About

kelebek's weddingAssalaamu ‘alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

Saya memulai pembangunan situs Pacaran Islami ini dengan menangis. Saya menangis menyimak berbagai berita tentang betapa kita Bergedung tinggi Berakhlak rendah. Saya menangis mengendus bau busuk yang mencemari istilah pacaran. Saya menangis menatap aneka kegagalan dakwah di kancah pranikah.

Selaku penulis buku yang membutuhkan “nama baik” (agar buku saya dibaca orang sebanyak-banyaknya), akan lebih “menguntungkan” bila saya menggarap tema-tema lain saja, yang lebih aman, seperti shalat, pernikahan, pendidikan, dakwah, dll.. Namun selaku hamba Allah, saya merasa kehilangan muka di hadapan-Nya seandainya saya biarkan persoalan yang membuat saya menangis tersebut “berlalu” begitu saja.

Kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan ini. Di depan kita, tersedia sekurang-kurangnya dua pilihan islamisasi pacaran: [1] cara radikal, [2] cara moderat.

Bila kita pilih cara radikal, kita dapat memerangi budaya pacaran sampai ke akar-akarnya. Karena akarnya adalah istilah “pacaran”, sebuah istilah non-Arab, kita bisa menggantinya dengan istilah Arab. Umpamanya: istilah “tanazhur”. Cara radikal ini sangat cocok diterapkan untuk kalangan muda-mudi tertentu yang ghirah-nya dalam ber-Islam amat kentara, yaitu terutama kalangan aktivis dakwah. Mereka memang cenderung lebih mudah kita dakwahi dengan istilah Arab daripada non-Arab.

Bila kita pilih cara moderat, kita dapat mengarahkan budaya pacaran dari yang jahiliyah ke yang islami. Istilah “pacaran” yang sudah populer di masyarakat tak perlu kita ganti. Cukuplah kita menambahinya dengan istilah “islami” seperti halnya perlakuan kita terhadap bank, hotel, sekolah, dsb. Cara moderat ini sangat cocok diterapkan untuk kalangan muda-mudi “awam” (pada umumnya) yang ghirah-nya dalam ber-Islam kurang kelihatan. Mereka memang cenderung lebih mudah kita dakwahi dengan istilah non-Arab daripada Arab.

Dua cara tersebut saya dukung. Ingin rasanya saya menjalankan keduanya sekaligus secara setara. Namun demi efektivitas pelaksanaannya, mesti ada satu cara yang lebih saya prioritaskan.

Saya mempertimbangkan, kejahiliyahan orang awam dalam pacaran lebih memprihatinkan daripada aktivis dakwah. Karena itu, di sini saya lebih memprioritaskan berdakwah kepada muda-mudi pada umumnya daripada berdakwah kepada aktivis dakwah. Meskipun saya masih berusaha menggunakan cara radikal pula, cara moderatlah yang lebih saya utamakan.

Bila Anda mendukung cara moderat tersebut, silakan sampaikan masukan Anda di kotak komentar mana pun yang tersedia. Namun seandainya Anda menentang cara moderat tersebut (atau menentang keberadaan pacaran islami), silakan tuliskan kritikan Anda di sana saja, bukan di sini. Pemisahan ini saya sengaja supaya situs ini lebih terkonsentrasi pada persoalan bagaimana menjalani hubungan percintaan pranikah secara islami.

Supaya lebih terkonsentrasi pula, kita gunakan metode klasifikasi SMART. (Lihat Salat SMART.) Secara demikian, pembahasan kita di situs ini terutama adalah mengenai “Pacaran SMART” yang meliputi:
1 – Siagakan Pelaku Tanazhur (persiapan)
2 – Mantapkan Wujud Tanazhur (penampilan)
3 – Arungi Makna Tanazhur (pikiran)
4 – Rengkuh Ruh Tanazhur (perasaan)
5 – Tebarkan Hikmah Tanazhur (tindak lanjut)

Demikianlah pengantar dari saya untuk Anda. Semoga Allah SWT senantiasa bersama kita. (Amin.)

NB: Demi penyempurnaan situs Pacaran Islami ini, saya mengharap bantuan Anda, apa pun bentuknya.

Wassalam,
Solo, 11 April 2007
M Shodiq Mustika

Iklan
133 Komentar

133 thoughts on “About

  1. Catatan Admin:

    Tulisan di bawah ini ditulis oleh seseorang (yang menggunakan nama Andi Maipa) yang secara licik mencatut nama M Shodiq Mustika dengan

    menggunakan IP 202.155.148.169. Awas! Jangan terkecoh! (Supaya pembaca tidak terkecoh, kata-kata fitnahnya kami coret.)

    @ikhsan

    maaf saudara ikhsan, saya bukan difitnah. tapi saya benar-benar berserah diri.

    “Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah”(al an’am 23)

  2. Catatan Admin:

    Tulisan di bawah ini juga ditulis oleh seseorang (yang menggunakan nama Andi Maipa) yang secara licik telah mencatut nama M Shodiq Mustika dengan menggunakan IP 202.155.148.169. Awas! Jangan terkecoh!

    Pacaran islami???

    emang ada ya??

    bedanya sama “pacaran”, apa?

    menurut saya ngga ada bedanya deh….

    sama2 pacaran kok!!

    Saran saya buat yg pro dan kontra, Lebih baik kembali pada pemahaman dan pola pikir masing2 aja.

    Thank’s be 4

  3. pak shodiq, sepertinya anda harus meralat “tuduhan” terhadap andi maipa. karena yang bersangkutan mengirim saya message lewat multiply sbb:

    weh kok gitu yah
    ada yg pake alamat web ku ya
    IP nya andi tuh 125.163.202.198
    tolong gimana dong kok saya jadi kambing item
    saya selalu menggunakan nama andimaipa sebagi nick

    Tanggapan Admin:

    Ya, sudah diralat. “Andi Maipa” diganti dengan “yang menggunakan nama Andi Maipa”.

  4. harusnya tuh mas di ganti gini nih

    “Tulisan di bawah ini juga ditulis oleh seseorang yang menggunakan berbagai nama yang secara licik telah mencatut nama M Shodiq Mustika , andi maipa, al_akh26 dengan menggunakan IP 202.155.148.169. Awas! Jangan terkecoh!”

    khan yg di catut bukan hanya nama mas shodiq 😀
    seolah-olah aku masih menjadi subject tersangka tuh mas

    lain kali hati hati ya mas shodiq

    http://andimaipa.multiply.com/journal/item/18/siapakah_IP_202.155.148.169_yang_diidentifikasi_adalaha_andimaipa

  5. Assalamu’alaikum….

    Pak Shodiq, kenalan dulu yah sekalian bagi2 pengalaman. Saya tahu blog ini dari temen saya di suatu masjid kampus, dan sejak itu saya selalu mampir ke sini (kurang lebih semingguan) di sela-sela kerja di kantor (mumpung internet gratis :P). Saya hampir telah membaca semua postingan Pak Shodiq di sini beserta komen2nya.

    Subhanallah, akhirnya ada juga yang berani merumuskan pacaran secara islami. Dan konsep pacaran islami yang bapak usung saya sangat menyetujuinya. Memang sih, judulnya itu (pacaran islami) menyulut api banget bagi aktivis tarbiyah.

