Konsultasi: Perlukah Cepat-Cepat Menikah?

Saya sudah dilamar oleh ikhwan melalui mediator. Akan tetapi, saya belum untuk siap menikah, karena study kuliah saya. Sedangkan, banyak ikhwan lain yang datang untuk mengajak berta’aruf. Saya tolak dengan halus dengan alasan belum siap tadi. Lalu, saya sadar hati ini telah condong pada salah satunya. Pada awalnya kita komunikasi melalui mediator, lalu lama-kelamaan, komunikasi itu langsung terjadi dua arah. Tetapi, hanya sebatas lewat e-mail, Yahoo Messanger, dan SMS. Kami tidak pernah bertemu secara langsung meskipun sangat dimungkinkan. Jujur, hati ini tidak mampu untuk saya kuasai. Ingin rasanya menyegerakan menikah. Saya masih semester empat dan masih menunggu kira-kira dua tahun lagi. Sementara ihkwan tadi telah bekerja. Kendala yang saya hadapi ialah terkadang saya tidak konsisten dalam
memperlakukan ikhwan satu dengan yang lainnya. Harusnya saya bisa adil untuk tidak berkomitmen dulu, tapi perbincangan dengan ikhwan tadi sudah saling setia untuk menunggu waktu itu tiba. Lalu, perasaan ingin bertemu selalu hadir dalam perasaan ini. Apakah, sebaiknya saya menyegerakan menikah saja? Karena saya takut untuk berzina hati terlalu lama.

“Zina hati” adalah “mengharap-harap kesempatan untuk berzina” atau “memelihara hasrat untuk berzina”. Dari kata-kata ukhti, saya tidak melihat adanya zina hati pada diri ukhti. Ataukah ukhti mengira bahwa “kecondongan hati” terhadap si dia merupakan “zina hati”? Ketahuilah bahwa kecondongan hati itu merupakan rasa cinta, sedangkan rasa cinta itu halal dan bukan tergolong “zina hati”. (Lihat artikel “Pengertian zina-hati dan mendekati-zina lainnya“.)

Pilihan cepat-cepat menikah atau pun menunggu kesiapan itu sama-sama mengandung peluang dan risiko. Bila menunggu kesiapan, ukhti berpeluang “berumahtangga dengan lebih tertata”. Sedangkan risikonya adalah “mendekati zina”. Sebaliknya, jika cepat-cepat menikah, ukhti berpeluang “menjauhi zina”, tetapi risikonya: “berumahtangga dengan kurang tertata”.

Pada kasus ukhti, yang tampak belum siap menikah, saya sarankan ukhti mempersiapkan diri (bersama si dia), bukan sekadar “menunggu”, sampai sekitar dua tahun itu.

Sementara itu, menghindari tatap-muka memang bagus untuk mencegah perzinaan. Namun kalau takkan pernah tatap-muka sama sekali, itu sudah berlebihan. Sebab, bertemu secara langsung itu perlu supaya lebih saling-kenal. (Tentu saja, kalian tak harus sering-sering bertemu. Sebulan atau dua bulan sekali mungkin sudah memadai.) Sedangkan usaha mencegah zina tetap bisa dilakukan ketika terjadi tatap-muka. Lihat artikel Jurus-jurus Penangkal Zina.

Oh ya, untuk contoh risiko “mendekati zina”, silakan simak artikel Kalau aktivis dakwah lakukan taaruf yang tidak islami.

Adapun untuk contoh risiko “berumahtangga dengan kurang tertata”, berikut ini saya kutipkan berita dari Jawa Pos, 8 Maret 2008:

Konflik sejak Tiga Bulan Menikah

Salah satu akar perpecahan rumah tangga aktor Willy Dozan dan Chika Revieta, 21, adalah singkatnya masa pacaran. Menurut Willy, dirinya menikahi Chika hanya beberapa bulan setelah mereka pacaran.

