Harapan, Jodoh dalam Mimpi, dan Hukum Karma

Bapak Shodiq yang saya hormati, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas tulisan-tulisan Bapak yang sudah beredar dan sangat mudah dimengerti, enak dibaca dengan bahasa yang dinamis, sedikit genit dan berkesan gaul tetapi tidak meninggalkan sopan-santun. Saya suka dengan gaya bahasa Bapak. Dari rasa suka gaya bahasa tersebut saya jadi ketagihan membaca semua buku yang Bapak tulis.

Kedua kalinya -sekaligus ini tujuan utama saya mengirim email ke Bapak- saya ingin bertanya kepada Bapak tentang permasalahan saya sebagai berikut:

Saya memiliki pacar (?) sebut saja Y. Sebenarnya kami sudah saling kenal “hangat-hangat taik anjing” -begitu orang menyebut- sejak tahun 2005 yaitu ketika kami sama-sama bekerja di Jawa Timur. Tahun 2006 kami sama-sama merantau ke pulau seberang. Tepatnya bulan oktober 2007 kami lebih dekat. Waktu itu saya tidak tahu kalau dia sudah menikah sebab ketika Y saya tanya, dia tidak mengiyakan. Kami menjadi lebih dekat sampai akhirnya kami terlibat making love. Baru pada Januari 2008 saya baru tahu kalau dia sebenarnya sudah menikah dengan X pada bulan Mei 2007.

Karena sudah terlalu jauh hubungan kami -Y berjanji menikahi saya- maka saya minta tanggung jawabnya. ternyata Y tidak mau bertanggung jawab dengan alasan kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Saya terus menuntut tanggung jawabnya sampai sekarang.

Disamping itu, saya selalu minta petunjuk kepada Alloh dengan sholat istiharah dan hajat. Sampai saat ini saya merasa belum mendapat petunjuk, hanya beberapa mimpi yang kurang lebih bertema sama. yang terakhir, firasat mimpi saya dapatkan setelah saya sholat istiharah dan hajat dimana waktu itu hati kecil saya yakin bahwa Y suatu hari nanti akan menikahi saya.

Dalam mimpi tersebut, saya sedang tiduran bersama Y. Tiba-tiba Y bertakbir “Allohu Akbar” lalu meniup kening saya, setelah itu Y berpakaian dan pergi (pulang) tanpa sepatah katapun.

Bapak Shodiq, saya tidak tahu apa makna mimpi saya tersebut. yang jelas sejak saya mendapatkan mimpi tersebut ada keyakinan pada hati saya bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan harapan makhluknya. Perlu Bapak Shodiq ketahui, Y sudah punya seorang anak perempuan.

Pertanyaan saya:

  1. Apakah keyakinan saya tersebut tidak salah kaprah?
  2. Apakah mimpi yang saya dapatkan tersebut bisa dikategorikan mimpi spiritual? (saya sudah membaca buku Istiharah Cinta yang bapak tulis, tetapi saya masih ragu juga untuk menyikapi mimpi saya tersebut)
  3. Kira-kira apa makna mimpi saya tersebut?
  4. Apakah karma itu benar-benar ada? Apakah karma itu bisa menimpa anak keturunan orang yang bersangkutan?

Bapak Shodiq, saya sangat mengharapkan jawaban dari Bapak. Terima kasih.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih kau telah membaca bukuku. Terima kasih pula atas pujianmu. Berikut ini jawabanku:

1. Keyakinan manakah yang kau tanyakan? Semuanya? Baiklah. Aku sampaikan penilaianku terhadap keyakinan-keyakinanmu yang kuanggap terpenting.

1.1. Mengenai sikap Allah SWT terhadap harapan-harapan hamba-Nya, Dia mengajukan pertanyaan retoris, “Apakah manusia memperoleh segala yang dia harapkan?” (QS an-Najm [53]: 24) Maksudnya, tidak semua harapan kita terpenuhi. Yang pasti terpenuhi adalah doa kita.Berdoalah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan bagimu.” (QS al-Mu’min [40]: 60) Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana dan kapan Dia memenuhi doa kita. Mungkin di dunia ini doa kita terpenuhi, mungkin pula di akhiratlah doa kita itu baru terpenuhi.

1.2. Mengenai tuntutanmu kepada Y untuk menikahimu? Ya. Kau berhak menuntut itu. Namun, yang lebih kuat untuk kau jadikan dasar tuntutan adalah janjinya. Sebab, disamping agama kita mewajibkan pemenuhan segala janji (lihat QS al-Israa’ [17]: 34), negara kita pun menetapkan demikian (pasal berapa di KUHP, silakan tanya ahli hukum).

