About

kelebek's weddingAssalaamu ‘alaikum wa rahmatullaah wa barakaatuh.

Saya memulai pembangunan situs Pacaran Islami ini dengan menangis. Saya menangis menyimak berbagai berita tentang betapa kita Bergedung tinggi Berakhlak rendah. Saya menangis mengendus bau busuk yang mencemari istilah pacaran. Saya menangis menatap aneka kegagalan dakwah di kancah pranikah.

Selaku penulis buku yang membutuhkan “nama baik” (agar buku saya dibaca orang sebanyak-banyaknya), akan lebih “menguntungkan” bila saya menggarap tema-tema lain saja, yang lebih aman, seperti shalat, pernikahan, pendidikan, dakwah, dll.. Namun selaku hamba Allah, saya merasa kehilangan muka di hadapan-Nya seandainya saya biarkan persoalan yang membuat saya menangis tersebut “berlalu” begitu saja.

Kita harus melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan ini. Di depan kita, tersedia sekurang-kurangnya dua pilihan islamisasi pacaran: [1] cara radikal, [2] cara moderat.

Bila kita pilih cara radikal, kita dapat memerangi budaya pacaran sampai ke akar-akarnya. Karena akarnya adalah istilah “pacaran”, sebuah istilah non-Arab, kita bisa menggantinya dengan istilah Arab. Umpamanya: istilah “tanazhur”. Cara radikal ini sangat cocok diterapkan untuk kalangan muda-mudi tertentu yang ghirah-nya dalam ber-Islam amat kentara, yaitu terutama kalangan aktivis dakwah. Mereka memang cenderung lebih mudah kita dakwahi dengan istilah Arab daripada non-Arab.

Bila kita pilih cara moderat, kita dapat mengarahkan budaya pacaran dari yang jahiliyah ke yang islami. Istilah “pacaran” yang sudah populer di masyarakat tak perlu kita ganti. Cukuplah kita menambahinya dengan istilah “islami” seperti halnya perlakuan kita terhadap bank, hotel, sekolah, dsb. Cara moderat ini sangat cocok diterapkan untuk kalangan muda-mudi “awam” (pada umumnya) yang ghirah-nya dalam ber-Islam kurang kelihatan. Mereka memang cenderung lebih mudah kita dakwahi dengan istilah non-Arab daripada Arab.

Dua cara tersebut saya dukung. Ingin rasanya saya menjalankan keduanya sekaligus secara setara. Namun demi efektivitas pelaksanaannya, mesti ada satu cara yang lebih saya prioritaskan.

Saya mempertimbangkan, kejahiliyahan orang awam dalam pacaran lebih memprihatinkan daripada aktivis dakwah. Karena itu, di sini saya lebih memprioritaskan berdakwah kepada muda-mudi pada umumnya daripada berdakwah kepada aktivis dakwah. Meskipun saya masih berusaha menggunakan cara radikal pula, cara moderatlah yang lebih saya utamakan.

Bila Anda mendukung cara moderat tersebut, silakan sampaikan masukan Anda di kotak komentar mana pun yang tersedia. Namun seandainya Anda menentang cara moderat tersebut (atau menentang keberadaan pacaran islami), silakan tuliskan kritikan Anda di sana saja, bukan di sini. Pemisahan ini saya sengaja supaya situs ini lebih terkonsentrasi pada persoalan bagaimana menjalani hubungan percintaan pranikah secara islami.

Supaya lebih terkonsentrasi pula, kita gunakan metode klasifikasi SMART. (Lihat Salat SMART.) Secara demikian, pembahasan kita di situs ini terutama adalah mengenai “Pacaran SMART” yang meliputi:
1 – Siagakan Pelaku Tanazhur (persiapan)
2 – Mantapkan Wujud Tanazhur (penampilan)
3 – Arungi Makna Tanazhur (pikiran)
4 – Rengkuh Ruh Tanazhur (perasaan)
5 – Tebarkan Hikmah Tanazhur (tindak lanjut)

Demikianlah pengantar dari saya untuk Anda. Semoga Allah SWT senantiasa bersama kita. (Amin.)

