Perlukah merahasiakan rasa cinta?

Benarkah jatuh cinta adalah aib bagi orang yang paham agama? Benarkah orang yang jatuh cinta adalah orang yang tak saleh dan tak taat beragama? Perlukah kita umat Islam merahasiakan rasa cinta?

Berikut kami kutipkan setengah bagian pertama dari Bab 12, “Orang yang Merahasiakan Cintanya”, buku Ibnu Hazm El Andalusy, Di Bawah Naungan Cinta, terj. Anif Sirsaeba (Jakarta & Semarang: Republika & Pesantren Basmala Indonesia, 2007), hlm. 82-85:

Di antara sebagian sifat orang yang dirundung cinta, ialah suka menyembunyikan perasaannya. Ia enggan mengaku kala ditanya. Ia berperangai seolah tidak sedang memendam cinta. Ia tampil serilek-rileksnya, supaya orang mengira bahwa ia tidak sedang dimabuk cinta. Ia enggan bila diajak ngomong perihal cinta. Padahal api cinta sedang membakar-bakar jiwanya.

Boleh jadi mulutnya diam seribu bahasa. Tapi lihatlah, langkah dan pandangan matanya menyiratkan apa yang berkecamuk dalam dadanya. Ia serupa api dalam sekam. Atau serpa aliran air di perut bumi yang dalam. Mula-mula, boleh saja ia kuat menyembunyikan debam-debam cintanya. Namun karena gelombang cinta selalu menderu-deru dalam jiwa. Akhirnya, ia pun tak kuasa menyembunyikan cintanya.

Orang yang menyembunyikan cintanya. Mungkin karena ia kuatir atau malu, kalau-kalau orang lain tahu bahwa ia sedang dirundung cinta. Ia mengira, jatuh cinta adalah kelemahan yang tak pernah mendera orang yang beriman. Ia mengira jatuh cinta adalah aib bagi orang yang paham agama. Karena itulah, ia kuatir, kalau orang tahu bahwa ia sedang jatuh cinta, mereka akan menilainya sebagai orang yang tak saleh dan tak taat beragama.

Pendapat demikian jelas keliru adanya. Sebab, sesungguhnya sebagai muslim beriman, ia cuma dititahkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala, kala godaan datang menghampirinya. Mencintai keindahan dan membiarkan cinta bersemi bukanlah hal yang hina, apalagi dosa.

Sesungguhnya jiwa dan hati kita senantiasa berada dalam genggaman Allah Yang Maha Menggenggam. Dia tak pernah memerintahkan hati kita, kecuali untuk menimbang mana yang benar, dan mana yang salah, kemudian meyakini dan menempuh jalan yang benar sepenuh hati kita.

Sementara itu, cinta bukanlah dosa. Ia adalah tabiat alami manusia. Yang seharusnya kita lakukan adalah mengendalikan segala anggota tubuh kita, agar tak terperosok dalam hal-hal yang diharamkan-Nya.

Akan menghinalah mereka yang tak kenal cinta
Sungguh, cintamu padanya wajar adanya
Mereka bilang, cinta bikin kau hina
Padahal kau orang paling paham agama

Kukatakan pada mereka, mengapa kalian iri padanya
Jawabnya, karna ia mencinta dan dicintai pujaan jiwa

Kapan Muhammad mengharamkan cinta
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta
Janganlah kau berlagak mulia
Dengan menyebut cinta sebagai dosa

Janganlah kau pedulian apa kata orang tentang cinta
Entah yang berkata kerasa atau halus biasa
Bukankah manusia harus menetapi pilihannya
Bukankah kata tersembunyi tak berarti dian seribu bahasa

Sesungguhnya pernah kusaksikan seseorang yang bertabiat demikian: gemar menyembunyikan cintanya pada orang lain. Ia berusaha meredam perasaan cinta yang makin berdentam-dentam dalam dirinya. Tapi sayang, ia tak kuasa akhirnya. Perasaan cinta malah kian berdebam-debam. Ia terus mendera-dera dalam jiwa. Mulutnya boleh jadi bungkam seribu bahasa. Tapi perangainya begitu fasih bicara. Semua orang akhirnya mengetahuinya. Duhai, ia sedang diterjang badai cinta. mereka yang tak kenal cinta sekalipun, pastilah mengerti bahwa ada cinta dalam dadanya. Semua tersirat dalam pandangan matanya.