    Eits, jangan salah, saya juga tarbiyah lho (paling nggak masih aktif liqo). Kebetulan dulu saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, dan alhamdulillah sudah lulus setahun yang lalu. Selama kuliah saya juga aktif di masjid kampusnya (dan sempat menempati asramanya selama setahun).
    Nah, yang ingin saya soroti di sini berdasarkan pengalaman saya adalah ternyata konsep pacaran islami ini sudah buanyak dilakukan oleh para aktivis dakwah. Tapi memang dilakukan sembunyi-sembunyi. Takut di’sidang’ katanya. Trus juga istilahnya bukan pacaran islami, melainkan TTM ato HTS (Hubungan Tanpa Status) ato berkomitmen. Tapi prakteknya sama banget dengan konsep pacaran islami.

    Menurut saya pribadi hal seperti itu sangat manusiawi dan toh masing2 tetap menjaga adab2 pergaulan ikhwan-akhwat. Yang saya takutkan justru, karena merasa berdosa yang sangat berlebihan terhadap perasaan dan hubungan tersebut dan karena mendapat sindiran2 miring dari teman2 sesama aktivisnya, mereka akhirnya menarik diri dari aktifitas dakwahnya dan menghilang dari peredaran. Dan inilah yang terjadi. Kalo sudah begitu, siapa yang bisa jamin kalo hubungan antara ikhwan-akhwat yang bersangkutan bisa tetap dalam kaidah2 syari’at. Inilah yang sungguh2 disayangkan.

    Ikhwahfillah, sadarilah, hal tersebut terjadi di antara kita. Trus, solusi yang paling baik yang bisa kita lakukan apa? Ujung2nya si pelaku disidang lagi disidang lagi. Kenapa nggak kita rame2 ngumpulin duit buat biaya pernikahannya trus kita ringankan segala kesulitannya menuju jenjang pernikahan. Gitu kan solutif. Akhirnya kita juga nggak merasa diri paling benar dan memandang sebelah mata terhadap para pelaku2 tersebut.
    Nah, di sinilah saya melihat ada kekurangan dalam metode pranikah dalam tarbiyah di Indonesia (gak tahu di luar Indonesia mah, lha wong ternyata Abu Syuqqah, sahabat Yusuf Qardhawi sendiri, malah menulis tentang ‘bercinta sebelum menikah’). Mo dilarang2 juga pasti ada aja yang kayak gitu, baik terang2an maupun sembunyi2. Ya… namanya juga perasaan suka sama lawan jenis, siapa sih yang bisa ngelarang datengnya perasaan kayak gitu.

    Saya pernah mendengar sendiri pernyataan seorang akhwat yang dia kutip dari murabbinya seperti ini, “Yang tidak mengikuti peraturan jamaah ini (dengan berta’aruf maksudnya), tidak termasuk dalam jamaah ini! (tarbiyah maksudnya)” Wuiiihhh…… serem banget dengernya. Masa segitu mudahnya sih mengeluarkan seseorang dari jamaah.

    Harapan saya pribadi sih, konsep pacaran islami ato tanazhur pra-nikah ini bisa menjadi suatu trigger dan referensi (paling tidak bahan komparasi) bagi ustadz2 kita untuk merumuskan metoda yang paling baik dan solutif dalam membina percintaan sebelum menikah. Sedih aja sih, ngeliat temen2 yang berguguran di jalan dakwah hanya karena ini.

    Ya… mungkin segitu dulu bagi2 pengalamannya dari saya. Sebenernya sih ada banyak yang ingin saya ceritakan di sini berkaitan dengan pacaran islami berdasarkan apa yang terjadi di sekitar saya (saya dulu kuliah di Seni Rupa & Desain yang punya streotip seram, atheis, mabuk2an, bebas dan yang lebih parah, hanya sedikti aktivis dakwah yang mo mengambil ‘ladang amal’ ini), tapi ntar bosen lagi bacanya 😀
    Yah, kapan2 aja lah ya. Trus, maaf juga kalo saya nggak melampirkan dalil satupun karena saya bukan ahli fiqih, hafalannya masih sedikit dan juga bukan ‘abid. Semuanya hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saja.

    Wassalamu’alaikum……

  6. Allah akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan hambaNya! Renungkanlah! benarkah apa yang anda tulis?Jangan sesatkan remaja!

  7. Dari dalam hati saya pak saya berterimakasih atas kehadiran blog seperti ini, saya cukup merasa ada nuansa ilmu yang baik di sini, tidak menghakimi tetapi memberi kita pilihan untuk bertahan hidup dan menghadapi apa yang menjadi keresahan hati.

  8. asw. bisa tolong didalami kembali kalimat “dan janganlah engkau mendekati zina”. sebab antum salah menafsirkan kalimat. hendaklah antum melihat sejarah kontekstual ketika ayat ini diturunkan dan lagipula Rasullah SAW sebagai teladan umat manusia tidak pernah mencontohkan adanya pacaran ataupun hubungan pranikah atau apalah yang sejenisnya

    Tanggapan Admin:
    Harap jelaskan di manakah letak kesalahan kami dalam memahami ayat “dan janganlah engkau mendekati zina”. Sebab, pacaran tidaklah identik dengan “mendekati zina”. Lihat http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/

  9. aslm,,

    astagfirullahaladzim,,saya pun ikut menangis ketika pemahaman anda tentang pacaran adalah hal yang halal,,

    pacaran memang halal tapi nanti setelah menikah,

    bukankah banyak agenda dakwah yang lebih padat,

    Tanggapan Admin:

    Anda salah paham. Tidak semua bentuk pacaran itu kami halalkan. Yang kami halalkan hanyalah yang islami. Harap bedakan antara “pacaran” dan “pacaran islami”!

    Memang, setelah menikah Anda boleh pacaran. Namun, sebelumnya pun kita boleh pacaran, asalkan secara islami.

    Agenda dakwah memang padat. Sayangnya, sedikit sekali yang mau bersusah-payah melakukan islamisasi terhadap budaya pacaran. Padahal, kalau kita diamkan, akankah kita biarkan muda-mudi islam mengikuti budaya jahiliyah? Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/21/jangan-biarkan-mereka-lari-ke-model-pacaran-jahiliyah/

  10. Assalamu alaikum Wr. Wb

    Alhamdulillah saya menemukan Situs Blog ini. Saya terbawa sampe situs ini berawal dari mencari artikel bertema “Apa

    yang diinginkan wanita” lewat Yahoo!, dan linknya menghubungkan ke salah satu artikel postingan Bapak “Yang

    Sesungguhnya Diinginkan Cewek-Cowok”. Saya berhenti cukup lama di situs ini untuk membacanya, karena disini hampir

    tersedia artikel2 yang saya butuhkan untuk menjawab semua pertanyaan2 dalam hidup saya dalam 10 tahun ini.

    Melihat dan membaca komentar dari Sdr “radur-man on 12 Februari 2008 at 8:44 am”, saya teringat dengan masa lalu

    saya saat masih SMA ketika masih di Pondok Pesantren. Kurang lebihnya sama, disana tentu saja, sama sekali dilarang

    hubungan antar lawan jenis. Dan jika sampai ketahuan akan disidang dengan pilihan NIKAH ato PUTUS ?. Apalah daya

    jika tidak punya kemampuan untuk menikah dan belum memikirkan sampaisana. Dan diberitahukan pada semuanya, “Bahwa

    tidak ada CINTA kecuali setelah PERNIKAHAN”.Waktu itu ada aktifitas mengantar pulang santri putri yang memang tidak

    tinggal di pondok tapi pulang ke rumah, oleh santri putra yg dipercaya. Di sinilah pernah muncul selentingan

    pembicaraan warga sekitar. ” Oh, jadi begitu cara mengenal lawan jenis ala Pondok ?. Ah, sama aja santri ato bukan,

    berjilbab ato tidak. Ternyata mereka juga jalan berdua, seperti orang pacaran”. Tolong, Coba rasakan kalimat

    tersebut, apakah menyakitkan telinga dan hati anda ?

