Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik

Astaghfirullah. Sudah hampir tiga bulan aku lupa menjawab pertanyaan Puspita, seorang aktivis Rohis (Kerohanian Islam) di sekolahnya. (Kalau aku juga lupa menjawab pertanyaanmu, silakan ingatkan diriku!) Dia melontarkan pertanyaannya pada 27 Juli 2008. Baru sekarang aku ingat untuk menanggapinya.

Puspita bertanya:

Assalamu’alaikum. Pak, saya mau bertanya. Alhamdulillah saya adalah siswi anggota Rohis di sekolah saya. Dan pendidikan Rohisnya bagus juga menyenangkan. Yg ingin saya tanyakan adalah, [1] para anggota Rohis memiliki pendapat yg berlainan dalam hal pacaran. Ada yg berpendapat tidak boleh, ada yg berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya & tidak mengumbar nafsu. Kebetulan saya berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya & tidak mengumbar nafsu. Mohon penjelasannya, pak. [2] Lalu para siswa/i yg lain banyak yg tidak jadi masuk Rohis karena takut tidak boleh pacaran. [3] Jujur saya bingung juga dgn argument itu yg selalu melekat pada anak Rohis. Saya menjadi bingung apakah saya lebih baik tidak berpacaran saja? [4] Sementara saya sudah berjanji dalam hati pada diri saya sendiri & pada Allah, bila saya pacaran, saya tidak akan mengumbar nafsu & sewajarnya saja tanpa mengikuti cara pacaran yg lainnya. Mungkin niat saya untuk pacaran pun boleh dikatakan keterlaluan. Saya ini penyakitan sedari kecil. Dan semakin lama memang semakin parah. Saya menginginkan kelak yg menjadi pacar saya itu mau melindungi dan menyayangi saya tetapi bukan kasih sayang yg buta, tetapi didasari rasa sayang yg tulus dan dilandasi agama. [5] Lalu pertanyaan yg terakhir (maaf banyak bertanya, saya biasa dikatakan si haus ilmu), saya pernah bertanya kepada teman-teman saya, apa yg pertama kali mereka lihat dari seorang wanita sehingga mereka ingin wanita itu menjadi pacar merekan? Jawaban mereka adalah kecantikan luarnya. Jujur pak, saya agak sedih juga karena saya merasa wajah saya biasa saja & tidak cantik (meskipun Alhamdulillah ada beberapa orang yg mengatakan Allah telah memberikan saya anugrah seperti itu). Maaf apabila pertanyaan saya ini merepotkan bapak. Saya ucapkan terima kasih banyak. Wassalamu’alaikum.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Wa’alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Kujumpai ada lima pertanyaan Puspita. Ya, lumayan banyak, tapi tidak terlalu banyak. Aku suka orang-orang yang haus ilmu dan gemar bertanya. Kalau memang penasaran, dengan senang hati kuterima pertanyaan itu dan kutanggapi semampuku.

[1] Pacaran itu berada dalam lingkup ijtihad. Perbedaan pendapat dalam ijtihad itu wajar, asalkan ijithadnya sama-sama sah. Namun walau berbeda, kita tetap dapat mengerahkan bukti ukhuwah. Jangan sampai perbedaan itu mencerai-beraikan kita.

[2] Sebagian dari saudara-saudara kita yang menentang pacaran itu sangat aktif (“vokal”) dalam memprogandakan antipacaran. Supaya teman-teman kita lainnya tidak menjauhi aktivitas Rohis (dan aktivitas dakwah lainnya), kita pun perlu pula untuk juga sangat aktif (sangat “vokal”) dalam menyiarkan pacaran islami. Jika kita diam, maka mereka akan menyangka bahwa semua atau hampir semua aktivis dakwah itu antipacaran. Padahal pada kenyataannya, yang menentang itu jauh lebih sedikit daripada yang tidak menentang.

[3] Mendukung pacaran islami itu tidak berarti harus ikut-ikutan pacaran. Ingat, hakikat pacaran adalah persiapan menikah. Jika sekarang kau masih sibuk memikirkan kegiatan sekolah, belum memikirkan persoalan nikah, sebaiknya tunda dulu pacaranmu. Nanti saja kalau sudah lulus sekolah menengah atas dan sudah hendak berancang-ancang untuk menikah, barulah kau perlu pacaran.

[4] Aku mendukung niatmu untuk berperilaku islami bila pacaran. Sakit-sakitan bukanlah halangan. Jika kau menerima cinta dari si dia yang mencintaimu setulus-tulusnya, dan menjalani pacaran secara sehat, maka tingkat kesehatanmu justru akan meningkat.

[5] Ya, yang pertama kali dilihat adalah penampilan. Namun yang menjadi bahan pertimbangan utama untuk memilih pasangan hidup bukanlah kecantikan. Lihat artikel “Yang Sesungguhnya Diinginkan Cewek/Cowok“. (Beberapa orang mengatakan parasmu menarik. Ini berarti bahwa kau pun tergolong cantik. Pede aja lagi!)

Walaahu a’lam.

One thought on “Konsultasi: Aktivis Rohis yang Merasa Kurang Cantik

  1. Assalamualaikum.
    Terima kasih,pak atas jawabannya.Sebenarnya dari awal juga saya tidak pernah terpikirkan untuk yg namanya berpacaran.Maaf karena sewaktu saya konsultasi pada bapak,saya sedang agak emosi karena saya terus dikatakan tidak dewasa&kekanak2an karena saya tidak pernah pacaran,terlebih belum menyukai lawan jenis secara mendalam&tidak tahu seperti apa itu yg sering disebut sebagai cinta(meskipun itu membuat saya dikatakan aneh.walaupun menurut saya wajar2 saja).Tidak apa2 kok,pak dijawabnya lama(mungkin banyak pertanyaan yg lebih harus cepat dijawab lebih dahulu).

Komentar ditutup.