Contoh Tanazhur Yang Direstui Nabi

Apakah tanazhur (melihat, mengamati, memperhatikan, dsb.) terhadap lawan-jenis yang direstui Nabi saw. hanyalah yang untuk kepentingan khitbah (meminang) belaka?

Dengan kata lain, benarkah tanazhur yang syar’i memiliki persyaratan: “apabila si lelaki telah bertekad untuk melamar si wanita” dan “apabila ada persangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima”?

Silakan mengambil kesimpulan (dan hikmah) dari kisah tanazhur Salman r.a. terhadap Ummu Darda’ r.a.: 

86 – باب: صنع الطعام والتكلف للضيف.
5788 – حدثنا محمد بن بشار: حدثنا جعفر بن عون: حدثنا أبو العميس، عن عون بن أبي جحيفة، عن أبيه قال:

آخى النبي صلى الله عليه وسلم بين سلمان وأبي الدرداء، فزار سلمان أبا الدرداء، فرأى أم الدرداء متبذلة، فقال لها: ما شأنك؟ قالت: أخوك أبو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا، فجاء أبو الدرداء، فصنع له طعاماً، فقال: كل فإني صائم، قال: ما أنا بآكل حتى تأكل، فأكل، فلما كان الليل ذهب أبو الدرداء يقوم، فقال: نم، فنام، ثم ذهب يقوم، فقال: نم، فلما كان آخر الليل، قال سلمان: قم الآن، قال: فصليا، فقال له سلمان: إن لربك عليك حقا، ولنفسك عليك حقا، ولأهلك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (صدق سلمان).

Nabi saw. mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda. Salman melihat Ummu Darda’ [istri Abu Darda’] memakai pakaian yang sudah usang. Karena itu, Salman bertanya kepada Ummu Darda’, “Ada apa denganmu?

Ummu Darda’ menjawab, “Saudaramu, Abu Darda’, tidak begitu peduli akan dunia.”

Abu Darda’ datang. Lalu ia menyuguhkan makanan untuk Salman, seraya berkata, “Makanlah! Aku sedang berpuasa.”

Salman menjawab, “Aku tidak makan, kecuali kalau engkau makan.” Lalu Abu Darda’ makan.

Setelah malam tiba, Abu Darda’ bangun untuk bershalat. Salman berkata, “Tidurlah!” Lalu Abu Darda’ tidur, kemudian dia bangun lagi.

Salman berkata, “Tidurlah!” Dan setelah sampai di penghujung malam, Salman berkata, “Sekarang, bangunlah!” Kemudian mereka bershalat berdua.

Selanjutnya Salman berkata kepada Abu Darda’, “Sesungguhnya Tuhanmu berhak atas dirimu, badanmu berhak atas dirimu, dan keluargamu [termasuk Ummu Darda’] berhak atas dirimu. Maka berikanlah kepada yang berhak, haknya masing-masing.

Berikutnya Abu Darda’ mendatangi Nabi saw. lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau. Lantas Nabi saw. bersabda, “Salman benar.”

(HR Bukhari dari ‘Aun bin Abu Juhaifah r.a., Shahih Bukhari, Kitab “Adab”)

9 thoughts on “Contoh Tanazhur Yang Direstui Nabi

  1. maaf pak, saya kurang jelas. dimanakah ditunjukkan tanazhur dalam hadits di atas?

  2. Kata-kata yang dicetak tebal di situ menunjukkan adanya tanazhur. (Tanazhur adalah “melihat, mengamati, memperhatikan, dsb”.)

    Salman melihat Ummu Darda’ [istri Abu Darda’] memakai pakaian yang sudah usang. Karena itu, Salman bertanya kepada Ummu Darda’, “Ada apa denganmu?

    Perhatian Salman yang ditunjukkan kepada Ummu Darda’ semakin ditegaskan lagi ketika Salman meminta Abu Darda’ memenuhi hak Ummu Darda’: “…. Maka berikanlah kepada yang berhak, haknya masing-masing.

