Sulitkah menjaga hati dalam pacaran islami?

Konon, mempraktekkan pacaran islami itu sulit. Apanya yang sulit? Sesulit apa? Apakah jauh lebih sulit daripada mempraktekkan rumahtangga islami? Kalau memang sulit, apakah masalah ini tidak bisa diatasi? Kalau bisa diatasi, bagaimana caranya?

Berikut ini saya kutipkan sepenggal paragraf dari blog seorang pemuda:

Yang SULIT dari praktek pacaran Islami adalah MENJAGA HATI. apa jadinya bila setiap saat aku selalu mengingat si dia (wanita non muhrim yang aku cintai) mengalahkan mengingat Allah. lebih banyak mengingat dia dari pada mengingat Allah
lebih rindu ingin bertemu dan berjumpa dengan dia daripada rindu ingin bertemu Allah,
itu artinya LEBIH MENCINTAI DIA DARIPADA MENCINTAI ALLAH dan Rasul-Nya serta Jihad di jalan-Nya. Padaahal mencintai sesuatu melebihi mencintai Allah, Rasul dan jihad adalah haram hukumnya. Kalau seperti ini, pacaran Islami yang kita lakukan jadi tidak Islami lagi malah jadi pacaran yang haram.

Hmmm…. begitu, ya? Renungannya bagus banget. Saya jadi teringat pada keadaan diri saya akhir-akhir ini. Sudah belasan tahun saya berumahtangga, ternyata….

Yang SULIT dari praktek rumahtangga Islami adalah MENJAGA HATI. Apa jadinya bila setiap saat aku selalu mengingat si mereka (istriku dan anak-anakku yang aku cintai) mengalahkan mengingat Allah. Kalau lebih banyak mengingat mereka daripada mengingat Allah, lebih rindu ingin bercengkerama dengan mereka daripada rindu ingin “bercengkerama” dengan Allah, itu artinya LEBIH MENCINTAI MEREKA DARIPADA MENCINTAI ALLAH dan Rasul-Nya serta Jihad di jalan-Nya. Padahal, mencintai sesuatu melebihi mencintai Allah, Rasul dan jihad adalah haram hukumnya. Kalau seperti ini, rumahtangga Islami yang kita lakukan jadi tidak Islami lagi, malah jadi rumah tangga yang haram.

Nah, ternyata sulitnya menjaga hati dalam pacaran islami dan rumahtangga islami itu mirip, ya? Sama sulitnya! Yach, setidak-tidaknya yang saya rasakan, menjaga hati dalam rumahtangga islami itu tidaklah lebih mudah daripada sewaktu menjalani “pacaran islami”.

Dulu, sambil “pacaran islami”, saya dapat melakukan aktivitas dakwah (berjihad di jalan Allah) secara intensif. Waktu saya dapat saya habiskan dengan lebih lama di masjid. Saya pun bisa menjalankannya dengan agak ehm, ehm… teratur. Hati saya disibukkan oleh ibadah dan dakwah di jalan Allah.

Kini, hati saya disibukkan oleh kerja, kerja, dan kerja. Tak jarang saya dihantui oleh pikiran: bagaimana saya mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak? (Lihat kisah Penulis Romantis #1 dan Penulis Romantis #2.)

Memang, kerja saya pun masih di bidang dakwah. Namun, saya tidak tahu apakah malaikat pencatat amal itu mencatat kerja saya sebagai dakwah murni ataukah sebagai amal yang tercemari oleh kepentingan duniawi.

Jadi, baik semasa pacaran maupun berumahtangga, menjaga hati itu sulit. Hanya saja, apabila kita mampu melatih hati semasa pacaran, maka kita pun akan cenderung mampu pula menjaga hati semasa berumahtangga. Diterangkan oleh Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Kebebasan Wanita, Jilid 3 (hlm. 313), bahwa “fitnah” (dalam arti “potensi kerusakan”) pada pergaulan pria-wanita di luar nikah itu merupakan fitnah biasa “yang telah ditakdirkan Allah bagi anak cucu Adam untuk menguji mereka.” Beliau pun menyatakan:

Penderitaan kaum muslimin menanggung fitnah ini dan perjuangan mereka dalam melawannya akan mempertajam tekad dan meneguhkan hati mereka untuk mengalahkan hawa nafsu. Sedangkan sikap melarikan diri dari fitnah [itu] tidak akan menyelesaikan persoalan, bukan hanya akan menyebabkan kesusahan dan penyimpangan.

Kalau memang masalah “menjaga hati” ini bisa “diatasi” (tanpa “melarikan diri”), bagaimana caranya? Saya akan berusaha menjawabnya di kesempatan mendatang. Insya’Allah. Wallaahu a’lam.

Iklan

4 thoughts on “Sulitkah menjaga hati dalam pacaran islami?

  1. Sebegitu sempitnyakah definisi mencintai Allah dan RasulNya…

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Artikel tersebut merupakan renungan diri. Itu akan lebih mudah dipahami bila pembaca menggunakan sudut pandang non-eksakta.

  2. di tunggu artikel lanjutannya, kalau sudah di posting, tolong kasih tahu saya.

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Baiklah, dengan senang hati. Rencananya, pekan ini diposting. Semoga lancar tiada halangan. Amin.

  3. Ping-balik: Dzikir cinta dalam pacaran islami « Pacaran Sehat

Komentar ditutup.