Saya yakin, Anda pernah ditentang untuk lakukan pacaran. Orang yang menentang itu bisa saja orangtua, famili, sahabat, rekan, murobbi, aktivis dakwah, dll. Bentuk penentangannya bisa macam-macam; mempertanyakan, menyindir, mengancam, mengucilkan, dll. Lantas, bagaimana sikap Anda biasanya dalam menghadapi penentangan ini? Saya harap, Anda bersedia menyampaikan saran atau berbagi pengalaman dengan menceritakannya di kotak “leave a response” yang tersedia di bawah.
Sambil menanti jawaban Anda, perkenankanlah saya sampaikan beberapa saran bagi Anda untuk menyikapi penentangan itu.
1) Tunjukkanlah bahwa Anda menghargai penentangan itu. Bersikaplah husnuzhan (bersangka baik). Anggaplah para penentang itu berniat baik: hendak menyelamatkan Anda dari dosa, gangguan jiwa, kehamilan di luar nikah, penyakit kelamin, dsb.
2) Introspeksilah. Periksalah diri sendiri apakah Anda memang sudah cukup “dewasa” (berkepribadian matang) untuk lakukan pacaran. Misalnya: berusia 19 tahun atau lebih? mampu menahan diri dari godaan zina dan kemunkaran lainnya? hendak menikah dengan si dia? Kalau Anda belum cukup “dewasa” untuk lakukan pacaran, tunda dulu aktivitas pacaran Anda!
3) Kalau Anda sudah cukup “dewasa” dan memutuskan untuk lakukan pacaran, buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa aktivitas pacaran Anda menjadikan Anda semakin “dewasa”, berjalan ke arah kesiapan nikah, tidak mendekati zina, dsb.
4) Bila Anda sudah membuktikannya dengan tindakan nyata, tetapi masih ditentang, berserah dirilah kepada Allah SWT. Mohonlah kepada-Nya untuk memberi solusi terbaik.
Ditulis dalam 5 - Tebarkan hikmah