Posted by: M Shodiq Mustika | 11 April 2007

12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah

Perhatian! Yang dimaksud dengan “bercinta” di sini bukanlah berhubungan seksual, melainkan membina hubungan percintaan.

kebebasan-wanita-jilid-5.jpg

Dalam buku Kebebasan Wanita Jilid 5 (Gema Insani Press, 1999), Abdul Halim Abu Syuqqah (seorang ulama Ikhwanul Muslimin, sahabat Yusuf Qardhawi) membolehkan dan bahkan menyarankan bercinta sebelum khitbah (peminangan). Alasannya antara lain:

  1. Fenomena hubungan percintaan prakhitbah telah ada pada zaman Nabi Muhammad saw. (hlm. 72-80)
  2. Rasulullah saw. “menampakkan belas kasihnya kepada kedua orang yang sedang dilanda [saling] cinta”. (hlm. 75)
  3. Bila cinta didiamkan (tidak dibina), “maka dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang.” (hlm. 73)
  4. Rasa rindu dan cinta kepada lawan-jenis nonmuhrim di luar nikah tidak berdosa (tidak tergolong “zina hati”) dan bukan sesuatu yang kotor. (hlm. 74-77)
  5. Cinta kepada lawan-jenis bersifat “manusiawi, yang bersumber dari asal fitrah [suci]  yang diciptakan Allah di dalam jiwa manusia”. (hlm. 75)
  6. Cinta yang suci tersebut “mengandung segala makna kasih-sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh kehidupan di kala suka dan duka, lapang dan sempit.” (hlm. 75)
  7. Cinta yang suci tersebut “tidak mungkin terjadi dengan sempurna antara dua orang manusia yang berakal sehat, kecuali setelah terjadi perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang, yang memungkinkan kedua belah pihak untuk saling mengenal dan mengetahui unsur-unsur yang dapat menegakkan cinta ini dan menumbuhkembangkannya.” (hlm. 75)
  8. Kalau tidak melalui “perhubungan yang mendalam dan pengalaman yang panjang” begitu, maka [taaruf] yang terjadi hanyalah “ketertarikan belaka terhadap unsur-unsur lahiriah yang tampak memukau.” (hlm. 75)
  9. Pertemuan tatap-muka dengan si dia “merupakan langkah awal, yang sesudah itu dilanjutkan dengan langkah-langkah [PDKT atau pendekatan] berikutnya dan semakin maju hingga mencapai puncak [di titik nikah] atau kembali lagi [ke persahabatan biasa]” (hlm. 75-76)
  10. Islam tidak mengingkari cinta yang indah, tetapi justru “menghendaki yang seindah-indahnya”. Islam menghendaki agar cinta itu “dijaga, dirawat, dan dilindungi” dengan harapan berujung pada titik nikah. (hlm. 76)
  11. Islam “tidak datang untuk membelenggu perasaan manusia, melainkan untuk membersihkannya dan mengarahkannya ke arah kebaikan, agar dengannya seseorang memperoleh kebahagiaan dan dapat membahagiakan orang sekitarnya, bukan untuk menyengsarakannya dan menyengsarakan orang sekitarnya.” (hlm. 76)
  12. Jalan menuju pernikahan (dari perkenalan hingga akad nikah) yang bisa panjang atau pun pendek tidaklah berbahaya “jika jalan itu dipenuhi dengan perasaan cinta dan diselingi dengan perkataan-perkataan manis [mesra] yang makruf, atau ditandai dengan tanda-tanda yang manis [mesra] dan makruf, seperti mengadakan tukar pikiran dan bantuan untuk mempersiapkan rumah tangga yang bahagia.” Cinta di jalan tersebut hendaknya “menjadi perasaan yang hangat, kegembiraan yang menyenangkan, dan cita-cita yang besar”. (hlm. 77)

Begitulah selusin alasan Abu Syuqqah mengapa sebaiknya kita bercinta sebelum khitbah (peminangan). Bagaimana dengan Anda? Punya alasan lain? Silakan menambahkan.

Tanggapan

Mengutip point terakhir “Tukar pikiran dan bantuan untum mepersiapkan rumah tangga yang bahagia”

Dugh senengnya kalo bisa seperti ini. Bisa dipersiapkan dengan matang jadinya

Artikel bagus.
Oh ya… Buku Kebebasan Wanita tlah terbit sejak 1997.
Tapi baru sekarang aku jadi tahu 12 alasan percintaan pranikah menurut ulama terpercaya.

judul artikelnya lumayan bombastis.. ;-)
bgitu pula judul blog nya..

walopun sudah menikah, seperti nya perlu juga nih buku ini, seengganya buat anakku nanti..

buat referensi bagus juga .. apalagi punya anak perempuan .. :)
salam kenal ..

Emang!! Tidak ada yang salah dengan cinta… Tidak ada yang salah dengan rasa…

:-) wah Judulnya ….. :)

Salam kenal juga buat Nayla dkk.

Judul bombastis karena pakai istilah “bercinta”?
Istilah “bercinta” itu tidak mengada-ada.
Memang istilah tersebutlah yang dipakai di buku Kebebasan Wanita Jilid 5 (hlm. 79).
Kalau judul yang memakai istilah tersebut menjadikan artikel ini menarik, syukurlah.
Alhamdulillaah….

intinya aja…pacaran itu boleh atau gak? salam kenal!

