Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (2)

‘Abdul Malik bin Quraib telah menceritakan kisah berikut:

Aku pernah bertanya kepada seorang lelaki dari daerah pedalaman: “Ceritakanlah kepadaku malam harimu bila kamu bersama dengan si Fulanah, wanita yang kamu cintai.”

Lelaki pedalaman itu menjawab: “Baiklah. Jika aku berduaan dengannya, aku mengambil posisi menghadap ke arah rembulan sehingga dia dapat melihatku, tetapi bila mulai condong ke arah yang lain, barulah aku dapat melihatnya.”

Aku bertanya: “Lalu apa saja yang kamu lakukan saat kamu berduaan dengannya tanpa ada orang lain [di antara kalian]?”

Ia menjawab: “Masih dalam batasan yang dihalalkan oleh Allah dan jauh dari yang diharamkan oleh-Nya, yakni dengan isyarat yang sopan dan berdekatan tetapi tanpa bersentuhan. Demi usiaku, perjalanan waktu terasa begitu lama bila jauh darinya, dan terasa begitu cepat bila bersama dengannya. Cukup bagimu hal itu saat berpacaran dengan kekasihmu.”

Tidak sekali-kali gelora cinta mengajakku berbuat mesum,

melainkan rasa malu dan harga diriku telah mencegahku.

Tanganku sama sekali tidak berani melakukan hal yang mesum,

dan begitu pula dengan kakiku, tak pernah kulangkahkan kepada hal yang mencurigakan.

— — — —

Muhammad bin Sirin mengatakan bahwa dahulu mereka, saat melakukan pacaran, tidak pernah melakukan hal-hal yang mencurigakan. Seorang lelaki yang mencintai wanita suatu kaum, datang dengan terus-terang kepada mereka dan hanya berbicara dengan mereka tanpa ada suatu kemungkaran pun yang dilakukannya di kalangan mereka.

===============

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 617 & 621.

15 thoughts on “Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (2)

  1. Masih dalam batasan yang dihalalkan oleh Allah dan jauh dari yang diharamkan oleh-Nya … Cukup bagimu hal itu saat berpacaran dengan kekasihmu.

    Bener2 pacaran islami! Baru skarang ana tau ternyata Ibnu Qayyim, ulama “pakar cinta” terkemuka, mendukung pacaran islami.

    Nice posting. Syukron.

  2. Aku bertanya: “Lalu apa saja yang kamu lakukan saat kamu berduaan dengannya tanpa ada orang lain [di antara kalian]?”

    -ga salah nih pak? ini kan berkhalwat tanpa terawasi?

  3. @ ikhsan

    Keadaan terawasi pada kisah tersebut tercermin dari paragraf sebelumnya, yaitu: “… Jika aku berduaan dengannya, aku mengambil posisi menghadap ke arah rembulan sehingga dia dapat melihatku, tetapi bila mulai condong ke arah yang lain, barulah aku dapat melihatnya.”

    Keberadaan rembulan itu menunjukkan peristiwanya terjadi di tempat terbuka. Adapun kata-kata “dia dapat melihatku” dan “aku dapat melihatnya” menunjukkan bahwa orang-orang lain pun dapat melihatnya (karena tempatnya terbuka).

    Keadaan terawasi itu tersirat dengan lebih jelas pada paragraf awal yang menunjukkan bahwa ‘Abdul Malik mengetahui bahwa si lelaki pedalaman berduaan dengan si Fulanah. Pertanyaan yang diajukan oleh ‘Abdul Malik itu pun pada dasarnya merupakan bagian dari “pengawasan”, bukan?

  4. Dari cerita Abdul Malik bin Quraib saya coba memahami : mereka dapat berduan dengan orang yamg mereka cintai tanpa melakukan hal-hal yang dilarang oleh syara, itu dikarenakan rasa takut mereka kepada yang diAtas lebih besar dari nafsu mereka, jauh dibandingkan dengan jaman sekarang yang lebih membesarkan nafsu mereka dari pada takut mereka kepada yang di Atas.
    (walaupun itu Ditempat yang terbuka) kita liat sendiri aja Oke…..

  5. @ hendra

    Oke. Kami tidak menyangkal hasil analisis Anda. Oleh karena itulah mari kita lakukan islamisasi terhadap budaya pacaran saat ini supaya sesuai dengan model pacaran di kisah tsb di atas dan model-model pacaran islami lainnya. Oke….

