Shahihnya Hadits Yang Membolehkan Berduaan

Seorang wanita [non-muhrim] dari kaum Anshar telah mendatangi Nabi saw., lalu beliau berduaan dengannya. (HR Bukhari & Muslim dari Anas bin Malik r.a.) Inilah salah satu dari hadits-hadits shahih yang terlupakan (jarang diungkap kepada publik).

Hadits tersebut dimuat di Shahih Bukhari, kitab “Nikah”, bab “Sesuatu Yang Membolehkan Seorang Pria Berkhalwat dengan Seorang Perempuan di Dekat Orang-orang”, jilid 11, hlm. 246. Hadits tersebut juga dimuat di Shahih Muslim, kitab “Keutamaan Para Shahabat”, bab “Keutamaan Kaum Anshar”, jilid 7, hlm. 174.

Kebanyakan ulama sepakat menetapkan bahwa dari segi sanad (periwayatan), derajat hadits yang paling tinggi (paling shahih) adalah yang dimuat di Shahih Bukhari dan sekaligus Shahih Muslim. (Peringkat kedua adalah yang dimuat di Shahih Bukhari, tetapi tidak dimuat di Shahih Muslim. Peringkat ketiga adalah yang dimuat di Shahih Muslim, tetapi tidak dimuat di Shahih Bukhari.) Jadi, keshahihan hadits tersebut amat sangat meyakinkan dan tidak meragukan sama sekali.

Lantas, apakah dengan shahihnya hadits tersebut, engkau boleh berduaan dengan pacarmu sebebas-bebasnya? Tidak! Imam Bukhari mengatakan secara tersirat (dari judul bab yang memuat hadits tersebut) bahwa berduaan itu boleh dengan syarat “di dekat orang-orang”.

Apa yang dimaksud dengan “di dekat orang-orang“? Mari kita simak penjelasan Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya, Fathul Bari. Kitab ini kami pilih karena kitab inilah yang secara luas diakui sebagai kitab terbaik di antara kitab-kitab yang menjelaskan hadits-hadits shahih Bukhari.

Menurut Ibnu Hajar, “di dekat orang-orang” itu maksudnya keadaan mereka berdua “tidak tertutup dari pandangan orang lain” dan suara pembicaraan mereka “terdengar oleh orang lain” walaupun secara sama-samar (sehingga isi pembicaraan mereka tidak diketahui oleh orang lain). Lebih lanjut, Ibnu Hajar menerangkan, “Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa pembicaraan dengan non-muhrim yang bersifat rahasia tidaklah tercela dalam agama jika aman dari kerusakan [lantaran zina dan kemunkaran lainnya].” (Fathul Bari, jilid 11, hlm. 246-247)

Atas dasar itu, kami simpulkan: Kita boleh berduaan dengan non-muhrim bila terawasi, yaitu dalam keadaan yang manakala terlihat tanda-tanda zina, yang ‘kecil’ sekalipun, akan ada orang lain yang menaruh perhatian dan cenderung mencegah terjadinya zina.

Lantas, bagaimana dengan hadits-hadits shahih lain yang menyatakan terlarangnya berkhalwat (berduaan) dengan non-murim? Tidakkah bertentangan? Tidak! Hadits-hadits yang menyatakan terlarangnya khalwat itu bersifat umum. Keumumannya telah dibatasi (ditakhshish) oleh hadits di atas. Dengan kata lain, hadits-hadits tersebut menyatakan: Kita tidak boleh berduaan dengan non-muhrim (tanpa disertai muhrim), kecuali bila terawasi (di dekat orang lain).

Jadi, kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi (di dekat orang lain). Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina. Jangan malah pura-pura tak tahu atau pun melarang mereka berduaan!

About these ads

83 gagasan untuk “Shahihnya Hadits Yang Membolehkan Berduaan

  1. memang bener hadits itu ada dishohih bukhori,dan jelas sekali hadits itu termasuk hadits dengan kualita shohih teratas krena selain terdapat dalam bukhori jga ia terdapat dalam shohih muslim!

    tapi sebelum berbicara mafhum hadits terlebih dahulu kita mengetahui sababul wurud hadits ini agar apa yang kita pahami nanti tdk bertentang dengan nash yang lebih sohih lagi yaitu al-qur’an dan hadits mutawatir.
    ataupun hadits lain yang sederajat yang disebutkan sebelum hadits itu dikitab yang sama.

    ada pertanyaan yang muncul disni yang perlu kita cerna yaitu apakah nabi beduaan denagn wanita dari anshor tersebut(seperti djelaskan ibnu hajar tentang ma’na kholwah)adalah untuk pacaran maksudnya mereka memadu kasih. singkatnya apakah pertemuan mereka gara2 siwanita itu suka ama nabi terus pengin ngobrol2 atau ada keperluan tertentu yang akan ditanyakan nya kepada nabi baik menyangkut hajat dia sendiri atau para wanita lainnya.

