Jajak Pendapat — Perlukah sensor?

XXX unrated. Kata guru saya sewaktu SD, tanda “XXX” di papan tulis itu berarti bahwa gambar atau tulisan di situ tidak boleh dihapus. Namun belakangan setelah saya menginjak masa remaja, rupanya “XXX” itu diartikan sebagai sesuatu yang perlu disensor.

Lepas dari itu, mungkin kita berlainan pendapat mengenai apa yang perlu disensor. Sungguhpun demikian, kami ingin lebih mengenal Profil Pembaca. Karenanya, kami ingin tahu pendapat Anda mengenai perlu-tidaknya sensor.

Di Forum MyQuran, kata-kata berikut ini dapat muncul dengan bebas tanpa sensor:

Aku berani bilang bahwa:

Muhammad Shodiq bin Tamsir bin Ismail bin Khusban bin Adam.

PENGECUT!!!

Tenang, aku punya alasannya:
Ada pesanku yang dihapus dan tidak dikomentari.
Alasan alternatif untuk berdiskusi dia menolaknya padahal dia juga sibuk dengan blognya.. lantas klo dia benar mengapa dia menolaknya?
Hanya pesan2x yang dapat di jawab olehnya yang ditampilkan.

Memang benar ada banyak pesan dari dia yang tidak kami tampilkan dan tidak kami komentari. Mengapa?

Pertama, sudah kami terangkan bahwa kami bukan orang yang gemar berdebat.

Kedua, juga sudah kami persilakan “baca dulu artikel-artikel di blog ini dengan lengkap dan cermat sebelum berdiskusi lebih lanjut. Diskusi kita kurang efektif apabila kami harus mengungkapkan kembali segala yang pernah kami jelaskan sebelumnya.”

Anda pun dapat memeriksa sendiri kurang efektifnya “diskusi” tersebut. Silakan periksa komentarnya  yang menyimpang ini dan yang juga menyimpang ini dan juga yang lagi-lagi menyimpang ini. Silakan periksa pula komentarnya yang menyoroti tulisan kami secara sepotong-sepotong di sini dan di sini dan juga di sini serta di sini. Anda pun dapat memeriksa komentarnya yang mempersoalkan sesuatu yang sudah ada jawabannya di sini.

Ketiga, dia sering menggunakan kata-kata yang kasar. Diantara kata-kata kasarnya itu adalah sebagai berikut:

WOIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
PEMBOHONGGGGGGGGGGGGGGGG
MANA TULISAN2x kami yang terposting disini
HAHAHAHAHA

PENEGCUTTTTTTTTT
PENGECUT

Pendusta.. pantas banyak pembaca bilang anda pembohong

PENGECUT!!!!

KNP ANDA TIDAK MAU MENERIMA TANTANGANKU????

Jgn percaya!!!
Sang penulis mencoba menipu dari retorikanya
Banyak hadist dan ayat alquran sepertinya di salah artikan tafsirannya
Mau bukti…
Lihat saja kenaifan dari cara berfikir retorikanya.

Knp demikian. Karena bagisaya sang penulis adalah PENGECUT

Anda [M Shodiq Mustika]:
“Terus, adakah dalil (yang secara qath’i) mengharamkan pacaran? Tidak ada!”

Saya [Akhina Ifa]:
Karena anda malas berItjihat dan hany EMNELAN MENTAH-MENTAH apa yang didapat oleh anda.

Keempat, dia menyampaikan komentar yang terlalu banyak. Jumlahnya mencapai 84 buah, hanya dalam waktu 2×24 jam, sebuah “rekor” dalam sejarah ngeblog saya. Dia juga mengulang-ulang komentar yang sama, yang di dunia internet biasanya kita golongkan sebagai spam.

Sekarang, silakan Anda mengikuti polling (jajak pendapat) di bawah ini. Polling ditutup pada 27 Juli 2008 sebelum tengah malam. (Pilihan jawabannya adalah “Biarkan saja tampil supaya para pembaca lain tahu” atau “Perlu disensor untuk mencegah kerusakan lebih lanjut”.)

Iklan

16 thoughts on “Jajak Pendapat — Perlukah sensor?

  1. ukhti queenale, jika anda seorang muallaf maka anda tidak akan mersakan keindahan hakiki agama islam dari seorang Muhammad Shodiq bin Tamsir bin Ismail bin Khusban, coba anda rujuk ke myquran.com. semoga bermanfaat

    Tanggapan Admin:
    Jadi, menurut Sdr. Fauzan, keindahan hakiki agama islam itu dapat kita rasakah dalam caci-maki terhadap saudara sesama muslim? Dalil manakah yang menunjukkan demikian?

  2. Pak Admin
    Adapun akhina Ifa insya Allah sudah kami nasehatkan untuk lebih mengedepankan sopan santun dalam berdiskusi.
    Saya pribadi juga sebenarnya akan sangat appreciate kalau kita berdiskusi di http://www.myquran.org

    Dan sayang saya bukan moderator dalam forum di mana thread tersebut ada, sehingga tidak bisa mengedit tulisan2 tersebut.

    wallahua’lam

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    Terima kasih atas nasihatnya. Terima kasih pula atas undangannya.

