Konsultasi: Dilema Hubungan Tanpa Status antar Aktivis Dakwah

Meskipun khalayak utama yang kubidik ialah orang ‘awam’, ternyata banyak juga aktivis dakwah yang “melirik”. Malah, sebagian diantaranya juga berkonsultasi. Salah satu masalah yang paling sering diajukan adalah dilema hubungan [cinta] tanpa status (HTS). Di satu sisi, mereka ingin tetap tekun menekuni dunia dakwah tanpa memutuskan hubungan percintaan mereka. Di sisi lain, teman-teman sesama aktivis di komunitas mereka itu menentang keras percintaan pranikah seperti itu. Lantas, gimana dong?

Sebelum kita rambah solusinya, mari kita dengarkan dulu suara hati beberapa orang diantara mereka. Pertama, dari seorang akhwat, mahasiswi semester 6:

Bismillah…
Assalamu’alaikum
ehm, awalnya saya agak ragu waktu mau konsultasi seputar masalah asmara karena toh menuruut saya itu hal yang sangat bersifat pribadi. tapi karena saya merasa sangat terbebani dan cukup mengganggu studi saya, maka akhirnya saya ingin berkonsultasi dengan anda setelah melihat situs anda.
saya seorang akhwat, mahasiswi semester 6. waktu SMA dulu saya termasuk siswi yang aktif, baik dalam pembelajaran maupun dalam organisasi, dengan prestasi akademis yang lumayan. dan saat SMA pula saya mengalami beberapa kali “ditembak” teman cowok. ada variasi sifat diantara mereka. ada yang perlahan-lahan mendekati saya, sampai ada juga yang bertingkah gokil dan norak dengan memberikan bunga sambil bersimpuh (waktu itu dihadapan teman-teman sekelas) dan tentunya itu sangat membuat saya merasa malu. semuanya saya tolak karena saya tahu betul dalam konteks islam tidak ada yang namanya pacaran. ada riwayat yang panjang tentang kehidupan SMA saya yang penuh liku-liku remaja. namun toh semua itu sudah berlalu dan tidak penting untuk dibahas saat ini.
saat ini saya merasa bimbang dan merasa berdosa karena telah punya suatu rasa khusus pada seorang teman kuliah. awal kejadiannya dimulai dari semester satu. waktu itu, sebagai mahasiswa baru, mungkin wajar kalo agak jelalatan karena ingin tau wajah-wajah teman sekampus. tentunya saya sudah mengerti tentang godhul bashor. tapi, yang namanya manusia, nggak mungkin untuk bisa bergaul tanpa melihat orang sama sekali. waktu itu, secara tidak sengaja saya melihat ke suatu arah (seseorang, dan ini betul-betul tanpa disengaja). dan saat itu juga saya pergoki dia sedang melihat ke arah saya. kejadian itu terjadi berulang kali, bahkan bisa dibilang belasan kali. akhirnya saya merasa ada kecanggungan bila ada dia, dan saya sama sekali nggak berani melihat ke arah yang sekiranya ada dia di situ. saat itu belum ada rasa apa-apa dalam diri saya. seperti tahun-tahun yang sudah berlalu, saya selalu bersikap cuek dan nggak peduli dengan teman cowok, bicara jika memang ada yang benar-benar penting. namun, setelah hari demi hari berlalu, saya mulai tau siapa dia. seorang cowok yang semau gue, belahu, ugal-ugalan, narsis, dan ada indikasi cowok playboy. tapi dibalik itu semua, dia baik. dia adalah koordinator tingkat (korti), prestasinya bagus (selama ini IP-nya selalu di atas 3), aktis di berbagai organisasi, disiplin, solider sama teman, dan cepat tanggap dengan situasi serta punya rasa tanggung jawab yang tinggi (karena dia seorang korti, jadi merasa berkewajiban untuk mengayomi teman-teman seangkatan). dia masih menyebalkan seperti itu hingga semester dua. dan sepenjang pengetahuan saya dia masih jauh dari ajaran islam (meski selalu sholat lima waktu dan nggak pernah ninggalin sholat jum’at), perilakunya masih menyebalkan. dan itu sebabnya saya tetap cuek meski dia sering ber-SKSD dan over acting jika ada saya.
namun di semester 3 dia berubah total. dia mulai dekat dengan teman yang ngerti soal agama. dan dia pun mulai tau tentang norma-norma islam. mulai berubah dalam penampilan. kalo dulu dia suka berpenampilan dengan gaya rambut acak-acakan, dia berubah jadi tersisir rapi. mulai mengenakan celana yang nggak isbal dan tingkah lakunya mulai tertata dan lebih santun. dia jadi agak pendiam dan punya kesan sangat ambisius dalam hal akademis. dan sejak saat itulah pandangan saya agak berubah. saya pikir, “baguslah kalo dia berubah”.
tapi dari sinilah mulai timbul suatu getaran dalam hati saya. dia tau kalo saya akhwat dan mulai belajar untuk menjaga jarak. terasa sekali kalo ada sesuatu diantara kami. kami jadi saling menghindar dan sama sekali menjauh seperti orang yang sedang bermusuhan. dan saat itulah saya mulai tertarik padanya. semester 4 prestasinya meningkat pesat. bahkan kemudia menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah (meskipun dalam hal ini dia killer banget), menjadi ketua organisasi jurusan, katua redaksi bulentin yang diterbitkan jurusan, anak emasnya para dosen, sangat populer dikalangan kakak tingkat maupun adek tingkat.
kalo seandainya tidak pernah ada “sejarah” di antara kami, tentunya saya bisa bersikap normal terhadapnya. masalahnya sampai saat ini saya merasa terkadang dia masih suka mencuri pandang ke arah saya. dan yang paling menyebalkan, dia bertingkah aneh banget di depan saya. memang secara langsung dia tidak pernah berani memandang saya. pernah suatu kali kami satu kelompok untuk pengerjaan tugas kuliah. dan yang terjadi, bukannya fokus dengan diskusi, dia malah sibuk menutupi mukanya dengan buku dan bicaranya jadi nggak karuan (ehm, kayaknya sih grogi). tapi saya nggak suka dengan kelakuannya yang memang terang-terangan menghindari saya seolah-olah saya ini hantu yang menakutkan. jaga pandangan sih harus, tapi kalo sikapnya kayak gitu, saya juga jadi ikut-ikutan salah tingkah kalo ketemu dia. sedangkan di sisi lain dia masih suka cari-cari perhatian.
saya frustasi dan bingung sampai-sampai saya pernah masuk RS gara2 terlalu banyak pikiran tentang dia dan ditambah lagi beban kuliah. saya sering nangis karena tidak seharusnya perasaan ini ada. saya bingung bagaimana harus menyikapinya. mohon diberikan jalan keluar dan terima kasih.
NB: selama ini komunikasi kami sangat canggung dan saya yang merasa tertekan karena harus sering berurusan dengan dia (sebagai seorang korti, tidak jarang dia yang mewakili dosen-dosen dalam urusan pemberitahuan tugas dan pengumpulannya). tentunya sangat tidak mengenakkan karena tiap kali harus berurusan dengan dia dan masalah jarkom pun saya harus kirim balik sms kepadanya dan saya sangat tertekan.