NB: Demi penyempurnaan situs Pacaran Islami ini, saya mengharap bantuan Anda, apa pun bentuknya.

Wassalam,
Solo, 11 April 2007
M Shodiq Mustika

Iklan
133 Komentar

133 thoughts on “About

  1. Assalamu’alaikum…menurut ana kita pilih yg aman-aman aja dech alias gak usah pacaran. sama seperti ada diperbolehkannya berjabat tangan dengan lawan jenis asalkan memenuhi syarat2 tidak disertai syahwat,jauh dari fitnah dsb. manusia tidak dapat menerka kapan syahwat itu akan datang, kalo ada kesempatan yang menjurus kesana, why not?! logika aja kalo ada pacaran islami berarti ada juga dunk yang namanya judi islami (???)

    lagipula cinta itu sebaiknya jgn direkayasa segala…
    cinta itu suci…
    cinta itu murni…
    karena cinta miliknya sang PEMILIK CINTA, zat MAHASUCI.

    Ya allah istiqomahkan hamba agar tetap berada dalam jalanmi yg lurus…amiiin

    Wassalamu’alaikum

  2. @ukhti putri
    Khadijah berusaha mengenal muhammad dengan menyuruhnya memasarkan produknya ke negeri syam, itu namanya rekayasa sosial, dan kemudian mereka benar-benar menikah. Jadi putri dalam cinta pasti ada rekayasa tinggal bagaimana bentuknya, tentu harus dipilih rekayasa sosial yang baik seperti yang dicontohkan oleh khadijah dan muhammad.

  3. Assalamu’alaikum wr wb

    Mav mas saya tidak setuju dengan pacaran islami, menurut saya pacaran ya pacaran. Ga usah disamarkan dengan “pacaran islami”. Mas klo mo pacaran, pacaran aj deh, tolong jangan bawa2 nama islam, sebab diislam juga ga ada dalil yang secara langsung mengatur pacaran. jadi mas jangan ngajak2 klo mo pacaran. ntar tanggung sendiri ya.

    Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan)Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau
    karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya
    (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

  4. @ Kaezzar & Ian
    Terima kasih kalian telah membantu menjelaskan keberadaan pacaran dalam Islam. Semoga Allah Sang Mahabenar senantiasa memberikan hidayahnya kepada kita semua, baik yang mendukung, yang netral, maupun yang menentang pacaran islami. Aamiin.

  5. Salah satu bukti kemunduran umat muslim adalah: kehilangan identitasnya lebih tepatnya inferiority complex. umat muslim justru malu menggunakan bahasa arab yang juga bahasa al quran. Umat muslim sekarang justru menjadi (bahkan bangga) bebek (baca:pengekor). Klo kita semua sepakat bahwa menjauhi zina itu dilarang, kenapa harus pake istilah pacaran islami…!!!

  6. @ kaka
    Justru kalau budaya pacaran itu kita biarkan saja tanpa melakukan islamisasi terhadap budaya tersebut, maka itu berarti kita tidak menjauhkan zina dari budaya pacaran.
    Alasan penggunaan istilah “pacaran islami” sudah dijelaskan di artikel di atas. Apakah Anda belum baca isinya?

  7. assalamualaikum…

    hmm,mas aq dsni mash bingung,mn yg bener sih?emg ad yah?pacaran islam?kl pun itu menjrus untuk hal kebaikkan…knp ga ta’aruf aj sekalian?dan bgmn definisi pacaran islami yg tetep teguh untuk tidak mndkti perzinaan?padahal di islam sendiripun tatapan mata aj ud zina mata ?ap lg berdekatan yg bukan mahramnya,aq mash bingung….,aq sendiri sih gak sk dgn islam trllu fanatik,tp tergantung dgn kita yg menjalankan ajaran Allah aj dgn bener..dan semoga Allah YAng Maha Mengetahui,meberi PetunjukNYA bagi hamba”NYA,seperti kita ini,,amin.afwan jika ada kata yg menyinggung,

