Konsultasi: Merasa dipermainkan dalam proses taaruf

ass ustadz… saya mau konsult, saya mahasiswi salah1 univ negri di depok usia 18th. Saya memiliki mantan yang berusia 30th. Seminggu yang lalu dia memutuskan hub dgn saya. Padahal kami dlm proses ta’aruf dan pembicaraan sudah dilakukan antara dia dan ortu saya. Tapi mengapa akhir2 itu dia sikapnya berubah kpd saya (tdk mengabari saya dan tdk memperhatikan saya lg).

Setelah saya tanya knp spt itu (bukankah itu hal yang wajar,pak?), dia justru menuduh saya curiga. Dan setelah dia pulang ke kendal utk menemui orangtuanya, tiba2 dy memutuskan hub dg saya dan hanya mengaggap saya adik. Dy sdh bersumpah demi nama Allah akan serius sama saya tp ternyata dia hanya menganggap saya adik selama ini. Pdhal dy selalu menjanjikan surga kepada saya selama ini. Apakah akhlaknya bermasalah? dan apa yang harus saya lakukan, ustadz?

Saya merasa dipermainkan. Pdhal saya sudah pernah menanyakan keseriusannya dan memberi kesempatannya utk mencari yang lebih baik tp dia tetap mau ta’aruf dengan saya. Dia sdh mapan, baik, rajin ibadah, dan selalu mengajarkan saya tauladan2 rasulallah serta sahabat2Nya. Tp kenapa dia tega mengecewakan saya? apa yang harus saya lakukan? semaksimal mungkin saya selalu berdoa dan memohon keridhaan allah atas kehadiran ikhwan saya tersebut. Mohon sarannya, ustadz, karena sampai saat ini saya belum bisa melupakan perbuatannya yang seolah2 menghina saya dengan sikapnya walaupun saya sudah ikhlas.

–Dina

Jawaban M Shodiq Mustika:

Wa’alaykum salam, ukhti Dina.

Baguslah ukhti mampu ikhlas walau merasa dihina. Berikut ini jawaban saya.

1) Apakah tanya kenapa sikapnya berubah itu wajar? Ya, wajar. Tapi, apakah menuduh si penanya curiga itu tidak wajar? Eit, itu wajar juga!

Kalau tak percaya, lihat saja interaksi antara saya dan istri saya. Sudah belasan tahun kami berumahtangga, yang didahului oleh masa “taaruf” (perkenalan) selama 9 tahun. Sampai saat ini, terkadang kami masih mengalami masalah seperti itu. Terkadang saya mengajukan suatu pertanyaan yang menurut saya wajar, tapi istri saya menyampaikan jawaban yang seolah-olah menanggapi “kecurigaan” saya; dan demikian pula sebaliknya. (Hanya saja, biasanya kami kemudian sama-sama memaklumi dan tidak memperuncing permasalahan.)

Mengapa kesalahpahaman seperti itu terjadi? Sebab, setiap kali kita berkomunikasi, biasanya si pembicara berfokus pada apa yang dia ucapkan dan kurang memperhatikan bagaimana dia mengucapkan kata-kata. Sebaliknya, si pendengar cenderung berfokus pada bagaimana si pembicara mengucapkan kata-kata dan kurang memperhatikan apa yang dia ucapkan.

2) Apakah akhlaknya bermasalah? Kalau gampang/sering menuduh tanpa bukti, mungkin akhlaknya agak bermasalah, tetapi tampaknya masalahnya tidak besar-besar amat. Masalah intinya bukan di situ, melainkan pada proses taaruf yang kurang efektif.

Tampaknya sering terjadi kesalahpahaman pada kedua pihak, tetapi keduanya kurang menyadarinya. Kalau pun menyadarinya, masing-masing hampir selalu menyalahkan pihak lain. Padahal, kedua pihak sesungguhnya sama-sama memiliki andil dalam menyebabkan kesalahpahaman itu.

3) Kenapa dia tega mengecewakan ukhti? Mungkin karena dia tidak tega untuk lebih mengecewakan ukhti bila melanjutkan hubungan, mungkin juga karena dia tidak tega untuk mengecewakan orangtuanya.

4) Sekarang, sebaiknya ukhti Dina bersahabat secara akrab dengan beberapa pria sekaligus. Jadilah pendengar yang baik. Dari mereka, ukhti akan mendapat banyak masukan yang berharga mengenai persepsi laki-laki dan bagaimana mereka mengambil keputusan. Dengan demikian, insya’Allah ukthi mampu menjalani proses taaruf dengan lebih efektif.

Demikian saran saya. Mudah-mudahan berfaedah.

Iklan

2 thoughts on “Konsultasi: Merasa dipermainkan dalam proses taaruf

  1. Ping-balik: Konsultasi: Masih mengharap tapi takut disakiti lagi « Pacaran Islami

  2. Ping-balik: Ketika ikhwan tercinta mengingkari janjinya kepada akhwat « Pacaran Islami

Komentar ditutup.