Kalo belum ketemu jodoh gimana? (1)

Saya .., umur 24 tahun domisili di D. Saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria dan sudah berjalan selama 3 tahun. Dari awal kami menjalin hubungan kami sepakat bahwa ini adalah hubungan yang tidak main-main. Awalnya saya merasa senang akhirnya ada juga yang mau menikahi saya. Namun seiring dengan waktu, banyak hal yang membuat saya menjadi kesal.

Pertama, waktu pertama kali bertemu dia janji mau menyelesaikan kuliahnya, namun 3 tahun kami jalan baru dia selesaikan. Alasannya macam-macam. Setiap kali saya motivasi dia untuk lulus, dia diam dan marah. Setelah lulus, penyakit hepatitis-nya kambuh, otomatis kami jadi mengundurkan rencana pernikahan.

Selain itu, orang tua saya juga semakin tidak setuju dengan dia. Kata ibu saya, ada yg ganjil. Itu feeling orang tua, biasanya bener. Saya juga sudah berusaha untuk mencari pekerjaan di daerahnya (kami memang menjalin hubungan jarak jauh selama ini, dia di P sedangkan saya di D), tapi tidak ada yang tembus. Saya istikharah, setelah itu perasaan saya seperti hampa dan berat.

Apakah memang hasil istikharah saya menunjukkan dia bukan jodoh saya? Kenapa ya setiap laki-laki yang berkenalan dengan saya selalu gagal, dulu mereka bilang saya tidak putih, pendek dll.. sekarang alasannya karena saya s2 mereka jadi minder…

Saya baca buku Bapak, doa & zikir cinta, ada doa & zikir pertemukan dengan jodoh, supaya mampu menikah, supaya memiliki kekuatan dalam menghadapi cobaan dll… apakah ada alasan kenapa bapak mengambil potongan ayat tersebut? (maaf pak, bukan meragukan bapak.. saya justru merasa terbantu sekali dengan tulisan bapak..akhirnya ada juga solusi untuk saya..karena selama ini saya selalu menemukan bacaan seperti pernikahan dini tapi tidak ada solusi mengenai ya kalo belum ketemu jodoh gimana? padahal dalam kasus saya… saya tidak menolak laki2, tapi ada faktor entah apa yang membuat laki2 tidak melamar saya-ini siy menurut saya)… tolong luruskan saya ya pak..

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terima kasih kau telah membaca bukuku. Terima kasih pula atas kepercayaan yang kau taruh padaku untuk “meluruskan”-mu.

Ya, aku bersedia “meluruskan”-mu seperlunya dan sebatas kemampuanku. Kalau ada informasi yang lebih lengkap, akan lebih mudah bagiku untuk menganalisis kasusmu. Sambil menunggu informasi tambahan, kusampaikan dulu tanggapan awal.

Terhadap pertanyaan kritismu mengenai penggunaan “potongan” ayat tertentu untuk doa & zikir cinta, jawabanku: ya, memang ada pertimbangannya. Gambarannya sudah aku ungkapkan di bab pertama, sub-bab “Cara Zikir Sesuai Syariat”, dua pasal pertama:

  1. Mengutamakan contoh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
  2. Sesuai [atau relevan] dengan masalah yang sedang dihadapi

Terhadap pertanyaan utama, “Kalo belum ketemu jodoh gimana”, maka pertimbangan pertama kita: Benarkah kita belum ketemu jodoh? Bagaimana kalau sebenarnya jodoh kita itu sudah ada di depan mata kita, tetapi kita belum menyadarinya?

Dalam konsultasi tatapmuka, tak jarang aku mendapat pertanyaan “Kalo belum ketemu jodoh gimana”. Namun setelah dianalisis lebih dalam, ketahuanlah bahwa ternyata jodoh mereka sudah disediakan oleh Tuhan di hadapan mereka, tetapi selama itu mereka belum menyadarinya. Tak ada satu pun diantara mereka yang pada kenyataannya belum ketemu jodoh sama sekali. (Juga dalam buku-buku mengenai filsafat cinta dan psikologi cinta, seringkali kudapati bahwa banyak orang mengira belum ketemu jodoh, padahal sebetulnya sudah ketemu.)