    Peritiwa ini terus memenuhi pikiran saya, perlukah saya pacaran sebelum nikah ? sampai di usia yg hampir 26 ini

    masih bertahan di Jogja. Seringkali hati saya terasa miris melihat melihat banyak sekali mahasiswi terutama yg

    berjilbab dari yang press body, biasa, sampai yang utuh sekalipun, terlihat begitu mesra dijalan apalagi jika naik

    motor berboncengan berdua seperti tas ransel. Dan masih banyak hal2 lain yang jauh dari mata umum, tapi karena

    teknologi, tersebar juga foto2 dan film2 mesum itu, dan saya yakin semua orang tahu hal ini. Saya bertanya dalam

    hati, mereka pacaran ato dah nikah ya ??? Jika pacaran, kira2 mereka itu merasah risih ga ya sebenernya seperti itu

    ? Ato hal seperti itu dianggap biasa kali ya ?

    Tentu anda semua tahu sebuah iklan rokok yang bertemakan pacaran. Apakah gonta-ganti pacar berarti juga gonta-ganti

    bini ? Tentu benar ato belum tentu ? Ada Sebuah komentar yg pernah saya baca di harian surat kabar,seorang cewek

    mengemukakan pendapatnya mengenai hal tersebut. Kurang lebihnya begini, “Seandainya memilih suami/istri seperti beli

    baju, jika rusak bisa beli lagi atao seperti sepatu jika ga pas ato dah ga seneng bisa dikasihkan temen/sodara. Kita

    ga usah repot2 milih suami/istri, ambil aja satu, beli, bawa pulang, pakai, jika ntar rusak kan bisa beli lagi :-).

    Tentu kita bisa seperti itu pada manusia, kita akan memilih yang pas dan berkualitas bagus supaya ga rusak sampai

    tua. dst….”

    Sepertinya, Jika akan diperdebatkan tentang pacaran, baik itu untuk yang islami ato yg umum (awam), tidak akan ada habisnya. Saya setuju dengan Bapak yg membagi kelompok untuk pembahasan mengenai pacaran dibagi dua. Tapi boleh saya nambah lagi pak ? Pembahasan perlunya pacaran di tinjau dari umur. Saya yakin sekali cara pandang mengenai Cinta, pacaran dan nikah akan berbeda pada tingkatan umur. Coba ajukan pertanyaan pada sample dgn tingkat umur yang berbeda, “Mengapa kamu pacaran ?” Jawabanya pasti berbeda. Jika langsung dikaitkan dengan Islam, “Bahwa

    tidak ada CINTA kecuali setelah PERNIKAHAN” (Maaf saya lupa lengkapnya). Akan langsung selesai pembahasan tentang cinta,pacaran dan nikah (titik bukan ?).

    Sementara itu dulu, nanti dilanjutkan lagi. Saya tunggu komentar dari para peselancar lain yang singgah di situs blog ini. Dan tentu saja dari Bapak M Shodiq Mustika. Kurang lebihnya saya mohon mnaaf yang sebesar2nya….

    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    Yogyakarta, 30 Jun 2008

    _re_

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    wa’alaykum salam wr wb.

    Saya memahami kerisauan Anda bila mendengar komentar orang awam mengenai muda-muda santri yang “pacaran” atau “berduaan”. Memang, banyak orang belum mengenal konsep pacaran islami. Mungkin penyebabnya adalah bahwa kita kurang gencar mendakwahkan konsep pacaran islami.

    Usul Anda mengenai “Pembahasan perlunya pacaran di tinjau dari umur” itu bagus sekali. Saya harap saya dapat segera menulis artikel tentang hal ini. Silakan sampaikan masukan yang lebih rinci lagi.

  11. islam tidak mengenal kata pacaran, sekarang ane tanya sama antum kira-kiran pada zaman Nabi Muhammad SAW terdapat kata “pacaran” atau setidaknya Nabi pernah berkata “pacaran”? pacaran bagi kalangan ane pribadi sangat dekat dengan zina, kenapa? karena pacaran sama dengan zina hati dan pikiran.
    walaupun niat kita hanya menjauhi pacaran namun jika dilapangan berbicara seperti itu sama artinya bohong. perbuatan harus dilandasi niat yang lurus dan benar. oke lah ane sepakat pendapat antum dalam pergaulan tersebut.
    islam hanya mengenal ta’aruf sebelum pernikahan. ane mau nanya sama antum, apakah pernah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah? dan apakah pernah salah satu sahabat Rasullah SAW pernah pacaran sebelum menikah? tolong dijawab pertanyaan ini

    Jawaban M Shodiq Mustika:

    Segala yang Anda persoalkan itu pernah diajukan oleh pembaca lain. Kami pun sudah berulang-kali menjawabnya dalam berbagai tulisan di blog ini, lengkap dengan berbagai link yang relevan. Apakah Anda belum membaca tulisan-tulisan tersebut selengkapnya? Supaya diskusi kita lebih berbobot, sebaiknya Anda mempersoalkan masalah lain yang belum pernah dibahas atau yang pembahasannya belum tuntas. Namun supaya Anda tidak penasaran, baiklah saya jawab pertanyaan Anda sebagai berikut.

    Tidaklah benar bahwa “islam tidak mengenal kata pacaran”. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2008/03/01/konsep-mencari-jodoh-secara-islami/

    Pada zaman Nabi Muhammad SAW pun sudah terdapat budaya “pacaran” (dalam arti “saling ekspresikan cinta”). Beliau tidak melarangnya, tetapi justru merestuinya. Lihat https://pacaranislami.wordpress.com/2008/04/17/sikap-nabi-terhadap-orang-yang-ekspresikan-cinta/

    Tidaklah benar bahwa pacaran itu “sama dengan zina hati dan pikiran”. Di artikel “Berdosakah memendam dan mengungkapkan rasa cinta” sudah kami terangkan:

    Tiada dosa bagimu jika … kamu pelihara [sesuatu] itu di dalam kalbu. Allah mengetahui bahwa kamu teringat-ingat kepada mereka.” (al-Baqarah [2]: 235) Dari ayat ini kita pahami, ‘mengingat-ingat’ (merindukan, membayangkan, mengkhayalkan, dsb) kepada nonmuhrim bukanlah ‘zina hati’.

    Tidaklah benar bahwa pacaran itu “mendekati zina” pada kenyataannya. Lihatlah hasil penelitian ilmiah di http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/

    Tidaklah benar bahwa Islam mensyariatkan “ta’aruf sebelum pernikahan”. Yang disyariatkan adalah tanazhur, yang kami sebut sebagai pacaran islami. Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/

    Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pun pernah pacaran (dalam arti “bercinta pra-khitbah“) sebelum menikah. Metode “pacaran” yang mereka gunakan adalah tanazhur (saling menaruh perhatian). Lihat, sekali lagi, http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/

    Percintaan pranikah ala Muhammad SAW dan Khadijah r.a.