    menurut hemat sy,sebelum kita memakai hadits ini untuk memperbolehkan beruduaan dgn wanita non muhrim dng niat memadu kasih dng batas yang ditafsirkan ibnu hajar tadi,ada baiknya kita melihat sababul wurud hadits ini.disinilah pentingnya kita belajar ilmu hadits riwayah disamping ilmu diroyah yang lebih di utamakan kebanyakan ulama.

    saya rasa belum lengkap penjelasan anda klu belum menjelaskan pertanyaan diatas.dan tentunya belum boleh mengambil kesimpulan seperti yang anda tuliskan tsb.

    wasslam

  2. Ping-balik: Bagaimana mengamalkan hadits-hadits tentang berduaan « Pacaran Islami

  3. Ping-balik: Bagaimana sikap suami-istri bila berbeda pandangan « Muslim Romantis

  4. hati-hati dengan akal mu, dia akan menjerumuskanmu….

    Tanggapan Admin:
    Akal memang mungkin bisa menjerumuskan. Tapi tanpa akal yang sehat, kita pasti terjerumus. Jadi, marilah kita gunakan anugerah Ilahi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai terperangkap iblis hanya gara-gara enggan menggunakan akal sehat. Lihat artikel Logika Iblis Yang Menyesatkan Orang Yang Taat Beragama.

  5. Seorang wanita [non-muhrim] dari kaum Anshar telah mendatangi Nabi saw., lalu beliau berduaan dengannya. (HR Bukhari & Muslim dari Anas bin Malik r.a.) Inilah salah satu dari hadits-hadits shahih yang terlupakan (jarang diungkap kepada publik).

    JIKA BERDUA2xan APAKAH MEREKA PACARAN SEDANGKAN RASULULLAH PUNYA ISTRI hahahahahahahahaa

    HATI2x dengan apa yang anda bawa BUNG!!!

    Tanggapan Admin:

    Bacalah secara lengkap atau bacalah kembali dengan lebih cermat! Di paragraf terakhir pada artikel di atas, telah kami ingatkan:

    Jadi, kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi (di dekat orang lain). Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina.

  6. @Akhina Ifa

    Simple question :

    1.Jadi kalo berdua2an tp g pacaran tu boleh ya hehehe….

    Yg dijadiin poin itu kan kegiatan berdua2annya, bukan masalah ada hubungan apa antara yg berdua2an…

    Non muhrim manapun, kalo berdua2an dlm term mojok or gelap2an…itu baru dilarang
    Tapi kalo di tempat terbuka n terawasi, itu boleh jika mengacu pada hadits tersebut.

    “Trus kalo berdua2an di tempat rame sambil pegangan tangan gmn dong”

    Nah ini beda lagi…
    Kasusnya sama kaya jalan2 di mol tp matanya cuma liat2 aurat
    Yang haram itu tetep liat2 auratnya, perbuatan jalan2 di mol basically ttp mubah n g bisa mutlak diharamkan

    So, clear kan…
    simple logic aj ko :)

    Wassalam

  7. Anda
    Jadi, kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi (di dekat orang lain). Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina.

    Saya:
    Ini tuh ciri2x taaruf bung

    Tanggapan Admin:
    Boleh-boleh saja Anda menyebutnya sebagai taaruf. Kami menyebutnya sebagai pacaran islami.

  8. 1.Jadi kalo berdua2an tp g pacaran tu boleh ya hehehe….
    Yg dijadiin poin itu kan kegiatan berdua2annya, bukan masalah ada hubungan apa antara yg berdua2an…
    Non muhrim manapun, kalo berdua2an dlm term mojok or gelap2an…itu baru dilarang
    Tapi kalo di tempat terbuka n terawasi, itu boleh jika mengacu pada hadits tersebut.

    Analogi dari tafsiran yang tidak mewakili…

  9. @akhina ifa

    begini, boleh saya jelasin dikit g

    judul posting di atas adalah tentang shahihny hadits yg membolahkan berduaan (namun dgn syarat)

    seringkali banyak pendapat yg kontra dgn PI adalah karena kegiatan pacaran itu dikaitkan dgn berdua2an…

    nah sekarang diberikanlah contoh hadits itu…
    bahwa ternyata, g selamanya yg namanya berduaan itu haram…tergantung dari sikap juga sikonnya

    tulisan di atas udh memberikan penjelasan ttg sikonnya, tapi anda berpendapat

    “Nabi kan ga pacaran”

    Oke, nabi n wanita anshar itu g pacaran
    So dgn kata lain, kalo menuruti pola pikir anda, berarti yg membuat kegiatan berduaan itu jadi haram karena pacarannya…

    Nah bukankah ini yg kurang tepat, karena itu saya coba ajukan analogi lagi

    “Berarti kalo g pacaran boleh dong berduaan?”

