Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (4)

‘Amir bin Hudzafah telah menceritakan kisah berikut:

Aku melihat di Shuhara seorang gadis yang sedang menempelkan pipinya di sebuah kuburan sambil menangis seraya mengucapkan bait-bait syair ….

‘Amir melanjutkan kisahnya bahwa sesudah itu dia menanyakan kepada gadis itu kuburan yang ditangisinya.

Ia menjawab: “Seorang pemuda yang menjadi kekasihku semenjak kecil.” Kemudian gadis itu kembali melantunkan bait-bait syairnya:

Dahulu kami bak sepasang merpati di sebuah sarang nan rindang

Kami hidup menikmati kesehatan dan masa muda kami

Namun kemudian zaman mencerai-beraikan segalanya hingga aku berpisah dengannya

Dan memang zaman itu selalu memisahkan orang-orang yang dicintai

‘Amir bin Hudzafah mengatakan bahwa dia hanyut dan ikut menangis sedih karena kelembutan syairnya, lalu gadis itu kembali melantunkan bait-bait syair berikut:

Kamu tangisi dia, padahal kamu tidak tahu keadaannya; maka aku sungguh akan memberitahu kepadamu tentang keadaannya dengan jelas.

Tiada seorang pun yang meminta kebajikan darinya, melainkan pasti akan diberi olehnya; tetapi jika diminta tolong, jadilah dia seorang pendekar yang pilih tanding.

Dia tidak pernah melirikkan matanya kepada tetangga, dan tidak pernah menggoda kaum wanita tetangganya yang cantik-cantik.

Dia seorang yang suci batinnya, begitu pula lahirnya; tetapi apabila haknya dianiaya, engkau lihat dia seorang yang tangguh dan perkasa menuntut haknya.

Aku [‘Amir] bertanya: “Beritahukanlah kepadaku, siapa dia sebenarnya.”

Gadis itu menjawab: “Dia adalah Sinan bin Wabrah, sebagaimana yang dikatakan oleh penyair lain melalui bait syair berikut.”

Wahai orang yang meminta bantuan, untuk menolong bencana kaumnya;

cukuplah bagimu meminta bantuan, kepada Sinan nan dermawan

Gadis itu pun berkata: “Wahai orang yang tidak kukenal, demi Allah, seandainya engkau bukan orang yang asing, tentulah aku tidak akan menyenangkanmu dengan kisahku.”

Aku bertanya: “Bagaimanakah cintanya kepadamu?”

Ia menjawab: “Dia tidak pernah memberiku bantal bila aku tidur, kecuali hanya tangannya; dan aku berpacaran dengannya selama empat tahun, namun aku tidak pernah tidur menggunakan bantal, selain tangannya, kecuali dalam keadaan yang tidak mengizinkan baginya.”

===============

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 657-658.

3 thoughts on “Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (4)

  1. cerita-cerita dari buku ibnu qayyim ini kejadiannya kapan pak? apakah setelah hukum islam sudah diterapkan atau belum?

  2. Ping-balik: Pacaran islam a… | rudiykom

Komentar ditutup.