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku.” (HR Muslim, Bab “Keutamaan Khadijah”)

    Ibnu al-Atsir menceritakan dalam Tarikh-nya bahwa setelah mendengar kabar tentang sifat-sifat Muhammad SAW, Siti Khadijah menawarkan kesempatan kepada beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Tawaran ini diterima dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar (daripada bila dibawa oleh orang lain). Lantas, Ibnu al-Atsir mengungkapkan “Siti Khadijah sangat gembira menerima keuntungan yang besar itu, tetapi kekagumannya kepada orang yang telah diujinya itu jauh lebih mendalam.” (Kekaguman yang mendalam inilah yang kita kenal sebagai rasa cinta.)

    Perhatikanlah bahwa diantara mereka berdua tidak hanya terjadi proses taaruf (dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dsb). Diantara mereka ternyata terdapat pula “interaksi yang mendalam” dalam bentuk kerjasama bisnis. Interaksi yang mendalam seperti itulah salah satu perbedaan antara pacaran islami dan taaruf. Lihat artikel “Taaruf dan pacaran islami: Mana yang lebih efektif?

    Pola pacaran islami (alias tanazhur) dengan model kerjasama ala Khadijah-Muhammad itu dapat kita jadikan teladan. Dengan si dia yang Anda sayangi, Anda dapat menjalin kerjasama bisnis, belajar bersama, atau pun melakukan kegiatan bersama lainnya yang membawa manfaat sebesar-besarnya. Justru kalau Anda hanya bertaaruf dengan si dia tanpa interaksi yang mendalam, maka Anda belum sepenuhnya memenuhi Sunnah Nabi tersebut.

  12. busyet,,,

    ada ada saja,,,,,

    Tanggapan Admin:
    Anda baru tahu, ya?

  13. iya neh saya baru tahu dan baca tulisan anda,, menambah banyak pengetahuan,,,

    jadi yang bener yang mana yah?

    tapi aku yakin deh, yang bener yang sana,

    soalnya yang sana lebih rasional dan sesuai dengan nalar,,,

    hehe maaf jika ada khilaf, karena saya hanyalah orang biasa yang senang membaca2 blog dan mencari ilmu yang semoga bisa bermanfaat bagi saya,,,

    Tanggapan Admin:
    Terima kasih telah membaca tulisan di blog kami ini. Tolong dong, tunjukkan “yang sana lebih rasional dan sesuai dengan nalar”!

  14. @ ahmad

    taaruf model yg mana ya
    yg kaya para ikhwan akhwat banyak lakuin?

    ada riwayat zaman nabi yg pernah mencontohkan seperti itu?
    tukeran biodata, dateng, duduk tanya jawab, tes baca quran….diulang2 2 or 3 kali….

    apa ada hadits or ayat quran yg mengatakan kalo mo nikah harus taaruf dulu

    pertanyaannya bukanlah apa Islam mengenal pacaran, taaruf, ataw apapun istilahnya..blabla, blublu, blibli…

    tapi lihat ESENSI tindakannya….
    temenan (lwn jenis) tapi kalo kemana2 22an, ngumpet2, sering kissing, bahkan sampe ML…apa iya dibolehkan?…temenan dalam Islam hukumnya boleh loh…

    pacaran kalo kissing2 sampe ML juga saya menentang…sama seperti pak shodiq
    makanya kalopun mao pacaran…ya pacaran yg bener…jgn pake nyerempet2

    sapa yg jamin bisa tahan?

    lah temenan emg sapa yg jamin bisa tahan g zina?
    jalan di mol sapa yg g jamin jelalatan liat aurat2?
    jadi mentri sapa yg jamin bisa bebas dari korupsi?

    g ada jaminan bukan landasan untuk pengharaman…hrs diliat sikonnya dulu

    jadi mentri terus korupsi…ya haramin korupsiny, bukan hal menjadi mentrinya…
    temenan malah sering pegang2an…ya haramin pegang2annya…bukan temenannya
    jalan di mol liat2 aurat…ya haramin liat auratnya…bukan jalan di molnya

    pacaran ngumpet2 sampe ML…ya haramin ngumpet2 sampe MLnya
    jangan pacarannya….

    simpel kan…cuma butuh logika sederhana aj
    tempatkan pada tempatnya….got it

    wassalam

  15. Satu lagi…
    ADAKAH Islam MEMPERBOLEHKAN PACARAN???

    Setahu saya …. Hanya ini yang ada….

    DAN KAWINKANLAH ORG2x YANG SENDIRIAN diantara kamudan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MEMAMPUKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (AnNur:32)

    JIKA TIDAK
    Apakah anda lupa bahwa rasul menganjurkan berpuasa bagi org yang tiadk mampu menikah???
    INGAT!!
    BERPUASA
    BERPUASA
    BERPUASA

    Tanggapan Admin:
    Silakan baca halaman Wajib Baca. Banyak hal yang Anda persoalkan ini sudah ada jawabannya di situ.

  16. Maaf mas TREAD PUNYA SAYA SEBELUMNYA KEMANA YA???
    SUNGGUH DEMOKRATIS…!!!

    PENJELASAN????

    Tanggapan Admin:
    Masuk SPAM. Silakan baca dulu artikel-artikel di blog ini dengan lengkap dan cermat sebelum berdiskusi lebih lanjut. Diskusi kita kurang efektif apabila kami harus mengungkapkan kembali segala yang pernah kami jelaskan sebelumnya.

  17. Muhammadiyah layak bersedih,ternyata kadernya ada yang seperti anda,sebenarnya ga paham agama tapi memaksa. semua sangat dipaksakan.inilah akibatnya kalau mengedepankan syahwat.iman ditinggalkan.

  18. sepakat dengan teman-teman, Rasulullah saw tidak pernah bersabda:

    “Berpacaranlah atau ber-tanazhur-lah…

    Yang diperintahkan Beliau SAW:
    Menikahlah atau Berpuasalah ..

    wallahua’lam

    Tanggapan Admin:
    Tanazhur itu ada dalilnya (hadits shahih); yang tidak ada dalilnya justru taaruf pranikah! Lihat artikel Taaruf: Sebuah istilah yang asal keren?

  19. @Akhina ifa….

    jangan kaget akh,
    thread yang ilang itu mah biasa….
    ana, bukan hanya sekali di delete….
    udah berkali-kali….
    hehehe…..
    yang posting di sini mah, semua yang pro sama dia…

  20. Ping-balik: Pacaran ala Muhammadiyah « Salafi Liberal

  21. maaf, salam kenal saya pengunjung baru.
    saya udah membaca beberapa tulisan2 di blog ini. banyak sekali pro dan kontra.
    salutt buat pak sodiq yang mencoba membuka paradigma baru dalam hubungan antar lawan jenis. juga dengan kesabaran dalam menjawab kritikan yang kadang dilontarkan oleh orang yang kurang sependapat dengan pacaran islami.

