Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (2)

Sekarang, setelah kemarin mengupas pandangan Yusuf Qardhawi, marilah kita beralih ke pandangan Abu Syuqqah. Benarkah beliau mengharamkan pacaran (secara tegas dam gamblang)? Si ‘l4tahzan’ mengklaim:

Ustadz Abu Syuqqah pun kurang lebih sama, betul bahwa tidak ada stament “haram berpacaran”, tetapi jelas sekali dalam sikap dan pernyataan Ustadz Abu Syuqqah dalam banyak tempat dikatakan bahwa cinta yang suci itu tergantung kepada bingkainya, jika bingkainya adalah perkawinan maka itulah cinta yang suci.

Tanggapan kami:

1) Si ‘l4tahzan’ sungguh “cerdik“. Ia hanya mengatakan bahwa tidak ada stament “haram berpacaran”. Padahal, lebih dari itu, Abu Syuqqah jelas-jelas “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah” (Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 79). Dan “bercinta sebelum khitbah” inilah yang kami maksudkan sebagai “pacaran islami” (ala Abu Syuqqah).

2) Perhatikanlah bahwa bingkai “bercinta sebelum khitbah” (atau “pacaran islami” ala Abu Syuqqah) adalah perkawinan pula, sebagaimana dalam khitbah. Bingkainya BUKANLAH pelacuran, samen leven (atau hidup bersama tanpa nikah), free sex, dan sebagainya. Sudah berulangkali kami tegaskan bahwa arah pacaran islami kita di sini adalah pernikahan. Pada model pacaran Islami ala Abu Syuqqah, kita dianjurkan segera menindaklanjutinya dengan pernikahan. Beliau tidak suka kita berlama-lama “bercinta sebelum khitbah”. Jadi, karena bingkainya adalah pernikahan, pacaran islami (sebagaimana khitbah) itu suci pula, bukan?

3) Ataukah ‘l4tahzan’ bermaksud menyatakan bahwa “cinta yang suci” hanyalah yang berada di dalam pernikahan, sedangkan cinta pra-nikah tidak suci? Pernyataan begitu itu bisa kita tolak dengan pertanyaan: “Apakah cinta di dalam khitbah, karena belum menikah, tidak suci?” (Silakan bandingkan dengan pacaran islami ala Ibnu Qayyim yang jelas-jelas menekankan cinta yang suci.)

Lantas, manakah kalimat Abu Syuqqah yang dengan tegas menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran)? Tidak ada sama sekali!

Si ‘l4tahzan’ menyangka:

Pun perkara yang dibolehkan oleh Ustadz Abu Syuqqah, adalah perkara bolehnya ada perasaan cinta mengiringi proses ta’aruf dengan lawan jenis, dan Ustadz secara tegas menunjukkan sikap haramnya berpacaranitu dalam berbagai tempat.

Rupanya, ‘l4tahzan’ menyangka bahwa makna awalan “ber-” pada ungkapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah” itu terbatas pada adanya “perasaan” belaka, tanpa ada makna lain. Benarkah persangkaannya itu? Marilah kita simak kata-kata Abu Syuqqah sendiri:

Sesungguhnya cinta itu apabila sudah menjadi perasaan manusia antara laki-laki dan wanita, maka ia mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh kehidupan di kala suka dan duka, lapang dan sempit.

Kata-kata Abu Syuqqah tersebut muncul setelah beliau mengungkapkan hadits “… Apakah di antara kalian tidak ada orang yang penyayang?” (HR Thabrani) Hadits tersebut, menurut Abu Syuqqah, menunjukkan betapa Nabi saw. “menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu” (Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 75). Perhatikanlah bahwa hadits tersebut, pada versi lengkapnya sebagaimana yang diungkap oleh Abu Syuqqah, secara gamblang memperlihatkan adanya EKSPRESI cinta (berupa syair romantis dan pengorbanan diri demi sang kekasih). Hadits tersebut TIDAK sekedar berbicara mengenai “perasaan” cinta.

Jadi, kelirulah persangkaan ‘l4tahzan’ bahwa Abu Syuqqah membatasi pengertian “bolehnya bercinta” sebagai “bolehnya ada perasaan cinta”. Yang benar, Abu Syuqqah justru memperluas makna “perasaan” cinta pra-nikah itu, sehingga “mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh kehidupan …”

Lantas, manakah kalimat Abu Syuqqah yang dengan tegas menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran)? Tidak ada sama sekali!

Sementara itu, ‘l4tahzan’ mau mencari gampangnya saja. Ia berkata:

Gampangnya gini aja, Ustadz Abu Syuqqah itu kan besar bersama gerakan IM, tidak diragukan lagi, buku-buku beliau dalam Kebebasan Wanita menjadi rujukan gerakan IM … dimanapun juga termasuk di Indonesia, adakah antum temukan sekelompok gerakan IM indonesia yang mengkampanyekan pacaran islami?? Kenyataannya kan ga begitu, kalau ada kasih tahu kita, kita “grebek” bareng2 pacarannya hehehe. Tanya ken..napa??