“Sebagai mualaf, saya ingin mematuhi ajaran agama. Menurut sejumlah teman saya yang ustad, saya ini sudah nggak pantas pacaran. Itulah kenapa saya putuskan untuk segera menikah,” kata pria kelahiran Magelang, 10 Februari 1957 itu.

Namun, hubungan singkat yang langsung dilanjutkan dengan pernikahan itu malah menjadi bumerang. Willy maupun Chika baru menyadari banyaknya perbedaan di antara mereka setelah resmi menjadi suami-istri. Willy menyebut masalah dalam rumah tangganya sebagai perbedaan visi dan misi.

Bintang laga yang terkenal dengan sinetron Deru Debu itu mengatakan, hanya dalam waktu tiga bulan setelah ijab kabul pada 20 Juli 2007, benih-benih masalah sudah tampak di antara dirinya dan sang istri. “Kami sama-sama keras. Bedanya, dia lebih meledak-ledak dan saya diam,” jelas mantan suami Betharia Sonata itu.

Konflik berlarut-larut itu membuat Willy dan Chika akhirnya memutuskan untuk berpisah saja.

7 thoughts on “Konsultasi: Perlukah Cepat-Cepat Menikah?

  1. terimakasih ini sekaligus menjawab masalah saya selama dua tahun ini,pertanyannya bagaimana cara kita menyampaikan isi hati (karena enggan menyimpan terlalu lama) bila ternyata kita belum siap menikah?atau meminjam istilah abg “nembak”

  2. Bismillahiraahmanirrahim
    Mungkin saya yg paling bingung jika ada ikhwan dan akhwat yg telah menggebu-begu perasaan cintanya (seperti kasus ukhti di atas) namun dengan dalih belum siap nikah akhirnya membiarkan perasaannya itu menyiksa dirinya. Ketahuilah wahai PARA IKHWAN DAN AKHWAT….munculnya perasaan seperti itu adalah bentuk kesiapan anda untuk memasuki jenjang pernikahan. Jangan jadikan pertimbangan dunia merusak keinginan anda melaksanakan sunnah rasul. Nikah memang perlu dirancang sedemikian rupa agar tidak jadi bumerang nantinya…alasan belum kerja…masih kuliah…dan setumpuk alasan lainnya itu hanyalah bisikan syetan untuk menjerusmuskan perasaan cinta kita ke dalam zina, dan alasan itu menjadi tidak masuk akal di mana pada sisi yg lain kita telah menggebu gebu.
    Bismillah segerakan menikah
    Tafaddal
    Wassalam

  3. @ Rusdi
    Katakan saja terus-terang isi hatimu dan sejauh mana kesiapan dirimu.

    @ ikhwan fillah
    Allah lah yang Mahatahu apakah alasan tsb “bisikan syetan” atau justru “bisikan malaikat“.
    Pada kenyataannya, Abu Hurairah r.a. yang belum siap menikah tidak didesak segera menikah oleh Nabi saw.
    Saya hanya mengikuti sunnah beliau. Semoga antum juga demikian.

  4. @ikhwan fillah

    lebih baik dihusnudzankan saja
    kalo masih ragu kan mending dipersiapkan dulu
    menyegerakan nikah itu bukan cepet2 nikah kan

    contoh Rasul dan bunda Khadijah rasanya jelas sekali memperlihatkan kehati2an Rasul, dimana keinginan sudah ada namun Rasul masih merasa belum mampu, bahkan disuruh mencari pekerjaan dahulu kan…tapi karena bunda Khadijah mampu meyakinkan ttg semua keragu2an Rasul, maka akhirnya Rasul menerima pinangannya…
    Is it a really wonderful and perfect example for 4 right? n_n

    Wassalam
    Wassalam

  5. Ping-balik: Supaya Siap Menikah « Pacaran Sehat

  6. aku pingin sekali mempunyai teman yang bisa diajak untuk bersahabat khusus cewek yang apabila dia cocok aku bisa menjadikannya pendamping hidupku

Komentar ditutup.