Pada kasusmu, dari kata-kata yang kau sampaikan dalam curhatmu, kusimpulkan: ada kemungkinan bahwa kamu pun sudah bertemu dengan jodohmu, yakni pacarmu saat ini, tetapi kau (dan mungkin juga pacarmu) belum maksimal dalam merawat jodoh yang telah tersedia ini. Bila setelah istkharah kau malah merasa berat, kita pun dapat mempertimbangkan: Apakah kau sudah benar-benar melakukan istikharah dengan benar? (Untuk uraian lebih rinci mengenai istikharah ini, silakan baca buku Istikharah Cinta.)

Meredupnya rasa cintamu padanya, juga rasa sayang orangtuamu kepadanya, merupakan kasus yang banyak terjadi pada pasangan yang pacaran lebih dari dua tahun. Kasus seperti itu juga banyak melanda pasangan suami-istri setelah usia perkawinan mereka lebih dari dua tahun, terutama pada pasangan yang menjalani pacaran secara singkat atau tanpa masa pacaran sama sekali.

Ketika hubungan cinta kita sudah berlangsung cukup lama, katakanlah sudah lebih dari setahun, kita cenderung memikirkan mengapa si dia kurang memenuhi harapan kita. (Misalnya, harapan bahwa dia segera menyelesaikan studinya.) Dalam keadaan begini, mungkin kita berkutat pada sudut pandang subyektif kita sendiri. Kita kurang memperhatikan sudut pandang pasangan kita. Bahkan kita juga kurang memperhatikan keadaan obyektifnya. (Untuk perbandingan dengan kasusku, silakan simak Hati Lelaki, “Mau Cepat Lulus atau Mau Pintar?“)

Tentu saja, masalah seperti itu dapat kita atasi dengan berusaha “memahami” lebih dahulu sebelum mengharap “dipahami”. Untuk itu, salah satu hal penting yang perlu kita pahami adalah perbedaan sikap pria-wanita. (Lihat Taaruf Forever.)

Bagi wanita pada umumnya, mungkin termasuk dirimu, tidak seharusnya dia “diam dan marah”. Padahal, begitulah salah satu “bahasa lelaki” (yang kurang dipahami oleh perempuan).

Aku menduga, kemarahannya bukanlah karena kau memotivasi dia. Sebab, semua orang tentulah senang diberi dorongan oleh sang kekasih. Besar kemungkinan, yang memicu kemarahannya adalah kurang tepatnya cara kamu dalam memotivasi dia.

Gimana sih cara kamu memotivasi dia? Terangkanlah serinci-rincinya, ya! Mungkin aku bisa memberitahu kamu cara lain yang lebih jitu untuk memotivasi laki-laki.

Itu dulu tanggapanku. Nanti setelah ada tambahan informasi darimu, terutama tentang bagaimana kamu mensikapi dia dan apa saja pandangan dia terhadap sikapmu kepadanya, insya’Allah aku dapat menyampaikan penjelasan tambahan.

8 thoughts on “Kalo belum ketemu jodoh gimana? (1)

  1. Assalamu’alaiqum Warohmatullohi Wabarokathu

    Bapak M Musodiq Mustika YAng saya Hormati sebelumnya saya minta maaf karena saya pembaca yang baru !

    setelah sering saya membaca artikle yang bapak tulis saya jadi tertarik untuk konsultasi masalah saya

    saya sekarang baru menginjak usia 21 dan hendak menginjak 22 saya dudah di perkenalkan dengan seorang wanita pilihan orang tua saya yang tak lain adalah rekan ayah semasa SMA beliau hendak mengenalkan Putrinya kepada saya dan saya kaget dengan adanya tawaran seperti itu karena entah kenapa saya masih merasa kalo saya itu masih jauh untuk menginjak hal-hal yang lebih serius.