Kedua, dari seorang ikhwan, mahasiswa perguruan tinggi Islam, juga semester 6:

Saya seorang ikhwan. Saya aktif di tarbiyah. Pernah halaqoh, saya sempat kecewa karena murabbi saya berganti-ganti dan jalannya pun tidak aktif. Pernah libur sampai dua bulan lebih, karena murabbi yang sering berhalangan hadir. Jadi usia tarbiyah saya sangat kerdil dibandingkan usia akademik saya yang semester enam sekarang. Saya punya masalah sejak akhir semester dua, saya pernah mengungkapkan rasa cinta kepada seoramg akhwat. Saya bermaksud mengungkapkan itu karena saya yakin dia pasti menolak, dan saya terbebas dari tekanan cinta yang sudah lama saya pendam. Tetapi kenyataannya malah dia menerima cinta saya. saya jadi bingung, tidak mungkin jika saya menyatakan maksud awal saya kepadanya, karena saya takut sekali kalau dia marah. Akhirnya selama ini pun kami berlanjut menjalin hubungan secara diam-diam, kami takut ketahuan apa yang telah kami perbuat. Namun kami jadi saling mencintai, dia adalah type cewek yang manja, tidak mau ditinggal, dan selalu sms saya menceritakan apa saja, saya merasa senang dengan itu. ternyata dia adalah wanita yang baru jadi akhwat setelah masuk kampus. Usia tarbiyahnya juga masih baru.

