Curhat: Ketika Harus Pacaran

Saya pernah mendapat saran dari seorang pembaca blog ini mengenai kapan masa yang tepat untuk pacaran: SD, SMP, SMA, ataukah sesudahnya, khususnya bila dikaitkan dengan tujuan pacaran. Kebetulan, saat browsing tadi malam, saya menjumpai sebuah curhat yang relevan dengan persoalan tersebut. Saya mendapatkannya dari CPU’s Life Journey: Ketika Harus Pacaran.

Curhatnya agak panjang, namun sebaiknya kita menyimaknya secara lengkap supaya kita bisa memahami pandangan si pencurhat di akhir curhatnya. Ini dia curhatnya:

“Ngapain lo beli buku ginian? Emang masih zaman?”, seorang teman bertanya melihat satu dari empat buku yang jumat (26/10/2007) pagi saya beli di bursa NF. Buku itu berjudul sama dengan judul postingan ini. Buku kecil ini memang terlihat kontras dengan tiga buku lainnya yang saya beli disaat bersamaan. Berbeda dengan tiga buku lainnya yang akan saya konsumsi sendiri, buku ini memang rencananya akan saya hadiahkan kepada salah seorang mentee baru di SMP yang duduk di kelas VII. Ya… sekedar buat pembekalan sekaligus mengenalkan mereka pada buku-buku islami. Sampai saya menulis paragrap ini, buku itu belum saya baca. Skimming pun tidak. Waktu memilih, saya sangat tertarik dengan judulnya.

Berbicara soal pacaran, ini hal yang membuat saya terlihat aneh di keluarga dan di lingkungan sekitar rumah. Ya.. aneh karena punya pandangan/konsep yang berbeda tentang pacaran paling tidak sampai saat ini. Ibu saya anak terakhir sedangkan bapak anak pertama. Apa ngaruhnya? Konsekuensinya adalah, dibandingakan sepupu lainnya, saya cucu termuda pada keluarga ibu sedangkan pada keluarga bapak saya cucu laki-laki tertua. Sepupu dari keluarga ibu sebagian besar sudah menikah pada usia diatas 25 tahun. Sebelumnya mereka berpacaran rata-rata dua sampai empat tahun dengan wanita yang kini menjadi istrinya. Pacarannya pun cukup berkelas, cuma sekali dan berakhir di pelaminan. Ketika saya sekeluarga bersilaturahim ke rumah kakak dari ibu saya, terutama saat-saat lebaran, teman wanitanya tersebut sudah terlihat seperti keluarga sendiri walaupun statusnya waktu itu masih pacaran. Seharian penuh membantu calon mertua di rumah menyambut keluarga yang datang. Bantu menyiapkan makanan, ngobrol dengan kita para sepupunya tanpa canggung, dll.

Di keluarga bapak lain lagi ceritanya. Soal yang satu ini, saya kalah jauh dengan dua adik sepupu laki-laki saya, Andri (20th) dan Angga(15th). Andri sudah beberapa kali pacaran. Kok bisa ya? Padahal saya kenal benar dengan dia karena 10 tahun sekolah bareng (dari TK sampai SMP). Dia anak yang pendiam, pemalu, dan kurang supel. Mungkin banyak yang berubah setelah SMP. Saya pertama kali mengetahui wajah pacarnya saat mau meminjam kamera digitalnya untuk dibawa ke Lampung. Ternyata seorang wanita berjilbab (lumayan rapi) yang katanya bertemu di tempat mereka bekerja. Terakhir Andri menunjukkan foto-foto bersama mereka lewat HP pacarnya (lagi tukeran). Nah, klo Angga beda lagi. Dia pacaran dengan anak ustadz sekitar yang usianya dua tahun lebih tua. Sempet tidak percaya, tapi ini dibenarkan oleh ibunya sendiri. Walau keliatannya parah, pas saya tanya pacarannya ngapain aja dia mengaku, “ga ngapa-ngapain, apalagi pas dia (si anak Ustadz itu) dikirim ke pesantren pas SMA”.

Kondisi ini sedikit banyak memberi tekanan terutama saat lebaran kemarin. Saat kumpul di keluarga ibu hal paling sering ditanyakan pada saya adalah masalah kuliah (jurusan apa, dah semester berapa, kapan lulus). Diantara sepupu lainnya hanya saya yang belum menyelesaikan kuliah, jadi masih dianggap anak bawang. Pertanyaan tentang pacar juga tidak kalah sering, walaupun terkadang dengan nada iseng. Kalau di keluarga bapak, yang paling sering masalah pekerjaan (kerja dimana, dah mapan). Anak seumuran saya di keluarga (trah) dan lingkungan bapak di kampung biasanya sudah pada mandiri. Tentang pacar juga hampir selalu ditanyakan. Yang satu bertanya tentang kuliah dan pacar, yang satunya soal pekerjaan dan pacar. Apa pacaran sudah menjadi hal wajib sehingga menjadi topik primer yang musti dibicarakan?