  22. wah nikah itu ya harus pake “mikir” je…
    kenapa banyak orang lebih mudah bilang “nikah aja sekalian” dari pada “pacaran dulu baru nikah”?
    1. mungkin ada paradigma yang salah mengenai pacaran (coz dunia informasi kita emang penuh istilah yang artinya tidak lagi murni).saya banyak membaca buku tentang kontra dunia Islam terhadap “pacaran”.sebagian besar isinya hampir sama, memandang dan menitik beratkan “pacaran” lebih pada suatu hubungan atau kontak fisik (bukan selalu “berhubungan badan” lho ya…)
    2. kenapa tdak memandng pacaran sebagai suatu proses…proses mengenali pasangan tentunya. proses mengenal kan tidak perlu melalui kontak fisik seperti cium, rangkul, dsb (itu malah bukan pacaran yang sebenarnya).mengenal ya mengenal…proses menemukan sifat apa yang tadinya tidak diketahui dari pasangannya dan mencocokkannya dengan kehidupan kita…
    3. pacaran itu mengacu juga pada “status”. apa orang sepasang manusia yang sudah sangat akrab tapi tidak memutuskan u/ jadian tapi akhirnya menikah itu bukan orang yang ber”pacaran”? lalu kalo orang yang baru kenal, saling suka terus “jadian” itu baru bernama pacaran?
    “pacaran” itu status…prosesnya sendiri dinamakan mengenal.jadi bukan pertama-tama masalahnya “pacaran”/ tidak, tapi proses yang ada itu bagaimana, bermanfaat tidak…
    4. mana yang lebih baik? mengenal unutk satu kali menikah selamanya atau tidak perlu saling kenal waktu menikah (toh cerai juga halal)??
    apa lalu kalau menikah-merasa ga ccok-cerai-menikah lagi itu terus bener2 halal?
    bagaimana dengan orang yang hanya memnfaatkan situasi itu unutk sekedar ganti (atau koleksi) istri u/ hasrat fisik semata?
    bukannya sex-cerai-sex-cerai itu jauh lebih tidak berahklak dari pada pacaran (yang sebenarnya tidak sampai ke urusan “sex”, tapi cuma mengenal) untuuk mencari pasangan ideal u/pernikahan abadi??
    tanya lah pada hati nurani anda…mana yang lebih manusiawi (bagi ce’ biasanya) dan terhormat??mana yang lebih membahagiakan kedua pihak??
    5.jadi menurut saya bukan istilahnya “pacaran” atau tidak, tapi prosesnya itu bermanfaat atau tidak.kalau tidak, bukan lalu menjudge “pacaran” itu haram, tapi lihat dulu gayanya benar atau tidak…lha gayanya salah kog terus “pacaran”nya yang dilarang…kasihan yang pacaran dengan gaya yang sehat…ga dapet kesempatan mencecap manfaat yang sebenarnya berguna buat kehidupan mereka selanjutnya…

  23. saya baru saja tau tentang yang beginian…
    tp lumayan lah, basic saya juga tentang islam ga buta-buta banget…
    kalo emang yang baca rata2 orangnya seperti saya, bisa mensikapi blog ini atau mungkin buku mas sendiri dengan fikiran yg jernih -jika memang bisa berfikir jernih (non negativ think)- tp jika yg baca itu muallaf, atau org yg baru aja belajar dan ingin mendalami islam, lebih baik jangan lah mas..
    kasian..
    mereka itu masih butuh bimbingan yg jelas…
    kasian kan..

    thx b4

  24. Lagi-lagi penyesatan. Info kacau anda sekali lagi berhasil menyenangkan pemuda-pemudi yang awam tentang agamanya. Inget lho bung Shodiq saya lihat tadi ada non muslim yang mengunjungi blog ini. Dan hasilnya dia ikut memahami Islam dengan cara yang salah akibat tulisan2 anda. Anda bener2 yakin dengan kesesatan anda, saya sungguh tidak kagum sama sekali. Insyaflah selagi sempat.
    baru sekali ini saya melihat tulisan orang yang ngaku Islam tapi meracau dalam agamanya sendiiri. Kalau anda resmi mengaku orang liberal saya nggak masalah. Karena ciri-ciri orang liberal ya seperti anda ini.

  25. astaga…..hal kaya gini masih aja diomongin…basi tahu….yang jelas ga ada yang namanya pacaran dalm Islam…saya yakin 100%…kalo pacaran secara Islami…berarti ada dunk penyembelihan babi secara islami…trus jadi halal gitu….na’udzubillah…dangkal sekali pemahamannya kalo gitu…HARAM AKAN TETAP HARAM, HARAM TIDAK AKAN JADI HALAL…
    sebenernya sekarang dah banyak perancuan arti dari orang2 yang ga bertanggung jawab,,,contohnya bank2 konvensional..yang jelas2 banyak riba tapi buat menarik nasabah..belakangnya diembel-embelin Syariah…Astaghfirullah….mungkin modus pengataan pacaran Islami juga menginginkan pemuda-pemudi terus berkubang dalam ranah maksiat…yang jelas2 di haramkan…ini benar2 agenda konspirasi perusakan nilai Islam di ranah remaja…wahai remaja yang berpacaran …bertobatlah segera …karena sungguh pacaran itu adalh Haram dan berdosa…jika kalian masih saja pacaran maka kalian dalam posisi budak hawa nafsu..yang mencari jalan untuk bermaksiat dengan berpacaran islami…na’udzubillah….

  26. Pak Shodiq sy ingin tanya adakah dalil yg membolehkan memandang aurat lawan jenis walaupun tdk mendatangkan syahwat, misalnya aurat perempuan yg sdh umum terlihat dizaman skrg ini seperti leher, rambut, lengan…soalnya pacaran Islami spertinya secara tersirat membolehkan hal2 tsb dan setahu sy dlm 4 mazhab Islam tdk ada yg membolehkan.

  27. @ Widy
    Apakah Anda belum tahu sikap Muhammadiyah terhadap budaya pacaran? Supaya tidak salah-paham, silakan simak artikel Pacaran ala Muhammadiyah.

    @ Bijaksana
    Tidak ada terjemahan yang bisa 100% memindahkan makna dari bahasa aslinya.

    @ Orangmuslim
    Muhammadiyah memang tidak 100% menentang paham liberal. Lihat Muslim Moderat.

    @ Himmura
    Sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

    @ km3community
    Terima kasih atas dukungannya.
    Salam kenal juga.

    @ Flanker
    Terima kasih atas masukannya. Bagus banget. Semoga para penentang islamisasi pacaran mendapat hidayah Allah lantaran masukan dari Flanker tersebut.

    @ Neo
    Kami belum mengerti apa yang Neo maksudkan. Yang kami dapati, yang salah paham terhadap blog ini adalah para penentang pacaran islami. Mereka ada yang berilmu agama, ada pula yang awam. Lantas, bahayanya apa? Kemungkinannya adalah meruncingnya konflik yang dapat mengoyak ukhuwah kita. Tapi kalau kita menyikapinya secara bijaksana, insya’Allah takkan terjadi perang antara kita dan mereka.

    @ Kopral Bambang
    Apakah Anda belum tahu sikap Muhammadiyah terhadap budaya pacaran? Supaya tidak salah-paham, silakan simak artikel Pacaran ala Muhammadiyah.
    Muhammadiyah memang tidak 100% menentang paham liberal. Lihat Muslim Moderat.

    @ Asy Syaffa Arrahmah
    Ada satu hal penting yang Anda lupakan: YANG HALAL ITU TAKKAN BERUBAH MENJADI HARAM. Mengenai halalnya pacaran islami, lihat halaman Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?) dan Bantahan terhadap Penentang Dalil Pacaran.