    Pada tahun-tahun pertama berdirinya MyQuran, saya sudah aktif di forumnya. (Malah saat itu saya pernah menjadi salah satu moderatornya.) Ketika itu, perbedaan pendapat sangat dihargai, debat-kusir ditengahi supaya tidak berlarut-larut, sedangkan caci-maki tidak dibiarkan merajalela. Suasana ukhuwahnya indah sekali.

    Beberapa tahun kemudian, setelah MyQuran berganti wajah, suasananya sudah berbeda. Kini perbedaan pendapat kurang dihargai (bahkan termasuk oleh beberapa moderatornya). Debat kusir dibiarkan berlarut-larut, begitu pula merajalelanya caci-maki. Kita sulit mendapatkan suasana ukhuwah di situ sekarang.

    Adapun para mantan aktivis forum MyQuran, yang menjunjung tinggi ukhuwah, kini banyak yang memilih blog sebagai media ukhuwah dan dakwah. Begitulah pengamatan saya.

    Nanti kalau forum MyQuran sudah kembali seperti dulu, yang penuh dengan rasa ukhuwah, insya’Allah saya akan kembali ke sana dengan senang hati dan penuh rasa syukur. Sekarang, sampaikan saja salam saya kepada sang “webmaster” (masihkah Pak Atmo?) dan para aktivis forum tersebut: Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

  3. @Pak Admin

    saya berharap Bapak berlaku fair dalam diskusi kita ini.
    Kalau Bapak benar pernah menjadi salah satu moderator myQuran, kenapa takut untuk menjawab apakah ID bapak sewaktu menjabat sebagai moderator myQuran?

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    Begitu mudahnya Anda bersangka buruk. Menurut kami, tidak sepatutnya seorang moderator forum MyQ bersikap begitu. Apalagi Anda mengajak saya untuk berdiskusi di situ. Mana mungkin saya tertarik bila sikap Anda begitu?

    Permintaan Anda kepada kami untuk menyebutkan ID moderator saya di MyQuran mungkin menunjukkan bahwa Anda merupakan orang “baru” di MyQuran. Mungkin Anda belum tahu bahwa ketika MyQuran berganti wajah, ID lama tidak berlaku lagi. Semuanya harus mengganti ID. (Dulu itu juga tidak ada ID moderator. Yang ada hanyalah ID member. Entah sekarang.)

    Karena sudah tidak berlaku lagi dan sudah lama, saya tidak mengingat ID itu lagi. Saya pun tidak bisa menelusurinya karena saat itu saya menggunakan e-mail telkomnet yang kini juga sudah hangus.

    Demi Allah, saya menjadi moderator di MyQuran saat itu karena diundang oleh Pak Atmo. Kalau sekarang dia sudah lupa kepada saya, maka sesungguhnya Allah SWT tak pernah lupa. Biarlah kelak di akhirat dia melihat catatan amalnya mengenai undangannya kepada saya untuk menjadi moderatir di MyQuran. Kalau Anda masih bersangka buruk kepada saya, maka saya serahkan saja kepada Sang Mahaadil.

  4. @Saifullah

    Bro moderator juga y
    Wex, kalo bisa usul or saran bro
    Biar moderator lebih aktif dlm menjaga tret
    Terutama untuk bahasan tret2 yg “rawan” gesekan
    Jujur, saya sedih kalo ngeliat kebanyakan para member disitu dlm berkomentar/merespon sesuatu yg berbeda…seperti masalah pacaran, nabi palsu, FPI & AKKBP apalagi isagala
    Orang2 yg mayoritas aktivis dakwah, tapi kata2ny sama sekali jauh dari santun
    Begitu mudahny ucapan kafir, sesat, perusak Islam, munafik dll meluncur keluar dari posting2 mereka…kata2 yg seharusnya jauh sekali sebagai pengikut Rasul
    Padahal hanya karena satu hal…perbedaan…
    Ketika coba diingatkan, mereka berdalih harus tegas terhadap perusak2 Islam
    So, sangat mudah sekali bagi mereka untuk menggolongkan seseorang ke dalam perusak Islam….”Lo beda, lo musuh”
    That’s it…as simple as that…
    Suatu sikap yg saya lihat justru jauh sekali dari apa yg dicontohkan oleh baginda Rasul…

    @Pak shodiq
    Maaf ni pak, jadi nulis disini
    Koz pernah juga masukin saran di sana, tapi sampai sekarang sepertiny masih belum ada perbaikan

    Wassalam

  5. mengenai polling nya, saya lebih cenderung untuk memilih …
    “Biarkan saja tampil supaya para pembaca lain tahu”

    pak Shodiq mengkhawatirkan ada kerusakan yang parah yang diakibatkan komentar mereka.
    merekapun mengkhawatirkan kerusakan yang parah dari tulisan sampeyan.

    jadi jalan tengahnya, biarkan kami yang memilih.

