Supaya Siap Menikah

“Ah, nggak perlu gamang dan takut begitu… Lihat nih, Pak De mu… tiga kali menikah, tiga kali cerai, dan nggak kapok juga…” Demikian kata-kata dalam ilustrasi kartun “Gamang Memasuki Gerbang Perkawinan” di kolom konsultasi psikologi, Jawa Pos, 30 Juni 2008. Namun, saya tidak hendak membahas humor tersebut. Di sini, saya lebih tertarik untuk mengutip kalimat-kalimat terpenting di kolom tersebut.

Saya seorang pria 27 tahun. Saat ini saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta. Tahun depan saya akan menikahi calon istri yang sudah saya pacari selama 2 tahun.

Meskipun sudah memutuskan menikah, sampai saat ini saya masih merasa belum siap. Banyak hal yang membuat saya tidak siap. Misalnya, membayangkan bagaimana kehidupan saya setelah menikah, masalah keuangan, atau hal lain yang kadang membuat saya khawatir.

Sebenarnya saya tidak mempunyai masalah dengan keluarga calon istri saya. Namun, beberapa hal tersebut membuat saya merasa tidak siap menikah. Apa yang harus saya lakukan, Bu?

Hilman, Malang

Jawaban Nalini M. Agung (Psikiater):

… Pria sering kusut membayangkan tanggung jawab yang mesti dipikulnya lantaran kebanyakan budaya menaruhkan seonggok beban di punggung pria yang sudah menikah. Setelah menikah, mereka “disuruh” jadi komandan keluarga. Satu paket dengan tugas berat menyediakan nafkah keluarga, bakal menghidupi, menyekolahkan anak-anaknya, mencukupi kebutuhan lahir-batin keluarga, dan sederet lainnya….

Ditambah lagi, mereka “ngeri” harus kehilangan kebebasan untuk kapan saja bisa bergaul dengan teman-temannya. Juga, mesti serius dengan pasangannya. Wuihh….

Jadi, apa yang Anda alami masih lumrah, sepanjang nggak kelebihan dosis. Mungkin Anda perlu memandang perkawinan dari kacamata yang lebih cerah. Tidak sekadar terdiri dari sederet kewajiban dan hilangnya kebebasan. Perkawinan adalah bagian dari tugas perkembangan.

Mengalir sajalah. Dan satu lagi, beranilah mengambil resiko. Apakah nanti berjalan mulus atau banyak halangan, itu biasa. Persoalan mesti diatasi, dan pasti muncul dalam setiap bentuk perkawinan. Bergantung intensitas masalah. Bahwa nanti masalahnya kok ternyata sulit banget, ya itu masalah nanti….

Yang penting, justru pada kesepakatan Anda dan calon istri. Udah sreg, belum? Kayaknya Anda tak punya ketakutan untuk menikah, hanya masih belum siap secara mental dan finansial untuk sementara. Ini semacam “penyakit” yang banyak beredar di kalangan pria yang memasuki gerbang perkawinan.

Bagaimana bila Anda menunda perkawinan barang setahun-dua tahun lagi? Sembari mengisi pundi-pundi tabungan lebih penuh lagi. Anda [pun] bisa ngomong-ngomong lebih intensif dengan calon istri, hingga Anda lebih siap dan yakin mengatakan, “It’s time to get married.

Tambahan jawaban dari M Shodiq Mustika (di KTP tertulis: Ustadz/Mubaligh):

Supaya Mampu Menikah

Disamping miskin harta, ada pula jenis-jenis “miskin” lainnya yang menjadikan sebagian diantara kita belum mampu menikah. Diantaranya: “miskin hati” (misal: sulit mencintai), “miskin jiwa” (misal: takut berumahtangga), dan “miskin akal” (misal: kurang mampu mengatasi kebelummampuan untuk menikah). Namun, apa pun jenis “kemiskinan” kita, karunia Allah akan menjadikan kita mampu menikah. Sebab, Allah itu Mahaluas karunia-Nya.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu…. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nuur [24]: 32)

Oleh karena itu, kalau Anda menghendaki karunia Allah tersebut, sehingga mampu menikah, silakan amalkan dzikir cinta:

Wallâhu wâsi‘un ‘alîm.
(Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui.)
(QS an-Nisaa’ [4]: 32)

Iklan

6 thoughts on “Supaya Siap Menikah

  1. Ping-balik: Konsultasi: Ingin nikah tapi belum mapan « Pacaran Sehat

  2. pengalaman antum sama seperti yang sedang ana alami skrng. ana hampir stres menghadapi pernikahan yang tinggal beberapa bln lg.

  3. Numpang iklan ya mas,,, saya Ikhwan, thirty years old cari tmen buat pendamping hidup. Call/sms saya di 085664649898.

  4. Ping-balik: Mufiany's Blog

Komentar ditutup.