    syukran,
    wassalamualaikum,

  8. yang punya blog ini ternyata sangat L U G U alias eLU GUoblok banget tapi sok tahu .kalo ada pacaran yg sdh jls jls HAROM lalu si LUGU ini dgn beraninya menentang Syariat Allohdgn menulis PACARAN ISLAMI,lama lama nanti dia akan berani menulis KHOMR ISLAMI,kemudian KORUPSI ISLAMI,JUDI ISLAMI.Naudzubillahi min dzalik.kepada Aloh saja dia berani bantah(kepada Al-qur’an & Assunnah).apalagi kepada kita.itulah ciri ciri aqlaniyyun selalu mengedepankan akal dan hawa nafsunya ketimbang Alqur,an & Assunnah yg di pahami para Salafussholih.semoga Alloh memberi dia kesempatan bertobat atas kekeliruanya(kesesatanya).amien

  9. Assalaamu’alaikum akhi fillah…
    ane pengunjung yg lg mampir, sbnrnya ane sangat menghargai dg da’wah antum u/ mengIslamisasi dalam hal ini PACARAN tp stlh ane baca2 lg kyknya bias dan bs dikatakan LIBERAL. Mohon di evaluasi lg y akh..
    Afwan klo tkesan gmn gthu:) Mari mendukung AMAR MA”RUF NAHYI MUNGKAR STOP PORNOAKSI & PORNOGRAFI!!! DUKUNG RUU PORNOGRAFI MENJADI UU YANG SAH!!!
    Wassalaam…..

  10. @ ratih septiana
    wa’alaykumussalam
    1) Ya, aku pun setuju untuk tidak terlalu fanatik dalam beragama. Yang aku dukung adalah muslim moderat ala Muhammadiyah, NU, dsb.
    2) Tidak ada dalil qath’i mengenai pacaran. Karenanya, pacaran itu masuk wilayah ijtihad. Dalam ijtihad, sangatlah wajar terjadi perbedaan pendapat. Selama kita menghargai pendapat, kita takkan bingung.

    @ abu faros
    1) Ayat manakah yang kami bantah? Sunnah manakah yang kami sanggah? Nabi Muhammad saja pernah melakukan pacaran (tetapi secara islami) bagaimana mungkin pacaran islami itu melanggar syariat Islam?
    2) mengenai persoalan “KHOMR ISLAMI,kemudian KORUPSI ISLAMI, JUDI ISLAMI”, kami sudah berulang-kali membahasnya. Diantaranya: Adakah memperkosa secara islami?

    @ Afwan
    Wa’alaykumussalam akhi fillah
    1) Terima kasih atas penghargaannya.
    2) Daripada menuduh ana keliru (atau pun menuding saya “liberal”), lebih baik akhi tunjukkan kalimat saya yang mana sajakah yang keliru, supaya dapat kita perbaiki satu per satu.
    wassalam…..

  11. Mmm..Pacaran Islami..
    Aku belum bisa comment apa-apa karena memang aku belum paham betul mengenai konsep pacaran ini..
    Yang jelas aku akan belajar dari orang yang berilmu..

  12. terkadang ada kebingungan di hati saya,apakah ada arti sebuah pacaran dalam islam?
    kalau mang da boleh g kita pacaran……….
    trusssssss
    bagaimana sehhh pacaran dalam islam itu sebenaranya?
    saya berharap ada jawabannya,karena banyak sekali hal2 yang membuat saya bingung!!!!!!!!!!!!!

    wasalam
    terima kasih.