Jawaban M Shodiq Mustika:
Ada jenis pacaran yang terlarang, ada pula yang tidak terlarang. Pacaran dalam arti “bercinta sebelum peminangan” seperti yang disebut dalam artikel di atas tergolong yang dianjurkan oleh Abu Syuqqah.
Salam kenal kembali.

salam kenal

wah saya malah blum smpat baca buku itu. walaupun dah liat dari dulu-dulu. yg penting dah mempraktikkan nih….

saya setuju dengan 12 alasan tersebut, karena banyak didalamnya menggunakan bahasa modern yang mudah dicerna oleh kalangan masyarakat remaja kita, namun kata “bercinta” yang anda tulis sangatlah rawan dan sangat menyeret untuk dibaca dan ternyata …. “bercinta” yang dimaksud di sini adalah menjalin hubungan untuk menuju pernikahan. :)

seperti artikel yang saya bahas sebelumnya tentang pacaran boleh atau enggak, bahwa disaat jaman semakin modern ini kita harus banyak bermain pikiran dalam pembahasan religius dengan bahasa modern juga dimana nantinya mudah untuk dicerna sodara-sodara kita terutama pembahasan masalah yang dekat dengan zina ini :)

Thanks bro

Assww
Wah, jujur aja ana belum konek dengan ide di blog ini.
Nanti-nanti dah dibaca lagi…(sepertinta sepintas rada-rada aneh ya, maaf belum baca full sih gagasannya).
Husnudzan dulu dah….
Salam kenal …

walaaah kayanya saya harus baca tuh buku

Nanti saya beli bukunya dulu. Dari ringkasan yang anda buat, saya rasa koq tidak berdasarkan pada dalil. Adakah dalil yang mendukungnya???

Tanggapan:

Sebaiknya kita menilai suatu karya secara adil, yaitu setelah membacanya secara lengkap dan obyektif.
Islam tidak mengajarkan kita untuk berprasangka buruk, bukan?
(Lihat artikel Ciri-Ciri Islam Ekstrim (1): Fanatik.)

Dalil-dalilnya ada di buku tersebut.
Mengenai keabsahan dalil-dalil itu, silakan baca kata pengantar dari Yusuf Qardhawi di Jilid 1.
Adapun untuk memahami ijtihad Abu Syuqqah ini, kami sarankan Anda membaca Jilid 3, terutama Bab III.

Bagus neh postingan, cuma mesti siap-siap menerima counter attack yang kadang menyakitkan pak…

Salam saja lah, terima kasih sudah memberikan pandangan baru dalam benak saya…

*Wa’alaikum salam. Terima kasih juga. Dukungan Anda sungguh membesarkan hati. Memang, disamping pujian, kami mendapat cacian pula. Namun alhamdulillah, dibandingkan lima tahun yang lalu ketika kami mulai menggulirkan gagasan ini, keadaan sekarang sudah lebih kondusif bagi perkembangan islamisasi pacaran.

[...] [1] Tanyailah sahabatmu itu, apa dalilnya. Mungkin dia mengira bahwa “menunjukkan rasa cinta kita dengan menaruh perhatian” itu tergolong ‘zina hati’. Perkiraan tersebut agak berlebihan.  Simak 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah. [...]

secara umum gagasannya emang menarik, seiring dengan kondisi zaman yang makin banyak pengaruhnya dari barat terutama yang menggulirkan faham liberal. namun perlu di hubungkan dengan kondisi umat islam saat ini. “OK” lah kalau kondisi umat islam seperti kondisi umat islam zaman nabi, yang keislamannya begitu baik (kaaaaffah) dan pengaruhnya masih belum begitu banyak. selain itu juga perlu dipertimbangkan masalah niat. innamal ‘amalu binniyat. kalau ini betul-betul difahami dengan baik oleh umat islam, maka insyaAllah akan baik pula hasilnya. kalau hubungan pacaran sama niat: kalau pacaran memang benar-benar untuk mencari kecocokan kedua pasangan (calon pasangan) dengan memperhatikan aturan syariat, itu emang baik. tapi lihat kondisi sekarang, dimana arus globalisasi begitu kuat yang didominasi oleh faham liberal. maka kesimpulannya kondisi yang seperti pada artikel diatas belum cocok. kalau kondisi syariat sudah kondusif, prinsip2 itu bisa di pakai.

Yup. Kalo memang kondisi anda belum spt yg disebut di atas, tentu kami tidak menyarankan anda menjalankannya.

saya lebih suka istilah “ta’aruf” dari pada penggunaan kata “bercinta” maupun “percintaan”.
“percintaan” maupun “bercinta” sepertinya mengalami pergeseran makna dalam masyarakat…

yah,..ada bagian dari tulisan yang saya sepakat dengannya, ada pula bagian yang saya tidak sepakat dengannya…

saya harap gunakan kata2 yang pas untuk memberikan penjelasan karena bisa jadi orang akan salah paham dengan pendapat penulis…

Kajian ini terus terang menarik, tapi kok saya merasa agak risih juga ya.
Bagaimana kalau yang membaca artikel ini(hanya membaca artikel ini sepintas) adalah pasangan muda mudi yang sedang kasmaran, lalu ketika membaca artikel ini seakan akan mendapat pembenaran atas apa yang mereka lakukan, menjadi justifikasi atas ihtilat yang berlebihan. Alasan klise nya adalah..’kami siap kok untuk menikah’,
apalagi konteks artikel ini adalah pra khitbah.