    @ Deky
    Di kalimat manakah pada postingan apakah kami (secara tersurat maupun tersirat) membolehkan memandang aurat lawan jenis?
    Semua ulama sepakat bahwa memandang aurat orang lain itu haram.
    Yang tidak disepakati adalah manakah bagian tubuh yang tergolong aurat. (Lihat Fatwa, “Rambut wanita bukan aurat.”)

  28. Ping-balik: Pacaran ala Muhammadiyah « Bukan Zina

  29. Nabi Muhammad berkata; Dan janganlah kalian mendekati zina karena zina adalah perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan. QS Al-Isra (17):32.

    Tetapi herannya Muhammad sendiri telah melakukan perzinaan dengan Maryah, budak Hafsah.
    Lihat Bukhari volume 3, book 43 number 648.

    Menganjur dalam Quran jangan mendekati zina, ternyata Muhammad sendiri telah melakukan zina.
    Dasar kalau nabi palsu Muhammad sudah kelihatan kepalsuannya dalam perbuatannya sendiri.

    Muhammad anjurkan pada pengikutnya bisa punya istri bagi pengikutnya haya diberi 4 orang, sedangkankan nabi punyai istri sebanyak 13. Ini dasar munafik dari nabi palsu Muhammad kakek tua yang berumur 54 tahun seranjang dengan anak umur 9 tahun Aisyah

    Muhammad mengatakan dia menyintai umatnya, seperti Muhammad menyintai Aisyah yang berumur 9 tahun, karena makanan daging yang lesat. Ini dasar dari nabi terakhir si kakek tua yang banyak disebut diinternet Petofia yang gila sek kekuatan diri muhammad seperti 30 lelaki yang dapat bergilir istrinya dalam semalam. Karena masih kurang puas terpaksa Muhammad harus melakukan perzinaan denga Maryah, budak Hafsah. (Bukhari volume 3, book 43 number 648.

  30. Buat Mr.Nunusaku. mbok ya.. katamkan dulu kalo baca sirah nabawiyah.. ente gak tahu ya kalo ayat yang mengharuskan maks. laki2 hanya boleh beristeri 4 itu turun setelah Nabi punya isteri 9 (dalam riwayat lain 13), setelah itu nabi gak punya isteri lagi. trus dijaman itu juga dah biasa orang punya isteri segitu banyak, kemudian islam datang tuk membatasi sampai 4 aja. klo ente bukan muslim mbok yo jangan keliatan gitu tho bencinya dengan islam. kalo ente merasa ada yang bersebrangan ajarannya islam dengan kebaikan ya mbok di kaji dulu biar fair, ya seperti blok ini… kaji dalam2 dan pasti akan didapatkan hal2 yang lebih mendahulukan akal ketimbang iman. na’udzubillah hi min dzalik.

  31. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Karena saya orang awam yang baru saja mendalami agama islam, saya jadi tambah bingung nih dengan postingan pak shodiq dan komen-komen di atas. Jadi ijinkan saya untuk menanyakan beberapa hal. Mohon ada yang berkenan menjawabnya.

    *Pertanyaan untuk M. Shodiq atau yang pro dengan pemikiran pak shodiq
    1. Jika saya simpulkan dalam bahasa indonesia yang sederhana, maka menurut pak shodiq pacaran islami itu tidak menyalahi aturan-aturan dalam Islam. Malah bisa saya bilang sebagai sarana ibadah untuk mendekati pernikahan yang merupakan sunnah Rasulullah SAW. Karena mengingat pak shodiq bilang ada cara radikal yang cocok untuk kalngan tertentu (aktivis dakwah) dan cara moderat untuk orang awam. Apakah tata cara ibadah juga dibedakan menurut kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan seseorang terhadap agamanya?

    2. Lalu dimana perbedaaan dalam kedua cara tersebut?

    3. Karena saya orang awam tapi ingin melaksanakan sesuai dengan sunnah rasul dan takut akan zinah, tolong dijelaskan lebih mendetail tentang cara moderat dalam pacaran islami. Kalau bisa dengan hadist shahih yang mendasarinya sekalian.

    *Pertanyaan untuk yang kontra dengan pak shodiq
    4. Pak shodiq bilang ta’aruf tidak ada hadist shahihnya. Malah ada komen dari Kaezzar pada tanggal 3 Juli 2008 pada 22:14 “di jaman Raasulullah gak ada yang namanya tuker biodata, duduk tanya jawab, tes baca quran….diulang2 2 or 3 kali….”. Trus sebenernya ta’aruf itu ada hadist yang mendasarinya atau tidak?

    5. Kalau ada tolong dijelaskan.

    *Buat Kaezzar
    6. Agama bukan ilmu logika. Jadi sebenernya komen anda itu berasal dari logika anda atau memang punya dasar untuk membantah yang kontra dengan pak shodiq?

    *Sedikit saran buat pak shodiq
    Kalau ada postingan dari saudara seiman mengapa ada yang dihapus? sedangkan yang jelas-jelas dari orang-orang kafir tidak dihapus? Malah yang jelas-jelas menyebut muhammad sebagai nabi palsu tidak dihapus komennya. Tolong lebih bersikap bijak terhadap saran dan kritik dari saudara seiman dan lebih melek terhadap serangan yang ditujukan untuk merobohkan keimanan umat islam.

    Semoga ada yang berkenan untuk menjawab dan semoga semakin mendekatkan kita kepada kebenaran-Nya. Karena Allah adalah Yang maha Benar. Semoga Allah berkenan menjaga umat Islam dengan Hidayah-Nya. Amin…

    Sekian dan terima kasih

    mboeng

  32. TOBATLAH
    KEPADA ALLAH SWT
    Saran saya, bahas saja yang sekemampunya anda.dan jangan banyak mengambl TESTEMONI dari ULAMA2 BESAR.
    ANDA MUHAMADIAH, IKUTI MUHAMMAD DAN APA YANG DIAJARKANNYA KEPADA UMMATNYA.
    JIKA KAU CINTA KEPADAKU (ALLAH), IKUTILAH RASULKU(MUHAMMAD).
    INSYAALLAH KITA BISA BERDISKUSI LEBIH PANJANG LAGI.
    JAzakallah.Wallahu’alam.
    Wassalam.

  33. hmm, pacaran cara islami tu emang ada. Pas mau ngapel baca bismillah, jangan lupa pake baju koko, dilengkapi dengan sarung and kopiah ndak ketinggalan.

    nah pas ampe rumah cewek, jangan lupa ketuk pintu lalu ucapkan Assalammu’alaiku…. pas mau pegang tangan, jangan lupa ngucap bismillah, trus pas udah lepas itu tangannya, jangan lupa ucap alhamdulillah disertai astaghfirullah.

    Pas mau pulang, jangan lupa ucap Assalammu’alaikum lagi…
    heee….3x cuma iseng kok.
    kalau mau pacaran, ya boleh-boleh aja, gak ada yang larang kok, wong dalam Al Qur’an memang ndak ada dalil yang menjelaskan secara gamblang, tapi ada tapinya lho.

    Kalau sekiranya kamu bisa ndak memikirkan dia meskipun sedetik aja, bisa ndak sms-an sama dia, bisa ndak telepon-teleponan sama dia, trus bisa ndak ketemuan sama dia, nah silahkan aja pacaran…
    He…3x tapi, cep yakin, pasti pada gak bisa kan??? nah makanya jangan pacaran……

  34. @ all

    kalau kita jatuh cinta, terus mikirin, sms-an, kadang telepon, ketemuan sekadar ngobrol….

    sekadar jatuh cinta…
    Apakah berdosa menurut Islam?
    Apakah Jatuh Cinta = mendekati zina? Jika saya mencintai seorang akhwat padahal saya belum mampu menikahinya, apakah berarti saya sudah berdosa? Apakah hati yang mencintai juga dikenai dosa?

