Konsultasi: Indahnya pacaran tanpa mendekati zina

DR Re, aku lagi suka sama cewek. Mulai pertama, aku langsung ngerasa dag dig dug pas ngeliatnya. Maklum, secara fisik, dia cantik banget. Dia juga tekun menjalankan agama. Semakin kenal, aku jadi makin suka sama dia.Yang bikin aku tambah salut, dia punya prinsip nggak mau sentuhan dengan cowok mana pun. Katanya sih dia pengin cowok yang kali pertama disentuhnya itu suaminya.
Tapi jujur ya, Dr Re..aku nggak berani ngungkapin perasaanku. Aku takut dia marah. Soalnya, nggak sekali pun dia pernah bicara soal cinta, padahal aku udah demikian banyak bercerita tentnag cinta sama dia. Akhirnya, kupendam aja cintaku ini. Nggak lama, aku beranikan diri ngirim SMS tentang cintaku. Eh, ternyata aku ditolak. Katanya sih karena prinsip yang dia punya itu. Dia nggak bakal mengubah prinsip yang dia punya. Nggak lama kemudian lagi, dia bilang bahwa dia juga sayang sama aku. Tapi, dia juga bilang belum siap sama cinta. Duuh Dr Re, sumpah aku bingung banget! Dr Re, bantu aku untuk ngasih tahu dia, aku pengin banget jadi pacarnya. Aku pengin banget menjaga hati dan cintanya. Gimana caranya supaya dia tahu kalau pacaran nggak seburuk yang dia bayangin. Ada sesuatu yang sangat indah di dalamnya. Dr Re yang baik, please help me… Semoga kamu sukses selalu. Makasih banyak yah sebelumnya? Asep – 085250632xxx

Demikian pertanyaan Asep yang termuat di Kaltim Post Cyber News. Kemudian sang pengasuh menyampaikan jawaban menarik, antara lain sebagai berikut.

Sep, kamu perlu tahu satu hal. Prinsip hidup seseorang nggak bisa diubah dalam sekejap mata atau seperti membalik telapak tanganmu. Percaya deh, nggak ada apa-apa di balik tanganmu. Yang ada cuma bakteri yang mengumpul! Haha. Jadi, kamu harus menghargai prinsipnya. Ingat, bagi sebagian orang, prinsip hidup memang berharga. Kalau kamu mau mengubahnya, itu sama dengan merusak sumpah Gajah Mada untuk nggak makan buah Palapa. Percuma. Sia-sia, cucuku… 
So, dengarkan baik-baik apa yang diceritain sama kamu. Simak apa saja yang menjadi prinsipnya. Jangan membantah satu kalimat pun. Tanyakan hal-hal yang masih terdengar asing bagimu. Next, camkan dalam pikiranmu.

Setelah tahu secara mendalam tentang prinsipnya, kamu boleh take a breath. Renungkan jalan pikirannya. Jangan lupa, yang jadi jurang di antara kalian bukan hal remeh. Keyakinan untuk memegang teguh prinsipnya nggak bisa dijadikan bahan mainan di waktu senggang. Kamu juga nggak mau kan prinsip cewek itu jadi ternoda cuma buat nurutin keinginanmu jadi pacarnya?

Jawabannya bagus. Mungkin ganjalan kita hanya satu. Dari jawaban itu aku menangkap kesan seolah-olah pada pacaran itu harus ada sentuhan. Apakah tanpa sentuhan, pacaranitu menjadi kurang afdol? Memangnya, pacaran tanpa sentuhan itu takkan terasa indah?

Pertanyaan terakhir itu mengingatkan aku pada masukan dari ukthi Puspita:

Pak, saya pernah bertanya kepada seorang ikhwan, apa dia mau berpacaran dgn saya, tetapi dengan syarat: tidak berdua-duaan, tidak terlalu dekat, & hal-hal lain yg sudah saya pertimbangkan & menurut saya aman. Saya juga membahas ini dgn teman-teman saya sesama akhwat. Lalu hampir dari semua jawabannya: itu bukan pacaran; sekalian aja jangan pacaran; apa enaknya pacaran gitu; kalau kamu gitu, mana ada yg mau pacaran sama kamu. Apa benar begitu, pak kalau sekarang, hampir semua ikhwan tidak mau pacaran seperti itu? Apa benar kalau mereka dibatasi, justru tidak akan suka?

Jawabanku:

Istilah “dibatasi”, “syarat”, dan sebagainya mungkin kurang menarik. Barangkali sebaiknya kau gunakan istilah “kesepakatan bersama untuk tidak mendekati zina”.

Lantas, apa enaknya pacaran tanpa mendekati zina? 🙂 Enaknya melebihi pacaran yang mendekati zina! Sebab, kenikmatan sejati yang diperoleh dari menjauhi zina berlangsung lama dan terasa mendalam di lubuk hati. Sedangkan kenikmatan semu yang didapatkan dari mendekati zina berlangsung sesaat saja dan hanya bersifat lahiriah.

Keindahan percintaan pranikah yang tidak mendekati zina itu telah digambarkan oleh Ibnu Hazm al-Andalusi, antara lain sebagai berikut:

Sungguh, tak pernah bisa kulupa kisah-kasihku dengan dia yang kupuja. Sebelum kujatuhkan cintaku padanya, terlebih dahulu kujalin persahabatan yang mendalam dengannya. Kami makan dan minum bersama. Kami saling berbagi cerita. Tak bosan-bosannya aku bersua dengannya. Namun, sekali lagi ingin kukatakan, aku tak keburu nafsu, [dan tidak] segera mengungkapkan cintaku padanya di pandangan pertama. Aku yakin, cinta yang dijalin melalui proses dan jalan yang panjang, insya Allah, akan menghasilkan cinta di titik terbaiknya. (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 58-59)

Jadi, cinta itu “mula-mula permainan, lama-lama kesungguh-sungguhan. Cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta [ini] tak dapat ditemukan, selain dengan segenap kesungguhan pengamatan [atau tanazhur] dan penjiwaan.” (Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 21)

Gambaran sesingkat itu mungkin belum memadai untuk meyakini indahnya pacaran tanpa mendekati zina. Barangkali dibutuhkan satu buku tersendiri untuk mengungkapkannya. Itulah antara lain yang menyebabkan aku menulis buku Ayat-Ayat Mesra. (Dibaca selengkapnya, ya!)

4 thoughts on “Konsultasi: Indahnya pacaran tanpa mendekati zina

  1. Ping-balik: Konsultasi: Agar tak kecanduan ciuman pacar « Pacaran Sehat

  2. ass. sy rasa pacaran itu nda perlu…karna inti dari pacaran itu adalah mendekati zina. so….lebih baik berteman atau sahabat. itu akan lebih baik. pacaran tanpa mendekati zina….itu cuma mimpi.

  3. aya-aya wae … pacaran sehat? lama-lama zina sehat … zina islami .. kacau-kacau

  4. saya pernah pacaran dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah karena pacar saya itu orangnya sangat taat beribadah. tetapi Allah memisahkan kami berdua. aku sadar bahwa ternyata Allah berkehendak lain. Tetapi saat aku berniat untuk melupakannya, Allah mendatangkannya ke mimpiku berkali-kali. Ini pertanda apa? ya aku mengaku kalo dia telah mengubah dan mempengaruhi hidup aku menjadi lebih baik. da kah yang mau bantu?

Komentar ditutup.