  13. wah ada lagi satu orang lagi, yg coba-coba menyamarkan ajaran islam, mas kalau mau pacaran nggak kuat menahan nafsunya untuk tidak pacaran, jangan ajak2 yg lain, sampai-sampai mengajak orang dg sebutan pacaran islami, kalau iya membuat kebaikan mestinya tulis judulnya Pacaran setelah menikah. Saat ini alhamdulillah saya sudah menikah dan sebelum menikah saya selalu berdo’a ya Allah jauhkan hamba dari yg namanya pacaran, Mudahkan jodoh hamba dg jodoh yg sebaik-baiknya. Alhamdulillah, kata orang tahun pertama dan kedua adalah tahun2 yg berat bagi orang yg baru menikah suka, ribut, tapi Alhamdulillah kami tidak pernah ribut2, InsyaAllah sampai akhir hayat. Please ganti judulnya……..

  14. @ bocahbancar

    Ya, aku mendukung sikapmu yang no comment.
    Aku jadi ingat hadis, “Katakan yang baik-baik atau [lebih baik] diam!”

    @ putri hidayati

    1) Pacaran itu masuk dalam bidang ijtihad. Dalam ijtihad, perbedaan pendapat itu wajar. Selama kita menghargai perbedaan pendapat, kita takkan bingung.

    2) Karena hasil ijtihad mengenai pacaran itu banyak, model-model pacaran islami bisa banyak pula. Tiga diantaranya dikemukakan oleh Ibnu Hazm, Ibnu Qayyim, dan Abu Syuqqah. Lihat “Panduan Pacaran

    @ Mulyadi

    1) Benarkah “pacaran itu jelas-jelas haram”? Lihat artikel “Halal-Haram Pacaran (Dalil mana yang lebih kuat?)

    2) Mengenai prasangka buruk anda terhadap saya, apakah Anda pernah membelah dada saya dan melihat isi hati saya mengenai motif di balik ajakan islamisasi pacaran ini?

    3) Kemustahilan “pacaran setelah menikah” sudah saya ungkapkan di artikel “Pacaran sesudah menikah lebih nikmat?

    4) Rasulullah tidak pernah mengajarkan doa untuk menjauhkan kita dari pacaran. Yang dituntunkan beliau dalam menghadapi persoalan semacam ini adalah doa istikharah.

    5) Istilah “pacaran islami” takkan kami campakkan. Salah satu sebabnya, istilah ini merupakan istilah yang paling disukai oleh para pembaca blog ini untuk “aktivitas persiapan menikah”. Lihat artikel “Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan Menikah.

  15. Assalamua’alaikum, sebelumnya saya minta maaf kalo agak sok tau….sebaiknya istilah pacaran diberikan kepada wanita dan pria yang telah menjalani upacara ritual yg sah menurut hukum Islam yaitu pernikahan, sehingga tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari, dan bedakan juga dengan ta’aruf dan hal2 lain yang membedakan antara hubungan setelah menikah dengan hubungan yang dilarang(ex:berkhlawat di tempat sepi, dll)tanpa melalui pernikahan. WaALLAHU a’lam bishowab

  16. @ Taufik
    wa’alaykumussalaam
    Istilah “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya “calon pengantin”. Jadi, istilah pacaran yang tepat itu digunakan untuk yang belum menikah. Yang sudah menikah itu bukan lagi pacaran namanya. (Lihat jawabanku di atas terhadap penanya lain.)

  17. Assalamua’alaikum,
    Image istilah pacaran sudah jauh dari ajaran islam, dan cenderung mendekati zina. Lalu mengapa kita harus menggunakan istilah pacaran islami? mengapa tidak diganti dengan bahasa yang lebih”islami”. Islam tidak mengenal pacaran. Pernikahan dalam islam di mulai dari proses ta’aruf, kitbah/meminang, dan walimah. Aturan dan adabnya sudah jelas. Jangan memaksakan sesuatu yang justru akan membawa ke hal yang bathil, lebih banyak mudhratnya. Selama ini banyak umat islam yang mencari-cari pembenaran bahwa ada pacaran secara islam? jangan hanya menginginkan situs ini hanya untuk tujuan populeritas, apalah arti semua itu diamata ALLAH SWT. Lihatlah dengan mata hatimu, dari berapa komentar yang masuk, ternyata banyak yang mengkritik. Sekiranya memang tidak mau dkritik sesama muslim, apakah kita harus menunggu kritikan ALLAH SWT? Belum terlambat.
    Wassalam.