    kalo boleh jujur Pacaran saja saya ga pernah yah paling juga baru 1 kali dan itu juga ga berlangsung lama karena sangat singkat dan itu juga waktu SMA, menurut Bapak usia Normal untuk menikah pada seorang laki-laki itu di usia ke berapa Pa. dan saya masih dalam tahapan mengenal dia dan menurut syariat Agama sih dia Bagus gadis yang solehah tapi saya masih merasa jauh dengan ke adaan saya, saya yang masih suka main, nongkrong2 sama temen, terus gaul di Internet apa pantas dengan gadis yang taat kepada Agama, dan memang dalam hati kecil saya ingin sekali mendapat gadis yang solehah tapi saya masih suka merasa Minder dengan keadaan saya yang frofesinya sebagai Operator Di sebuah Warnet swasta.

    dan saya mohon bantuan bapak saya harus gimana? apa saya haru Ta’aruf dulu dan pengalaman di Ilmu Agama saya Agak Kurang Gimana menurut pandangan Bapak,
    dan 1 lagi nih pa gimana caranya mendapatkan Buku-buku Bapak apa ada di Toko-toko buku sedangkan daerah saya jauh dari toko-toko buku besar dan saya tinggal di daerah Kuningan Jawa Barat..

    sekian surhatan saya dan mohon kiranya bapak memberikan bimbingan nya kepada saya selaku manusia yang haus akan ilmu Agama dan mohon di maafkan jika ada kata-kata yang tak berkenan di hati Bapak Terimakasih setitik ilmu dan Doa sangat saya Harapkan……

    Wassalamu’alauqum……..Warohmatullohi Wabarokathu…..

  2. Assalamu’alaiqum Warohmatullohi Wabarokatu

    Bapak M Musodiq Mustika, saya adalah pembaca baru, kebetulan saya menemukan alamat ini saat saya sedang bingung.

    saya memiliki masalah pa shodiq, saya harap saya bisa mendapatkan jawaban yang dapat menjawab pertanyaan di benak saya ini.

    3 tahun yang lalu saya pernah menjalin hubungan dengan seseorang, tetapi ternyata hubungan itu kandas di tengah jalan. Hubungan kami tersebut sudah terlalu jauh, sehingga saat itu saya kalut, saya tidak tahu lg apa yg harus saya lakukan dan bagaimana saya menghadapi hidup saya kedepannya.

    Alhamdulillah saya masih memiliki orang tua yg mau mengerti keadaan saya.
    Saat itu saya menceritakan keadaan saya pada ayah saya dan Alhamdulillah, dia mau memaafkan saya dan menganjurkan saya untuk banyak2 solat, berdoa, dan bertaubat.

    Pada akhirnya saya bisa menjalani kehidupan saya seperti sedia kala, walaupun dalam hati saya merasa saya adalah orang yg kotor. Tidak mungkin ada orang yang mau kepada saya.

    Bapak Shodiq, dalam setiap doa saya, saya selalu meminta agar jodoh saya di dekatkan, walaupun nanti saya menjadi istri kedua, saya rela, saya ikhlas, jika memang itu sudah menjadi jalan hidup saya.

    2 tahun setelah saya berpisah dgn mantan kekasih saya, saya bertemu dengan teman masa kecil saya.
    Saat itu dia sudah menikah dan memiliki 2 orang anak.
    Komunikasi antara kami berjalan begitu saja, sampai suatu saat dia meminta saya menjadi istri keduanya. Saat itu saya mengatakan saya mau asalkan istri pertamanya mengijinkan.

    tetapi ternyata istrinya tdk mengijinkan dan dengan berat hati kami memutuskan untuk berpisah.

