Pacaran Non-Islami dalam Sorotan Quraish Shihab

Apakah cinta sejati menuntut “kelezatan jasmani”, seperti berdua-duaan, pegang-pegangan, dan semacamnya yang didasari nafsu syahwat? Akan mekarkah cinta kita bila hubungan kita hanya sekadar untuk mengisi waktu luang atau untuk kepentingan pribadi? Berikut uraian dari M. Quraish Shihab, Perempuan (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. 95-99:

Pada awal abad ke-20 setelah perang dunia pertama, di mana banyak sekali korban jiwa di Eropa, khususnya di Prancis, tuntutan kelezatan jasmani sangat menonjol. Ketika itulah nilai-nilai luhur cinta hilang, yang tersisa hanyalah seks. Keadaan ini berangsur menjalar ke Timur, dan kini muda-mudi menamai hubungan akrab mereka yang diliputi oleh kenikmatan jasmani dan terlepas dari nilai-nilai luhur itu –menamainya– cinta, dan lahirlah kata pacaran yang [oleh banyak muda-mudi] dimaknai dalam tingkah laku dalam bentuk berdua-duaan, pegang-pegangan, dan semacamnya, bahkan meningkat seterusnya sampai terjadi “kecelakaan”.

Di sini, yang banyak menjadi korban adalah perempuan karena hasil hubungan mereka itu sering kali membuahkan “bukti cinta” itu dalam bentuk kehamilan di luar nikah, sedangkan teman kencan yang mengaku mencintainya enggan bertanggung jawab atau mengaku. Dalam keadaan demikian, sering kali dengan terpaksa “bukti” tersebut digugurkan, bahkan bisa jadi sang “kekasih” menghabisi “kekasihnya”, dan mempersilakannya tanpa menyesal untuk mendahuluinya menghadap Tuhan. Kalau dahulu sekian pencinta yang terkubur bersama cintanya yang suci, kini sekian banyak pula yang membawa serta ke kuburan kebencian kepada siapa yang mengaku mencintainya.

Di sanalah berakhir “cinta” dan di sana pula terbukti bahwa apa yang selama ini didendangkan ke telinga “pacar” adalah kebohongan belaka. Terbukti juga bahwa apa yang mereka namakan dengan cinta sebenarnya adalah syahwat. Memang, seperti yang ditulis Freud (1856-1939 M) dan sebelumnya Ibnu al-Qayyim al-Jauziah (1292-1350 M) dalam bukunya, Dzam al-Hawa, bahwa asmara yang didasari syahwat akan berakhir dengan hubungan seks, dan karena itu asmara haruslah disertai dengan unsur-unsur cinta lainnya yang lebih luhur agar cinta dapat bertahan–kendati tanpa hubungan seks.

Dalam era globalisasi –ketika informasi dan alat-alat komunikasi mengalamai kemajuan yang demikian pesat– dunia kita telah menjadi satu desa yang kecil. Apa yang terjadi di salah satu pelosok yang jauh pun segera akan dapat diketahui oleh seluruh penduduk dunia. Salah satu ciri menonjol era kita ini adalah kebebasan, kebebasan dalam segala hal. Semua berbicara dan mengajak kepada kebebasan: kebebasan dalam politik, ekonomi, budaya, dan seks, di samping kebebasan beragama atau tidak beragama.

Cinta pun sudah masuk dalam era kebebasan, tidak ubahnya dengan kebebasan di bidang ekonomi atau pasar. Pasar bebas menjadikan setiap orang bersaing dan menawarkan ide dan komoditinya sambil mengemasnya dengan kemasan yang indah, dan apa pun yang ditawarkan akan berhadapan dengan prinsip ekonomi–suplly and demand [penawaran dan permintaan]. Prinsip inilah yang menentukan nilai sesuatu, bahkan nilai manusia dan hubungan antar-mereka, termasuk hubungan cinta dan kasih sayang….

Hasilnya adalah bahwa manusia menjadi alat. Ia diperalat oleh kekuatan ekonomi. Ia menjadi komoditi yang diperjualbelikan dan, karena diperalat, ia menjadi alat sehingga menjauh dari jati dirinya. Hubungan antar-sesamanya menjadi kabur bahkan gersang, masing-masing hidup sendiri-sendiri dan merasa sendiri. Kalau pun berhubungan dengan orang lain, hubungan tersebut hanyalah asal menjadikan mereka sekadar berdampingan untuk menghilangkan rasa jenuh, jemu, dan kesepian.

Di sini, terjadilah kekaburan dalam makna dan praktik bercinta karena cinta dalam kondisi manusia menjadi alat bukan lagi cinta. Hal ini disebabkan “alat” tidak lagi memiliki rasa, sedangkan cinta adalah rasa. Kalau hubungan hanya sekadar obrolan untuk passing time, yakni agar waktu berlalu atau untuk kepentingan pribadi, bagaimana mungkin cinta akan mekar? Cinta bukanlah permintaan untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi ia adalah pemberian, kedermawanan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Hal-hal mana sudah sangat langka dalam era globalisasi.

3 thoughts on “Pacaran Non-Islami dalam Sorotan Quraish Shihab

  1. @ ikhsan

    Untuk mempermudah pengambilan kesimpulan, perhatikan kata-kata yang dicetak tebal.

    Hubungannya dengan pacaran islami: hubungan kontradiktif (berlawanan). Mengenali mana yg bukan islami akan mempermudah pemahaman kita thd mana yg islami.

  2. Ping-balik: “Izinkan Aku Berzina” « Suryaningsih Site

Komentar ditutup.