Tapi mungkin saya harus baca bukunya dulu ya biar bisa lebih tau pemikirannya. Jadi bisa lebih arif dalam menyikapi suatu pemikiran dan tidak memvonis.
tapi saya harus mengakui, artikel ini membuka wawasan saya. keep the good work

Jadi penasaran ingin baca bukunya..heheheh

[...] eh? P.S. Yang berikut ini asyik juga buat dikomen, lho: 1. Pacaran Islami, Yang Bener Aja! 2. 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah 3. Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE 4. Pacaran? Basi Tau! 5. Alternatif Pacaran: [...]

rekomendasi bukunya bolehh jugaa

Berarti, hubungan cinta pra-nikah tidak dilarang dong? Saya pernah baca di sebuah artikel (lupa di mana) bahwa jatuh cinta halal bila itu terjadi SESUDAH menikah. Hm, gimana dong? Salam kenal :D

Ya, hubungan cinta pra-nikah tidak terlarang.

kalo hubungan sebelum nikah lewat dunia maya, gimana Pak? :-D

Selama tidak mendekati zina atau pun kemunkaran lainnya, boleh-boleh saja

hwaa… pengen pacaran nih :D:D :D

dah lama gak pacaran :p

Rasa cinta itu wajar.
Tapi ingat, jangan DEKATI zina. Mau jadi apa bangsa ini kalo perzinahan menjadi budaya.

Kayaknya tu judul perlu dipermak, biar ga da salah persepsi. Bahaya kalo sampe salah persepsi.

jadi, boleh neh bercinta =P~

ya, boleh, tentu saja asalkan secara islami

sebenarnya emang paling aman kalo tidak pacaran. tapi apa daya… fufufu :(

wah jd pengen pacaran neh,,,,
tapi klo melihat teman-teman saya yang menikah dgn ta’aruf terlebih dahulu,,,,keliatannya jauh lebih asik,,,
ughh…jd bingung????lebih bagus mana pacaran atw Ta’aruf???

tergantung kasusnya
ada yg lebih baik “taaruf”
ada yg lebih baik “pacaran islami”

ndutyke…selamat mencoba pacaran islami ya…semoga berhasil..galilah pergaulan seluasnya dalam koridor islam…

saya bersykur sekali dgn adanya artikel seperti ini,,,,walaupun mgkn sdikit yg baca tp sedikit banyak kita bsa mngabil hikmah dan sedikti tau bgaimana islam mngatur hubgn antr lawan jenis
mudh2an kerisauan penulis mndpt balsan yg baik dr allah swt dan mndpat kmudhan

aamiin.
sebetulnya, yg baca artikel ini banyak.
tp entah sedikit entah banyak, ridha Allah lah yg kita cari.

Ass.
Afw, anee kurang setuju dengan judulnya, diantara prinsip seorang jurnalis muslim, ialah tetap terikat dengan hukum syara’ “al-ashlu fil af’al, at-taqayyidu bil hukmu asy-syar’i”; tidak menghalalkan segala cara, “al-ghayyah laa tubarriru al-washiilah”, judul ini bisa bikin orang salah paham, afwan. Terus mengenai isinya, harus ditunjukkan apa dalilnya (dalil Al-Quran & As-Sunnah), karena “laa haqqa illaa bil hujjah, laa hujjata illaa bid-daliil” (tiada kebenaran tanpa hujjah, dan tiada hujjah tanpa dalil). Anee saranin, blogger yang ngelola ini blog, merujuk pada maraji’ (refernsi) kitab NIdzaamul Ijtimaa’iy fil Islaam (Sistem Pergaulan dalam Islam), Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, afw sekali lagi afw, ini demi kebaikan
Wass.
syukron.

dalilnya yg lengkap ada di buku/kitab yg ana rujuk di sini.
silakan telusuri

Kok selama yang dibahas pacaran, selalu ada argumen: “Kan yang ga boleh mendekati zina, kalau ga mendekati gak papa dunk.” Padahal yang namanya gairah dan romantisme itu adalah satu hal yang ga bisa dipisah pisahkan. Dan “passion” yang utuh begitu bisa timbul dimana saja, entah anda sedang ada di tempat suci. Juga bisa timbul karena apa saja. Konon ada penelitian bahwa orang bisa “dieksitasi” oleh sepatu. Apalagi sms, suara dll.

Di sisi lain, hasrat kita pada lawan jenis adalah anugerah. Nah tentunya “hasrat” itu boleh yang tidak boleh adalah memfasilitasi hasrat itu secara serampangan. Dan bila kita setia pada prinsip-prinsip agama (baca: Islam) tentunya hubungan romantis harus berorientasi ke pernikahan. Masalahnya, gimana kalau orang jatuh cinta jauh-jauh hari sebelum kesiapan menikah?

Ini memang dilematis. Tapi cara yang paling aman ketika orang belum punya bayangan tentang pernikahan yang berpuasa dari romantisme, kalau ngga dia akan tersiksa sendiri. Sedang kalau “kenal” dengan lawan jenis itu sih sah sah aja, seperti mengenal Mbok Jamu atau Bu RT kan gak papa.