  6. @ Kaezzar

    Terima kasih atas informasinya. Karena relevan, tentu saja itu boleh ditayangkan di sini. Malah saya pun (maaf bila lancang) meng-copy paste tulisan Kaezzar itu ke komentar di Persaudaraan yang kurindu.
    Saya harap Kaezzar berkenan.

    @ Watonist

    Ya, mungkin kita berlainan pendapat mengenai apa yang perlu disensor. Sungguhpun demikian, kami menghargai pandangan pembaca. Terima kasih.

  7. Monggo pak,
    Moga2 bisa memberi pencerahan bwt kita smua
    Terutama kalo kita menjumpai perbedaan
    aamiiin

    Wassalam

  8. Oh ya, saya mendapatkan ID terbaru pak mushodiq yang terdaftar pada 17 januari 2007

    kembali ke topik,
    Dengan adanya sensor dari pak Amin atau sistem moderasi yang ada di blog ini, maka tentulah pak admin akan cenderung untuk mensensor dan tidak memuat bila ada suatu pendapat yang lebih kuat daripada postingan pak Admin, atau pendapat yang bisa membuktikan sanggahannya.

    Bilaman itu sudah terjadi, maka sebenarnya telah menodai rasa demokrasi dan kebebasan untuk mengemukakan pendapat dalam blog ini.

    Saya sarankan, biarkanlah tulisan itu tidak perlu disensor dulu, tidak perlu pakai sistem moderasi. Adapun postingan2 spamming, maka tinggallah anda delete saja.

    Adapun kalau sistem sensor atau moderasi ini terus pak Admin jalankan, maka yang ada hanyalah pembenaran dari pak admin, karena cenderung memuat postingan-postingan yang sesuai dengan pendapat pak Admin, tau boleh jadi memuat pendapat yang bertentangan tapi tidak mempunyai argumentasi yang kuat untuk membantah postingan pak Admin.

    wallahua’lam

    Tanggapan Admin:
    Lagi-lagi Anda bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali. Itu sama saja dengan fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan. Apabila Anda masih mengulanginya, maka tulisan-tulisan Anda akan kami masukkan ke SPAM folder. Menurut kaidah ushul fiqih, mencegah kemudaratan harus lebih diutamakan daripada mencari manfaat.

  9. Ping-balik: PROTES KERAS mengenai fitnah terhadap diri kami « Pacaran Sehat

  10. pak shodiq, dunia maya ini merupakan dunia yang bebas dan terbuka. setiap tulisan yang dipublikasikan di sebuah blog, apalagi yang sudah ter-index oleh google akan gampang dijumpai dan dibaca pengunjung. itu hal yang wajar terjadi. pembaca pun juga bebas memberikan komentar terhadap tulisan kita. yang jadi persoalan adalah ketika komentar pembaca berada di luar topik alias OOT. dalam kondisi demikian, hal itu sangat tergantung dari sang pemilik blog, mau dimoderasi atau dibiarkan bebas dan terbaca oleh pembaca yang lain. anggap saja itu sebagai sebuah dinamika dalam ngeblog, pak. yang sabar aja, pak.

  11. Nah pak, dgn adanya kejadian ini, mungkin memang gpp dilepas aja tanpa moderasi…dgn catatan :

    dalam sehari, ada batas max, misalnya per ID 10 komen n ga OOT

    biar saja kalo posting isinya menghina
    toh hinaan g membuat yg menghina bertambah mulia… dan yg dihina, g akan berkurang kemuliaannya

    ataaaww…

    mungkin bisa disediakan halaman khusus tentang komen2 yg ditahan untuk dimoderasi…tentu saja dgn alasannya…
    Dan pembaca/umum bisa mengakses halaman tersebut…jadi ntar pembaca juga bisa menilai

    Tentu saja di halaman tersebut tidak ada kolom komen, kan g lucu halaman moderated comment ko dikomenin :p

    segitu aja dulu sarannya pak

    wassalam

  12. Hasil voting pembaca ternyata berimbang antara “biarkan saja” dan “perlu disensor”.
    Jadi perlu jalan tengah.

    Saran Kaezzar menarik. Kami bisa dan bahkan telah menyediakan “halaman khusus” untuk penentang islamisasi pacaran, yaitu halaman “Kritik”, yang kini telah kami pindahkan ke http://wppi.wordpress.com/kritik/

    Bahkan di blog wppi itu, di samping menulis komentar di halaman Kritik, para penentang itu masih dapat menulis komentar di halaman lain dan postingan lain dengan jauh lebih bebas daripada di sini.

  13. saya sebenarnya berharap bahwa “sensor” yang dimaksudkan dan digunakan di sini bukanlah sensor terhadap pendapat atau sanggahan yang lebih kuat dari opini pak Admin…

  14. Saran saja pak, mending bikin saja semacam ID baru di wordpress yang memuat semua tulisan-tulisan yang pernah disensor komentarnya. Namanya sih apa saja, lalu kemudian kasih juga penjelasan -atau jawaban- kenapa hal tersebut disensor 🙂

Komentar ditutup.