Selama ini yang saya rasakan adalah perasaan tertekan dan cemas. Saya merasa bersalah dan minder sama ikhwan-ikhwan lainnya. Saya sangat takut, saya belum pernah cerita ke siapa-siapa. Saya bimbang, saya ingin lepas saja dari jeratan ini. Semangat-semangat dakwah itu mulai muncul dari dalam diri saya, saya ingin halaqoh lagi dengan aktif, menulis artikel lagi, berdakwah, mengisi training, ingin punya mutarabbi, tapi saya masih tertekan karena cinta saya dan dia tidak bisa dilepas. Kami berjanji ingin menikah nanti setelah lulus kuliah. Saya sudah pernah datang ke rumahnya di bertemu dengan orang tuanya. Yang ternyata ayahnya adalah seorang ustad paham muhamadiah yang simpati juga dengan PKS, saya merasa sangat senang dengan ayahnya. Berharap saya akan belajar dari pengalaman2 beliau. Orang tua dia setuju. Begitu juga dengan orang tua saya, terutama ibu, saya sudah cerita tentang ini ke ibu, dan ibu merestui insyaAllah… tapi orang tua kami hanya mengizinkan pernikahan setelah kuliah saja.

Yang saya tanyakan kepada Ustad,

1. bagaimana supaya saya bisa utuh terjun dalam dakwah ini? Saya pernah mencoba untuk tidak saling berhubungan sampai saya mengkhitbahnya nanti, agar saya tidak terganggu dalam belajar dan amanah-amanah saya.

2. apakah mungkin jika kami boleh menikah dengan kasus kami seperti ini? Pernah saya dapati informasi, bahwa hubungan kami sudah tercium. Saya sangat takut ustad…

Terima kasih atas jawabannya ustad jazakumullah………………….

Ketiga, dari seorang akhwat:

Belakangan ini saya punya masalah yang selalu saya pertanyakan dalam benak saya. Saya (akhwat) memiliki seorang teman (ikhwan) yg udah saya anggap seperti sahabat saya sendiri.bulan november kemarin dia berangkat ke jawa, untuk melanjutkan pendidikan(pesantren). Sebelum dia berangkat ke jawa untuk pesantren, hubungan komunikasi antara saya dengan dia, berjalan dgn baik. tapi, setelah dia mengikuti pesantren disana, dia mulai berubah. perubahan yang tampak dari dia yaitu, dia gx pernah lagi sms atau skdar bertukar kabar. jadi, suatu hari saya mencoba menelpon dia, dan tarnyata waktu itu dia lagi bljar dan bilang kalau saat ini dia lagi ada masalah. trus, dia sms saya. dia bilang kalau masalah dia saat ini adalah masalah komunikasi yang dibatasi antara ikhwan dan akhwat. saat itu saya tidak mengerti maksud dari sms dia itu.dia bilang, kalau antara ikhwan dan akhwat tidak diperbolehkan smsan/tlp2an kecuali dalam masalah agama(untuk mencari pahala Allah), atau dalam keadaan darurat. Nah, inilah yang menjadi pertanyaan saya saat ini untuk bapak. Benarkah itu??