    Koz anda mengcounter opini bolehny berduaannya nabi itu, dgn kalimat..”mereka ga pacaran”

    Di mata saya, siapapun itu…mo temenan, mo pacaran, mo tunangan, mo TTM, mo HTS…sepanjang mereka non muhrim, kalo mereka berdua2annya = mojok (aplg kl smpe d tmpt gelap + pegang sana sini)…hukumnya udah jelas…HARAM

    Tapi kalo ada orang jalan berdua di mol, ngobrol, makan bareng, liat2 buku…why not? di pemahaman saya, yg namanya khalwat terlarang itu bukan yg seperti itu…

    Tapi kalo misalkan di tengah2 mol, mereka berdua asik sendiri pegang2an tangan, aplg sampe kissing2 segala…itu saya masukkan kategori khlawat yg terlarang

    So, silahkan anda nilai sendiri
    Apa bener analogi saya g mewakili tafsiran di atas?

    Wassalam

  10. assslamu’alaikum wr wb
    mas kaezar, ktemu lagi nih…

    mas bilang :
    “Jadi kalo berdua2an tp g pacaran tu boleh ya hehehe….”

    lihat [b]tujuan[/b] Rasul bertemu dengan wanita anshor tsb…

    - wanita anshor tsb [b]punya keperluan[/b] !
    - keperluan tsb [b]tidak berlangsung lama[/b]
    - mereka tidak dalam keadaan hati kotor karena cinta lawan jenis !

    jadi boleh jika lawan jenis saling bertemu dengan diawasi dengan orang lain.
    - tanpa lama2
    - tanpa ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis

    —————
    beda dengan tujuan pacaran islami dalam blog ini !
    - ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis
    - ada khalwat yg yang lama dengan perlindungan pada hadist ttg berduaan

    kalo’ mas dan pak shodiq menggunakan hadist di atas, berani meyakinkan gak, bahwa Rasul dan wanita anshor itu memiliki perasaan saling cinta terhadap lawan jenis ?

    saya yakin 100 % bahwa rasul tidak memiliki perasaan seperti itu thd wanita anshor tsb.

    kalo’ mas kaezar dan pak shodiq yakin bahwa Rasul memiliki perasaan saling cinta thd wanita anshor tsb, baru boleh blog ini membahas ttg pacaran islami !

    karena tujuan rasul dengan wanita anshor tsb sejalan dengan pembahasan cinta pacaran islami !

    —————
    so, saya ulangi lagih :
    jadi boleh jika lawan jenis saling bertemu dengan diawasi dengan orang lain.
    - tanpa lama2
    - tanpa ada kekotoran hati karena cinta lawan jenis

    ==========
    moga ajah pendapat saya gak didelete !
    WALLAHU A’LAM BISSHOWAB

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    1) Cinta kepada lawan-jenis, bahkan mengekspresikannya sekalipun, tidaklah kotor. Lihat artikel Perlukah merahasiakan rasa cinta? dan Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (2)

    2) Dalam hadits tersebut sama sekali tidak ditunjukkan persoalan lama-singkatnya. Tidak juga disebutkan syarat tiadanya rasa cinta. Hadits tersebut menekankan pengawasan dalam berduaan dengan lawan-jenis. Itulah sebabnya Imam Bukhari (yang meriwayatkan hadits tersebut) menyatakan “memperbolehkan seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan di dekat orang-orangtanpa embel-embel “asalkan tidak disertai rasa cinta” atau pun “asalkan dalam waktu singkat”.

    3) Kami tidak pernah menyarankan siapa pun untuk berlama-lama dalam berduaan (walau dalam pengawasan). Kami justru menekankan perlunya aktivitas “seperti berpuasa” alias menahan diri. (Lihat halaman Taman Cinta.) Jadi, kami justru menekankan bahwa kalau berdua-duaan itu hendaknya tidak berlama-lama.

    4) Kami tidak pernah menyeru para pembaca untuk berpacaran “seperti pada umumnya orang pacaran”. Kalau pada umumnya mereka berduaan berlama-lama, kita tidak usah meniru-niru mereka. Yang kami serukan, marilah kita islamisasikan budaya kita, termasuk dalam hal pacaran.

    Wallahu a’alam.

  11. @lazios

    Hahahahaha
    Dunia emg sempit mas
    Tapi tolong jangan karena kita berbeda dlm hal ini akan menganggu ukhuwah kita ya…apalagi sampe harus diskusi make kata2 yg kurang pantes, menghinan, mencaci ataw menuduh
    Piiss v n_n

    Yaah, udh keduluan yg punya blog :P
    Tapi gpp deh, saya mo nanya aja :

    Maksudny kekotoran hati itu apa…apakah zina hati? Kalo iya, apakah pengertian zina ati yg anda pahami?