Saya kira pesan Quran supaya kita mengenal orang lain tu ya seperti itu. Kenalilah tetanggamu, Pak RT, Bu RT, Pak Lurah, Mbok Jamu dll secara proporsional sesuai peran dan tanggungjawabnya.

Kalau islam men”encourage” percintaan sebelum menikah, ada kemungkinan jadi playboy atau playgirl dong kan gak ada komitmen apa-apa lagipula tidak ada nash yang melarang jadi playperson jenis ini.

Salam wallahua’lam bishawab

Untuk lebih memahami 12 alasan tsb, silakan baca buku yang dirujuk itu.

@Rasional

Betul pak, yg namanya gairah dan nafsu bisa muncul dimana n kapan saja…baik yg lagi pacaran, atau taaruf sekalipun loh
Namanya interaksi cowo - cewe…Jangankan yg ketemu, yg ngga ketemu alias pake cara mbayangin aja bisa hehe

So, kesimpulannya…salah metodenya?……….atau pelakunya? :D

Wassalam

soal pacaran,gue masih jomblo.cariin cewe donnk!.10 pendaftar pertama mendapat hadiah kaos cantik.he he he bercanda

makna kata “bercinta” yang luas itu saat ini seakan dipersempit menjadi “making love” alias bersenggama atau bersetubuh…
Jadi, akan lebih tepat berjudul: 12 Alasan, mengapa perlu menyayangi sebelum bercinta Menikah. Itu menurut saya, tapi ini kan blogsphere, jadi saya paham juga kenapa anda memilih judul diatas - “sensasi & selebrasi” - namun banyak pembaca mengabaikan “esensi” dari postingan anda.
Dari segi lain, No Problem saya kira… :mrgreen:

salam kenal za..syukron..saya memang blm baca buku tersebut,,tapi tntng pacaran islami bukanlah hal baru..byk buku lain yg seirama dgn buku tsbt.secara pribadi saya,skalipun ada suka dgn pndapt trsbt,tapi ada hal yg saya takutkan..apakah ini memang sesuai dgn syariat Allah,atau masalah tersebut kita katakan ” boleh / halal ” dulu, trus kemudian cari-cari dalil utk mensahkannya..saya takut istinbat hukum ini dibuat berdasarkan nafsu kita.ingat sejarah bani israil yg dilarang menangkap ikan pada hari sabtu? mereka cari cara utk bisa mendapatkannya lalu buat alasan.nah..klo pndapt itu salah siapa yg mau tanggung jwb?..jadi..hemat saya..klo anda mau pacaran atau apalah sebutannya..cepet2 deh ajak nikah..coz pandangan kita itu kadang tidak jujur..itu tetap mengandung dosa.bukankah kita disuruh selalu menundukkan pandangan sama lawan jenis.karena iman kita lemah.maka kita kerjain tu dosa.selalulah istighfar.coz..kadang2 kita tipu diri kita sendiri..ok.kepanjangan ya..makasih

@ k* tutur
Terima kasih, akhirnya Kang Tutur menyatakan “no problem”.

@ sahlani
Kami mengerti kekhawatiranmu. Karena itu, kami menyampaikan seluk-beluk pacaran islami secara terbuka, supaya orang-orang bisa memantau dan mengoreksi kami. Jadi, setiap kali kau jumpai kekeliruan di situs ini, luruskanlah!

Bukunya boljug tuh!!!!

dasar ISLAM LIBERAL.
merusak agama.

Tanggapan Admin:
Hizra yang terhormat,
Tidak maukah Anda menghargai pandangan saudara sesama muslim yang didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih?

boleh juga nih

subhaanallaah….
blog inilah blog terbaik mengenai pranikah islami,
gak asal cuap2, gak mengandalkan prasangka,
tapi berdasar pada dalil-dalil yang kuat.

ya Allah,
karuniailah pemilik blog ini pahala yang sebesar-besarnya
dan berilah dia kesabaran untuk melayani orang-orang bodoh yang masih saja mengingkari bukti-bukti kebenaran yang disampaikan di blog ini
amin

BALADA SEORANG Akhwat :

(ngakunya) Akhwat…..

suka dengan ikhwan (ngakunya sih), duh mereka suka berkholwat

kemana-mana berasyik-masyuk, sampai mereka lupa akhirat

ternyata nasib telah tersurat

si ikhwan (?) khianat

lebih memilih wanita yang lebih memikat

kemana akhirnya si akhwat (?)

untungnya kok gak sampe ke liang lahat

namun, hatinya terlanjur telah terkhianat

hingga terlalu paranoid disanding dengan “madu” yang memikat

duh, kasian nian dikau si akhwat……………….

Andai dulu engkau dengar wejangan Kitabullah supaya tidak suka berkholwat dengan pria khianat

pastilah engkau selamat,

hatimu juga selamat

pikiranmu pastilah tetap smart

takkan pernah akidah dan akhlakmu tergadaikan oleh buaian setan terlaknat

hingga kau takkan nyinyir mengumbar provokasi bahwa semua pria ternyata pengkhianat

Semoga engkau selalu mendapat Rahmat, ya akhwat

dari Allah yang Maha Melihat

apa yang tersebunyi dari makhluknya yang suka berkhianat

NB: Akhwat adalah wanita, Ikhwan adalah Pria

kembalilah pada kemurnian islam
sesungguhnya allah Maha Penerima TAUBAT, bagi hambanya yang terjerumus.

weee
ngaco kali !!!

salam kenal azuka.. hehhehehehehehe

:) :) :)

@hizra nina amelia dalimunthe
“dasar ISLAM LIBERAL.
merusak agama.”
“LIBERAL? nggak salah tuh??
dasar ISLAM RADIKAL
mengkerdilkan agama.