    2 bulan telah berlalu tapi kami tdk bisa melupakan cinta kami, pada ahirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ini tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi kami tidak berencana untuk menikah saat itu juga, rencana kami adalah nanti stlh memiliki rumah.

    Bapak shodiq, saya berpikir, apakah dia memang jodoh saya? apakah ini merupakan jawaban atas doa saya dulu pada saat saya mengatakan saya bersedia menjadi istri kedua jika memang itu sudah jalan hidupku.
    Apakah hubungan yang saya jalani saat ini salah?
    Padahal kami saling mencintai dan kami ingin menikah.
    Tolong pencerahan hati dari bapak.

  3. assalammualaikum mas sodiq………..,saya dah berumur 32th.akhir tahun lalu ada ihwan yang mau menikahi ana dengan menjadi istri ke 2.sebenarnya tidak masalah buat ana dan keluarga….ehm maksudnya ortu mengijinkan.Bahkan istri 1juga ok ok aja.kami udah ta’aruf dengan keluarga.bahkan ana udah di kenalkan kepada calon mertua.masalahnya……………?????????????????karena informasi yang sangat nimim dari pihak ke 3,ternyata calon saya baru mantap alias mapan secara ekonomi.sedangkan untuk agamanya masih sangat lemah.akhirnya setelah istikaharoh ana mantap uuntuk memolak.oh ya calon saya umur 40th,sedangkan istrinya 34th dan mereka tinggal di luar jawa.mohon nasehat dari mas shodiq,berkaitan ta’aruf yang memakai pihak ke 3.apa saja yang perlu diketahui oleh calon pasangan agar kes saya tidak terulang lagi.syukron.wassalammualaikum.wr.wb

    • @ mawar biru

      Supaya kasus ukhti itu tidak terulang, ukhti perlu melakukan tanazhur, bukan sekadar ta’aruf. Ditinjau dari metode observasi, tanazhur itu seperti “studi kasus”, sedangkan taaruf itu seperti survei.

      Si dia ialah makhluk tunggal yang bersifat unik, lain dari yang lain. Terhadap produk unik yang bersifat tunggal seperti ini, metode penelitian yang efektif adalah “studi kasus“, bukan survei.

      Kalau ukhti pernah berkuliah S1 sampai akhir, tentu ukhti sudah mengenal “studi kasus”. Kalau pun belum, ukhti masih bisa mempelajarinya. Dalam hal ini, ada banyak buku yang menjelaskannya. Diantaranya: buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992)

  4. Assalamu’alaikum Warhmatullah Wabarakatuh
    Bapak M Musodiq Mustika, saya adalah pembaca baru, kebetulan saya menemukan alamat ini saat saya sedang mencari tahu ttg hal2 baru lewat internet.
    Izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya riskiyah, 29 tahun, Nona. skarg sibuk mengajar di sekolah sd swasta islami.saya tinggal di jakarta.

    Mohon sarannya untuk masalah saya ini. Saya gadis 29 thn, tapi belum menemukan calon/teman baik untuk pandangan hidup saya. Tapi saya juga bingung/minder karena saya tidak sama seperti perempuan seumuran saya.

    Di umur saya 25 thn yang lalu saya mengalami operasi angkat rahim, krn penyakit kista dan miom disertai dgn pendarahan. artinya saya skrag adalah perempuan tanpa rahim dan kelak tidak bisa memberikan keturunan.

    Menurut, Bapak bagaimana cara saya berikhtiar agar saya tidak minder untuk mendapatkan teman baik saya?
    Apakah masih ada laki-laki yang dengan ikhlas kelak bisa menerima saya apa adanya???????

    Apakah ada bacaa/doa/zikir yang bisa membantu saya.

    Mohon bimbingannya pak.
    TErima kasih sebelumnya, semoga Allah meRahmati kehidupan Bapak. Amien

Komentar ditutup.