    Wassalam

    Wassalam

  12. Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya kecuali yang ketiganya adalah syaithon. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. bersabda:
    (لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم) رواه البخاري ومسلم
    Artinya : “Janganlah sekali-kali seorang (diantara kalian) berduaan dengan wanita, kecuali dengan mahramnya (H.R Bukhari dan Muslim).

    Dan Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda :
    (إياكم والدخول على النساء) رواه البخاري ومسلم
    Artinya : “Janganlah sekali-kali kalian masuk ke (tempat) wanita.” Maka berkatalah seorang dari kalangan Anshor : Bagaimana pendapatmu kalau wanita tersebut adalah ipar (saudara istri)?
    Maka Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam. menjawab :
    (الحمو الموت ) رواه البخاري ومسلم
    Artinya : “Ipar adalah maut.” (H. R. Bukhari dan Muslim.)

    Maka termasuk jalan mendekati zina, perginya seorang perempuan dengan sopirnya, tinggalnya seorang laki-laki di rumah bersama pembantu perempuannya atau lainnya dari bentuk-bentuk khalwat walaupun asalnya berniat baik, seperti mengantarkan seorang wanita ke tempat tertentu.

    Tanggapan Admin:
    Hadits shahih mengenai berduaan bukan hanya itu! Dan kita tidak boleh mengesampingkan hadits shahih yang mana pun. Apakah ukhti belum pernah membaca hadits shahih yang kami sebutkan di atas, yang menunjukkan bolehnya berduaan bila terawasi?
    Supaya lebih paham, baca pula artikel Bagaimana mengamalkan hadits-hadits tentang berduaan.

  13. @lia

    IMO, bukankah melihat hadits juga harus keseluruhan dan berkesinambungan

    Bila dilihat cuma sepintas, hadits ttg ipar adalah maut sangat rentan disalahartikan
    Koz hadits bersifat situasional juga, jadi tidak bisa dikesampingkan asbabul wurudny

    Contohny hadits ttg dilarang berduaan yg anda sebutkan…yg dimaksud khlawat terlarang di hadits itu yg seperti apa
    Jadi g bisa dipukul rata semua kegiatan berduaan dikatakan khalwat terlarang…
    Naek motor, bareng supir, di rumah bareng pembantu…dilihat dulu apa yg terjadi saat itu
    Kalo naek motorny dempet2an, mesra, nggelendot,peluk2an…Kalo di rumah godain pembantu, nyolaknyolek,sampe pegang2an…Kalo sama sopirny genit2an,sampe mesra2an…itu khlawat yg dilarang oleh Rasul
    Tapi kalo naek motor just naek motor…ngobrol ma supir…nntn tv brg pembantu…apa yg salah dr situ? g ada perbuatan2 yg mengarah kepada zina…so, it’s ok
    Tapi ketika tingkah laku berubah, maka saat itu juga status bisa berubah
    Jadi g bisa dipukul rata satu kondisi aja

    Just my Rp.1

    Wassalam

  14. Ping-balik: Syarat Bolehnya Berduaan « Pacaran Sehat

  15. Salam semua,
    perkara berkaitan diperlukan berlapang dada, baca pendapat2 yg berbeda dan serahkan kepada Allah 100%.

    No prejudice..

    salam

  16. ISLAM meliputi segalanya, termasuk perbedaan pendapat/pandangan.

    Bagaimana jika dalil2 kedua belah pihak sama2 sahih. Bagaimana mendapatkan hukum Muktamad=absolute truth ?

    Mohon teduh dan mesra diberikan tanggapan..

    salam

  17. Quote::
    Bagaimana sikap suami-istri bila berbeda pandanganBila pandangan suami-istri berlainan, kedua pihak sebaiknya saling menghargai (dan berusaha menempuh jalan tengah). Misalnya, suami mengikut fatwa salafi yang mengharamkan segala jenis khalwat (berduaan) dengan nonmuhrim, sedangkan istri mengikut fatwa para ulama lain yang menghalalkan khalwat (dalam kondisi terawasi).

    al-Jawab:

    Isunya tetap sama, persepsi masyarakat setempat vs hukum.

    Saya juga berpegang harusnya lelaki berkhalwat di tempat awam yang tidak mungkin berlakunya fitnah. Tapi di sana persepsi dan pendapat aliran salafi jalur keras yang langsung tidak membenarkan khalwat antara lelaki dan wanita ajnabi walaupun di tempat terbuka.

    Dalam hal ini, kita tidak ada masalah meneruskan apa yg kita yakini benar kecuali jika anda berterusan melakukan hal itu boleh mendatangkan masalah kepada reputasi anda, maka lebih baik dihentikan.