Asw.
yah..kita memiliki perasaan suka pada lawan jenis,emang wajar..normal..justru kaga normal kalo kita ngga punya rasa itu..
wong fitrah ko!!!!
hanya,gimana cara kita..menghadapi,mengatasi itu semua..
jelas!!!dg cara menjaga syahwat kita bae2..
kalo kita malahan pacaran ama orang yang kita suka..yaaa…rasa cinta itu bakalan ngegede2 dan ngegede..gedenya..ampe ngilangin rasa cinta kita ama Allah..Allah bisa murka kalo kaya gitu caranya!jadi pacaran sbelon kawin adl sesuatu hal berbahaya,yang bisa menjauhkan kita dg Allah azza wa jalla!!!mau???neraka entar t4 orang2 yang mau kna murka Allah..Na’udzubillah..

Wah,
ni sesuatu yg baru tuk aq.
Kok jd aneh ya?

Pa gak takut ntar ujungnya, jadi ajang coba2.
Kasihan kan anak cewe’ orang.
Misalnya bapak punya anak cewe’ nih,
trus da ikhwan datang nglamar,
tapi dicobain dulu, diajak bercinta dulu,
setelah puas,
eeh si ikhwan tuh ngabur, en bilang kagak ada kecocokan setelah di coba.
Gimana perasaan bapak?

Yg gak di izinin aja, dah bejamur dimana2.
Palagi yg di kasih dalil?
Astafirullah………

Capeeek deeehhhh…….
Yg logis aja dong berfikirnya,
tu namanya ngijinin seks bebas tau…………

[...] Berilah Kemudahan Bercinta daripada Mencegah Zina Secara Berlebihan 9 Oktober 2007 Posted by M Shodiq Mustika in 5 - Tebarkan hikmah. trackback Para ulama mengakui bahwa dalam Islam, tidak ada larangan pacaran. Namun, sebagian aktivis dakwah menentang keberadaan “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” atau “bercinta sebelum khitbah“. Alasan mereka adalah penerapan kaidah saddudzdzari’ah, yaitu “upaya pencegahan agar sesuatu yang tidak kita inginkan [yaitu zina] tidak terjadi”. (UPDATE: Yang dimaksud dengan “bercinta” di situs ini bukanlah “berhubungan seksual”. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/11/12-alasan-mengapa-bercinta-sebelum-menikah/.) [...]

Bagaimana ada praktek pacaran Islami? Lhaaa wong nglirik aja udah dosa. Nikah dulu baru pacaran. Itu ahsan

@hz86
Apakah pernyataanmu “kalo kita malahan pacaran ama orang yang kita suka..yaaa…rasa cinta itu bakalan ngegede2 dan ngegede..gedenya..ampe ngilangin rasa cinta kita ama Allah..” didasarkan pada penelitian obyektif ataukah prasangka subyektif?

@fyanz

Apakah pernyataanmu “tu namanya ngijinin seks bebas tau” didasarkan pada penelitian obyektif ataukah prasangka subyektif?

@ImamMawardi

1) Pacaran tanpa tatap-muka bisa dilakukan.

2) Apa hujjah Anda sehingga mengatakan bahwa “nglirik aja udah dosa”? Abdul Halim Abu Syuqqah justru menyatakan, “Islam menetapkan bolehnya kaum wanita melihat kaum laki-laki, dan sebaliknya.” (Kebebasan Wanita, jilid 3, hlm. 172)

3) Ya, sebagian orang sebaiknya langsung nikah tanpa pacaran. Namun sebagian orang lainnya sebaiknya pacaran dulu secara islami sebelum menikah. (12 alasan diantaranya sudah kami ungkap di artikel ini)

[...] memahami dugaan SPPI tentang adanya “12 Alasan Mengapa Bercinta Sebelum Menikah” a.k.a ”alasan adanya pacaran islami” yang dinisbatkan kepada Ustadz Abu Syuqqah dalam [...]

Blog terindah yang pernah Ade baca… sungguh!! Membaca blog ini jadi merenung selama ini cara pacaran Ade udah islami belum yah… duh !!

-Ade-

Tanggapan Admin:

Makasih, mbak Ade. Met pacaran secara islami.

Emang bukunya bagus ya..? Buat pdf-nya dong, kan lebih manfaat tuh. Hihihi, senengnya sama yang gratisan aja.

Buat pak Shodiq, selain buku ini, dah baca buku karangan ulama mana aja? Yah, tentunya yang terkait dengan masalah hati, pergaulan muda-mudi. Makin banyak buku referensi tentu makin banyak ilmunya. Siapa tau ada ilmu yang tidak / belum dicantumkan di buku ini tapi ilmu tersebut diketahui oleh ulama lainnya. Tuk melangkah lebih jauh.

wallahu’alam

@ rini

Bukunya bagus banget. Kalo mau yg gratisan, kunjungi aja http://media.isnet.org/islam/Wanita/W1/Pengantar1.html

Buku relevan lainnya yg kubaca antara lain adalah karya2 Yusuf Qardhawi, Quraish Shihab, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, …. Silakan menyampaikan rekomendasi buku apa saja yg perlu kita baca untuk lebih memahami bagaimana percintaan pranikah yg islami.