Ketika saya bilang belum punya pacar, ada yang tidak percaya (masa sih ga ada yang mau?). Ketika saya bilang belum mau pacaran, sebagian besar heran (emangnya ga ada yang cantik di kampus?). Ketika saya bilang nanti aja pacarannya klo dah nikah, sepertinya semua orang tidak percaya (masa pacaran abis nikah trus kenal calon istrinya gmn?). Mereka malah memberikan saran supaya pacaran sebelum nikah. Klo di keluarga ibu biasanya, “Liat Mas Ini dan Mas Itu, pacaran dulu sampe bertahun-tahun, jadinya pas nikah udah bener-bener cocok dan saling kenal. Rumah tangganya langgeng kan”. Klo di keluarga bapak biasanya lebih ke tekanan, “Masa kalah sama Andri, dia aja udah berani ngenalin ceweknya ke orang tua, pake jilbab lagi.”

Di internal keluarga sendiri, saat ini sebenarnya tidak ada larangan untuk berpacaran. Kedua kakak saya membolehkan. Bapak juga demikian dengan syarat bisa jaga diri. Nah, Ibu juga tidak melarang klo mau pacaran, yang penting kalau mau nikah nanti diatas usia 25 tahun.

Sebenarnya saya tidak pernah mau ambil pusing dengan hal-hal diatas. Tapi entah mengapa… berbagai realita, saran, tekanan, dan peluang ada di depan mata dengan begitu terbukanya. Coba membaca buku yang baru saya beli tadi, mungkin ada jawabannya. Pas skimming, ternyata tidak sama sekali! Buku itu didesain untuk para remaja (ABG) yang baru puber. Jadi domain masalahnya dan penyikapannya memang berbeda. Terlalu kadaluarsa buat saya. Saya kira tantangan untuk [tidak] berpacaran berakhir setelah lulus SMA. Ternyata memasuki babak baru. Haruskah menerima saran dengan sedikit memanfaatkan peluang atau tetap mempertahankan prinsip berdasarakan pemahaman? Apa Kata Dunia Persilatan Nantinya?

Kata saya sekarang, ya…. saya sependapat bahwa masa pacaran yang paling ideal adalah setelah lulus SMA (atau 19 tahun ke atas). Sebab, ketika itulah kita sudah mulai serius merencanakan pernikahan. (Ingat, makna asli istilah pacaran adalah persiapan menikah. ) Muda-mudi di masa sebelum itu biasanya belum hendak akan menikah, bukan?

4 thoughts on “Curhat: Ketika Harus Pacaran

  1. assalamu’alaikum

    memang bnyk yg memutuskan mulai pacaran stlh usia menginjak dewasa(17 keatas)…alasannya macam2,salah satunya yg sering dipakai adalah sarana untuk mencari calon pendamping..

    apa bnr ky gt? kenyataannya itu cm alasan klise. fakta aslinya ya cm mau ngumbar nafsu n biar ga dibilang kuper.

    biar mereka sepakat melakukan pacaran islami tetap saja pd prosesnya tdk ada yg sejalan dgn aturan2 yg ada di agama.

    pesan saya untuk siapa aja yg lg pengen bgt ngerasain sensasi pacaran (red:sebelum nikah) atau yg msh melakukan lebih baik segera stop semuanya..pacaran sblm menikah itu tdk diperbolehkan dlm agama,itu cm pintu gerbang menuju maksiat..

    kalau antum semua mau bersabar sampai seseorang yg ditakdirkan bersama antum itu datang,insyaAllah antum akan benar2 bersyukur krn udh terhindar dr dosa dan kenikmatan pacaran setelah menikah itu akan antum dapatkan

  2. @ ‘aisyah

    Pacaran setelah menikah itu MUSTAHIL. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2008/07/05/pacaran-sesudah-menikah-lebih-nikmat/

    Mengenai fenomena pacaran, apakah selalu ada perzinaa di dalamnya? TIDAK. Silakan periksa bukti ilmiahnya di http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/

    Mengapa antum bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali? Bertaubatlah! Kajilah http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh/

    wa’alaykum salam.

  3. Ping-balik: Ortu menyuruh cari pacar, asyik dong! « Pacaran Sehat

  4. Ping-balik: Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik « Indonesia Hot

Komentar ditutup.