  6. Pemahaman Sdr. Hendra menarik:
    “mereka dapat berduan dengan orang yamg mereka cintai tanpa melakukan hal-hal yang dilarang oleh syara, itu dikarenakan rasa takut mereka kepada yang diAtas lebih besar dari nafsu mereka…”

    Pertanyaan saya kepada Sdr. Hendra, Ikhsan, Salsabila J, dan semua pembaca lainnya:

    Apa sajakah yang harus kita kerjakan supaya remaja Islam masa kini yang pacaran bisa seperti itu?

  7. Setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan di akherat.

    Hati2 mengambil dalil untuk mendukung Hawa nafsu..

    Pacaran secara Islami (katanya)… lalu mencari dalil untuk mendukungnya…

    Na’udzubillah min dzalik…

    Wallahu a’lam bish showab

  8. Janganlah mengambil dalil & dipelintir dengan menggunakan akal (nyang suka ngakalin..apakah Terjemahan sudah sesuai dengan Judul Asli si Penulis???), Baca juga donk Karya Beliau nyang lain “Jangan Dekati Zina”..Insya Allah Bermanfa’at

  9. Saya pernah membaca buku tersebut waktu SMA. Kepada Bapak Muh Shodiq tolong diberikan catatan sebagaimana yg Ibnul Qoyyim lakukan pada buku tersebut (pada bagian akhir buku terjemahan tsb). Bahwa bagian awal berupa kisah2 cinta tapi bukan berarti boleh dilakukan selama tdk melanggar syariat.
    Kalau kita hanya membaca 1/2 buku tsb (bag awal) kita tentu akan salah tafsir tapi ketika kita membaca sampai akhir kita akan paham.

    Sesungguhnya apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah.

  10. ya, saya setuju. sebaiknya cantumkan pula tulisan dari ibnu qayyim sendiri. jangan hanya cerita2 tersebut yang asalnya pun bukan dari ibnu qayyyim.

  11. saya baca bukunya dulu deh baru ngasi komentar…., takut salah omong euy

    🙂

    dimana ya buku itu bisa ditemukan? ada info?

  12. @ hawadam

    Sepertinya pertanyaanmu BELUM terdengar oleh saudara2 kita itu.

    @ abdul_wahab

    Kita berislam memang HARUS didukung dalil, bukan? Kalau tidak berdalil, landasan apa yang kita pakai kalau bukan hawa nafsu?

    @ fateh

    Peristiwa tersebut TIDAK tergolong mendekati zina. Ibnu Qayyim justru menggolongkannya sebagai “memelihara kesucian diri”. Jadi, isinya masih selaras dengan buku beliau yang lain itu.

    @ anas & ikhsan

    Memang, pembacaan secara lengkap diperlukan supaya tidak salah-paham.

    Kepada Bapak Muh Shodiq tolong diberikan catatan …. jangan hanya cerita2 tersebut yang asalnya pun bukan dari ibnu qayyyim

    Silakan simak catatan saya di https://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/09/contoh-pacaran-islami-ala-ibnu-qayyim-al-juziyah-1/#comment-1359

    Penjelasan lebih lanjut insya’allah akan saya terangkan setelah menyelesaikan contoh-contohnya lebih dahulu.

    @ yossy

    Ada lebih dari satu penerbit yang terbitkan terjemahan Raudhatul Muhibbiin. Terbitan Irsyad Baitus Salam biasanya dijual di ajang pameran buku (islamic book fair).

  13. Ping-balik: Mereka berusaha menyembunyikan kebenaran? « M. Shodiq Mustika

  14. setau saya, jika kita hanya berdua walaupun kita berada ditempat terbuka dan ramai. tetap saja termasuk menyepi. sedangkan menyepi berdua dengan yang bukan muhrim dilarang islam. karena ketiga diantara kalian itu syetan. maka seharusnya jika akan bertemu seseorang yang bukan muhrim kita, minta lah ditemani dengan minimal seorang yang muhrim dengan kita!
    dengan tetap diawasi!

    Tanggapan Admin:
    Apakah pHyt^ belum tahu bahwa ada hadits shahih riwayat Bukhari yang menyebut bolehnya khalwat (menyepi) dalam keadaan terawasi? Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/27/bagaimana-mengamalkan-hadits-hadits-tentang-berduaan/

  15. Ping-balik: Pacaran islam a… | rudiykom

Komentar ditutup.