Tentang percintaan pranikah yg islami, pastinya abi lebih paham dibanding aku. Dan pastinya dah baca buku lebih dari satu. Trus, gimana nih pendapat imam empat mazhab + Imam Ahmad tentang hal ini?

@ rini

Kami belum tahu apakah imam empat mazhab + Imam Ahmad mendalami topik percintaan pranikah.

Yang kami tahu sejauh ini, ulama besar terdahulu yang mendalami topik percintaan itu ialah Ibnu Qayyim dan Ibnu Hazm.

Lihat
http://pacaranislami.wordpress.com/2007/10/27/ulama-yang-sibuk-bercinta/ dan
http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/09/contoh-pacaran-islami-ala-ibnu-qayyim-al-juziyah-1/ dan seterusnya

mr. webmaster…..

i hope u give me
how to date by islam

send to my email

Ana coba kopas sedikit mengenai terapi al-isyq dari kitabnya IBNUL QOYYIM AL-JAUZIYAH….

artikel lengkapnya ada di

http://www.almanhaj.or.id/content/2074/slash/0

TERAPI PENYAKIT AL-ISYQ
Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya, maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barang siap yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)”.

Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti. Solusi petama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”.

Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka ataupun budak dalam firman-Nya:

“Artinya : Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.[An-Nisa : 28]

Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikannya terhadap hambaNya dan kelemahan manusia untuk menahan syahwatnya dengan membolehkan mereka menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun empat, sebagaimana Allah membolehkan bagi mereka mendatangi budak-budak wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita jika mereka butuh sebagai peredam syahwat, keringanan dan rahmati-Nya terhadap makluk yang lemah ini.

2. Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan karena tertutupnya peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, penyakit ini bisa semangkin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan dirinya bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Jiwa yang berputus asa untuk mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum terlupakan, akan berpengaruh terhadap jiwanya sehingga semangkin menyimpang jauh.

Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain yaitu dengan mengajak akalnya berfikir bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dapat dijangkau adalah perbuatan gila, ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan mengganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak waras?

Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya tertutup karena larangan syariat, terapinya adalah dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan adalah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu kearah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.

3. Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap menuntut, hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal, pertama karena takut (kepada Allah) yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak terlintas dalam pikiranmu dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah, ataupun menghayal terbang melayang jauh, ketika tersadar ternyata hanyalah mimpi dan khayalan, akhirnya sirnalah segala keindahan semu, tinggal keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.

Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika dia gagal melupakan yang dikasihinya, dia akan mengalami dua hal yang menyakitkan sekaligus, yaitu:gagal dalam mendapatkan kekasih yang diinginkannya, dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya. Jika yakin bakal mendapati dua hal menyakitkan ini niscaya akan mudah baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta.Dia akan bepikir bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar sedikit demi mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kezalimannya kan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya . orang yang terhindar adalah orang-orang yang dipelihara oleh Allah.

4. Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak terima dengan terapi tadi, maka hendaklah berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ditimbulkannya segera, dan kemasalahatan yang akan gagal diraihnya. Sebab mengikuti hawa nafsunya akan menimbulkan kerusakan dunia dan menepis kebaikan yang datang, lebih parah lagi dengan memperturutkan hawa nafsu ini akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilannya dan kemaslahatannya.

5. Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat sisi-sisi kejelekan kekasihnya,dan hal-hal yang membuatnya dampat menjauh darinya, jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada kekasihnya niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan dari keindahannya, hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang tersembunyi baginya. Sebab sebagaiman kecantikan adalah faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya demikian pula kejelekan adalah pendorong kuat agar dia dapat membencinya dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya. Jangan sampai terperdaya dengan kecantikan kulit dengan membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak dan kusta, tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannnya kepada kejelelekan sikap dan prilakunya, hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik dan melihat kepada kejekan yang diceritakan mengenainya dan kejelekan hatinya.

6. Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir adalah mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya, hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jika dia dapat melaksankan terapi akhir ini, maka sesunguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaannya, jangan sampai dia menjelek-jelekkan kekasihanya dan mempermalukannya dihadapan manusia, ataupun menyakitinya, sebab hal tersebut adalah kezaliman dan melampaui batas.

PENUTUP
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat kata pepatah: mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebelum terkena lebih baik menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? tidak lain dengan tazkiyatun nafs.

Semoga pembahasan ini bermanfaat.

[Diterjemahkan oleh : Ustadz Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab : Zadul Ma'ad Fi Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, halaman 265-274, Penulis Ibnu Qayyim Al-Jauziah]

Adakah Ulamaku tercinta Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyarankan untuk berpacaran….?

[...] bisa salah-paham bila menyimak hadits yang terjemahannya keliru atau kurang tepat. Contohnya, dalam sebuah komentar seorang pembaca yang menyebut dirinya [...]