    Jika “YA”. Sungguh betapa berat jatuh cinta, sudah tersiksa, mendapat dosa pula… demikian beratkah islam?

    Maaf kalu saya awam, hanya sedang berproses ingin lebih baik.
    makasih untuk para expertise, para “ikhwan” dan “akhwat”. 🙂

  35. Buat Mbung :
    dlil hdits tntng Ta’aruf blum ktmu. Tp klo al-Quran ada surat al-Hujurat, ayat 13 “lita’arafu”, tp hnya sbtas knlan, ga bleh lebih.

  36. Assalamualaikum Pak Shodiq,,,

    Wah, bersyukur saya ketemu blog ini,, pengen tau segala sesuatu tentang pacaran (yang awam ataupun yang disebut Islami) ini jadi salah satu pengisi waktu luang saya di liburan sekolah ini, mungkin besok-besok saya mau bikin karya tulis tentang pacaran .
    Saya siswa SMA yang Alhamdulillah belum pernah pacaran. Namun, bukan berarti saya tidak pernah jatuh cinta pada lawan jenis, karena seperti yang telah kita semua ketahui bahwa itu adalah anugerah yang indah dari Allah.
    Saya telah membaca artikel Bapak, comment2 yg pro dan kontra dg tulisan Bpk, juga beberapa BAB dalam buku “Wahai Penghujat Pacaran Islami Jangan Kau Undang Kemurkaan Allah dan Kemarahan Rasul-Nya”(versi online) disitu saya menemukan betapa Bapak telah berusaha menjadi seorang pemikir yang baik dan bertujuan mulia. Namun, mengapa membaca judul itu membuat saya merasa bahwa Bapak yakin Allah dan Rasul-Nya akan marah pada orang-orang yang melarang pacaran (yg awam ataupun yang Islami) padahal tujuan mereka juga baik dan beralasan? (bapak juga sudah tahu alasannya dari 4 buku yang telah bapak baca sebagai bahan untuk menyanggah argumen larangan pacaran)
    Saya mencoba memikirkan tulisan bapak yang bunyinya:
    “Di samping tentang curhat dan berduaan, hadits yang baru saja kita baca ini mengandung peristiwa kencan juga. Dengan demikian, kencan (saling bertemu di tempat yang disepakati) bukanlah khalwat yang terlarang. Bahkan, kendati pertemuan itu berlangsung antarlawan-jenis yang dilanda asmara, itu pun tidak tercela. (Lihat pula hadits yang disebut di Bab 2, yaitu yang mengisahkan percintaan seorang pemuda dengan seorang gadis Hubaisy.)
    Mengenai ‘berciuman’, kita tidak membantah bahwa itu tergolong ‘mendekati zina’. Namun, benarkah “berduaan, bergandengan tangan, berpacaran” mendekati zina? Tidak selalu. Sebagaimana yang termaktub di atas, itu semua belum tentu mendekati zina.”
    Dengan pemikiran awam saya, dapat saya tarik kesimpulan dari tulisan bapak tsb. bahwa ternyata saya boleh pacaran! Saya tidak tahu harus senang atau sedih akan hal ini. Saya telah menemukan ketenangan jiwa dengan kesadaran bahwa saya tidak seharusnya berpacaran (walau cuma khalwat, jalan berdua atau dibonceng). Saya mencoba untuk tidak lagi memikirkan dan merindukan cowok yang saya cintai secara berlebihan (walau dia cinta pertama sy dan sy berkesempatan berpacaran dengannya, he2)
    Saya, dengan segenap pengetahuan saya dan keyakinan saya tetap berpegang teguh, bahwa saya lebih baik tidak pacaran. Ok, hanya Allah yang tahu tentang kebenaran semua yang sedang diperdebatkan. Saya pun mungkin tak perlu lagi menyebutkan alasan-alasan mengapa saya memilih untuk tidak pacaran sebelum nikah, saya hanya ingin kita tidak menghujat satu sama lain (seperti yang banyak ditemukan di comment2 pro dan kontra pacaran Islami ada atau tidak)
    Sejujurnya, saya hanya orang awam bukan aktivis yang gencar mendakwah ”Wahai sobat muslim, didalam Islam tidak ada pacaran..” tidak, saya tidak akan seperti itu. Mana mungkin saya menegur teman saya yang sedang asyik-asyiknya jalan berdua berpegangan tangan bagai dua sejoli yang paling berbahagia diduniam malah kadang saya pengen juga, (Astaghfirullah).
    Saya hanya sedikit takut, dengan keadaan remaja muslim zaman sekarang. Banyaknya buku yang menjelaskan tentang haramnya pacaran saja mereka masih gencar berpacaran, apalagi ada tulisan yang bilang kalo pacaran itu boleh, wah adik saya yang masih smp saja sempat girang ”nah, ini katanya boleh…” saya pun menyodorkannya artikel2 pendek, salah satunya berjudul ”Jomblo Vs Pacaran” yang ditulis oleh riafariana yang saya ambil dari blog Dudung.net. sepertinya dia mengerti.
    Sekali lagi, saya pahami maksud baik Bapak dan kerja keras dalam usaha untuk mencari kebenaran. Namun, saya hanya ingin bilang, pacaran zaman sekarang lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya. Kalaupun kita ingin lebih mengenal satu sama lain kan tidak harus berpacaran (berdua-duaan, berboncengan kemana-mana bahkan bagi yang imannya sedang down, bisa saja melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan)
    Bukankah lebih baik menjaga hati saja? Banyak-banyak mengingat Allah dan menyibukkan diri dengan amal dan ibadah? Daripada banyak mengingat sang pacar dan menyibukkan diri dengan melakukan pertemuan dengannya? Menghabiskan waktu berdua dengannya untuk saling berbagi cinta, mengenal dan memahami?
    Saya ingin mengutip tulisan Bapak lagi, yang bunyinya: ” Tidak adakah di antara kita orang yang penyayang?”
    Kalau saya tidak pacaran bukan berarti saya tidak penyayang kan?
    Terima kasih atas perhatian Bapak. Maaf comment saya terlampau panjang dan mungkin yang baca juga bosan. Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dipikiran saya yang masih awam ini.

  37. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    @ Mbung

    Yang saya maksud dengan dua macam cara (radikal & moderat) itu adalah untuk islamisasi terhadap budaya pacaran (bukan dua macam cara pacaran). Ibadah bukanlah budaya. Itu soal lain. Dalil-dalilnya sudah beberapa kali saya ungkap di situs ini. Untuk penelusuran, lihat halaman Wajib Baca

    @ Annisa

    SMS-an, telponan, dsb itu tidak haram. Mengapa kau melarangnya? Apakah kau pikir itu tergolong mendekati zina? Lihat Pengertian zina-hati dan mendekati-zina lainnya

    @ M.Z El_Banjary

    Surah al-Hujurat ayat 13 itu memang mengenai taaruf. Tapi menurut ayat tersebut, taaruf itu dengan semua manusia, TIDAK dibatasi pada pranikah saja. Juga TIDAK disebutkan adanya larangan untuk lebih dari sekadar perkenalan.