    Quote::
    Bagaimana sikap suami-istri bila berbeda pandanganBila pandangan suami-istri berlainan, kedua pihak sebaiknya saling menghargai (dan berusaha menempuh jalan tengah). Misalnya, suami mengikut fatwa salafi yang mengharamkan segala jenis khalwat (berduaan) dengan nonmuhrim, sedangkan istri mengikut fatwa para ulama lain yang menghalalkan khalwat (dalam kondisi terawasi).

    al-Jawab:

    Dalam kes berbeda pandangan dalam soal khalwat antara suami dan isteri, maka yang diungguli ialah perasaan suami dan sifat cemburunya. Jika suami cemburu dan dia tidak membenarkan sama sekali isterinya menemui lelaki lain, maka perasaan suami hendaklah diutamakan dari berpegang dgn pendapat yg membolehkan wanita berkhalwat dgn ellaki ajnabi di tempat terbuka. Ini kerana si isteri sekarang tertakluk dgn perasaan suaminya dan menjaga sensitivitinya. sekian

  18. @ syah

    Perhatikanlah betapa Asma dan Zubair saling menghargai. Asma memperhatikan sifat cemburu sang suami, sehingga tidak berkhalwat (dalam kondisi terawasi) walaupun sudah dipersilakan oleh Rasulullah saw. Zubair pun merasa kasihan kepada sang istri, sehingga (meskipun merasa cemburu) mengizinkan sang istri berkhalwat (dalam kondisi terawasi) dengan pria lain, berupa berboncengan berduaan dalam satu kendaraan. Sungguh teladan yang indah, bukan?

  19. Dalil diberikan sungguh luas. terima kasih.

    seorang sahabat mengalami perkara di bawah ini:

    Si isteri di “diktatorship” selama perkahwinan oleh sang suami selam 15 tahun. Akhirnya si isteri kehilangan kesabaran dan melaprkan ke mahkamah syariah utk bercerai! Berbagai kausiling telah dijalankan oleh pihak mahkamah, Tapi si isteri tetap dgn pendirian utk bercerai.

    Akhirnya si isteri dikenalkan dgn kaunselor bebas tidak bertauliah as formal. Tetapi kauselingnya banyak menjuruskan keterbukaan minda humantarian groud dan mengaitkan islamisasi! Akhirnya si isteri bersetuju utk tidak bercerai. Si isteri masih mahu bertukar pendapat dgn kaunselor tersebut. Malangnya si suami dan anggota yg lain tidak membenarkan kerana berduaan adalah HARAM.

    Si isteri membuktikan dalil2 yg didapti di ruang ini. Maka kecaman dan kejian dilontarkan ke si isteri. Kaunselor bebas pun tidak terlepas dari tuduhan dan ancaman.

    Kaunselor bebas tersebut mencadangkan supaya keluarga si suami melaprkan ke Ministry of Muslim Affar. tapi tidak dilakukan. Belaiau hanya memberitakan kepada sesiapa dgn gelaran jelek ke atas si isteri dan si kaunselor tersebut.

    Mereka berHAK menghina menurut hukum Islam?

    Sila beri tanggapan dan jika ada method yg penuh hikmah?

    terima kasih.

  20. Tidak secara lengkap saya melihat kasus tersebut. Saran saya mungkin kurang tepat. Yang dapat saya katakan sekarang:
    Jika seorang istri merasa bahwa suaminya tidak lagi dan tidak akan pernah menghargainya walaupun si istri sudah berusaha keras supaya dihargai suami, maka si istri dapat mengambil langkah darurat yang berupa kembali ke mahkamah syariah untuk bercerai. Mahkamah syariah itu insya’ Allah lebih tahu daripada kita, apakah sebaiknya mereka bercerai ataukah tidak.

  21. Bagaimana pendapat bro secara peribadi? Terima kasih

    Rambut Wanita Bukan Aurat
    Oleh Ustaz Zainuddin Idris
    Pertikaian mengenai hukum aurat dan pakaian wanita sebenarnya telah lama berlaku di kalangan umat Islam. Setiap golongan bermati-matian dengan pegangan masing-masing tanpa menganalisis secara teliti sumber asal al-Quran, sunah dan ijmak para ulama. Selain itu mereka tidak merenungi tentang apakah hikmat yang terkandung dalam risalah Nabi Muhammad s.a.w. yang begitu umum dengan kitab suci al-Quran yang amat berhikmat lagi maha agung. Al-Quran diturunkan bukan untuk orang Arab sahaja malah untuk manusia sejagat.