Suatu hari, ia duduk bersama orang yang memahami isi hatinya. Ketika orang yang mengetahui isi hatinya itu berkara bahwa ia tahu persis apa yang sedang bergelora dalam dadanya. Ia mengelak dan bilang, tidak. Sejurus kemudian, lewat di hadapan mereka sang pujaan yang selama ini mendera-dera dalam dadanya. Seketika ia salah tingkah. Wajahnya langsung merona merah. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan memotong omongan teman duduknya. Namun ia tetap tak bisa. Ucapannya terbata-bata. Ia seolah mengeja kata-kata. Sang pujaan lewat di depan mata. Dan ia dibuat panik olehnya. Untuk itu, kutorehkan sebuah puisi mengenangnya:

Ia masih hidup lantaran kematian kasihan padanya
Andai saja tidak, ia niscaya binasa oleh cekikan cinta

Dalam kesempatan yang berbeda, aku kembali bersajak:

Air cinta mengalir sudah
Dan tabir kasih tersingkap indah
Hatimu seumpama kucing saja
Gesit menerkam kala melihat mangsa

Duhai sahabatku, luapkan saja perasaan cintamu
Sungguh, pendapatku tentang cinta tak beda denganmu
Sampai kapan kan kausembunyikan
Takkan kutinggalkan kau sendirian

Peristiwa seperti itu, hanya terjadi pada orang yang berusaha mati-matian dalam menyembunyikan perasaan cinta yang menderanya. Ya, hanya terjadi pada orang yang berusaha menyingkirkan cinta dari dalam jiwanya. Sungguh, sekeras apa pun ia berusaha. Ia tak akan bisa melepaskan jaring cinta yang telah menjeratnya. Sia-sia saja. Ia hanya akan terkurung di antara dua kobaran api: api cinta dan api derita.

9 thoughts on “Perlukah merahasiakan rasa cinta?

  1. Kayaknya buku ini bagus, saya jadi pengen membacanya. dan kayaknya bisa menggugah jiwa

  2. wah setuju banget tuh.Ada kalanya cinta berbuah bahagia bila ditempatkan pada hakikat cinta itu sendiri fitrah dari Allah

  3. Ping-balik: Kiat Menulis Surat Cinta Romantis « Pacaran Sehat

  4. Ping-balik: Ekspresi Mesra Pranikah Sudah Dihalalkan (asalkan tidak mendekati zina) « Bukan Zina

  5. well, saya kurang faham soal pacaran. tapi, ada beberapa tanggapan.
    1. saya tidak melihat kesimpulan dari tulisan diatas. tulisan diatas menurut saya hanya deskripsi saja
    2. saya kira seorang lelaki sangat pengecut hanya berani mengucapkan cinta, lalu selesai. karena cinta perlu pembuktian dong. kalo ngaku cinta, buktiin.
    3. Jujur deh, ketika kita naksir sama lawan jenis, bukankah Tuhan tidak lagi menjadi panglima? malah lawan jenis yang menjadi apa yang kita cinta

    so, jangan coba-coba ngungkapin perasaan kalo ga mau nanggung konsekuensi

  6. /***************************************/
    Bukan mengecilkan, tapi ibarat gini…

    ketika lewat didepan mata kita, mobil yang selama ini kita impi-impikan,
    sedari kecil kita ingin mengendarai mobil itu…, sering menghayal//
    sampai terbawa mimpi berkali-kali…
    ada dua pilihan..
    1. kita berteriak… “AKU INGIN MOBIL ITUUUUU”….
    2. kita diam saja memendam keinginan itu…

    kalo konsekwensi yg pertama kita akan malu karena teriak2, (teriak2 gpp asal gak ada yg tergaggu)
    kalo konsekwensi yg kedua kesal/kecewa jika mendengar orang teriak
    atau merasa perlu bersaing untuk mendapatkan mobil itu

    TAPIIIII

    lain halnya jika…

    1. Duit udah ada, siap beli mobil, lalu teriak…AKU MAU MOBIL ITUUUUUUUUU!!!!!
    2. Duit Udah ada tapi terus menahan-nahan keinginan tuk memiliki mobil yg di idam2kan…..

    yang no.1 ini bisa saja, diperbolehkan, untuk mecegah orang yg punya duit lain mendahulukan…
    yang no 2, ini bodoh…

    TAPPII LAGIIII

    cara yang paling indah adalah
    1. Duit Udah ada, nggak perlu teriak-teriak aku mau mobil itu, tapi langsung datengin pemilik
    setelah ijab kabul (serah terima) baru teriak kedunia…
    IIIIIINI MOOBIILLLL MILIIIIIKKK AKUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU…
    …IIINNiiiiii makan sate kambing seadanyaaaAAAAA,

    (nb : saya pernah baca hadits yg isinya kurang lebih, sembuyikan khitbah, umumkan pernikahan)
    ada di buku fiqh sayyid sabiq.

    terimakasih… saya nggak mau menggurui, sy masih lemah cuma mau mengungkapkan perasaan
    sekiranya tulisan saya ini salah mohom dihapus saja…
    Wassalamu’alaikum…

    /**********************************/

    • @ Edhoy
      ” sembuyikan khitbah, umumkan pernikahan ”
      ada di buku fiqh sayyid sabiq…………….aku ingin baca buku tersebut
      makasih yah……………….

Komentar ditutup.