Kemaksiatan Yang Paling Dungu

Ibnu Hazm menyatakan “tak pernah melihat setan menggunakan tipu daya yang lebih jahat, lebih buruk dan lebih dungu, daripada ketika dia meletakkan dua frasa ke dalam lidah orang yang mengikutinya. Pertama adalah ketika seseorang berdalih terhadap perbuatan jahatnya sendiri dengan alasan bahwa orang lain juga pernah melakukan perbuatan seperti itu. Kedua adalah ketika seseorang beralasan bahwa perbuatan jahatnya hari ini adalah karena dia telah berbuat jahat kemarin, atau dia berbuat salah dengan alasan karena dia pernah melakukannya dengan alasan yang lain.” (Bijak dan Bahagia (Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 50)

Jelas? Jelas tak jelas, tak ada salahnya saya memperjelasnya dengan contoh-contoh untuk Anda.

Mungkin Anda pernah mendengar, sekitar seperempat dari orang yang lakukan pacaran ternyata pernah melakukan ciuman. (Lihat http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/) Di sinetron atau pun novel remaja yang mengisahkan perilaku pacaran, sering kita jumpai adegan yang menggambarkan ciuman. Lantas, seseorang berkata kepada pacarnya, “Ciuman yuk! Kita ‘kan udah resmi pacaran. Udah biasa tuh, orang pacaran pakai ciuman.” Inilah contoh kedunguan “seseorang berdalih terhadap perbuatan jahatnya sendiri dengan alasan bahwa orang lain juga pernah melakukan perbuatan seperti itu”.

Mungkin Anda juga pernah mendengar ungkapan “Sudah kepalang basah, mandi saja sekalian”. Ungkapan ini tak jarang disalahgunakan di kancah asmara di luar nikah. “Sudah cium bibir, bersanggama saja sekalian.” Inilah contoh “seseorang beralasan bahwa perbuatan jahatnya hari ini adalah karena dia telah berbuat jahat kemarin”.

Seharusnya, kalau pun sudah “terlanjur” mendekati zina atau bahkan sudah berzina, bertaubatlah! Orang-orang yang bertaubat itu, “kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Furqân [25]: 70) “Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi [di surga] lantaran kesabaran mereka; mereka di dalamnya disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat.” (QS al-Furqân [25]: 75)