Terhadap kasus-kasus semacam itu, seorang akhwat “terpaksa” memilih bersabar “jalani apa adanya”. Ia beserta kekasihnya menjalin hubungan secara diam-diam dan ekstra hati-hati supaya tidak ketahuan. Dalam curhatnya, ia mengungkapkan:

mmm…. saya bisa dibilang akhwat tarbiyah, dah cukup lama, hampir 4 taun. byk orang bilang saya militan, perkasa, dewasa dll
yah begitulah…
yg lucu, di saat semester 7 kemarin….
saat saya sedang benar2 melebarkan sayap pemahaman saya akan dakwah, malah “terjebak”.
orang asing itu menyukai saya dengan caranya….
dia orang biasa, gak tarbiyah. bahkan dia tarekat. awalnya ragu bgt. udah ngomongin semuanya ke murobbi dan ke temen deket. tapi mereka rata2 bilang “kamu kan dah ngerti musti gimana”. saya sih ngerasanya, mereka sama sekali gakperhatian sama saya. dan kebetulan lagi jenuh2nya jg sama aktivitas. curhat sama Allah aja. gak ada judgement. kadang timbul rasa sebal luar biasa sama temen2 aktivis lain yg cuek tapi pinter men-judge.

sampai…
beberapa bulan kemudian…
setelah mengalami masa jatuh bangun…
saya sadar saya akhirnya jatuh cinta padanya…
dgn kejujurannya, keapa adaannya, kecerdasannya…
(klo soal perhatian, dia gak peka… tapi malah gara2 itu saya jadi suka dia)
saya jujur sama semua orang…
kami memiliki hubungan…
kami sekarnag jalani apa adanya
nunggu saya lulus (sekarang lagi nyusun skripsi) dia juga.
kita berdua pengennya nikah sekarang juga (hehe… nafsu aja bisanya!), tapi kedua orang tua kmi (terutama orang tua saya) menolak keras klo kami belum punya pekerjaan dan bisa mandiri…

sudah beberapa kali saya bolos pengajian…
bukan apa2, saya mungkin butuh ketenangan aja…

sebenarnya saya masih sering nangis klo inget pandangan adik2 angkatan saya di kampus bgmn, karena seharusnya saya menjadi panutan buat mereka…

tapi saya tidak ingin menyakiti hatinya lagi…
klo dibilang siapa yg paling jahat disini, itu adalah saya…
dibanding dirinya, saya lbh paham bahayanya hubungan kami…
tapi saya membiarkan diri saya…
sejujurnya… sya lelah… sangat…
sudah berulang kali minta pisah, tapi yg ada hanya menyakiti diri saya dan dirinya. yg pasti skripsi jadi tidak terurus…

saya berharap tidak ada yg mengikuti jejak saya…
tapi saya yakin…. saya bisa melalui ini semua…
kami pasti bisa melalui semua ini…

dgn bertemu dirinya… saya byk menemukan kenyataan bahwa saya tidak sebaik yg saya kira…
kami berdua saling berusaha memperbaiki…
dirinya dgn kepahaman ilmu tasawufnya dan saya sendiri dgn jiwa pergerakan (yg sejujurnya masih terhujam kuat dalam diri saya… hanya saja saat ini sedang koma…)

saya salut buat kalian yg bisa melewati masa2 sulit ini…
doakan kami… secepatnya bisa melalui masa2 ini… dgn menikah atau pisah…
(maaf ya jadi curhat)

Alternatif lainnya adalah “terpaksa” menghentikan aktivitas dakwah di jamaah yang melarang dipeliharanya hubungan cinta pranikah. Seorang ikhwan mengungkapkannya sebagai berikut:

Saya tahu blog ini dari temen saya di suatu masjid kampus, dan sejak itu saya selalu mampir ke sini (kurang lebih semingguan) di sela-sela kerja di kantor (mumpung internet gratis ). Saya hampir telah membaca semua postingan Pak Shodiq di sini beserta komen2nya.

Subhanallah, akhirnya ada juga yang berani merumuskan pacaran secara islami. Dan konsep pacaran islami yang bapak usung saya sangat menyetujuinya. Memang sih, judulnya itu (pacaran islami) menyulut api banget bagi aktivis tarbiyah.

