternyata tidak ada satu pun dalil yg secara qath’i melarang pacaran. Jadi, pacaran (yang islami) tidak haram.

  5. Sebagian dari yg diposting disini memang merupakan kesaksian dari Imam Ibnu Hazm sendiri…ane masih eksplor karya tulis Imam Ibnu Hazm yg sudah beredar di toko buku dlm judul “Di bawah Naungan Cinta”.

    Ulama ini – Imam Ibnu Hazm cukup realistis menggambarkan fenomena cinta …tentu sesuai gaya bahasa dan konteks zamannya. Dalam buku tsb diuraikan fenomena cinta alami, cinta yg tercela, dan cinta yg terpuji karena berlandaskan Cinta kepada Allah.

    Tertarik?? yuk baca bareng-bareng, ane juga masih nyicil baca. Dan dengan membaca artikel ini, jadi lebih memahami beberapa posting Mas Shodiq 😉

    Wassalam,

    Nugon

  6. Ping-balik: CINTA menurut tokoh agama di Indonesia « My Tutor ” TA “

  7. Ping-balik: BERCINTA…..ala Qurais Shihab « AROWELI TENGGARA

  8. salam wa rahma

    saya mohon izin untuk mempublikasikan tulisan ini pada blog saya
    maaf atas kelancangan ini.

    salam

  9. Ping-balik: Bercinta « Maula

  10. Ping-balik: .daydreamer. - Bercinta

Komentar ditutup.