    Perkataan aurat menjadi sebutan biasa di kalangan orang kita dengan pengertian anggota-anggota yang diharamkan melihatnya sama ada lelaki dengan perempuan atau perempuan dengan perempuan atau lelaki dengan lelaki. Asal perkataan `aurat’ daripada bahasa Arab yang bermaksud `keaiban’ atau setiap sesuatu bahagian anggota yang ditutup oleh manusia secara mengejut dan malu.
    Imam Waliyullah memberi takrif aurat di dalam kitab Hujjatullah al-Balighah pada halaman 688, jilid 2; beliau berkata:
    “Ketahuilah bahawa menutup aurat, saya maksudkan ialah anggota-anggota yang mendatangkan keaiban dengan sebab ia terbuka di hadapan khalayak ramai mengikut adat umat yang sederhana hidupnya seperti yang terdapat pada bangsa Quraisy pada masa itu, ia termasuk di dalam pokok (asas) tamadun yang diakui di sisi setiap golongan yang dinamakan manusia, dan ia di antara perkara yang membezakan manusia daripada sekalian pelbagai jenis haiwan. Dengan sebab itu syariat mewajibkan menutup aurat tersebut, dua kemaluan manusia (qubul/depan dan dubur/belakang), dua buah kemaluan, ari-ari dan bahagian anggota yang mengiringinya termasuk pangkal kedua-dua paha dikira yang paling jelas dari segi agama bahawa ia termasuk ke dalam bahagian aurat.
    Tidaklah perlu mendapatkan dalil lagi mengenai perkara itu. Persabdaan Nabi s.a.w. menunjukkan, apabila seseorang kamu mengahwini amahnya maka janganlah ia lihat pada auratnya. Riwayat yang lain pula Nabi s.a.w. bersabda: Maka janganlah lihat kepada anggota yang di bawah pusat dan di atas lutut.
    Nabi s.a.w bersabda lagi: Tidakkah engkau tahu bahawa paha itu aurat? Asal hukum menutup aurat di dalam syarak difaham daripada firman Allah taala di dalam surah al-A’raf, ayat 26. Allah berfirman: Wahai anak Adam sesungguhnya Kami turunkan pakaian yang menutup kemaluan kamu dan pakaian menutup seluruh tubuh dan pakaian takwa (sederhana) itu lebih baik.
    Pada ayat ini Allah mendedahkan kepada kita tiga jenis pakaian manusia, sebagaimana yang dinyatakan di dalam al-Quran. Pertama yang menutup dua kemaluan seperti pakaian Adam dan Hawa, sebagaimana Allah berfirman: Mulailah mereka berdua menutup atas mereka dengan dua daun syurga. (surah al-A’raf, ayat 22)
    Kedua, pakaian yang menutup seluruh tubuh seperti burung. Ini adalah pakaian berhias-hias.
    Ketiga, yang berasaskan kesederhanaan, kecergasan dan keadilan itu adalah lebih baik (libasataqwa).
    Sebenarnya para imam Islam telah pun menetapkan aurat yang wajib ditutup dan yang tidak wajib ditutup. Imam as-Syafii sebagai contoh mengikut adat resam Arab dan perasaan mereka yang mana kaum perempuannya suka menutup seluruh badan dan kaum lelakinya menutup sekadar tiga per empat badan. Imam Hanafi mengikut adat Ajam (Parsi) yang resamnya tidak jauh dengan Arab. Akan tetapi Imam Malik, guru kepada Imam as-Syafii menetapkan aurat mengikut adat resam orang-orang di sebelah Eropah. Dia membenarkan kaum lelaki menutup dua kemaluan sahaja dan begitu juga dengan kaum wanitanya. Jika terbuka buah dada dan belakang sekalipun dikirakan sembahyang mereka sah, apakah lagi di luar sembahyang.
    Imam Abu Bakar al-Jassas di dalam kitab Ahkamul Quran, jilid 3, halaman tiga berkata: “Sesungguhnya telah bersetuju ummah bahawa apa yang ditunjukkan oleh ayat (al-Quran) adalah mesti menutup aurat.”
    Kemudian beliau mengemukakan beberapa hadis yang sahih daripada Nabi s.a.w. dan athar para sahabat untuk menerangkan maksud aurat sebagaimana yang terdapat pada ayat 26 daripada surah al-A’raf di atas pada halaman 30, jilid tiga, beliau berkata:
    “Telah datang beberapa athar daripada Nabi s.a.w. berhubung dengan masalah ini (menutup aurat) di antaranya hadis Bahzun bin Hakim yang diriwayatkan daripada bapanya dan diriwayatkan pula daripada neneknya, beliau berkata: “Aku bertanya Rasulullah s.a.w. aurat kami apakah yang kami gunakan dan apa yang kami tinggalkan? Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Hendaklah engkau peliharakan aurat engkau kecuali isterimu atau perempuan yang kamu miliki. Lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Jika kami berseorangan?”
    Baginda bersabda: “Sesungguhnya Allah lebih patut dimalukan kepada-Nya.”
    Dalam riwayat Abu Said al-Khudri daripada Nabi s.a.w. baginda bersabda: “Tidak harus seseorang lelaki yang memandang aurat seorang lelaki yang lain dan tidak harus seseorang wanita memandang aurat wanita yang lain.”
    Pada hadis yang lain baginda bersabda: “Dilaknat mereka yang melihat kemaluan saudaranya.”
    Allah berfirman dalam surah an-Nur, ayat 30: Suruhlah kepada orang mukmin hendaklah mereka rendahkan pandangan mereka dan mengawal kemaluan mereka; itu lebih baik untuk mereka; sesungguhnya Allah amat mengetahui apa yang mereka buat.
    Pada ayat 31 firman-Nya: Suruhlah para mukminat rendahkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka; dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka melainkan apa yang zahir daripadanya.
