Konsultasi: Masih mengharap tapi takut disakiti lagi

Pak.. saya telah disakiti laki laki yang saya kira akan menjadi suami saya, ternyata tiba tiba dia bilang, yakin dengan wanita lain, Saya ditinggalkan untuk kedua kalinya. Saya mendekatkan diri kepada Allah dengan sholat dan berdoa, untuk berserah diri,tapi kenapa hati saya masih mengharap dan yakin bahwa laki laki itu akan kembali pada saya

semua teman dan saudara menyarankan saya untuk menutup hati saya dengan alasan harga diri saya dan laki laki itu telah menyakiti saya. Saya disarankan untuk memutus tali silaturahim dengan laki laki itu karena nanti saya akan luluh dan bisa jadi akan disakiti lagi.

Saya bingung karena pikiran dan perasaan saya tidak sejalan, bagaimana saya bisa membaca petunjuk Allah dalam keadaan seperti ini

saya takut perasaan lebih banyak bermain daripada logika, dalam tidur saya masih bermimpi tentang dia, saya takut ini petunjuk atau cuma emosi saya saja, semuanya berlawanan dngan keadaan sekitar saya yang meminta saya untuk melupakannya.

Sampai saat ini laki laki itu masih sms dengan saya, sekedar minta maaf atau mendukung saya agar tetap semangat dalam menjalani hidup selanjutanya, meskipun dia sudah memilih wanita lain. meskipun dia belum menikah tapi dia meminta saya untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk bahwa dia akan menikah dengan wanita pilihannya sekarang.

Apa yang harus saya lakukan? Tolung ya pak..

Jawaban M Shodiq Mustika:

Memang menyakitkan, ditinggalkan oleh orang yang kau harap menjadi teman “sehidup semati”. Sekali saja sudah sakit, apalagi dua kali. Sekalipun demikian, syukurlah kau sungguh-sungguh berusaha mengobatinya dengan berserah diri kepada Allah, antara lain dengan dzikir berupa shalat dan doa.

Kalau dengan usaha itu kau masih mengharap dan yakin bahwa laki-laki itu akan kembali kepadamu, maka itu tidaklah menunjukkan kegagalanmu dalam berdzikir. Sebab, manfaat dzikirlah bukanlah menghilangkan harapan, melainkan menenteramkan. “Ingatlah, dengan mengingat Allah itu hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du [13]: 28)

Bagi sebagian orang, yang menenteramkan adalah lenyapnya harapan. Namun bagi sebagian lainnya, yang menenteramkan adalah masih adanya harapan. Tampaknya kau termasuk dalam kelompok yang kedua ini.

Kalau benar begitu, maka saran “memutus hubungan secara total atau menutup diri supaya tidak disakiti lagi” mungkin kurang tepat. Saran tersebut bisa tepat-ini pun hanya untuk sementara-ketika kau sedang berada dalam keadaan “darurat”, misalnya kurang mampu menahan emosi, sehingga gampang luluh oleh rayuan gombal, mudah sakit hati, dsb. (Kalau kau mau tahu apakah kau sedang cenderung kurang mampu menahan emosi, silakan ikuti Kuis Psikiatri: Apakah Anda cenderung mampu menahan emosi?)

Kalau kau sekarang cenderung mampu (atau agak mampu) menahan emosi, maka saran saya:

Supaya tidak terlalu sakit tatkala disakiti, kau bisa menggunakan “rumus fisika” bahwa tekanan itu berbanding terbalik dengan luas bidang yang tertekan. Paku yang tumpul tidak akan terlalu menekan/menyakitkan bila dibandingkan dengan paku yang tajam. Artinya, kau perlu mengurangi fokus, baik dalam perasaan/pikiran maupun tindakan.

Caranya: Jangan terlalu menaruh perhatian pada si dia, tetapi taruhlah perhatian juga pada-katakanlah-puluhan pria lainnya. Bila membaca buku, jangan cuman novel cinta melulu, tapi variasikanlah dengan bacaan lain yang sedikit-banyak jauh dari cinta. Begitu pula mengenai mendengar musik, menonton televisi, mengobrol dengan teman, dsb. Kata kuncinya: variasikanlah!

Begitu pula dalam menaruh harapan. Bila kau yakin 100% bahwa si dia akan kembali padamu, maka itu berarti kau terlalu terfokus. Bila kelak kenyataannya tak sesuai dengan harapanmu itu, maka rasa sakitnya akan luar biasa, bahkan mungkin lebih menyakitkan daripada pengalaman pahit serupa terdahulu.

Memang, boleh-boleh saja kau masih menaruh harapan padanya. Namun, akan lebih baik bila kau menaruh harapan tidak sampai sebesar itu. Harapan sebesar 10-20 persen sudah memadai. Kelak bila kenyataannya tak sesuai dengan harapanmu itu, maka rasa sakitnya tidaklah terlalu berat, hanya sebesar 10-20 persennya pula.

Sementara itu, taruhlah harapan lainnya (sebesar 80-90) persen untuk pria-pria lain. Lebih terbukalah kepada mereka, tidak hanya kepada si dia. Fleksibel sajalah.

Demikian saran saya. Untuk penjelasan lain, silakan simak artikel-artikel terkait:

Konsultasi: Ingin Pacaran Tapi Trauma

Konsultasi: Masih Mencintai Mantan Pacar

Konsultasi: Merasa dipermainkan dalam proses taaruf

Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal

Bagaimana Mengatasi Rasa Cemas (Strategi Dasar)

Bagaimana Mengatasi Rasa Cemas (Kiat Praktis)

Iklan