Luar biasa!! Seorang lelaki muda mengakui kesalahannya dan minta maaf kepadaku.

Konon, anak muda “maunya menang sendiri”. Paling tidak, begitulah kata Rhoma Irama dalam salah satu lagu legendarisnya, “Darah Muda”. Konon pula, eh… bukan lagi “konon”. Berbagai penelitian mutakhir (antara lain oleh Deborah Tannen) menunjukkan bahwa para pria pada umumnya enggan meminta maaf atas kesalahannya. Jadi, kalau ada seorang lelaki muda yang ternyata mau mengakui kesalahannya dan kemudian minta maaf kepadaku, maka kesimpulan kita: dia itu luar biasa, lain dari yang lain!

Siapakah lelaki muda yang aku maksudkan ini? Bagaimanakah profilnya?

Namanya Hidayat. Profilnya di Friendster bisa kita saksikan dengan leluasa.

Usianya 24. Kuliahnya di TRISAKTI Teknik Mesin 2003. Status? Single! (Wahai akhwat sekalian, silakan berta’aruf dengan dia!)

Kasusnya, kemarin-kemarin Hidayat bertamu ke beberapa blogku yang membicarakan masalah pacaran islami. Antara lain, dia menyampaikan sebuah komentar:

assalamualaikum, waduh pak shodiq ini, ente macam politikus ajah pak, masyaAllah pintar mengelak dengan mengadakan bukti2 yang dibenar2kan dan di hubung2kan, ku nggak habis pikir pak apa yang ada di pikiran ente, mang dulu masa mudanya gimana pak, bapak rohis yah, trus pacaran, trus di sidang ma dewan suro rohis, trus dendam kesumat merasa dipermalukan, saking dendamnya jadi buat yang kaya beginian, untuk membenarkan masa muda yang dulu ente lakukan jadi menganjurkan para pemuda pemudi khususnya islam untuk pacaran, aduh pak kasiahan bangat ente, katahuan pak bapak tuh egois, orang yang ga mau disalahkan, orang yang ga bisa mengakui kesalahan, jadi ente ngeracunin deh tmen2 ane, saudara2 ane lewat pacaran islami, parah bangat dah ah, ku jadi malu sebagai sesama manusia, btw bapak manusia kan yah, alhamdulillah kalo gitu, afwan sebelumnya niy kalo ente marah hehe, oh iya pak satu lagi, wajah ente lucu, kliatannya baik, mending jadi orang baik ajah pak, ditunggu konfirmasi ente yah, mudah2an berita baik, ente mau mengakui kesalahan ente, jadi orang bijak lah pak, ente keliatannya intelek dengan analisa2nya, sayang banget analisa sebagus itu buat yang begini2an… ok, salam hangat pak shodiq, assalamualaikum…

Terhadap komentar yang kurang sopan tersebut, kami sampaikan nasihat kepada dia, “Kalau tak mampu mengerjakan PR di atas, jangan melancarkan fitnah dan prasangka buruk gitu, dong! Bertindak sopanlah selaku tamu blog ini sebelum para pengunjung lain meminta kami mengusir Anda.”

Alhamdulillah, nasihat kami itu dia terima dengan sebaik-baiknya. Tadi sore, melalui Friendster, dia sampaikan pesan kepadaku sebagai berikut.

pa kabar pak shodiq mudah2an antum sekeluarga sehat semua yah, sebelumnya ana mau minta maaf niy soal comment ana yang kemaren-kemaren, maklumlah ana rada kaget, n gejolak anak muda suka meledak ledak, tapi ana mau tanya, pacaran islami yang pak sodiq ungkapkan itu seperti apa jelasnya, apakah boleh pegangan tangan, trus mesra2an di telpon, bilang sayang, cinta, ngegombal, kan itu semua pak yang biasa dilakukan orang yang pacaran, … mohon penjelasannya pak, jangan yang ribet2 ya pak, saya juga baru belajar niy, mencoba memperbaiki kesalahan yang udah2.. thanks pak, afwan, sukron…

Tentu saja, permintaan maafnya aku terima. (Untuk penjelasan yang dia minta, aku menyarankan dia untuk membaca artikel “Pengalaman PraNikah Diriku & PraNikah Rasulullah SAW” dan halaman “Fiqih Pacaran“.) Bukan hanya memaafkan, aku pun merasa salut kepadanya. Sikapnya itu luar biasa, bukan?

Ataukah kau belum yakin bahwa sikapnya itu luar biasa? Untuk pembanding, marilah kita perhatikan sikap sejumlah lelaki muda lainnya yang pernah kami beri nasihat serupa pada kasus yang juga serupa.

Walau sudah kami nasihati untuk bertindak sopan, si X (seorang penggemar mobil mewah yang anti pacaran) malah menyampaikan pesan-pesan yang lebih biadab. Diantaranya: “[kowe] iki koyo’e wong EDAN, wis ta’lah C*K, gak usah ngomong agomo, RAIMU iku pantes-e doyan WEDOKAN ae, g usah dihubung2no ambek agomo.” (Kata-kata yang berbahasa Jawa kasar tersebut bermakna: “[Kamu] ini sepertinya orang GILA, sudahlah Bung, tak usah bicarakan agama, TAMPANGMU itu pantasnya suka MAIN PEREMPUAN saja, tak usah dihubung-hubungkan dengan agama.”)

Meski sudah kami nasihati untuk bertindak sopan, si Y, si Z, dkk, justru mengajak para pengunjung blog mereka masing-masing untuk melecehkan diriku. Kupikir, tak perlulah kusebutkan apa saja hujatan para lelaki muda itu mengenai diriku. Kau dapat dengan mudah menjumpainya di internet melalui browsing.

Kita dapat membandingkan sikap si X, Y, Z, dkk. itu dengan sikap Hidayat yang telah kuceritakan di atas. Jauh berbeda seperti antara bumi dan langit, ‘kan?

Sekarang, marilah kita ambil berbagai pelajaran dari sang lelaki muda yang luar biasa tadi. Nah, kau mau menambahkan penjelasan? Silakan!

Untuk pembahasan lebih lanjut, silakan simak diskusi di sana.

Iklan