    Ibnu al-Arabi berkata dalam al-Futuhat al-Makkiah jilid 1, halaman 521 pada bahagian `pada menyatakan batas aurat: “Sebahagian ulama mengatakan bahawa aurat lelaki itu hanyalah dua kemaluannya sahaja (qubul dan dubur). Manakala sebahagian ulama pula mengatakan aurat lelaki itu dari pusat ke lutut. Di sisi kami (Ibnu al-Arabi) hanyalah dua kemaluannya sahaja yang dikira aurat yang hakiki, iaitu anggota-anggota manusia yang dicaci, dibenci dan dianggap buruk melihatnya. Dua kemaluan itu adalah tempat kepada apa yang kami sebutkan itu adalah menepati hukum haram, anggota-anggota selain daripada dua kemaluan itu dari pusat ke atas dan dari lutut ke bawah adalah menepati hukum syubhat yang sepatutnya berjaga-jaga kerana berternak di sempadan kawasan larangan itu hampir-hampir termasuk ke dalamnya.”
    Pada bahagian `Batas aurat perempuan’ pula beliau berkata: “Sebahagian ulama mengatakan keseluruhan tubuh perempuan aurat kecuali muka dan dua tapak tangan. Ada pula ulama yang mengatakan demikian dengan tambahan tapak kakinya tidak termasuk aurat.
    Ada yang mengatakan perempuan keseluruhannya aurat.
    Ada pun mazhab kami (Ibnu al-Arabi), aurat pada perempuan hanyalah dua kemaluannya sebagaimana Allah berfirman: Mulailah mereka menutup atas kedua mereka dengan daun dari syurga. (Al-A’raf, ayat 22). Allah menyamakan di antara Adam dan Hawa pada menutup aurat keduanya (iaitu dua kemaluan). Jika perempuan diarah menutup adalah mazhab kami, tetapi bukannya tutupan itu kerana aurat malahan itu adalah undang-undang syarak yang berkehendakkan menutup dan tidaklah pasti menutup sesuatu itu kerana ia aurat.
    Dengan huraian itu jelaslah bahawa walaupun segala nas, pendapat para ulama muhaqqiqin boleh dikatakan telah ittifak (bersepakat) dan ijmak mengakui bahawa aurat sebenar yang dikehendaki oleh Allah supaya manusia menutupnya itu hanyalah dua kemaluan (qubul dan dubur) sahaja sama ada pada kaum lelaki atau perempuan tanpa sebarang perbezaan kerana menutup dua kemaluan itu adalah suatu sifat yang membezakan di antara manusia dan haiwan sebagaimana berlalu keterangan Hujjatul Islam Shah Waliyullah ad-Dihlawi, termasuklah anggota-anggota yang berhampiran dengannya seperti kedua-dua batang paha dan buah kemaluan lelaki serta ari-ari. Semuanya dikira termasuk ke dalam bahagian aurat. Akan tetapi di akhir huraiannya, Shah Waliyullah menegaskan bahawa semua hadis yang menerangkan masalah aurat dan meletakkan batasan-batasannya adalah berlawanan. Ini bererti keterangan Rasulullah s.a.w. itu tidak sama dalam masalah ini.
    Mengikut pendapat Shah Waliyullah semua hadis itu sahih (jelas), maka semuanya boleh dijadikan panduan.
    Pengertian aurat ini memang dimaklumi di kalangan umat Arab zaman silam. Al-Quran dan hadis Nabi s.a.w. tidak memberi makna yang jelas atau keputusan yang tidak boleh dipertikaikan. Dengan sebab itu perkhilafan (beza) pendapat di kalangan para ulama Islam tidak timbul sama sekali, tetapi apa yang berlaku adalah sebagaimana yang kita semua saksikan pada hari ini. Punca perbahasan mengenai masalah aurat ini hanya timbul daripada kefahaman yang semata-mata diambil daripada hadis-hadis Nabi s.a.w. yang keterangannya berlawanan dan juga pendapat para ahli tafsir yang memberi keterangan di bawah ayat-ayat yang tidak sarih (jelas). Kerana sebab itulah Imam Ibnu Rusyd rahimahullah taala telah memberi penjelasan dalam Bidayatul Mujtahid, jilid 1; halaman 114: “Para ulama keseluruhannya telah ittifak (sepakat) mengatakan bahawa menutup aurat itu suatu kewajipan yang mutlak, tetapi mereka berselisih faham tentang penutupan itu adakah ia merupakan suatu syarat yang terkandung di dalam beberapa syarat bagi sah sembahyang ataupun tidak.
    Demikian pula mereka berlainan faham tentang batas-batas aurat pada lelaki dan perempuan, tetapi yang ternyata di dalam mazhab Imam Malik bahawa menutup aurat itu termasuk di dalam bahagian amalan sunat di dalam sembahyang sahaja. Di dalam mazhab Abu Hanifah dan as-Syafii menutup aurat itu sebahagian amalan fardu di dalam sembahyang. Sebab perselisihan mereka di dalam menentukan perkara itu ialah kerana hadis-hadis dan athar sahabat yang menjadi tunjang kepada masalah itu didapati saling bercanggah kenyataannya serta para sahabat telah berbeza dalam memahami maksud firman Allah (al-A’raf, ayat 31):
    Wahai anak-anak Adam pakailah perhiasan kamu pada setiap kali ke masjid. Adakah suruhan Allah dengan menggunakan perhiasan itu menunjukkan suruhan wajib atau sunat jua.
    Apakah yang dimaksudkan dengan perhiasan (az-ninah) itu? Imam Assudi mengatakan maksud perhiasan pada ayat itu ialah pakaian yang menutup aurat. Riwayat daripada Abu Hanifah, beliau berkata: “Aurat terbahagi kepada dua bahagian, aurat mughallazah (aurat berat) dan aurat mukhaffah (aurat ringan).
    Aurat mughallazah itu adalah qubul dan dubur dan aurat mukhaffah, iaitu anggota-anggota selain daripada apa yang telah disebut ia daripada aurat.”