  3. Ya, kita sependapat dg penjelasan observer. Aktivitas Salman tsb lebih tepat disebut tanazhur drpd taaruf atau istilah lain sejenisnya.

  4. Kesimpulannya:
    Persyaratan yang dikemukakan di blog suryadhie itu tidak berdasar.
    Atau kalau berdasar, dalilnya tidak sekuat hadits yg ditunjukkan ustad Shodiq di sini.

    Implikasinya:
    Kalau tanpa niat melamar saja kita direstui menaruh perhatian (atau melakukan tanazhur dalam arti luas), tentulah kita direstui pula bila menaruh perhatian pada si dia untuk pranikah. Bukankah sebelum melamar, kita diperintahkan lakukan tanazhur?

    Begitu, bukan?

  5. sebenarnya bagaimana bunyi hadits-nya? kalau tidak salah rasul saw bersabda, “sudahkah kau melihatnya?”. melihat di sini apakah dalam arti harfiah?

  6. @ ikhsan & Abu Zahra

    Di kitab Abdul Halim Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’at (kitab ini menghimpun hadits-hadits shahih mengenai hubungan pria-wanita), aku jumpai enam hadits shahih mengenai perlunya “pendekatan” antara laki-laki dan perempuan yang hendak segera menikah. (Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 53-56.)

    Di situ, ada satu kata khas yang selalu muncul pada keenam hadits tersebut. Kata khas yang muncul adalah “nazhar”. Kemunculannya berbentuk kata kerja “yanzhuru” (memperhatikan) dan kata perintah “unzhur” (perhatikanlah).

    Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/

    Kata “nazhar” itu tergolong lafal bermakna-ganda (sehingga membuka peluang ijtihad). Maknanya bisa dipahami sebagai “melihat dengan mata” saja, tapi bisa juga dimaknai secara lebih luas.

    Keberadaan hadits Salman yang “melihat” Ummu Darda’ itu menunjukkan bahwa “tanazhur” bisa diartikan secara lebih luas, yaitu “menaruh perhatian”.

    Benar kata Abu Zahra mengenai implikasi (makna tersirat) dari hadits tersebut, yaitu:

    Kalau tanpa niat melamar saja kita direstui menaruh perhatian (atau melakukan tanazhur dalam arti luas), tentulah kita direstui pula bila menaruh perhatian pada si dia untuk pranikah. Bukankah sebelum melamar, kita diperintahkan lakukan tanazhur?

  7. Ping-balik: Tinjauan “Contoh Tanazhur yang Direstui Nabi” « Pacaranislamikenapa’s Weblog

  8. apakah ada ulama yang mengatakan bahwa istilah tanazhur bukan hanya melihat lewat mata saja? tetapi juga memperhatikan, mengamati, dsb.? karena pak shodiq setahu saya adalah satu2nya orang yang membahas tanazhur ini. kalau saya search di google kata “tanazhur” pun, yang keluar tulisan pak shodiq semua.

  9. @ ikhsan

    1) Mengenai luasnya makna tanazhur (nazhara-yanzhuru), silakan periksa kamus bahasa Arab atau tanyakanlah kepada orang yang menguasasi bahasa Arab.

    2) Kalau mau mengetahui pandangan ulama mengenai tanazhur pranikah, kita perlu mengetahui sinonimnya.

    Untuk contoh pandangan ulama tentang “tanazhur” pranikah, silakan periksa “pacaran islami” ala Abu Syuqqah, yaitu “bercinta sebelum khitbah”. Meskipun di situ beliau tidak langsung menggunakan istilah tanazhur, pengertian “bercinta” (sebelum menikah) itu tercakup dalam makna tanazhur pula.

    3) Silakan Ikhsan menulis (atau meminta orang lain menulis) artikel tentang tanazhur pranikah di internet supaya yang muncul tidak hanya namaku saja.

Komentar ditutup.