the Man behind the Gun

Baru saja saya jumpai sebuah masukan menarik mengenai perbandingan antara taaruf dan pacaran islami dari seseorang yang menyebut dirinya “wn”. Ia berkata:

hmmmm…hmmm saya lebih setuju dengan konsep kaezzar ‘Man Behind The Gun’

Mau tahu konsepnya? Ini dia kata-kata kaezzar: 

… apakah kekhawatiran akan suatu penyalahgunaaan akan membuat hukum suatu hal berubah menjadi haram?

Pejabat, presiden, anggota dewa…polisi, auditor, juri,…semua jabatan rawan korupsi.
Menjadi petinggi negara…rawan terbawa intrik2 politik yg kotor…
Tapi apa iya karena itu kita serta merta larang umat untuk memeluk profesi di atas?

Arisan ibu2, akan sangat rawan ghibah…
Tapi apa iya karena itu kita akan mengharamkan arisan?

Jalan2 ke mal yang akan memancing pemborosan. Belum lagi pemandangan aurat yang bertebaran di sana sini… Tapi apa iya karena itu kita akan mengharamkan jalan2 ke mal?

Sama persis dengan pacaran…
Ada yg berzina, ada yg jadi alasan untuk pegang sana-sini, ada yg menjadikannya ajang pelampiasan nafsu, dll
Tapi apa iya karena ada beberapa orang yg melakukan itu, maka hukumnya jadi haram?

Kalau iya, bagaimana statusnya dengan arisan…menjadi pejabat…berjalan2 di mal…
Bukankah kalau kekhawtiran dijadikan alasan, maka ini sudah cukup kuat untuk mengubah status kehalalan mereka menjadi haram?

Masalah ketakutan akan adanya salah tafsir akan pacaran Islami memang bisa dimaklumi, saya sendiri juga mengakui itu. Karena kalau cuma dibaca sepintas

Pacaran dalam Islam itu boleh…

Maka bagi mereka yg berpikir
Pacaran = pegang2an, cium2an, sampe ML
Ini seperti legalisasi…padahal bukan itu kan yang dimaksud.
Lalu salah siapakah itu…kita yg berpendapat…atau mereka yang cuma membaca setengah2?

Bagaimana dengan belajar Al Quran
Apakah ini tidak rawan salah tafsir?
Salah menfsirkan Qur’an atau Hadits sangatlah berbahaya…
Tapi apakah karena itu, lantas kita tidak boleh mempelajarinya? Apa kita ngga boleh belajar sendiri?

“Belajar sama ahlinya dong…kan banyak ustadz, jadinya g salah kaprah…”

Oke…tapi bagaimana kalau ustadz itu juga salah tafsir, namanya juga manusia kan?

Kalau sudah begini, nanti g ada habisnya…

Di mata saya pacaran islami dan taaruf adalah sebuah solusi yang harus berjalan beriringan.
Sebab manusia itu berbeda2…
Ada yang lebih baik taaruf, ada yang lebih baik pacaran islami, tergantung dari banyak faktor.
Kalau manusia yang bermacam2 karakter dipaksakan untuk menjalani taaruf, maka hasilnya malah jadi kurang optimal

Pacaran memang bukan sebuah solusi sempurna, tapi saya berani juga mengatakan bahwa taaruf bukanlah sebuah solusi tunggal tanpa cacat. Banyak sekali celah2 yang bisa dimanfaatkan dari kegiatan ini, yang nantinya malah membawa keburukan.

Contohnya?
Saya kira anda malah lebih tau n_n

Salah satu contohnya bisa dilihat di https://pacaranislami.wordpress.com/2008/01/22/mau-pacaran-islami-ataukah-taaruf-non-islami/