Konsultasi: Pernah ciuman dalam pacaran

Aku pernah pacaran. Kami berniat pacaran selamanya sampai menikah, tapi 1 tahun kemudian, aku memutuskannya. Karena apa? Aku tak tau. Tapi intinya, karena aku merasa tersiksa pacaran, selalu kangen ma dia, bahkan kami pernah berciuman. Namun setelah itu aku sadar, aku telah keluar dari jalan Allah. Aku pengen balik ke jalan Allah. Aku merasa hina karena telah melakukan itu. Aku benar2 ingin bertobat. Tapi semakin aku pengen berubah, cintaku pada mantanku semakin besar. Aku rindu padanya, bahkan aku sempat mimpi dia menikah dengan orang lain, dan itu membuatku sedih. Aku pengen dia jadi suamiku karena sifatnya yang baik, tapi dia tidak begitu taat beragama dan bukan imam yang akan membawaku ke surga

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Terhadap niatmu untuk bertaubat, aku menyambut hangat. Dengan bertaubat, kau takkan menjadi hina, tetapi justru menjadi mulia. Sebab, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS al-Baqarah [2]: 222).

Memang, bertaubat itu tidak selalu mudah. Selalu saja ada tantangannya. Bagaimanapun, pasukan iblis takkan rela bila kita bertaubat. Namun, setiap masalah itu selalu ada solusinya.

Mengenai masalahmu dalam memendam rasa rindu, aku dapat merasakan kegundahanmu. Jangankan orang biasa, ulama terkemuka pun merasakannya.

Di antara ulama yang menghadapi persoalan rindu itu ialah Ibnu Hazm. Dalam hal ini, beliau menganjurkan sejumlah “Aktivitas Pengobat Rindu“.

Mengenai pergolakan hatimu antara ingin bersuamikan dia, tetapi meragukan ketaatannya dalam beragama, kuharap kau menyimak artikel “Kriteria Terpenting Bukanlah Agama, Melainkan Dîn“.

Jika dîn-nya sudah cukup baik, silakan kau berikhtiar untuk menjalin kembali hubungan cinta yang tadinya terputus itu. Namun kalau dîn-nya masih buruk, kau belum perlu merajut kembali hubungan percintaan itu, bahkan walaupun kau yakin akan dapat mengubah dîn-nya menjadi baik setelah kalian “jadian” kembali. Sebelum “jadian”, hendaklah kau berusaha mempengaruhi dia supaya dîn-nya menjadi baik. (Lihat “Daripada menunggu jodoh, lebih baik…“.) Bila berhasil, baguslah kalau kau kembali menjalin hubungan dengannya. Tapi andai belum berhasil, terimalah kenyataan bahwa Allah menyediakan jodoh lain yang lebih baik daripada dia bagi dirimu.

Intinya, apabila kita mencintai kebaikan, maka ini merupakan kebaikan pula bagi kita. Namun andai kita “mencintai” keburukan, maka itu bukan lagi cinta, melainkan nafsu kotor. Tentu saja, yang kotor-kotor itu perlu kita bersihkan. Sebagaimana telah kusebut di atas, “Sesungguhnya Allah … mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS al-Baqarah [2]: 222).

Untuk membersihkan hati dari berbagai “nafsu kotor” itu (misalnya: “ketergila-gilaan” kepada si dia), sering-seringlah berzikir dengan zikir yang relevan. Kalau belum tahu zikir manakah yang relevan dengan kasusmu, aku sarankan kau baca buku Doa & Zikir Cinta. Insya’Allah kau dapat menemukannya di situ.

Demikianlah masukan dariku. Semoga Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang senantiasa membimbing dirimu dengan Kasih-Sayang-Nya. Aamiin.