  22. Apakah Al Hafizh dalam hal ini membolehkan berduaan dengan tujuan untuk berpacaran? TIdak mungkin bagi seorang ulama besar seperti beliau demikian. Tentu yang diperbolehkan adalah berduaan untuk keadaan darurat yang tidak bisa dihindari dan ini tetap jika di dekat orang-orang.

    Di sini, Anda tidak amanah terhadap ilmu karena menampilkan pendapat ulama dengan menggunakan kata-kata anda saja. Coba kutip matan aslinya. Minimal terjemahannya disertai dengan no halamannya.

    Perintah Rasul bahwa larangan berkhalwat tanpa disertai mahram menunjukan khalwat tanpa tujuan untuk bercinta. Namun hanya untuk keperluan yang memang perlu untuk itu. Dan keadaan terawasinya dari manusia adalah untuk menunjukan agar terhindar dari syahwat yang jelek. Sungguh aneh jika menghindari zina hanya karena takut manusia bukan takut pada Allah.

    Jika khlawat untuk bercinta diperbolehkan dengan keadaan terawasi manusia, maka hal ini tetap akan menimbulkan syahwat di antara dua insan dan tidak akan menutup kemungkinan – dan sangat mungkin – akan terjadi zina jika di suatu kesempatan yang secara kebetulan mereka terpisah dari orang lain dalam keadaan berdua.

  23. salam bro,

    Dalil2 berkaitan Gaul seluas Nabi sangat terbaik jika dihidupkan sesama insan di dunia ini. Cuma cara penyampaian akan disalahartikan oleh kebanyakan umat islam.

    Sebagai contoh : kaum lelaki masih single or married KURANG dipermasalahkan.

    TETAPI, jika kauam wanita selalu diHARAMKAN utk bertemu bincnag dengan non-mahram utk belajar, mempertingkatkan ilmu dll. Hukum haram, Nusyuz dll.

    Bagaimana Hadis sahih yg membolehkan dihidupkan utk semua insan?

    ISLAM=damai segalanya, tapi bagaimana ya?

    salam.

  24. salam Bro,

    Sila beri komentar khusus berkaitan prinsip seorang ualamak di bawah ini. Bagaimana metod beliau dalam mengeluarkan sesuatu hukum berkaitan wanita?

    apakah benar bertemu non-muhrim itu haram. Wanita memandu kereta juga haram dsb?

    Apakah dalil2 hadith sahih berkaitan khalwat tidak beliau temui semasa hayatnya?

    Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

    Semoga mendapat kemenafaatan bersama….

    salam

  25. salam bro.

    Saya ada buku Abu Syuqqah KW 1 – 4 sahaja. cuma jilid 5 – 6 tak ada stok.

    KW di jilid mana? Muatan dalil2 berkaitan wanita single dan married bebas utk belajar dsb dengan pria yg dibolehkan.

    Jika org tua melarang keras kepada wanita single?

    Jika si suami melarang keras kepada sang isteri?

    Bagaimana solusinya menurut islam?

    Pendapat para fuqaha?

    Hukum Muktamad?

    salam

  26. Ping-balik: Pacaran Secara Islami « Lutfiaditya's Blog

  27. Ping-balik: pacaran yang islami???? | ciplukzz

  28. Ping-balik: olahraga » Blog Archive » Mau siap nikah? Pacaran dulu, dong..!!!

Komentar ditutup.