Tak perlulah perbuatan zina itu kau jadikan dasar tuntutan. Sebab, kau akan kesulitan mencari dasar hukumnya. Memang sih, ada banyak wanita yang mengira bahwa menyerahkan tubuhnya kepada seorang lelaki itu berarti telah mengikatnya. Tapi nyatanya, ada banyak pria yang tidak merasa terikat setelah menyetubuhi wanita.

1.3. Bila seorang lelaki tidak mengiyakan ketika ditanya tentang status nikahnya, maka itu bukan berarti bahwa dia bersatus tidak kawin. Bahkan bila dia menjawab “belum pernah nikah” pun, itu juga masih belum cukup kuat untuk meyakinkan kita. Islam mengajarkan kita bahwa dalam setiap aqad nikah itu harus ada dua orang saksi yang adil. Implikasinya, bila kita ingin tahu status pernikahan seseorang, lebih baik kita cari tahu informasi dari dua orang saksi yang adil daripada sekadar bertanya kepadanya.

1.4. Walau kau memperlakukan dia sebagai pacarmu, sebetulnya dia bukanlah pacarmu. Makna “pacar” aslinya, dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno), adalah “calon pengantin”. Jadi, sebenarnya kau baru dapat menyebutnya sebagai pacarmu hanya setelah dia berniat hendak menikahimu.

2. Ya, mimpi tersebut dapat kita golongkan mimpi spiritual, walau tidak sepenuhnya spiritual. Malah mungkin saja unsur spiritualnya lebih kecil daripada yang nonspiritual. Memang, ungkapan Allaahu Akbar mengisyaratkan spiritual. Namun, keadaan “tiduran dengan si dia” itu sulit untuk kita sebut spiritual.

3. Menurut pemahamanku, sebatas ilmuku yang tak seberapa ini, makna mimpimu adalah sebagai berikut:

Makna “Allaahu Akbar” adalah Allah Mahabesar, lebih besar daripada siapa pun, termasuk si dia. Karena itu, kau tak perlu memuja-muja dia, menganggap dia “luar biasa” (lain dari yang lain), dan sebagainya. Kepergiannya “(pulang) tanpa sepatah katapun” menegaskan bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Dia lebih suka menjadi rekan kerjamu daripada menjadi suamimu

Walau berhak, kau tak usah mengharap dia menjadi suamimu. Terbukalah kepada pria lain. Dengan bertaubat, kau lebih berhak untuk mendapatkan pria yang lebih baik daripada dia sebagai jodohmu.

4. Islam tidak mengakui keberadaan hukum karma. (Lihat Harun Yahya, Islam and Karma.) Perihal kasusmu, mengenai ingkar janji, Allah SWT berfirman, “Barangsiapa melanggar janjinya, maka akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri.” (QS al-Fath [48]: 10) Jadi, akibat dari pelanggaran janjinya itu takkan menimpa anak-anaknya.

Demikianlah jawabanku. Wallaahu a’lam.

6 thoughts on “Harapan, Jodoh dalam Mimpi, dan Hukum Karma

  1. Ping-balik: Bingung pilih 1 diantara 3 « Tanazhur PraNikah

  2. Bpak Shodiq yg saya hormati, saya mau bertanya, saya mempunyai seorang pacar kami telah berhubungan selama 10 bln tuh cewek sebenar nya sangat lugu belum pernah terikat hubungan dengan pria mana pun tapi banyak pria yg suka sama dia. jujur selama kami berpacaran saya banyak menjerumuskan perbuatan maksiat ke dia, sebnarnya saya melakukan itu supaya dia tidak lari ke cowok lain dan saya mau benar2 bertanggung jawab, tapi permasalahan beberapa bulan ini dia bekerja di bank nah semenjak itu dia mulai selingkuh dgn cowok-cowok laen dia seligkuh terang2an didepan saya karena saya sangat mencintai nya kadang2 saya mengizinkannya tp lama2 saya makan hati juga, alasan dia selingkuh katanya dia mau mencari cowok yg bner2 sayang sama dia dan tidak menjerumuskannya ke perbuatan maksiat, saya mengerti itu tapi permasalahannya dia mempermaikan setiap cowok yg dekat dgn dia, dia memberi harapan kepada setiap cowok tapi menolak mereka, dia hanya memanfaatkan mereka saja, kami memang sdh putus 1,5 bln ini tapi yg anahnya setiap saya ketemu dia, dia mau menerima tubuh saya tp tdk mau menerima cinta saya, tp semenjak itu saya bener2 mau bertobat saya setiap hari sholat dan selalu berdoa supaya cewek itu jangan mengumbar cinta ke banyak laki2, ju2r saya sangat mencintai nya. terkadang saya sholat istiqorah untuk mundur atau maju mengejar dia, tapi yg saya dapat saya tidak bisa melupakan nya tp juga pada kenyataan nya saya tdk bisa menerima cinta nya yg hanya saya dapat tubuh nya… karena dia selalu bilang bahwa dia mencintai setiap cowok yg dekat dgn dia, setiap cowok tersebut dia ambil sifat yg dia sukai makanya dia tidak bisa mencintai satu cowok yg bener2 seruis

    • @ Harry
      Kau bilang, “saya mau bertanya”, tapi setelah selesai kubaca curhatmu, aku belum menemukan pertanyaanmu. Bagaimana aku bisa menyampaikan jawaban kalau pertanyaannya tidak ada?