Jawaban kami:

1) Kami mendapatkan laporan dari yang bersangkutan sendiri, ikhwan-akhwat IM yang berpacaran islami itu pada umumnya melakukannya secara diam-diam. Mengapa mereka tidak mengkampanyekannya secara terbuka? Jawaban umum yang kami terima: takut ada fitnah dan kesalahpahaman. Inilah alasan yang bisa kita maklumi. Kami pun bersangka baik bahwa mereka itu orang-orang yang rendah-hati dan tidak suka pamer, bukan takut “digrebek” oleh para penentang islamisasi pacaran.

2) Apabila masih ada ikhwan/akhwat IM yang menentang islamisasi pacaran (atau mengharamkan pacaran), maka marilah kita tunjukkan bahwa Abu Syuqqah, ulama panutan mereka, jelas-jelas “menetapkan bolehnya bercinta sebelum khitbah“. Dan “bercinta sebelum khitbah” inilah yang kita maksudkan sebagai “pacaran islami” ala Abu Syuqqah. (Akan tetapi, istilah yang lebih tepat bagi kalangan ini adalah tanazhur pranikah, bukan “pacaran islami”.)

Si ‘l4tahzan’ menyarankan:

Selebihnya bacalah karya Al Ustadz Abu Syuqqah secara langsung, jangan melalui kutipan-kutipan parsial dan tidak utuh, karena terlalu banyak model2 tulisan yang kelihatannya ilmiyah, merujuk kepada sumber2 yang dikenali, tetapi pemahamannya jauh dari apa yang diinginkan oleh sang penulis.

Nah, kalau terhadap saran yang ini sih, kami setuju sepenuhnya. Jadi, daripada menelan mentah-mentah tulisan ‘l4tahzan’ dan blog pacaranislamikenapa yang pemahamannya seringkali “jauh dari apa yang diinginkan oleh sang penulis”, lebih baik kita baca karya Abu Syuqqah itu secara langsung. Kemudian bila kita ternyata sulit memahaminya, kita jangan ‘sok tahu’! Lebih baik kita bertanya kepada ahlinya, yaitu ‘spesialis’ yang memang mendalami persoalan ini. Setuju, ‘kan?

Wa Allaahu a’lam.

8 thoughts on “Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (2)

  1. Di antara pembaca blog ini ada warga/simpatisan Ikhwanul Muslimin, kan? Gimana tanggapannya?

  2. Yth. totok & kurtubi

    Jangan-jangan, komentar dari ikhwan-akhwat IM itu juga berlangsung diam-diam, alasannya “takut ada fitnah dan kesalahpahaman”

  3. Dewasa ini, nampaknya bukanlah agama yang lain yang akan menghancurkan islam, tapi yang ana takuti jika muslim itu sendiri yang kan menghancurkan agamanya sendiri…dan membuat islam itu dimudah2kan……..

  4. hem, saya tersenyum saja🙂, karena membaca hanya dengan melihat rasio serta nafsu bukan ilmu. pengennya selalu berdebat, dan pengen selalu memenangkan perdebatan. Kalau boleh bilang, kalau baca jangan diambil point2nya saja, tapi bacalah dengan keseluruhan isi yang disertakan! Jangan sepotong-sepotong, yang akhirnya malah terlihat kebodohannya dalam memahami kalimat seluruhnya. Kalau mau berdebat sama orang2 kafir aja, sesama Islam tidak boleh berdebat!

    Untuk umat Islam “Jangan terprofokasi dengan orang2 yang merasa paling benar.”
    Kata salah satu ustad di Muhammadiyah “Hati2 LDII gaya Arab”

  5. Kita tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jaisy01.

    sesama Islam tidak boleh berdebat

    Bahkan diantara para shahabat saja, diskusi bukanlah perbuatan yang ditabukan. Hanya saja mereka, setelah ditunjuki pendapat yang lebih kuat, bisa menerimanya. Mereka tidak menuding-nuding si lawan-diskusi, apa lagi bila tanpa bukti.

    Tunjukkanlah bukti kalau memang Anda berkata benar. Ataukah Anda hendak memprovokasi pembaca supaya tidak mendengar fatwa ulama? Apakah Anda mau menyembunyikan kebenaran?

    Saya yakin, para pembaca yang berakal sehat bisa membedakan siapakah yang memahami pandangan Abu Syuqqah secara sepotong-potong dan siapakah yang memahaminya secara seutuhnya. Wa Allaahu a’lam.

  6. Ping-balik: Kiat Menulis Surat Cinta Romantis « Pacaran Sehat

Komentar ditutup.