@ realstupid

Mengenai pacaran dalam pandangan Ibnu Qayyim, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/

Mengenai al-’isyq, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/17/kelirunya-terjemahan-terhadap-sebuah-hadits-tentang-cinta/

@ Sholihuddin

Maaf, kami kekurangan sumberdaya untuk mengirim pesan via email. Media blog ini merupakan media yang efisien untuk menyampaikan pesan kepada siapa pun, bukan? Silakan memanfaatkannya.

Duhai ukhti, bukan aku tak mencintaimu
Ketika tak kubalas senyuman itu
Itulah tanda kedewasaanku
Dalam menjaga cinta kita berdua

Duhai ukhti, bukan aku tak mencintaimu
Ketika tak kubalas sms2 mu
Itu adalah bukti ketulusan cintaku
Dalam menjaga cinta kita berdua

Duhai ukhti, bukan aku tak mencintaimu
Ketika aku tak mengantarmu pulang
Karna itulah untuk menjaga cinta kita
Dari prasangka dan fitnah

Duhai ukhti, bukan aku tak mencintaimu
Ketika aku memutuskan untuk tak bersamamu saat ini
Karna aku yakin pada Zat Yang Maha Kuasa
Bahwa kita suatu saat akan dipertemukan dengan RidhoNya

–>Inilah langkah tepat untuk menuju kebahagiaan berumah tangga.
Cinta yg suci tanpa diringi dengan hal2 yang syubhat (pacaran).
Yakinlah….
Smoga menjadi renungan bagi kita semua.
Amiin…..l

Catatan Admin:

Tulisan di bawah ini ditulis juga oleh al_akh26 (yang menggunakan nama Andi Maipa) yang secara licik telah mencatut nama M Shodiq Mustika dengan menggunakan IP 202.155.148.169. Awas! Jangan terkecoh!

wow… pacaran islami???? mantappp!!!!

wowowowowowow

brati rasul dulu bgitu juga ya????

wewewew.. kayaknya saya lebih suka oleh syair al_akh26 deh.. begitu kalau menurut saya pacaran ala islam..

Bismillah……
ketahuilah wahai akhi dan ukhti
cinta suci tak di bangun di atas “pacaran Islami”
bukan pula pembenaran diri dengan dalil2 bertendensi
namun di atas Diinullaah yang benar2 suci
sadarlah wahai jiwa yang melampaui batas diri
akan tanggung jawab amal di hadapan Illahi
tanyakan pada segenap jiwa dan relung2 hati
kebohongan dan nafsu syahwat tiada arti
di hadapan Allah yang maha mengetahui
pintu taubat kan selalu menanti
sebelum ajal menjemput diri……..

Ketahuilah wahai al akh abdullah,
cinta yang dibangun di pacaran islami adalah suci.
Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/

setuju!!!

website yang bagus euyy

menurut aq pacaran ga smuanya pke nafsu bisa aja kan,pcaran krna dmi ortu jdi sbaikny pacaran ga harus bercinta!!!!!!!!

Bismillahirrahmanirrahim
“Pacaran” istilah yg selama ini menjadi topik yang sangat menarik di kalangan para aktifis dakwah, entah dia itu ikhwan maupun akhwat. Terjadi pro dan kontra mengenai boleh tidaknya pacaran ini. Ada yg sampai-sampai memberikan solusi bahwa pacaran itu boleh sepanjang dilakukan secara islami (termasuk buku yg jadi topik diskusi kita di blog ini). Nah yg menjadi masalah adalah seperti apakah pacaran yg Islami itu. Sebab konotasi pacaran yg umum kita kenal dan populer di kalangan muda mudi sekarang adalah….sering jalan bareng, ada waktu untuk berdua-duaan, dan terutama adalah komitmen hati saling memiliki antara keduanya walaupun dia hanya sebentuk pernyataan saling suka. Akses dari ini semua adalah terlalu banyak korban yg bergelimpangan dan tentunya yg paling dirugikan adalah wanita. Sebutlah misalnya kehilangan kehormatan sebelum nikah (ada sumber yg menyatakan bahwa 60% remaja putri sekarang telah kehilangan kehormatannya sebelum nikah), Hamil sebelum nikah, dan salah satu yg terburuk adalah karena pacaran ini sdh dianggap trend jaman maka muncullah yg disebut freee sex and liberalisme. Berciuman di depan umum adalah hal biasa….dan seterusnya.

Nah bagaimana dengan Islam…seperti apakah konsep pacaran dalam Islam. Menilik sirah nabawiyyah sulit mendapatkan informasi adanya hubungan (pacaran) para nikah yg dilakukan oleh para sahabat dan generasi Islam masa lalu. Dan menurut saya konsep pacaran itu sebanarnya lahir sebagai buah dari kebuntuan berfikir barat, dimana terjadi ketidak puasan atas ajaran Yahudi dan Nasrani yg jelas telah mengungkung pergaulan hidup antara laki-laki dan perempuan. (Valentine day).