    @ Anggia

    Aku memaklumi perasaanmu. Meskipun sebagian besar pengunjung situs ini merupakan pendukung pacaran islami, ada beberapa pembaca seperti dirimu yang lebih nyaman untuk tidak pacaran. Kamu boleh bersikap lain denganku aku menghargainya.

    Aku pun menghargai pandangan Ria Fariana, sang penulis artikel “Jomblo Vs Pacaran”. Perbedaan pandangan antara kita ini tidak memutus tali ukhuwah kita. Sebagai bukti ukhuwah, kami bahkan telah bekerja sama menulis buku berjudul Muslim Romantis.

    Mengenai menjaga hati dalam pacaran islami, lihat Sulitkah menjaga hati dalam pacaran islami?

    @ Erma

    Cinta yang menghancurkan tali persahabatan bukanlah cinta sejati. Cinta sejati antarmanusia itu justru berasal dari persahabatan.

  38. ikut komen y,stlh bc blog ni plus komen2nya,menurut sy yg jd prmslhn dsni,kita belum punya konsep “pacaran” yg sama,sy bs maklum,tmn2 yg menolak mentah2 blog ni cz menganggap istilah Pacaran dlm islam itu tidak ada,tp cb deh di simak baik2 tujuan tersirat mas shodiq menghadirkan blog ni,kl sy blh menilai, di sini mas shodiq hanya “meminjam ” istilah pacaran yg katanya lahir dari dunia barat,ingat hanya meminjam!!! cz terlanjur masyarakat dah sangat akrab dg istilah itu,dan sayangnya pacaran selalu diidentikan dg zina,komponon utma dlm pacaran itu kan sebenrnya CINTA,padahal cinta itu fitrahnya manusia,anugerah dari Nya,dan ingatkan salah satu gol. org yg dijamin masuk syurga itu adalah org yg MeCINTAi karena Allah,,,,
    saran saya buat mas sodiq, tlg pa2rkan konsep “pacaran” disini atau biar tdk byk slh kaprah istilahnya diganti j dg “tanazhur”..
    mf sy tdk brmksd menyinggung siapapun, sy tdk ingin perdebatan ustilah ini dimanfaatkan oleh org ketiga. mf juka da slh2 kata wasss

  39. Mbung-OrangAwam Berkata:

    —————————————————————–
    *Pertanyaan untuk yang kontra dengan pak shodiq
    4. Pak shodiq bilang ta’aruf tidak ada hadist shahihnya. Malah ada komen dari Kaezzar pada tanggal 3 Juli 2008 pada 22:14 “di jaman Raasulullah gak ada yang namanya tuker biodata, duduk tanya jawab, tes baca quran….diulang2 2 or 3 kali….”. Trus sebenernya ta’aruf itu ada hadist yang mendasarinya atau tidak?
    —————————————————————–
    Itulah yang saya coba tanyakan…
    Karena dari yg saya tau, zaman dulu kebanyakan dilakukan melalui perjodohan/langsung merit
    Tapi bagi saya itu wajar…
    Kenapa?
    Zaman dulu, mereka saling mengenal satu sama lain
    Jumlah umat yg tidak sebanyak sekarang ini, juga kebersamaan dan kedekatan jarak memungkinkan untuk itu
    Apalagi kejujuran saat itu masih tinggi
    So, kasarnya, tgl cari tau dikit langsung sikat ga akan masalah
    Koz infonya kredibel

    Tapi jaman sekarang? who knows
    Umat dah tambah banyak, kelakua org pun semakin macem2
    So kudu lebih teliti…
    Di biodata si sangat mudah menulis : “Penyabar, pegertian”
    Tapi seberapa sabar dan seberapa pengertian kah?
    Kita bisa saja menganggap diri kita ini cukup sabar, tapi belum tentu org laen juga akan menilai sama

    Tapi apakah karena saya bertanya tentang dalil taaruf lantas saya “megharamkannya”
    Tidak!
    Buat saya taaruf adalah satu cara yg bagus dlm menemukan jodoh
    Tapi perlu diingat, tak semua org berpikir bahwa duduk2 bareng MR dan si calon serta tanya jawab di sana adalah cara yg tepat untuk mengetahui kepribadian si calon…dan g smua org comfort bila dihadapkan dengan situasi demikian
    Karena itu saya lebih suka mengatakan

    Taaruf, pacaran, jodohan, tanazhur or whetever it is
    Just do it!
    Tapi ingat, Islam punya batesan…dan patuhi batesan itu

    Wassalam

  40. @ Mboeng

    ——————————————————————
    *Buat Kaezzar
    6. Agama bukan ilmu logika. Jadi sebenernya komen anda itu berasal dari logika anda atau memang punya dasar untuk membantah yang kontra dengan pak shodiq?
    ——————————————————————

    Hehehe, saya kurang setuju
    Saya lebih setuju kalo kalimatnya begini :

    Agama bukan HANYA ilmu logika

    Kalo itu saya setuju
    Sebab kalo agama ga pake ilmu logika, maka bates antara 2 aliran air yg berbeda di dasar samudra ga akan bisa dibuktikan oleh manusia…juga garis edar planet2 dalam tata surya 🙂

    Kita memerlukan logika dalam agama
    Hanya saja harus dibarengi dengan dalil

    Contoh:

    Banyak yg bilang kalo berduaan dengan lawan jenis non mahram itu haram, karena yg ketiga adalah setan
    Buat saya, pernyataan itu harus diliat secara menyeleuruh
    Jangan hanya letterlek ditanggapi mentah2
    Karena kalo alasannya berduaan itu ga boleh…nanti kalo ada kasus orang berempat (2 cw + 2 co or 3co + 1 cw) then mereka melakukan aktivitas yg menjurus seks, maka kegiatan “berempat”nya itu diperbolehkan? aneh kan 🙂

    Di mata saya, hadis peringatan berduaan dgn yg ketiganya adalah setan merupakan sebuah peringatan bahwa interaksi lawan jenis haruslah dilakukan dgn hati2, karena dapat mengundang setan di dalamnya

    Contoh lain
    – Kalo ada cewe cowo jalan di mol, makan bareng, ngobrol, belanja, liat2 buku…kenapa harus dilarang?
    Di samping mereka ga melakukan sesuatu yg dilarang, mereka tidak menyepi ataw mengasingkan diri…

    – Tapi kalo saat di mol itu mereka jalan berdua dempet2an, gelendotan sana sini, sampe berani peluk+cium di dpn banyak org
    walopun di keramean, ini tetap terlarang
    Inilah yg disebutkan dgn “yg ketiganya adalah setan”

    – Juga kalo misalkan, segerombolan co+cw, maen2 di pantai (tempat umum+terbuka) tapi kalo dalam kegiatan itu mereka melakukan kegiatan2 yg melanggar batas etika agama (seperti kissing sampe pegang2an) ini juga dilarang (walopun mereka saat itu rame2 n ga cuma berduaan seperti letterlek hadits tersebut)

    So, bagaimana menurut anda
    Benarkah agama itu tidak membutuhkan akal?
    Allah mengkaruniakan satu2nya kemampuan ini ke satu mahkluk yg bernama manusia…then kalo ga ada gunanya, bwt apa 🙂

    Wassalam

  41. Ping-balik: Menolak pacaran? Jangan munafik! « Bukan Zina

Komentar ditutup.