    • @ Aa Aziz

      1) Alasan penggunaan istilah “pacaran islami” sudah disebutkan di dalam artikel di atas.

      2a) Kami bersikap berdasarkan fakta, bukan prasangka. “Banyaknya” suara yang keras mengkritik pacaran islami tidaklah menunjukkan banyaknya penentangan terhadap pacaran islami. Pada kenyataannya, yang mendukung pacaran islami itu jauh lebih banyak daripada penentangnya. (Lihat Profil Pembaca.) Kami sudah melakukan penelitian kecil-kecilan. Hasilnya, ternyata bahwa istilah yang paling disukai oleh pengunjung blog ini untuk aktivitas pranikah adalah “Pacaran Islami”. (Lihat “Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan Menikah“.)

      2b) Para ulama menghukumi sesuatu berdasarkan kenyataan, bukan image. Kalau dasarnya image, bahaya dong. Contoh: ketika merebak image bahwa pejabat dan “wakil rakyat” itu kotor, suka korupsi, apakah lantas dengan demikian, menjadi pejabat atau “wakil rakyat” itu haram?

      3a) Menurut ushul fiqih, pernyataan “Islam tidak mengenal pacaran” itu keliru secara metodologis. Sebab, pacaran merupakan muamalah, sedangkan menurut kaidah dari ushul fiqih, semua muamalah itu halal kecuali bila ada dalil qath’i yang mengharamkannya.

      Mestinya, kita bertanya, “Adakah dalil qath’i yang mengharamkan pacaran?” Jawabnya: Tidak ada larangannya. Yang ada adalah larangan mendekati zina, sedangkan pacaran tidaklah identik dengan mendekati zina. (Lihat “Ciuman dengan Pacar (PR untuk Penentang Pacaran Islami)“.)

      3b) Untuk pranikah, Islam tidak mengajarkan taaruf, tetapi tanazhur. (Lihat “Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren?“.)

      4) Seandainya kami mengejar popularitas, tentulah kami lebih mengutamakan istilah yang tidak banyak mendapat penentangan dari masyarakat, seperti taaruf. Namun kami memilih berpegang pada kebenaran. “Katakanlah kebenaran itu, walaupun terasa pahit.”

      5) Ulama-ulama berlainan pendapat mengenai pacaran dalam Islam. (Silakan telusuri di blog ini dan di blog Fiqih Asmara.) Apakah bila kita mengikuti ijtihad ulama tertentu (yang berarti tidak mengikuti ijtihad ulama lain), maka otomatis berarti bahwa kita tidak mau dikritik? Kalau memang begitu, bukankah Anda sendiri tergolong orang yang tidak mau dikritik karena tidak mau menghargai ijtihad ulama yang membolehkan pacaran?

      wa’alaykumussalaam

  18. Ping-balik: Mengapa pakai istilah “pacaran islami” « Tanazhur PraNikah

  19. Pacaran apapun bentuknya adalah diharamkan…menurutku
    apapun alasannya…
    karena orang pacaran kan bukan muhrim..
    dan orang pacaran pasti pengen ketemu, berpandang-pandangan,dan lainnya…
    jadi saya jadi bingung…
    kalo anda merasa seorang muslim…tolong jangan mencoba-coba “menghalalkan” sesuatu yang akhirnya menyebabkan dosa…
    karena saya pikir anda menganalisanya dari sudut logika bukan dari sudut agama…
    tolong dipertimbangkan lagi kalo mw menulis sesuatu dan jangan mencoba membuat sesuatu tampak lebih “halal” padahal mendekati “haram”
    terima kasih.