  3. nama saya anyss.dari malaysia.saya pernah bermimpi.saya mahu tuan memberi pandangan terhadap mimpi yang pernah saya alami.

    1. saya bermimpi melahirkan anak sulung ketika berusia 13 tahun.comel.putih melepak.saya bermimpi seakan-akan betul-betul di saat sedang melahirkan anak.saya terlihat seorang lelaki yang seakan-akan ayah kepada bayi tersebut. samar-samar mukanya.

    2. ketika berusia 16 atau 17 tahun…saya bermimpi sekali lagi…saya sedang melahirkan anak kedua…bayi lelaki juga.yang sulung juga lelaki sedang berlari-larian mendapatkan ayahnya. bayi kedua sangat kacak. seiras mat salleh. ayah mereka seakan-akan menjauh daripada saya. juga samar wajahnya. seingat saya…lelaki yang sama dengan mimpi pertama saya.

    3. mimpi seterusnya berulang…saya sedang mengandung pula anak ketiga. lelaki atau ayah mereka juga sama..kelihatan anak sulung sudah berusia seperti 4 atau 5 tahun. anak kedua seakan 1 tahun. tapi…mimpi itu tidak berakhir dengan kelahiran…mimpi ketiga ini saya alami ketika berusia 19 tahun…lelaki itu seakan-akan merenung jauh pada saya

    tuan…saya takut…kerana saya dapat merasakan lelaki itu sedang memberitahu kepada saya…saya dapat mengingati ketiga-tiga mimpi ini kerana sangat unik bagi saya.ibarat saya sudah dapat merasakan pengalaman bersalin anak.sangat enak….nikmatnya dapat melahirkan anak…tapi…mengapa lelaki itu seperti jauh daripada saya???…sangat misteri…saya ingin ketahui jawapannya…ini adalah mimpi benar saya alami.

  4. Assalamualaikum Bapak Shodiq, semoga Allah senantiasa melindungi bapak dan keluarga. Saya wanita Usia 36 tahun pak, sebenarnya sudah tidak layak menanyakan perihal pacar2an lagi. cuma saya ingin supaya keresahan di hati saya ini hilang dengan berbagi. Lima tahun belakangan ini saya dekat dengan sesorang pak, yang usianya 8 tahun dibawah saya. kebetulan anak muda ini seorang non muslim yang konon katanya sedang mencari kebenaran. hampir setiap hari kami selalu beraktifitas bersama, diskusi, olah raga dan sebagainya. orangnya sangat baik, ramah, pintar dan pola hidupnya lebih islami dari orang islam itu sendiri. Saya biarkan dia masuk ke dalam kehidupan saya, karena awalnya saya yakin bahwa saya tidak akan jatuh cinta kepadanya.
    Tetapi lama kelamaan saya sangat bergantung sekali padanya. tidak ketemu dia satu hari aja saya gelisah. saya selalu merinduinya siang dan malam. semua orang di lingkungan kami beranggapan bahwa kami berpacaran. namun begitu kami tak pernah melakukan hal2 yang melanggar norma-norma. semakin hari perasaan saya itu semakin berkembang, walaupun saya sadar bahwa cinta saya itu adalah cinta yg salah.
    beberapakali saya menolak ajakan ta’aruf pria lain, karna saya selalu memikirkan “teman” saya ini. akhirnya saya tua sendiri dimakan usia, dan dia terus terang mengatakan kalau dia tidak mungkin hidup bersama saya.
    Bapak Shiddiq, saya sedih dengan perkataannya, merasa malu dan tercampakan. apalagi akhir-akhir ini dia selalu membawa teman barunya, dan hidup leluasa seperti adat mereka (cina) serumah.
    bagaimana bapak, cara saya mengatasi rasa sedih itu, apalagi disaat ini saya memerlukan dorongan semangat untuk menyelesaikan s3 saya.
    Dia masih tetap baik kepada saya seperti biasa. saya juga ingin bersikap biasa, tapi tak mampu, setiap berhadapan dengannya emosi saya selalu meledak.
    mohon nasehat dari bapak shoddiq. terima kasih, Salam.

Komentar ditutup.