Konsultasi: Lebih berat daripada guna-guna

Ass. Wr. Wb. Ustad, saya gadis usia 23. saya bingung dengan masalah yg saya hadapi, tidak dipercaya tapi benar2 terjadi. awalnya saya tidak mau ambil pusing dengan masalah ini. tapi lama kelamaan dalam diri saya muncul rasa takut. berbagai cara telah saya lakukan selain mendekatkan diri kepada Allah. inti masalahnya tiap dekat dengan cowok pasti hubungan saya tidak akan bertahan lama. dan kejadian itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja tetapi sudah sangat sering sekali. tiba-tiba saja cowok2 itu memutuskan hubungan dan tak pernah kembali padahal selama ini hubungan kami baik2 saja tanpa ada permasalahan. alias mereka hilang tanpa kabar. padahal hati ini sudah sangat ingin berumah tangga.

sudah sangat lama saya bertahan, bersabar menghadapi masalah ini. tapi sampai sekarang masalah ini belum juga terselesaikan. tanpa bersuudzon pada seseorang saya pernah diikat dalam arti agar sulit jodoh dan pekerjaan naudzubillah mindalik. tapi berkat doa2 saya sekarang alhamdulillah orang itu sudah insyaf bahkan sekarang dia sangat baik pada saya. tapi kejadian yang saya alami tidak hanya berhenti sampai disitu saja. masalah2 itupun sampai sekarang belum terselesaikan.

beberapa minggu yang lalu ada seseorang yang mengatakan pada saya bahwa kejadian yang saya alami itu yang orang jawa bilang kesiku naudzubillah mindalik. kesiku itu jauh lebih berat dari guna2 kata orang itu. orang itu mengatakan pada saya bahwa dari leluhur saya yaitu kakek buyut saya sebelum beliau wafat beliau punya nadzar yang belum kesampaian dan hal itu turun ke anak cucunya yang sangat beliau cintai. dan saya ini adalah cucunya.

rasanya saat itu saya benar2 tidak bisa berpikir. salah apa saya? dosa apa saya? saya tak pernah tahu bagaimana dan seperti apa kakek buyut saya tapi kenapa semua itu harus jatuh pada saya? jika memang saya bisa memenuhi nadzar beliau pasti saya akan melakukannya agar di alam sana beliau tenang. tapi saya dan keluarga benar2 tidak pernah tahu nadzar apa yang telah diucapkan kakek buyut. tiap malam saya tak henti2nya berdoa pada Allah agar diberikan petunjuk tapi sampai sekarang belum juga ada tanda yang terang.

Ustad, saya benar2 sangat putus asa. desakan ortu, cibiran tetangga, teman dan saudara menambah berat beban saya. sedangkan adik sayapun seakan tidak peduli dengan apa yang saya alami. Ustad, saya benar2 takut kalau saya akan di dahului adek saya. ikhtiar, sabar dan ikhlas coba saya pertahankan dari bertahun tahun sampai detik ini. Ustad, saya sangat mengharap kesediaan ustad membantu saya.

terima kasih dan Wass. Wr. Wb.

-Eci

Jawaban M Shodiq Mustika:

Wa’alaykumus salaam warahmatullaah wabarakaatuh.

Masalah Eci ini lumayan berat. Ada banyak variabel yang mempengaruhinya. Konsultasi sejumlah satu kali di sini mungkin belum mencukupi. Namun dengan beberapa kali konsultasi lagi yang lebih mendalam, insya’Allah masalahnya teratasi setahap demi setahap, dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Pada konsultasi pertama ini, ada tiga hal yang perlu saya sampaikan sekarang: [1] bagaimana meringankan beban, [2] pemenuhan nadzar, dan [3] kebiasaan Eci yang “memikat”.

Pertama, untuk meringankan beban lantaran desakan ortu, cibiran tetangga, teman, dan saudara, mengenai “kapan nikah?”, banyak-banyaklah berdzikir dengan doa yang relevan dengan masalah ini. Untuk itu, sering-seringlah ucapkan doa dari Al-Qur’an, terutama doa dari Thalut beserta pasukan kecilnya ketika menghadapi Jalut beserta pasukan besarnya (al-Baqarah 250):

Rabbanâ afrigh ‘alaynâ shabrâ. Wa tsabbit aqdâmanâ. Wanshurnâ ‘alal qawmil kâfirîn. (Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah langkah kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar.)

Dengan doa tersebut, kita-dengan izin Allah-menjadi lebih kuat daripada problem yang sedang kita hadapi.

Kedua, masalah berat yang sedang Eci hadapi ini-di bawah kekuasaan Allah-sebagian disebabkan oleh lingkungan yang kurang kondusif, sebagian lainnya disebabkan oleh diri Eci sendiri. Penyebabnya bukanlah “kesiku” atau nadzar almarhum Kakek yang katanya belum terpenuhi.

Nadzar seseorang memang harus dipenuhi. Kalau tak dipenuhi (lantaran berbagai pertimbangan), kaffarat (denda)-nya harus dibayarkan sesuai ketentuan syariat.

Yang harus memenuhi nadzar ialah orang yang bernadzar itu sendiri. Ahli warisnya tidak berkewajiban memenuhinya, kecuali apabila mendapat wasiat dari yang bersangkutan untuk memenuhinya.

Pada kasus Eci ini, para ahli waris tidak tahu nadzar apa yang diucapkan oleh kakek buyut Eci (kalau memang ada nadzar yang belum terpenuhi). Ini menunjukkan bahwa para ahli waris beliau tidak mendapat wasiat untuk memenuhi nadzar. Karena tidak mendapat wasiat untuk memenuhi nadzar, para ahli waris TIDAK berkewajiban untuk itu. Wallaahu a‘lam.

Ketiga, saya lihat secara sekilas, ada beberapa kebiasaan Eci yang “memikat tapi membosankan” bagi pria pada umumnya. Mungkin inilah salah satu penyebab utama mengapa Eci gampang mendapatkan cowok, tetapi gampang pula ditinggalkan.

Sebenarnya, ada banyak potensi menakjubkan pada diri Eci yang tidak membosankan. Sayangnya, kebanyakan masih terpendam dan belum terlihat oleh para lelaki di sekitar Eci. Untungnya, masih ada peluang yang amat lebar untuk mengembangkannya. Kalau potensi ini sudah tumbuh mencuat dan berkembang, hubungan asmara yang dijalin oleh Eci dan sang cowok akan bertahan selama-lamanya-dengan izin Allah.

Apa saja kebiasaan Eci selama ini yang “memikat tapi membosankan”? Apa saja potensi menakjubkan pada diri Eci yang tidak membosankan? Tidaklah etis apabila saya mengungkapkannya di depan umum seperti di sini. Akan lebih elok kalau saya mengungkapkannya secara pribadi. Apalagi, pandangan saya ini barulah hasil dari pengamatan secara sekilas. Untuk pandangan yang lebih akurat, saya masih perlu mengenal pribadi Eci dengan lebih dekat, sekurang-kurangnya melalui e-mail.

Demikianlah jawaban saya pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat sebanyak-banyaknya.

Untuk konsultasi lebih lanjut, saya persilakan Eci menghubungi saya melalui e-mail. Silakan bercerita serinci-rincinya. Semakin rinci semakin baik. Masalah yang bersifat lebih pribadi atau lebih sensitif pun dapat diungkapkan. (Bila diminta menjaga rahasia, saya pun akan menjaganya serapat-rapatnya dengan izin Allah.)

Iklan