  20. Pacaran apapun bentuknya adalah diharamkan…menurutku
    apapun alasannya…
    karena orang pacaran kan bukan muhrim..
    dan orang pacaran pasti pengen ketemu, berpandang-pandangan,dan lainnya…
    jadi saya jadi bingung…
    kalo anda merasa seorang muslim…tolong jangan mencoba-coba “menghalalkan” sesuatu yang akhirnya menyebabkan dosa…
    karena saya pikir anda menganalisanya dari sudut logika bukan dari sudut agama…
    tolong dipertimbangkan lagi kalo mw menulis sesuatu dan jangan mencoba membuat sesuatu tampak lebih “halal” padahal mendekati “haram”
    terima kasih.

  21. sebenarnya kembali pada lurusnya niat dan kebersihan hati dalam bersungguh-sungguh menjemput jodoh.jadi tanyakan pada hatimu,dan Allah melihat kesungguhan kita.yang penting aturan bergaul dalam islam sangatlah jelas.nah yang dicari jodoh atau mau main-main.kalau yang mau bermain ya ke laut aja……..iya kan/????????????????????

  22. assalamualaikum wr. wb.

    mas Shodiq yang saya hormati,ada yang ingin saya tanyakan…

    1.saya ingin tahu dari sumber mana saja tentang pacaran Islami, dari Al-Qur’an dan Hadits,Fiqih, atau bahkan dari literatur Barat atau pula dari hawa nafsu Anda sendiri?

    2.apakah Anda pernah mempraktekkan sendiri pacaran Islami tersebut dan apakah Anda merasa bahwa Allah meridhoi Anda dengan apa yang Anda tulis dan Anda bahkan halalkan pacaran Islami ini yang mungkin Anda harus pertanggungjawabkan saat Anda menghadapi hari Pembalasan?

    mohon maaf jika saya agak lancang,namun saya hanya ingin mendengar pendapat mas, jika kurang berkenan saya mohon maaf…
    terima kasih..

    wassalam…

    • @ sep
      wa’alaykumussalaam
      Semua yang Anda pertanyakan itu sudah pernah saya bahas di blog ini. Bahkan, artikel di atas sudah menjawab sebagian dari pertanyaan Anda. Silakan kaji dengan lebih mendalam, termasuk link-link terkait.

  23. assalamualaikum.wr.wb

    hmm, untuk yang tidak sependapat atau pun tidak setuju dengan konsep pacaran islami yang digembar-gemborkan disini,

    tolong jelaskan, bagian penjelasan/artikel mana yang menurut anda bertentangan dengan hukum-hukum dan dalil islam secara jelas…

    blog ini dibaca oleh buaaanyak orang…
    dan tidak semuanya membaca rinci keseluruhan blog, sehingga jika ada terlalu banyak komentar2 pro dan kontra tanpa penjelasan jelas kenapa kok kontra, bagian mana yang di “kontra” kan…

    khawatir saya, yang kontra (terutama) sebenarnya (maaf) mungkin belum memahami apa yang dimaksud penjelasan2 di blog ini…

    berdebat nggak jelas karena arah pembicaraanya sudah beda, hanya akan menambah kebingungan pembaca…( saya sendiri msih bingung2 sndiri 🙂 )

    jadi tolonglah, karena kita sama-sama menginginkan dakwah yang baik dan jelas…

  24. assalamualaikm wr. wb.

    Menurut saya PACARAN itu tidak ada di islam, islam mengajarkan nikah baru pacaran, karena pacaran lebih cenderung pada ZINA. Zina itu termasuk DOSA BESAR ! naudzubillahi min dzalik.

  25. Hmm… tidak ada istilah pacaran di dalam Islam. Kerana orang pacaran tidaklah mungkin hanya diam. Kalaupun tidak berpegang tangan, minimal mereka melakukan zina mata dengan saling menatap. Sedang Allah Subhanahu wa Ta’ala, telah mengaskan dalam firman-Nya, agar kita tidak mendekati zina.

  26. Ping-balik: Islamisasi pacaran yang berkualitas tinggi | Indonesia Hot

  27. Ping-balik: Kisah Siput dan Katak | lazionews.info

Komentar ditutup.