Sy agaknya kurang setuju dengan pendapat abu syuqqah seperti yg tertulis dalam buku di atas. Kenapa…..????? sebab hampir tidak ada bedanya dengan apa yg telah di paraktekkan generasi masa kini. Cinta???? benar adalah fitrah dari Allah…dan itu itu harus dipelihara dan dijaga dipoles dengan tuntunan Allah agar tidak berbelok arah ke hal-hal negatif. Bagaimana membendung perasaan cinta yg menggebu gebu terhadap lawan jenis (akhwat) ??????. Kuncinya adalah segerakan “MENIKAH” baru setelah itu “PACARAN” (ini yg Islami). Tidak usah takut karena belum punya kerjaan, masih kuliah dan pertimbangan-pertimbangan yg tidak masuk akal.
Wassalam

sebelumnya saya minta maaf Ustad, kaya-nya berat banget ngejalanin hidup tanpa cinta (jomblo). gimana caranya biar hidup g ngeBeTe-in (tanpa seseorang yang mendampingi hidup kita di hari esok) alias pacar…!!

@ bhell & slam
thanks

@ yulianti
sepertinya kita sependapat, cuman pengertian kita mengenai “bercinta” ini tampaknya berbeda

@ ikhwan fillah
1) Ya, kuncinya adalah segerakan menikah. Pacaran islami memang dalam rangka menyegerakan menikah.
2) Konsep “bercinta sebelum khitbah” ala Abu Syuqqah ini sangat berbeda dengan “pacaran pada umumnya”. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/cinta-pra-khitbah/
3) Benarkah “60% remaja putri sekarang telah kehilangan kehormatannya sebelum nikah”? Lihat http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/

@ Yasser Arafat
Bersahabatlah secara akrab dengan beberapa wanita sekaligus. Kebutuhan batiniahmu ini insya’Allah akan terpenuhi dari mereka.

satuju………

Ass. .
Mf y sblmx, bknx saya mw mgkritik ato aplah. .
Dlm bku tsb, qt d ijinkn u/ bercinta sblm mnikah.
Pdhl dlm Islam tu gda istilah brcinta atopun pcrn sblm mnikh. B22an j uda mndkati Zina plgi pcrn atopn brcnta.
Sya tw mksd bku tsb “bercinta” adl mmbina, tp bgmna qt bs mmbina??
Brhbgn dgn lwan jns uda dlrg dlm Islam.
Msk qt hrz mmbina tu dgn org lain?

Klopn spti itu, pa Anda bs btgg jwb dgn Web Anda ini?
Terima Kasih.
Wass

Assalamu’alaikum wr.wb.

Di manakah dasar yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah? Di mana itu semuanya? Padahal 2 hal ini adalah pedoman dalam Islam yang paling utama. Sedangkan di Al Qur’an sudah tertulis dengan jelas tuk menjauhi zina.
Jangan sampai kita mencari pembenaran tuk hal2 yang sudah jelas dilarang dalam Al Qur’an.
Terima kasih

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jawaban M Shodiq Mustika:

wa’alaykum salam wr wb

1) pacaran tidaklah identik dengan mendekati zina; lihat artikel Ciuman dengan Pacar

2) dalil mengenai pacaran sudah dikupas di artikel Halal-Haram Pacaran dan Bantahan terhadap Penentang Dalil Pacaran.

terima kasih
wassalam

siapa yang kata islam tidak sempurna? dalam Islam, semua ada. tapi masih ada yang salah faham maksud penulis. pendapat saya, maksud penulis ialah berpacaran secara islami ialah sepertimana rasulullah dan sahabat2nya yang mendapat tarbiyyah terus dari rasulullah. nah, penulis telah mengetengahkan huraian dari ulama berdasarkan al-quran dan Hadith sohih. apakah yang membuatkan hati sebahagian kalian tertutup? pastinya kelancangan salah tanggap dan gak berhati2. PERHALUSILAH TUAN-TUAN!
Jangan fikir BERPACARAN yang dimaksudkan penulis itu adalah seperti kebanyakan orang zaman sekarang.

Tanggapan Admin:

1) Kami dan ulama Ikhwanul Muslimin yang menulis buku Kebebasan Wanita itu tidak pernah menyatakan bahwa Islam tidak sempurna.

2) Jangan bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali. Lihat http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh/

3) Kami pun “mengetengahkan huraian dari ulama berdasarkan al-quran dan Hadith sohih”. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/panduan-pacaran/

4) Kami TIDAK memaknai istilah “pacaran” seperti yang dipahami oleh “kebanyakan orang zaman sekarang”. Kami justru melakukan islamisasi terhadap budaya ini. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/about/

salam. mungkin penulis kurang faham maksud saya kerana menggunakan bahasa malaysia.

saya tidak mengatakan bahawa penulis yang mengatakan islam tidak sempurna, sebaliknya orang yang tidak bersetujulah yang seolah2nya menyatakan sedemikian.

2. saya tidak bersangka buruk, malah menyokong penulis.

3. sememangnya saya telah mengatakan bahawa penulis (admin) yang mengetengahkan huraian dari ulama berdasarkan al-quran dan hadith sohih.

4. sememangnya saya tidak mengatakan penulis yang memaknai istilah “pacaran” seperti yang dipahami oleh “kebanyakan orang zaman sekarang”. malahan saya menujukannya kepada orang2 yang mempertikaikan penulis (admin)

sekian. maaf kerana menggunakan bahasa yang kurang difahami di blog ini.

Tanggapan Admin:
Terima kasih atas penjelasan Sdr. Syakir.
Di waktu mendatang, supaya lebih dipahami, harap dituliskan kepada siapa komentar ditujukan, misalnya: “Kepada para penentang islamisasi pacaran”.

Leave a response

Your response:

Kategori