Jangan Biarkan Mereka Lari ke Model Pacaran Jahiliyah

Apakah dengan islamisasi pacaran, kita mengesampingkan islamisasi pernikahan? Apakah dengan melarang muda-mudi Islam berpacaran, mereka pasti akan menjadi lebih islami?

Pertanyaan semacam itulah, antara lain, yang muncul di benak kami ketika menyimak sebuah kritik dari seorang saudara kita yang beridentitas realstupid. Berikut tanggapan kami terhadap kritiknya:

ana masih merasa sangat banyak syubhat dalam bahasan pacaran ini….
“Pacaran Islami” dari bahsanya mengandung talbis antara haq dan yang batil

Pengamatan antum tajam. Semoga Allah juga menganugerahi kami ketajaman pengamatan. (Aamiin.)

Antum yang kami cintai karena Allah, kami telah dianjurkan oleh guru-guru kami untuk mengurangi hal-hal yang syubhat (yaitu belum jelas halal-haramnya) di tengah umat, termasuk dalam melakukan islamisasi pacaran, dengan jalan menjelaskannya. Jadi, silakan tunjukkan kalimat-kalimat kami yang mana sajakah yang masih mengandung syubhat untuk kemudian kita klarifikasi bersama-sama.

antum tahu kan kalo Ibnul Qoyyim menekankan pemuda untuk menikah…..

Benar, Ibnu Qayyim memang begitu. Malah bukan hanya beliau, ulama-ulama panutan kami pun begitu pula. Jadi, kami pun berikhtiar mengarahkan muda-mudi Islam yang melakukan pacaran untuk berorientasi pada pernikahan.

kalau antum tahu, silahkan antum tuliskan di blog antum ini…

Kami sudah berulangkali menyampaikan di blog ini, baik melalui komentar maupun postingan, bahwa arah (“tujuan”) pacaran islami adalah pernikahan. Demikian pula melalui buku-buku kami dan juga melalui tabligh bil-lisan kami.

ana usul sama antum….
gimana kalau tulisan-tulisan antum untuk lebih menggiring kepada pernikahan dari pada pacaran…

Afwan, kami belum memahami saran antum ini. Berikut penangkapan kami terhadap saran antum itu:

Ibaratnya, antum menyarankan kita untuk lebih mengutamakan pengembangan SD dan SMP daripada TK dan Play Group. Bukankah “wajib belajar” sembilan tahun itu untuk SD dan SMP? (Bukankah yang ditekankah dalam Islam adalah pernikahan dan bukan pacaran?)

Memang, anak yang tidak menjalani playgroup dan TK masih bisa sukses di SD dan SMP. Lantas, apakah dengan demikian, TK dan playgroup itu tidak diperlukan sama sekali? Bukankah pengembangan playgroup dan TK itu merupakan BAGIAN dari pengembangan SD dan SMP? Kalau kita tidak mengembangkan playgroup dan TK yang islami, bukankah masyarakat pasti akan memasukkan anak-anak balita mereka ke playgroup dan TK lain yang TIDAK islami?

Begitu pula dalam islamisasi pacaran. Keberadaan pacaran islami ini bukanlah untuk mengesampingkan institusi pernikahan. Islamisasi pacaran justru merupakan BAGIAN dari islamisasi pernikahan. Pacaran islami merupakan ikhtiar supaya rumah tangga kita yang kita bangun melalui pernikahan itu lebih islami. (Pengembangan playgroup dan TK pun merupakan ikhtiar supaya murid-murid SD dan SMP lebih berkualitas.)

Memang, muda-mudi yang tidak menjalani pacaran masih bisa sukses berumahtangga. Lantas, apakah dengan demikian, pacaran itu tidak diperlukan sama sekali? Memang, sebagian orang merasa tidak membutuhkannya. Akan tetapi, banyak muda-mudi merasa memerlukannya. Tanpa pacaran lebih dulu, mereka takut menikah. Kalau dengan pacaran itu mereka menjadi berani menikah, mengapa kita harus melarang pacaran?

Kita menyaksikan, melarang remaja untuk tidak keluar rumah seringkali tidak efektif. Karena itu, salahkah kita bila kita memeriksa/mengawasi kendaraan mereka dan membekali mereka nasihat untuk berhati-hati supaya mereka tidak mengalami kecelakaan lalu-lintas di jalan raya? Bukankah walaupun berisiko, keluar rumah ke jalan raya itu bisa bermanfaat?

Kami menyaksikan, melarang “ikhwan-akhwat” (apalagi remaja awam) berpacaran justru sedikit-banyak menumbuhkan perilaku pacaran yang diam-diam, suatu fenomena yang justru lebih berbahaya daripada pacaran yang dilakukan secara terang-terangan. Kalau kita tidak menawarkan konsep pacaran yang islami, bukankah mereka akan lari ke model pacaran lain yang jahiliyah?

Jadi, jangan biarkan mereka lari ke model pacaran jahiliyah! Marilah kita bersama-sama mengembangkan konsep pacaran yang islami.

Semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala mengampuni ana dan antum.

Aamiin.

4 thoughts on “Jangan Biarkan Mereka Lari ke Model Pacaran Jahiliyah

  1. @ realstupid

    kok tanggapan dari realstupid belum nongol?

    apakah lari ke “model pacaran jahiliyah”?

  2. Ping-balik: Dari Salafi sampai Hamil di Luar Nikah « Pacaran Islami

  3. Ping-balik: Diskusi: Istilah Pacaran Islami « Indonesia Hot

Komentar ditutup.