Eits, jangan salah, saya juga tarbiyah lho (paling nggak masih aktif liqo). Kebetulan dulu saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, dan alhamdulillah sudah lulus setahun yang lalu. Selama kuliah saya juga aktif di masjid kampusnya (dan sempat menempati asramanya selama setahun).
Nah, yang ingin saya soroti di sini berdasarkan pengalaman saya adalah ternyata konsep pacaran islami ini sudah buanyak dilakukan oleh para aktivis dakwah. Tapi memang dilakukan sembunyi-sembunyi. Takut di’sidang’ katanya. Trus juga istilahnya bukan pacaran islami, melainkan TTM ato HTS (Hubungan Tanpa Status) ato berkomitmen. Tapi prakteknya sama banget dengan konsep pacaran islami.

Menurut saya pribadi hal seperti itu sangat manusiawi dan toh masing2 tetap menjaga adab2 pergaulan ikhwan-akhwat. Yang saya takutkan justru, karena merasa berdosa yang sangat berlebihan terhadap perasaan dan hubungan tersebut dan karena mendapat sindiran2 miring dari teman2 sesama aktivisnya, mereka akhirnya menarik diri dari aktifitas dakwahnya dan menghilang dari peredaran. Dan inilah yang terjadi. Kalo sudah begitu, siapa yang bisa jamin kalo hubungan antara ikhwan-akhwat yang bersangkutan bisa tetap dalam kaidah2 syari’at. Inilah yang sungguh2 disayangkan.

Ikhwahfillah, sadarilah, hal tersebut terjadi di antara kita. Trus, solusi yang paling baik yang bisa kita lakukan apa? Ujung2nya si pelaku disidang lagi disidang lagi. Kenapa nggak kita rame2 ngumpulin duit buat biaya pernikahannya trus kita ringankan segala kesulitannya menuju jenjang pernikahan. Gitu kan solutif. Akhirnya kita juga nggak merasa diri paling benar dan memandang sebelah mata terhadap para pelaku2 tersebut.
Nah, di sinilah saya melihat ada kekurangan dalam metode pranikah dalam tarbiyah di Indonesia (gak tahu di luar Indonesia mah, lha wong ternyata Abu Syuqqah, sahabat Yusuf Qardhawi sendiri, malah menulis tentang ‘bercinta sebelum menikah’). Mo dilarang2 juga pasti ada aja yang kayak gitu, baik terang2an maupun sembunyi2. Ya… namanya juga perasaan suka sama lawan jenis, siapa sih yang bisa ngelarang datengnya perasaan kayak gitu.

Saya pernah mendengar sendiri pernyataan seorang akhwat yang dia kutip dari murabbinya seperti ini, “Yang tidak mengikuti peraturan jamaah ini (dengan berta’aruf maksudnya), tidak termasuk dalam jamaah ini! (tarbiyah maksudnya)” Wuiiihhh…… serem banget dengernya. Masa segitu mudahnya sih mengeluarkan seseorang dari jamaah.

Harapan saya pribadi sih, konsep pacaran islami ato tanazhur pra-nikah ini bisa menjadi suatu trigger dan referensi (paling tidak bahan komparasi) bagi ustadz2 kita untuk merumuskan metoda yang paling baik dan solutif dalam membina percintaan sebelum menikah. Sedih aja sih, ngeliat temen2 yang berguguran di jalan dakwah hanya karena ini.

Aku juga sedih “ngeliat temen2 yang berguguran di jalan dakwah hanya karena ini”. Sebenarnya, seperti yang pernah kualami, kita tidak harus berhenti berdakwah walau masih menjalani hubungan tanpa status.

Kita memang mesti mengikuti aturan jamaah. Kalau kita tidak bisa mengikuti aturan suatu jamaah, kita dapat berusaha mengubah aturan itu atau memilih bergabung dengan jamaah lain.

Bagaimanapun, ladang dakwah itu bukan hanya di tarbiyah/PKS. Masih ada banyak jamaah pergerakan dakwah lainnya, seperti NU dan Muhammadiyah, yang membolehkan hubungan tanpa status alias pacaran islami. (Lihat “Pacaran Islami ala Quraish Shihab” dan “Pacaran ala Muhammadiyah“.) Kalau pun belum ada yang cocok, kita masih bisa berdakwah secara “sendirian” (bersama-sama dengan si dia), bukan?

Untuk pembahasan atau diskusi lebih lanjut, klik di sini.